bagi panjenengan yang memiliki rezeki lebih dan ingin menyalurkan donasi untuk membantu kelancaran wedaran, saya hanya dapat mengucapkan terima kasih.
silahkan bagi panjenengan yang berkenan mengirimkan donasi, panjenengan dapat mengirimkannya melalui nomor rekening yang tertera, klik "Ruang Donasi" pada bagian atas halaman.
konfirmasi : prastiyomalaikatdjibril@gmail.com
Halaman 1 - 2
*****
Waktu yang semakin merambat malam membuat hati Nyi Pandan Wangi semakin gelisah saja oleh prasangka-prasangka yang tidak mampu diungkapkannya.
Apalagi suaminya tidak kunjung datang pula meski sudah coba dipanggil dengan isyarat yang telah disepakati bersama sebelumnya sejak beberapa saat tadi.
“Apakah yang sebenarnya telah terjadi?”. pertanyaan tersebut hampir selalu berputar-putar di kepalanya tetapi tanpa pernah mendapat jawaban seperti yang diharapkan.
Nyi Sekar Mirah yang berjalan di sebelahnya menyadari apa yang sedang dirasakan oleh marunya tersebut, namun dirinya pun menyadari jika belum dapat membantu apa-apa, sehingga hanya ikut terdiam.
Langkah-langkah kaki yang wajar itu terasa seakan berat sekali untuk diayunkan, namun tetap dipaksakan agar tidak semakin menimbulkan pertanyaan bagi kawan-kawannya yang lain yang berjalan semakin jauh jaraknya.
“Semoga Tanah Perdikan Menoreh dalam keadaan baik-baik saja selama aku tinggal pergi”. membatin Nyi Pandan Wangi yang mulai putus asa.
“Apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan Kakang Agung Sedayu? kenapa hingga kini dia belum ada tanda-tanda akan muncul di tempat ini?”. membatin Nyi Sekar Mirah yang tidak kuasa menahan gejolak perasaannya.
“Apakah Kakang Agung Sedayu sedang mengalami kesulitan? atau memang sedang menghadap Kanjeng Sinuhun, sehingga belum sempat datang kemari, meski hanya sekedar bayangan semunya saja?”. lanjut Nyi Sekar Mirah dalam hati.
Kedua perempuan perkasa itu hanya berdiam diri dalam penalarannya masing-masing untuk beberapa saat, sembari terus melangkahkan kaki dengan malasnya.
Mereka terdiam karena memang sedang merasa kebingungan harus berkata apa dalam keadaan yang demikian, sebab perasaan yang kurang mapan itu semakin mengusik hati keduanya.
*****
Sementara itu di tepian Kali Progo para Pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang mengemban tugas untuk segera menyampaikan pesan kepada Ki Agung Sedayu masih terkapar kesakitan setelah baru saja ditinggalkan oleh lawannya yang hanya seorang diri.
Ternyata mereka harus mengalami kenyataan pahit yang tidak pernah mereka duga sebelumnya, tetapi meski begitu mereka masih merasa beruntung, sebab diantara mereka tidak ada yang terluka parah dan hanya sekedar luka-luka memar pada bagian luar saja.
“Bagaimana keadaan kalian semua?”. bertanya pemimpin rombongan kepada kawan-kawannya yang masih terkapar di tepian Kali Progo itu.
“Aku tidak apa-apa, Kakang. Tubuhku hanya terasa sakit pada bagian luarnya saja”. sahut salah satu kawannya mewakili kawannya yang lain sembari berusaha bangkit duduk.
“Apakah kalian masih dapat melanjutkan perjalanan?”.
“Masih Kakang, tetapi tolong beri kami waktu sejenak untuk beristirahat dan memperbaiki keadaan”.
“Baiklah, kita beristirahat dulu sejenak untuk memperbaiki keadaan. Tetapi jika kalian sudah merasa lebih baik, kita akan segera melanjutkan perjalanan agar kita tidak semakin kehilangan waktu yang sangat berarti”.
“Baik Kakang, kami mengerti”.
Halaman 3 - 4
“Kakang… apakah Kakang tidak merasa aneh dengan orang yang menyebut dirinya Ki Pringsewu itu?”.
“Aneh bagaimana maksudmu?”.
“Meski dia dapat mengalahkan kita semua dengan mudah, tetapi sepertinya dia memang tidak berniat buruk atau bahkan hingga mencelakai kita. Buktinya ketika kita semua sudah tidak berdaya, dia segera meninggalkan tempat ini”.
“Ya… aku juga berpikiran yang sama denganmu”.
“Lalu bagaimana menurut pendapat Kakang tentang pesan Ki Pringsewu yang menyuruh kita untuk kembali?”.
“Apakah menurut kalian kita harus mempercayai orang asing yang baru kita temui begitu saja?”.
Kelima pengawal yang merasa mendapat pernyataan tersebut seketika hanya dapat terdiam dan mempertimbangkan ucapan pemimpin mereka itu dengan lebih hati-hati.
“Aku rasa kita bukan anak-anak lagi yang dapat dengan mudahnya dipengaruhi oleh orang lain yang belum pernah kita kenal sebelumnya”. sambung Pemimpin Pengawal itu.
“Tetapi menurut Kakang, apa sebenarnya maksud Ki Pringsewu itu menghentikan perjalanan kita?”.
Pemimpin Pengawal itu terdiam sejenak untuk menarik nafas panjang, sekedar untuk mengurangi kepepatan hatinya dalam menanggapi kenyataan yang baru saja harus mereka alami.
Setelah dirinya berusaha mencerna apa yang sebenarnya telah terjadi, baik yang terlihat langsung maupun hal tersirat dari apa yang telah terjadi.
Memang Ki Pringsewu terasa aneh baginya, tetapi bagaimanapun juga sebagai orang yang mendapat kepercayaan untuk memimpin kawan-kawannya harus memiliki sikap yang jelas, dan setiap keputusan yang diambil tidak sekedar menuruti perasaannya saja, namun harus pula menggunakan akal sehatnya.
“Memang jika kita sekedar menggunakan perasaan, apa yang telah dilakukan oleh Ki Pringsewu itu terasa aneh. Tetapi sebagai pengawal kita tidak boleh terlarut dalam perasaan semata, kita harus pula menggunakan penalaran dengan baik”.
“Jadi menurut, Kakang?”. sahut kawannya yang masih penasaran dengan pendapat pemimpinnya tersebut.
“Aku rasa Ki Pringsewu pasti memiliki tujuan, kenapa dia berusaha menghentikan perjalanan kita, tapi entah apa itu? tetapi yang harus kita ingat adalah bahwa kita sebagai pengawal tidak dapat begitu saja mempercayai orang yang baru saja kita temui. Jadi aku pikir kita harus tetap melanjutkan perjalanan, sesuai tugas yang sedang kita emban”.
Mereka yang mendengar ucapan pemimpinnya tersebut hanya terdiam dan tidak menanggapi sebagai pertanda bahwa mereka sependapat dengan hal itu.
Setelah beberapa saat tidak ada lagi yang membuka suara.
“Jika keadaan kalian sudah lebih baik, sebaiknya kita segera melanjutkan perjalanan agar kita tidak semakin kehilangan waktu yang sangat berharga. Karena biar bagaimanapun kita ikut bertanggung jawab pula atas nasib Sekar Wangi yang sekarang berada di tangan para penculik yang tidak kita kenal”. ucap Pemimpin Pengawal itu sembari beranjak berdiri.
Hal itu kemudian diikuti oleh kawan-kawannya, dan setelah membersihkan diri ala kadarnya, mereka segera menghampiri kuda masing-masing yang tadi mereka tambatkan di tepian.
Namun baru saja mereka akan melepaskan tali kekang kudanya, samar-samar mereka dikejutkan oleh suara yang datangnya dari kejauhan, sehingga membuat mereka semua saling pandang sejenak dan tidak bersuara sepatah katapun.
Halaman 5 - 6
Berbagai dugaan muncul di kepala masing-masing pengawal yang masih tercenung di tepian, sehingga membuat mereka semua lupa atas apa yang akan mereka lakukan.
“Sepertinya suara itu mengarah ke tempat ini”. ucap Pemimpin Pengawal itu mengambil kesimpulan, setelah mengamati suara itu beberapa saat.
“Sepertinya memang demikian, Kakang”.
“Sepertinya ada beberapa penunggang kuda”.
“Menurut, Kakang? siapakah mereka?”.
“Aku belum dapat menduga, mungkin saja mereka adalah kawan tapi mungkin juga lawan”.
“Kenapa Kakang menduga mereka adalah lawan?”.
“Bukankah para penculik itu telah berhasil pergi dari padukuhan induk? jadi mungkin saja mereka para penculik itu”.
“Bukankah mereka datang hanya dengan berjalan kaki?”.
“Bukankah tidak menutup kemungkinan mereka meninggalkan kuda-kuda mereka di suatu tempat, dan setelah berhasil menculik Sekar Wangi mereka mengambilnya kembali? atau mungkin pula mereka telah merampas kuda orang-orang Menoreh”.
“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Kakang?”.
“Sebaiknya kita bersembunyi dulu”.
“Lalu bagaimana dengan kuda-kuda kita? bukankah mereka tentu akan melihatnya?”.
“Tidak ada pilihan lain, sebab kita pun tidak memiliki cukup waktu untuk menyeberang bersama dengan kuda-kuda kita, yang penting kita selamatkan diri dulu sembari kita pikirkan apa yang harus kita lakukan kemudian setelah kita tahu siapakah mereka yang datang itu”.
Sepertinya mereka semua sepakat dengan apa yang diusulkan oleh pemimpin mereka, sebab memang tidak ada pilihan lain yang mereka anggap lebih baik.
Kemudian mereka membiarkan kuda-kuda itu untuk sementara tetap berada di tepian dan mereka tinggalkan untuk bersembunyi dibalik semak belukar pada tebing di salah satu tepian.
Dan semakin lama suara derap kaki kuda itu semakin jelas dan sepertinya memang mengarah ke tepian Kali Progo. Dan dari suara derapnya, sepertinya terdapat beberapa, tetapi belum dapat diduga berapa jumlah pastinya.
Keenam pengawal itu menunggu di tempat persembunyiannya dengan jantung berdebar-debar semakin kencang sembari di kepala masing-masing penuh tanda tanya.
“Siapakah gerangan rombongan berkuda malam-malam begini?”.
Pertanyaan yang hampir sama dalam hati masing-masing pengawal itu dalam kegelisahannya di tempat persembunyian yang terlindungi pula oleh gelapnya malam.
“Lalu apa yang akan kita lakukan, jika mereka adalah para penculik Sekar Wangi itu, Kakang?”. bertanya salah satu pengawal dengan suara lirih.
“Tentu saja kita tidak akan menghadang mereka, karena kita tentu tidak akan berdaya melawan mereka. Yang dapat kita lakukan adalah berusaha membututi perjalanan mereka dengan sebaik-baiknya, sembari melaporkan apa yang kita temui ini kepada Ki Jagabaya”. sahut Pemimpin Pengawal itu dengan lirih pula.
“Lalu bagaimana dengan tugas utama kita, Kakang?”. sahut pengawal yang lain.
“Nanti kita akan berbagi tugas”.
Kemudian mereka tidak membuka suara lagi karena perhatian mereka mulai terpusat kepada suara derap kaki-kaki kuda yang sudah semakin mendekati tepian Kali Progo di bawah gelapnya malam yang semakin dingin menusuk kulit.
Halaman 7 - 8
Jantung mereka berdebar semakin kencang bersamaan dengan menunggu kejelasan siapakah gerangan para penunggang kuda yang datang ke arah tepian.
Malam sudah semakin jauh tergelincir, bahkan tidak lama lagi pagi akan siap menjelang. Sementara utusan Tanah Perdikan Menoreh itu masih terhambat perjalanannya di tempat itu.
Dan sepertinya perjalanan mereka kali ini akan terhambat kembali sehubungan dengan datangnya para penunggang kuda yang belum mereka ketahui.
“Perjalanan yang pada awalnya kita kira mudah, tetapi ternyata kali ini kita harus menghadapi hambatan yang sangat berat dan sangat menyita waktu”. berkata Pemimpin Pengawal itu dengan suara lirih.
Kawan-kawannya hanya terdiam mendengarkan hal itu dan tidak berusaha menanggapi, sehingga dia melanjutkan ucapannya.
“Dan sepertinya kita akan terhambat lagi”.
Sementara suara derap kaki-kaki kuda itu sudah semakin dekat dengan tepian Kali Progo yang masih berselimutkan kegelapan serta embun tipis yang mulai turun.
Sebagai para pengawal yang sudah sangat terlatih untuk menghadapi keadaan yang bagaimanapun, mereka tidak pernah mereka gentar sedikitpun untuk menghadapi segala kemungkinan, bahkan kemungkinan yang paling buruk sekalipun.
Namun sebagai orang kebanyakan, tetap saja mereka tidak dapat membohongi diri sendiri. Debar-debar kegelisahan itu tetap tidak dapat mereka hilangkan begitu saja.
Dalam hati, dari masing-masing pengawal tidak henti-hentinya meminta pertolongan kepada Yang Maha Welas Asih agar dapat menjalankan tugas yang diemban dengan sebaik-baiknya dan nanti kembali dalam keadaan baik-baik saja tanpa kurang suatu apapun.
Sementara itu di waktu yang hampir bersamaan, Nyi Pandan Wangi dan Nyi Sekar Mirah yang berjalan dengan malasnya karena sedang dirundung oleh kegelisahan yang sangat.
Tiba-tiba dikejutkan oleh sesuatu yang sontak saja membuat keduanya menjadi saling pandang sejenak, namun tidak terucap sepatah katapun dari keduanya.
Namun mereka sama-sama saling mengerti maksud dari tatapan masing-masing, dan tanpa sadar mereka mengangguk perlahan secara hampir bersamaan.
“Rara Wulan”. ucap Nyi Sekar Mirah memanggil muridnya yang berjalan beberapa puluh tombak di depannya.
Nyi Rara Wulan yang berjalan bersama dengan ketiga adik angkatnya pun segera menoleh ke arah belakang untuk menanggapi panggilan gurunya tersebut.
“Ada apa, Mbokayu?”.
“Kalian jalan saja terus, aku ingin buang air dulu dikawani Mbokayu Pandan Wangi”.
“Oh… baik, Mbokayu”. sahut ibu Arya Nakula itu singkat.
Kemudian kedua perempuan itu pun segera menyingkir dan berusaha mencari tempat yang dianggap paling baik untuk melaksanakan maksudnya.
“Kenapa tiba-tiba Nyi Sekar Mirah dan Nyi Pandan Wangi sering ingin buang air?”. celetuk Padmini.
“Ah… memangnya kenapa? apakah ada salah jika ingin buang air? atau kau ingin buang air pula, Padmini?”. sahut Nyi Rara Wulan yang berusaha menghentikan pembicaraan yang dianggap kurang pantas untuk dibicarakan.
Halaman 9 - 10
“Bukan begitu, Mbokayu Rara Wulan. Tapi…”.
“Sudahlah, biarkan saja. Kita lanjutkan saja perjalanan, kita tidak boleh bersikap deksura dengan prasangka-prasangka yang tidak mendasar kepada mereka”.
Sebagai orang yang memiliki panggrahita yang sangat tajam, ibu Arya Nakula itupun sebenarnya menangkap sebuah kejanggalan, namun dirinya percaya bahwa kedua istri Ki Agung Sedayu itu tentu lebih tahu apa yang sedang mereka lakukan.
Dan akan sangat deksura sekali jika mereka selalu ingin tahu apa yang dilakukan oleh orang lain, apalagi itu adalah wakil pemimpin rombongan tersebut.
“Baik Mbokayu”. sahut Padmini yang menyadari kesalahannya, dan pada akhirnya tidak berani lagi membantah ucapan mbokayu angkatnya tersebut.
Kemudian keempat perempuan itupun kembali melanjutkan perjalanan dengan langkah wajar, meski sedikit diperlambat dengan tujuan agar tetap dapat menjaga jarak yang cukup dengan orang yang mereka dahului langkahnya.
Sementara Nyi Pandan Wangi dan Nyi Sekar Mirah yang sebenarnya tidak benar-benar ingin buang air, dan setelah merasa jaraknya cukup dengan rombongan, segera melaksanakan rencana yang sebenarnya.
Dengan kelebihan yang mereka miliki, mereka berusaha menyamarkan sejauh mungkin segala bunyi yang mungkin dapat ditimbulkan ketika mencari sumber suara yang tadi mereka dengar bersama-sama.
Sepertinya sumber suara itu mengarah ke dalam hutan yang terlihat masih rungkut dengan pohon-pohon besar dan semak belukarnya yang tumbuh liar. Dan ketika keduanya sempat diliputi oleh keraguan dalam menentukan sumber suara itu, tiba-tiba terdengar kembali.
Seakan suara itu telah mengetahui maksud dan tujuan mereka, sehingga memberikan petunjuk kemanakah keduanya harus melangkahkan kakinya.
Meski harus berada di dalam hutan pada saat kegelapan malam yang semakin menambah gelapnya sekitar tempat itu, namun bagi keduanya yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan bukanlah sebuah masalah besar.
Sebab mereka dapat melihat dengan jelas tempat itu dengan mengetrapkan Aji Pandulu dan ilmu yang dapat meringankan bobot tubuh seperti kapas, sehingga dapat menentukan langkah dengan pasti sembari sesekali keduanya harus berlompatan seperti tupai tanpa menimbulkan suara yang berarti.
Dengan usaha yang tidak begitu mudah untuk melewati itu semua, pada akhirnya tibalah mereka di tempat sumber suara yang tadi keduanya dengar itu berasal.
Sosok yang masih terlihat samar di bawah kegelapan malam itulah yang telah menjadi sumber suara yang dicari, dan sepertinya memang sengaja menunggu kedatangan keduanya.
“Kenapa Kakang baru datang sekarang? dan kenapa Kakang tidak menjawab isyarat yang kami lontarkan tadi? sedari tadi kami dirundung kegelisahan yang sangat karena harus menunggu kabar yang Kakang bawa, terutama Mbokayu Pandan Wangi”. ucap Nyi Sekar Mirah yang sudah tidak dapat menahan diri, namun tetap dengan suara lirih.
“Aku minta maaf, karena ada yang telah menyita perhatianku”.
“Lalu bagaimana dengan keadaan Sekar Wangi dan Tanah Perdikan Menoreh, Kakang? bukankah mereka baik-baik saja?”. kali ini Nyi Pandan Wangi lah yang bertanya.
“Kita wajib bersyukur dan berterima kasih kepada Yang Maha Welas Asih, sebab karena pertolongan-Nya lah keadaan Sekar Wangi dan Tanah Perdikan Menoreh untuk saat ini telah baik kembali”.
Halaman 11 - 12
“Memangnya apa yang telah terjadi, Kakang?”.
Kemudian orang itu yang tidak lain adalah Ki Agung Sedayu mulai menjelaskan secara singkat, namun runtut apa yang telah terjadi di Tanah Perdikan Menoreh.
“Syukurlah kalau begitu”. sahut Nyi Pandan Wangi merasa lega.
“Apakah mereka tidak menjadi sangat terkejut dengan kedatangan Kakang yang tiba-tiba? padahal mereka semua tahu bahwa Kakang tidak sedang berada di Menoreh?”.
“Aku merasa bersyukur kepada Yang Maha Welas Asih yang memberikanku kemampuan untuk dapat menyamarkan kedatanganku di Menoreh, sehingga tidak membuat gempar orang-orang disana”. sahut suaminya yang memang belum menceritakan bagaimanakah bentuk penyamarannya.
“Maksud Kakang?”. sahut Nyi Sekar Mirah penasaran dan masih belum mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya tersebut.
Terdengar sebuah tarikan nafas dari ayah Sekar Wangi setelah mendengar pertanyaan yang sepertinya harus dijawabnya dengan apa adanya, meski sebenarnya dirinya enggan.
Karena memang demikianlah watak Ki Agung Sedayu yang sebenarnya tidak ingin menceritakan kelebihannya kepada siapapun termasuk orang-orang terdekatnya, bahkan keluarganya sendiri. Karena merasa seakan dirinya sedang menyombongkan diri.
Namun kini keadaannya berbeda, karena istrinya sendirilah yang mempertanyakan hal itu. Meski enggan dianggap menyombongkan diri, tetapi kini tidak dapat dielakkannya.
Agar tidak menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lain yang semakin memojokkannya karena tidak mau berterus terang kepada kedua istrinya tersebut.
“Sekali lagi aku telah dikaruniai yang tak terhingga oleh Yang Maha Welas Asih kemampuan untuk dapat menyamarkan wujud asliku ketika aku mengetrapkan Aji Pengangen-Angen dengan wujud orang lain sesuai keinginanku”.
“He…?”.
Kedua istrinya hanya dapat terkejut sekaligus berbangga hati mendengar kenyataan atas pencapaian yang diraih suaminya yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
Bagi kedua perempuan perkasa itu, semakin hari tataran kemampuan suaminya semakin jauh meninggalkan mereka semua. Namun justru membuat keduanya menjadi semakin takjub sekaligus kagum dengan segala pencapaian itu.
“Tetapi selama ini aku merasa tidak pernah melihat Kakang menjalani sebuah laku prihatin sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan yang Kakang miliki?”.
“Apakah kau lupa siapa dan bagaimanakah watak Kakang Agung Sedayu selama ini, Sekar Mirah?”. sahut Nyi Pandan Wangi.
“Maksud Mbokayu?”.
“Mana mungkin Kakang Agung Sedayu akan dengan sengaja memperlihatkan kepada orang lain, meskipun itu kepada istrinya tentang apa yang ingin digayuhnya, kecuali jika itu tidak dapat dilakukannya sendiri”.
“Mbokayu benar”.
“Bukankah selama ini memang kebanyakan demikian? tiba-tiba saja tataran kemampuan Kakang Agung Sedayu telah meningkat lebih tinggi lagi tanpa pernah kita tahu sebelumnya upaya apa yang telah dilakukannya”.
“Mbokayu benar, mana mungkin Kakang Agung Sedayu akan menceritakan kepada kita atas apa yang dicapainya sembari membusungkan dan menepuk dadanya”.
“Demikianlah”.
Halaman 13 - 14
Dan ketika kedua istrinya sedang terlarut kedalam pembicaraan yang menarik bagi mereka, Ki Agung Sedayu sempat merasakan sesuatu yang tidak wajar.
Namun ketika dirinya melirik kepada kedua istrinya, sepertinya kedua istrinya tidak menangkap kejanggalan yang tiba-tiba dirasakannya tersebut.
“Aneh…”. membatin ayah Sekar Wangi.
Namun semakin lama kejanggalan yang dirasakannya itu terasa semakin kuat, hingga membuatnya tercenung untuk beberapa saat lamanya di tempat itu.
Dirinya pun segera mengetrapkan kemampuannya hingga ke puncak untuk melacak sesuatu yang baginya adalah sebuah hal yang tidak wajar.
Dalam puncak pengetrapan Aji Sapta Panggrahitanya, ayah Sekar Wangi mulai menangkap sesuatu yang masih datang-lenyap, datang-lenyap akan kedatangan seseorang di tempat itu dengan sebuah ilmu penyamaran dalam tataran sangat tinggi.
Getarannya terasa sangat halus sekali, bahkan karena saking halusnya orang yang jika tidak memiliki bekal yang sangat tinggi tidak akan menyadari kedatangannya.
Dan secara tidak langsung bahwa orang yang datang itu ingin menunjukkan bahwa dia bukanlah orang sembarangan, sekaligus memberikan peringatan kepada orang yang didatanginya untuk lebih berhati-hati.
Apalagi jika memiliki kepentingan yang berseberangan dan tidak ada penyelesaian dengan cara baik-baik dengannya, tentu akan sangat berbahaya sekali bagi orang tersebut.
Nyi Pandan Wangi dan Nyi Sekar Mirah kemudian mulai menyadari perubahan sikap yang terjadi pada suaminya, dan kemudian membuat mereka menjadi saling pandang dengan tatapan saling tanda tanya karena belum mampu menangkap apa yang telah ditangkap oleh suami mereka.
Kemudian kedua perempuan perkasa itu berusaha mengetrapkan kemampuannya masing-masing hingga ke puncak untuk berusaha melacak apa yang sebenarnya telah berhasil membuat perhatian suaminya teralihkan.
Namun setelah beberapa saat mereka menunggu dalam kemampuan puncaknya, mereka masih belum berhasil melacak apa yang telah berhasil mengusik perhatian suaminya.
Dengan bekal yang dimiliki, keduanya masih berusaha menahan diri untuk bertanya secara langsung agar tidak mengganggu perhatian suaminya yang sedang berusaha melacak sesuatu yang tidak wajar yang ada di sekitar tempat itu.
“Kalian tunggulah disini”.
Tanpa menunggu jawaban, ayah Bagus Sadewa itu segera meninggalkan tempat itu dengan bekal kemampuannya yang sangat tinggi. Kedua istrinya pun hanya dapat mengiyakan dan akan menunggunya di tempat itu.
Namun ayah Sekar Wangi pun belum mengetahui maksud dan tujuan orang yang baru saja datang itu, entah berniat baik atau berniat buruk? sehingga dirinya harus meningkatkan kewaspadaan terhadap segala kemungkinan yang akan dihadapi.
Ki Agung Sedayu mencoba menelusuri keberadaan orang yang baru saja datang itu dengan mengandalkan pengetrapan Aji Sapta Panggrahita dalam tataran puncaknya.
Namun ada kejadian yang tidak wajar ketika dirinya semakin mendekati tempat yang diyakini sebagai tempat persembunyian orang yang baru saja datang itu.
Setelah menelusuri sumber suara yang diyakininya tidak wajar di dalam pekatnya kegelapan malam menjelang pagi disertai keberadaannya di dalam hutan yang cukup rungkut, Ki Agung Sedayu mulai menemukan kejanggalan baru.
Halaman 15 - 16
Sebab semakin dirinya mendekat, mulai terlihat kabut yang semakin lama semakin menebal mengelilingi sekitar tempat itu hingga tidak terlihat lagi keadaan di sekitarnya secara wajar.
Sebagai orang yang memiliki bekal ilmu sangat tinggi Ki Agung Sedayu mulai meningkatkan kewaspadaan tertinggi untuk menghadapi segala kemungkinan.
Maka dirinya pun segera mencari tempat untuk dapat dijadikan duduk bersila dan akan mencoba membuat hubungan dengan orang yang telah melontarkan isyarat khusus itu kepadanya beberapa saat tadi ketika bersama kedua istrinya.
“Selamat datang, Ki Sanak. Ada keperluan apakah, sehingga Ki Sanak harus bersusah payah datang menemuiku dengan cara seperti ini?”. ucap Ki Agung Sedayu yang sudah berada dibalutan kabut yang sangat tebal.
Ternyata pertanyaan itu tidak mendapat jawaban sama sekali sehingga membuat ayah Sekar Wangi menarik nafas panjang, sembari tidak lupa tetap menjaga kewaspadaan tertinggi.
Setelah sejenak menunggu dan tidak mendengar apapun, maka…
“Kenapa Ki Sanak hanya diam saja setelah berhasil menemuiku? atau Ki Sanak memang senang bermain-main?”.
“Kenapa kau datang kemari, Ki Sanak?”. tiba-tiba terdengar suara dari balik kabut, namun belum terlihat dengan jelas wujud dari orang yang berbicara.
“Kau ini aneh, Ki Sanak. Bukankah kau yang dengan sengaja memanggilku kemari?”. sahut Ki Agung Sedayu heran.
“Kenapa kau begitu yakin bahwa orang yang aku maksud adalah kau? bagaimana jika aku bermaksud memanggil orang lain dan bukan kau?”. sahut suara misterius itu.
“Karena berdasarkan penalaranku, hanya aku yang akan mampu menangkap pesanmu itu di sekitar tempat ini”.
“Ternyata kau adalah orang yang paling sombong tiada tara yang pernah aku temui, apakah memang seperti itu ajaran dari mendiang gurumu? orang yang lebih dikenal dengan sebutan Orang Bercambuk semasa hidupnya?”.
“Kau tidak usah ingkar, Ki Sanak. Bahwa memang akulah orang yang kau maksud, dan kau tidak perlu membawa-bawa nama Swargi guruku, karena memang tidak ada hubungannya dengannya. Apa sebenarnya keperluanmu datang menemuiku?”.
“Murid tertua Orang Bercambuk yang terkenal sebagai orang yang peragu, ternyata dapat pula bersikap tegas terhadap orang yang baru saja ditemuinya”.
“Sepertinya kau telah banyak mengetahui tentang diriku, siapakah kau sebenarnya, Ki Sanak?”.
“Siapakah yang tidak mengenal Agul-Agulnya Mataram? yang kata orang telah memiliki ilmu hingga sundul langit, karena saking tingginya ilmu yang kau miliki?”.
“Ah… kau terlalu berlebihan, Ki Sanak. Aku tidak memiliki kemampuan seperti yang telah kau sebutkan itu, aku tidak lebih dari layaknya orang kebanyakan”.
“Mana mungkin orang yang memiliki ilmu seperti orang kebanyakan dapat menggemparkan Mataram dengan pameran ilmunya yang ngedap-edapi? bahkan Pangeran Mandurareja saja kau buat seperti layaknya anak-anak yang baru belajar kanuragan”.
Berdesir pula hati Ki Agung Sedayu mendengar ucapan orang misterius yang berada di hadapannya tersebut, ternyata orang itu telah banyak mengetahui tentang dirinya.
Hal itu membuatnya semakin bertanya-tanya di dalam hati, sembari berbagai dugaan mulai muncul tentang sosok itu di penalarannya. Namun dirinya tidak ingin semakin terlarut dengan dugaan yang masih belum jelas kebenarannya.
Halaman 17 - 18
“Siapakah kau sebenarnya, Ki Sanak?”. bertanya Ki Agung Sedayu yang tidak ingin terus berteka-teki.
“Pada saatnya kau akan tahu sendiri siapakah aku”.
“Baiklah jika memang itu maumu. Tapi maaf, Ki Sanak. Aku tidak memiliki banyak waktu untuk melayani orang yang tidak aku ketahui jati dirinya. Lagipula kau tadi mengatakan bahwa bukan akulah orang yang kau cari”.
“Baiklah… aku tidak akan ingkar, aku memang sengaja datang menemuimu untuk memberikan peringatan kepadamu”.
“Peringatan? peringatan apa yang kau maksud?”.
“Kau tentu tahu bahwa tidak lama lagi akan pecah perang antara Surabaya dan Mataram, meski aku bukanlah bagian dari Pasukan Surabaya, tetapi aku menempatkan diriku sebagai lawan Mataram. Dan aku memilihmu sebagai lawan pada saat itu tiba”.
“Bukankah kita belum pernah saling mengenal sebelumnya? apalagi berselisih sebelumnya? tetapi kenapa kau bersikap demikian kepadaku, Ki Sanak?”.
“Kau akan tahu siapakah aku sebenarnya hingga saatnya tiba”.
“Kenapa kau berbuat demikian? apakah tidak ada jalan lain yang lebih baik untuk kau pilih? dan jika menilik sikapmu, tentu kau memiliki alasan terpendam, kenapa memilihku?”.
“Kau jangan merasa telah memiliki ilmu sundul langit dan tidak akan ada yang dapat mengalahkanmu di sepanjang tanah ini, sebab aku sudah mengetahui kelemahanmu”.
“Mungkin itu hanya kata orang-orang, tetapi aku tidak pernah merasa demikian. Aku tidak pernah merasa memiliki ilmu sundul langit seperti yang kau sebutkan itu. Dan bukankah setiap orang yang ada di dunia ini pasti memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing?”.
“Tetapi kelemahan yang aku maksud adalah pengapesan dari ilmu yang kau pelajari selama ini”.
“Pengapesanku?”. sahut ayah Sekar Wangi mengulangi ucapan orang yang berada di hadapannya dengan kening berkerut.
“Ya… pengapesanmu”.
“Setiap orang pasti memiliki keberuntungan dan pengapesannya masing-masing, dan jika kau telah digariskan untuk menjadi lantaran dari Yang Maha Welas Asih sebagai pengapesanku, aku akan menerima semua itu dengan rilo legowo”.
“Apakah kau sadar dengan apa yang kau katakan itu?”.
“Ya… aku menyadari sepenuhnya, apakah ada yang salah dengan ucapanku itu? bukankah setiap orang yang terlahir di dunia ini tidak akan lepas dari watak apes, lali, lan pati?”.
“Tadi kau menunjukkan kepadaku sikap sombong yang tiada tara, tetapi kenapa kini tiba-tiba kau menjadi seperti kerupuk yang disiram air? seperti orang yang sudah tidak memiliki pengharapan dalam hidupnya?”.
“Bukankah sebaik apapun kita berusaha dan setinggi apapun ilmu yang kita miliki, tetapi jika kita sudah dihadapkan pada kuasa Yang Maha Welas Asih, betapa kerdilnya semua itu?”.
“Menarik sekali, dan aku hargai sikap yang kau tunjukkan itu. Jarang sekali aku bertemu dengan orang yang memiliki sikap seperti yang kau tunjukkan itu”. sahut orang misterius yang masih tetap bersembunyi dari balik kabut tebalnya.
“Maaf Ki Sanak, apakah kau masih memiliki keperluan lain selain apa yang telah kau sampaikan itu?”. sahut Ki Agung Sedayu yang teringat akan tugas-tugas yang telah menantinya.
Halaman 19 - 20
“Aku juga tidak punya banyak waktu untuk berlama-lama di tempat ini, sekali lagi aku hanya ingin mengingatkan kepadamu. Persiapkanlah lahir dan batinmu dengan sebaik-baiknya hingga saat itu tiba, dan jangan membuatku kecewa”.
“Terima kasih atas peringatanmu, Ki Sanak. Semoga nanti pada saat yang kau maksud itu, aku tidak mengecewakanmu”. sahut ayah Sekar Wangi.
Sejenak kemudian orang misterius yang sedari tadi hanya terlihat seperti bayangan hitam mulai beranjak dari tempat itu dengan bekal kemampuannya yang sangat tinggi.
Sementara Ki Agung Sedayu memang sengaja menunggu orang yang mencarinya itu pergi lebih dulu, baru kemudian dirinya akan kembali lagi ke tempat kedua istrinya berada.
Dengan kepergian orang itu, maka mulai memudar pula balutan kabut tebal yang menyelimuti sekitar tempat itu hingga akhirnya hilang dan seakan tak berbekas sama sekali.
Kini yang ada adalah kabut yang sewajarnya, kabut yang agak tebal disertai dengan dinginnya pagi, sebagai pertanda bahwa sepertinya tidak lama lagi hari baru akan dimulai.
Murid tertua dari Swargi Kyai Gringsing itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam dari tempatnya berdiri, untuk sekedar mengurangi kepepatan hatinya setelah melepas kepergian orang yang belum diketahui jati dirinya tersebut.
Sebagai hamba dari Yang Maha Welas Asih, dirinya tidak pernah merasa takut dengan apapun dan siapapun yang bakal dihadapinya, meski hal itu sangat berbahaya atau bahkan akan dapat membuatnya kehilangan selembar nyawanya sekalipun.
Namun sebagai manusia biasa, dirinya tidak dapat membohongi dirinya sendiri. Bahwa tetap saja jantungnya berdebar-debar mendapat peringatan sekaligus tantangan dari orang yang belum dikenal, dan memiliki kemampuan sangat tinggi.
Di dalam hatinya yang paling dalam, sering muncul pertanyaan? kenapa jalan hidupnya harus seperti ini? kenapa orang datang silih berganti kepadanya dan seakan tiada pernah habisnya untuk bertarung dengan alasannya masing-masing.
Namun kebanyakan yang terjadi adalah awalnya karena alasan kepentingan yang berseberangan dan tidak dapat diselesaikan dengan cara baik-baik, dan dari hal itu pula yang kemudian memicu dendam kesumat dari orang-orang terdekatnya.
Dari dendam satu ke dendam yang lain hingga seakan tiada pernah ada habisnya dari sejak dirinya masih muda sampai pada umurnya sekarang.
Sampai kapan hidupnya akan seperti ini? hidup yang selalu diliputi oleh perseteruan dan pertarungan antara hidup dan mati karena perbedaan sikap dan pandangan.
Mungkinkah harus menunggu dirinya tiada lebih dahulu, agar hidupnya tidak akan lagi dikejar oleh pertarungan demi pertarungan yang semakin lama semakin menjemukannya?.
Padahal di dasar hatinya yang paling dalam, dirinya hanya ingin hidup wajar bersama keluarga dalam kehidupan bebrayan agung yang penuh dengan kedamaian, tata titi tentrem karta raharja.
Namun sepertinya hal itu terasa sulit sekali untuk digapai di dalam hidupnya dan seakan itu hanya akan menjadi sebuah harapan dan khayalannya semata.
Sebab selama ini selalu ada saja alasannya yang menyebabkan dirinya harus terlibat kedalam sebuah perselisihan hingga akhirnya harus membawanya ke dalam sebuah pertarungan yang bagaimanapun jenisnya.
“Mungkin jika nanti aku telah benar-benar mengundurkan diri, aku dapat merasakan kehidupan wajar dengan penuh kedamaian bersama keluargaku dan orang-orang di sekitarku”. membatin Ki Agung Sedayu dalam kesendiriannya.
Halaman 21 - 22
Namun ayah Bagus Sadewa itu tidak ingin berlama-lama lagi terlarut ke dalam perasaan yang terasa masih jauh dari jangkauan kehidupannya sekarang.
Dan dirinya segera teringat akan kedua istrinya yang tadi ditinggalkannya, maka dia pun segera memutar badannya dan segera kembali agar tidak semakin membuat mereka gelisah.
Dengan bekal kemampuan yang dimilikinya, tidak butuh waktu lama untuk mencapai tempat dimana kedua istrinya yang masih dengan setia menunggu kedatangannya.
“Apa yang telah terjadi, Kakang?”. bertanya Nyi Pandan Wangi yang tidak dapat menahan diri lagi, ketika melihat suaminya telah kembali.
Kemudian ayah Sekar Wangi itu menceritakan secara singkat apa yang baru saja telah terjadi, bahwa ada seseorang yang telah menunggunya untuk mengadu liatnya kulit dan kerasnya tulang pada saat pecah perang nanti.
“Jika memang benar dia bukanlah bagian dari Pasukan Surabaya, tetapi dengan sengaja datang untuk menantang Kakang, bukankah itu sama saja artinya dia sedang memancing di air yang keruh?”. sahut Nyi Pandan Wangi setelah suaminya selesai bicara.
“Mbokayu benar. Tetapi menurut pendapatku, sebenarnya dia memang adalah orang kepercayaan Surabaya yang sengaja disiapkan untuk menghadapi salah satu Senopati Mataram yang dianggap memiliki kelebihan”.
“Ya… mungkin pula, hanya saja dia tidak mau mengatakan yang sebenarnya kepada Kakang Agung Sedayu yang akan menjadi calon lawannya pada saatnya nanti”.
“Segala kemungkinan dapat terjadi, tetapi yang paling jelas adalah dia adalah orang yang benar-benar berilmu sangat tinggi. Selain itu, berdasarkan dari ucapannya yang aku dengar menyiratkan pula bahwa dia adalah orang yang waskhita”.
“Maksud Kakang?”. kali ini Nyi Sekar Mirah lah yang menyahut.
“Dia mengatakan bahwa telah mengetahui pengapesan dari ilmu yang aku miliki”.
“Apakah Kakang percaya dengan ucapan orang itu?”.
“Jika menilik sekilas dari kemampuan yang ditunjukkannya, sepertinya dia tidak main-main dengan apa yang diucapkannya itu”. sahut Ki Agung Sedayu dengan wajah bersungguh-sungguh.
“Apa ilmu yang Kakang kuasai itu memang memiliki sebuah pengapesan akan suatu hal atau benda tertentu?”. sahut Nyi Sekar Mirah yang penasaran.
“Aku sendiri pun masih ragu akan hal itu”.
“Jika Kakang sendiri saja tidak tahu, mungkin saja orang itu sengaja menghembuskan cerita ngayawara itu kepada Kakang sebelum memulai pertarungan, dengan tujuan untuk mengguncang ketahanan jiwani Kakang sebelum memasuki medan yang sebenarnya”.
“Aku sependapat dengan Mbokayu, mungkin itu hanyalah pendapatnya secara pribadi. Jika pada akhirnya itu adalah sebuah kebenaran, maka itu hanya sebuah kebetulan saja. Tetapi yang jelas itu hanya bertujuan untuk mengguncang ketahanan jiwani Kakang Agung Sedayu saja”.
“Ya… sepertinya dalam hal ini kita sependapat, Sekar Mirah”. sahut Nyi Pandan Wangi, lalu menoleh ke arah suaminya.
Adik kandung Ki Untara itu tiba-tiba nampak terdiam di tempatnya berdiri, sepertinya ada sesuatu yang masih coba diingat-ingatnya kembali.
“Apa yang sedang Kakang pikirkan?”. berkata Nyi Sekar Mirah membuyarkan penalaran suaminya.
“Sepertinya aku ingat akan sesuatu”.
Halaman 23 - 24
“Apa itu, Kakang?”.
“Tentang apa yang telah dikatakan orang itu, tentang pengapesan ilmuku”. sahut Ki Agung Sedayu dengan perasaan ragu.
“He…?”. sahut istrinya yang terkejut hampir bersamaan.
“Benarkah itu?”. bertanya ibu Bagus Sadewa.
“Setelah aku ingat-ingat kembali apa yang tertulis di dalam kitab yang pernah aku pelajari…”.
“Memangnya apa yang Kakang ingat?”. sahut Nyi Sekar Mirah yang semakin merasa tidak sabar, ketika suaminya tidak segera melanjutkan kata-katanya.
Sejenak kemudian Ki Agung Sedayu pun mulai menjelaskan secara singkat, namun masih dengan perasaan ragu dengan apa yang dikatakannya tersebut.
Kedua perempuan perkasa itu seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya, namun karena yang berbicara itu adalah suaminya yang telah dikenalnya dengan sangat baik membuat mereka mencoba percaya.
“Aku baru tahu jika ilmu yang Kakang pelajari selama ini ternyata menyimpan sebuah pengapesan”. sahut ibu Bagus Sadewa setelah suaminya selesai menjelaskan.
“Lalu bagaimana sikap Kakang dalam menghadapi tantangan orang misterius tadi? bukankah tadi Kakang bilang, bahwa dia telah mengetahui pengapesan, Kakang?”. ucap Nyi Pandan Wangi ikut menimpali.
“Apakah aku harus bersembunyi dibalik punggung kalian?”. sahut ayah Sekar Wangi sembari tersenyum.
“Ah Kakang, Kakang masih saja dapat berkelakar menghadapi keadaan seperti ini. Ingat, Kakang! dia adalah orang yang berilmu sangat tinggi dan tidak dapat kita jadikan bahan kelakar”.
“Aku mengerti maksudmu, Pandan Wangi. Lagipula tidak ada niatku sedikitpun di dalam hatiku untuk membuat masalah ini menjadi bahan kelakar”.
“Lalu apa yang akan Kakang lakukan?”.
“Aku belum tahu pasti, namun yang jelas semua ini aku pasrahkan kepada Yang Maha Welas Asih, karena hanya kepada-Nya lah aku meminta pertolongan dan perlindungan selain aku juga akan berusaha dengan sebaik-baiknya”.
Wajah kedua perempuan itu nampak lesu setelah mendengar jawaban dari suaminya yang demikian, sebab mereka sendiri pun merasa belum memiliki pendapat yang lebih baik.
“Di dalam isi kitab itu memang disebutkan kelemahan ilmu yang aku pelajari, tetapi disisi lain disebutkan pula bahwa di dalam sebuah kelemahan itu terdapat kelebihan”.
“Aku tidak mengerti maksud Kakang”. sahut Nyi Sekar Mirah dengan kening berkerut.
“Aku sendiri pun belum tahu maksud dari kata-kata itu, sebab di dalam kitab itu hanya disebutkan demikian. Dan aku selaku orang yang mempelajari isi kitab tersebut harus mencarinya sendiri artinya kata-kata yang dimaksud”.
“Sepertinya kita sudah terlalu lama berada di tempat ini, jika tidak ada lagi yang ingin sampaikan, sebaiknya kami segera menyusul rombongan, agar kami tidak semakin jauh tertinggal dan membuat mereka berprasangka”.
“Sepertinya sementara ini memang tidak ada lagi, untuk selanjutnya kita menunggu perkembangan yang ada. Aku atau kalian lebih dulu yang melontarkan isyarat”.
“Tetapi jika kami lontarkan isyarat, Kakang jangan lama-lama menjawabnya, agar kami tidak dirundung kegelisahan. Seperti yang tadi Kakang lakukan”. sahut Nyi Pandan Wangi.
Halaman 25 - 26
*****
Sementara di tempat lain pada waktu yang hampir bersamaan, empat orang penunggang kuda telah mulai mendekati tepian Kali Praga yang masih diselimuti kegelapan bersama kabut menjelang pagi yang terasa dingin.
Betapa terkejutnya keempat orang itu setelah melihat jejak-jejak yang telah ditinggalkan di tepian itu, dan sontak saja membuat mata mereka memeriksa berkeliling sembari masih tetap berada di atas punggung kudanya masing-masing.
Belum hilang rasa terkejutnya keempat orang itu, kini telah dikejutkan kembali akan keberadaan enam ekor kuda yang ditambatkan di tepian tanpa penunggangnya.
“He… apa yang telah terjadi?”. berkata salah satu dari mereka yang tidak dapat menahan diri untuk terus berdiam diri.
“Apakah kawan-kawan kita telah mengalami nasib buruk?”. sahut kawannya yang lain.
“Sebaiknya kita turun dan memeriksa keadaan sekitar, barangkali kita masih dapat menemukan jejak yang mereka tinggalkan”. sahut pemimpin rombongan kepada kawan-kawannya.
“Apakah tidak berbahaya, Kakang? bukan aku takut, tetapi menurutku masih ada kemungkinan orang-orang yang telah menghadang kawan-kawan kita itu masih bersembunyi dan kemudian akan bersiap mencelakai kita satu persatu”.
Namun pembicaraan mereka harus terhenti ketika terdengar suara dari balik tebing, lalu disertai dengan kemunculan beberapa orang dari balik kegelapan.
“He… Kawul, ini kami!”.
Sontak saja keempat orang yang baru saja datang segera menoleh ke arah sumber suara dengan penuh tanda tanya, sembari tidak lupa tetap dalam kewaspadaan tertinggi terhadap segala kemungkinan”.
Setelah jarak mereka semakin dekat, maka semakin jelaslah siapa gerangan orang-orang yang muncul dari balik kegelapan, ternyata para Pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang bersembunyi.
“Apa yang kalian lakukan, Kakang? kenapa kalian malah masih sempat-sempatnya bermain petak umpet pada saat mendapat tugas yang sangat penting?”.
“Main petak umpet gundulmu itu, kami memang sengaja bersembunyi karena kami pikir kalian itu adalah para penculik Sekar Wangi yang akan keluar dari Tanah Perdikan Menoreh”.
“Oh… pantas saja kalian bersembunyi”.
“Meskipun kami tidak akan dapat mengalahkan mereka, tetapi paling tidak kami akan berusaha membututi mereka”.
“Tetapi sebaiknya kalian urungkan saja niat kalian untuk membututi mereka sekaligus tugas kalian dari Ki Jagabaya”.
“Apa maksudmu, Kawul? apakah kau berkata sebenarnya?”.
“Benar Kakang, mana mungkin dalam keadaan seperti ini aku berani berkelakar? jika Kakang tidak percaya, mereka adalah saksinya”. sahut Kawul sembari menunjuk ketiga kawannya yang datang bersamanya.
“Baiklah, tetapi apa yang sebenarnya telah terjadi?”.
“Sekar Wangi telah kembali”.
“He… Sekar Wangi telah kembali? bagaimana itu bisa terjadi dengan demikian cepatnya?”. sahut pemimpin pengawal pada rombongan pertama terkejut bukan kepalang dengan apa yang telah didengarnya.
“Penculik yang mengaku bernama Kyai Samber Geni itu mengatakan bahwa dalam pelariannya, dia telah dihadang dan dikalahkan oleh orang yang mengaku bernama Ki Pringsewu”.
Halaman 27 - 28
“He… Ki Pringsewu, katamu?”.
“Demikianlah… kenapa kau menjadi sangat terkejut mendengar nama Ki Pringsewu?”.
“Tadi kami juga dihadap oleh Ki Pringsewu di tempat ini”.
“He…?”. kali ini Kawul dan kawan-kawannya lah yang menjadi sangat terkejut hampir bersamaan.
“Lalu apa yang terjadi dengan Kakang dan kawan-kawan yang lain?”. bertanya Kawul penasaran.
Kemudian orang yang dipanggil Kakang itu menjelaskan secara singkat kejadian yang dialami bersama kelima kawannya, termasuk peringatan dari Ki Pringsewu yang menyuruh mereka untuk kembali saja ke Tanah Perdikan Menoreh.
“Sepertinya Ki Pringsewu memang tidak benar-benar berniat buruk kepada kalian”.
“Aku juga berpikir demikian setelah mendengar keterangan darimu bahwa Ki Pringsewu pulalah yang telah berhasil membuat Sekar Wangi kembali lagi dalam keadaan selamat”.
“Maka dari itu kami ditugaskan untuk menyusul kalian agar mengurungkan tugas kalian yang akan melaporkan kejadian ini kepada Ki Agung Sedayu”.
“Ternyata kami terlalu berprasangka kepada Ki Pringsewu”.
“Kami tidak dapat menyalahkan kalian, sebab jika tadi aku yang berada di posisi Kakang pun tentu akan melakukan hal yang sama seperti apa yang Kakang dan kawan-kawan yang lain lakukan. Karena kita tidak boleh percaya kepada orang asing begitu saja tanpa dasar yang jelas”.
“Kau benar, dan sebaiknya kita segera kembali agar tidak semakin menimbulkan pertanyaan. Lagipula disini tidak ada Wedang Sereh dan Ketela Pohon yang masih mengepul”.
“Ah… macam kau”. sahut Kawul sembari tertawa masam.
“Bukankah memang benar apa yang aku katakan?”.
“Marilah kita segera kembali, agar Kakang tidak semakin meracau seperti orang yang sedang ngidam tapi tidak kesampaian”. sahut Kawul sembari tertawa mengejek, lalu segera melompat ke atas punggung kudanya kembali.
“Awas kau”. sahut Pemimpin Pengawal pada rombongan pertama itu dengan wajah tampak bersungut-sungut, sembari mengacungkan tangannya yang terkepal.
Kemudian mereka pun segera menghampiri kuda masing-masing yang masih tertambat di tepian, lalu membawanya kembali ke Tanah Perdikan Menoreh.
Dan pada akhirnya keenam pengawal yang semula ditugaskan untuk menyampaikan pesan itu mengurungkan niatnya dan harus kembali tanpa merasa bersalah karena gagal melaksanakan tugas yang dibebankan.
Sebab mereka telah mendapat pesan dari kawan-kawannya yang berhasil menyusul, bahwa masalah berat yang beberapa saat tadi sempat mengguncang Tanah Perdikan Menoreh kini telah kembali menjadi baik.
Setelah adanya campur tangan dari Ki Pringsewu yang datang dengan begitu tiba-tiba, yang entah siapakah gerangan dirinya dan dari manakah asalnya.
Namun hal itu tidak menjadi soal, sebab yang paling penting sekarang adalah ontran-ontran itu sendiri sudah mereda seperti yang diharapkan semua orang Tanah Perdikan Menoreh.
Mungkin orang itu akan menjadi bahan pembicaraan yang sangat menarik bagi orang-orang yang pernah bertemu atau hanya mendengarkan ceritanya saja untuk beberapa lama, hingga akhirnya yang membicarakannya akan merasa bosan sendiri.
Halaman 29 - 30
Namun biarlah sosok tentang orang yang sudah sangat sepuh dan mengaku bernama Ki Pringsewu itu tetap menjadi misteri bagi orang-orang itu hingga entah kapan waktunya.
*****
Sementara itu Ki Jagabaya yang telah mendapat perawatan atas luka-lukanya, kini masih berada di pendapa bersama beberapa pemimpin pengawal di waktu yang tidak lama lagi matahari akan terbit di sisi sebelah timur.
Sepertinya ada yang perlu mereka bicarakan bersama, sehingga para pemimpin pengawal yang sebenarnya tidak mendapat giliran tugas harus menunda kepulangannya ke rumah masing-masing.
Wedang Sereh dan Ketela pohon yang masih mengepul kembali dihidangkan di pendapa sebagai kawan berbincang dalam suasana menjelang pagi yang dingin.
“Kita wajib mengucapkan syukur kepada Yang Maha Welas Asih, sebab ontran-ontran yang terjadi telah terselesaikan dengan cara yang tidak pernah kita duga sebelumnya”.
“Ki Jagabaya benar”. sahut salah satu pemimpin pengawal.
“Kita juga wajib berterima kasih kepada Ki Pringsewu jika ada kesempatan bertemu dengannya, sebab orang yang tidak pernah kita tahu jati dirinya itu tiba-tiba telah menolong kita semua”.
“Semoga saja Yang Maha Agung memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengannya, karena biar bagaimanapun kita telah berhutang budi kepadanya”. sahut salah satu bebahu Tanah Perdikan Menoreh yang baru saja datang setelah mendengar ontran-ontran yang terjadi.
“Sekarang kita dapat bernafas lega, sebab persoalan ini tidak menjadi berkepanjangan. Tapi, ada persoalan lain yang harus kita carikan penyelesaiannya pula segera”.
“Maksud Ki Jagabaya?”. sahut bebahu itu dengan kerut di kening.
“Bukankah sekarang kita memiliki tawanan? bagaimana menurut pendapat kalian? apa yang harus kita lakukan terhadap mereka?”. sahut Ki Jagabaya sembari memandang berkeliling dengan maksud meminta pendapat kepada semua orang yang hadir.
Namun belum sempat ada yang menjawab, mereka dikejutkan oleh suara derap kaki kuda dari kejauhan yang sepertinya tidak hanya seekor, tetapi cukup banyak dan berhasil memecah keheningan suasana di pagi yang dingin.
Ternyata hampir semua orang yang berada di pendapa itu dapat mendengarnya pula, sehingga membuat mereka saling pandang sejenak sembari penuh tanda tanya.
Mereka mencoba mengamati suara derap kaki kuda itu dengan sebaik-baiknya sebelum membuat kesimpulan, apakah akan mengarah ke padukuhan induk, tempat mereka berada atau tidak? dan beberapa dugaan lainnya.
“Apakah itu Kawul dan kawan-kawannya telah kembali? tetapi aku rasa suara derap kaki kudanya terlalu banyak, lagipula mana mungkin dia akan kembali secepat ini?”. desis Ki Jagabaya yang berusaha menduga-duga.
“Mungkinkah kita akan kedatangan tamu tak diundang lagi di waktu pagi-pagi begini?”. sahut salah satu pemimpin pengawal yang ikut menduga-duga, sembari memandang berkeliling.
Seketika orang-orang yang berada di pendapa itu menegang, suara derap kaki kuda itu benar-benar mengejutkan semua orang yang berada di tempat itu.
“Semua kemungkinan dapat terjadi, tetapi semoga saja bukan kemungkinan yang buruk”. sahut Ki Jagabaya yang berusaha menenangkan kawan-kawannya.
“Apa yang harus kita lakukan, Ki Jagabaya? apakah aku perlu mengumpulkan para pengawal?”. sahut sahut pemimpin pengawal yang paling dituakan di tempat itu.
Halaman 31 - 32
“Ontran-ontran baru saja terjadi sudah sangat mengguncang kita semua, aku tidak ingin orang-orang Menoreh diliputi ketegangan kembali tanpa kejelasan. Dan kita belum tahu siapakah mereka yang datang, sebaiknya kita tunggu saja dulu hingga semuanya jelas”.
“Aku sependapat dengan Ki Jagabaya, sebaiknya kita persiapkan saja orang-orang yang ada di tempat ini dulu, sembari menunggu kejelasan siapakah yang datang agar tidak membuat gelisah banyak orang”. bebahu yang tampak sudah berumur itu ikut menimpali.
“Baiklah kalau begitu”.
Sementara derap kaki kuda itu semakin dekat, dan suaranya pun semakin jelas terdengar. Sehingga tanpa diberitahukan kedatangan mereka kepada orang-orang Menoreh pun, para kawula Menoreh sudah dapat mendengarnya sendiri bahwa pada saat pagi-pagi buta itu mereka kedatangan rombongan berkuda.
Meski para kawula Menoreh belum berbuat sesuatu sebelum adanya perintah, namun jantung mereka berdebar-debar pula di rumahnya masing-masing sembari menduga-duga.
Semakin lama suara derap kaki kuda itu memang mengarah ke tempat Ki Jagabaya dan yang lain sedang berkumpul, sehingga membuat mereka segera bersiap dengan segala kemungkinan yang bakal terjadi.
Untuk menyambutnya, lima orang pengawal ditugaskan untuk menjaga regol dan siap-siap menghadang rombongan yang belum mereka ketahui jati dirinya.
Pada akhirnya rombongan berkuda itu sampai pula di depan regol rumah Nyi Pandan Wangi. Kemudian semuanya turun dan menyapa pengawal yang bertugas.
“Apakah sesuatu telah terjadi lagi, selama kami pergi?”. bertanya pemimpin pengawal yang baru saja datang itu.
“Syukurlah jika Kakang dan kawan yang lain yang datang”.
“Apa maksudmu?”.
“Kami yang berada disini telah banyak berprasangka, dan tidak lupa kami telah mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan”.
“Oh… aku dapat mengerti, tetapi sekarang aku ingin melaporkan dulu hasil perjalananku kepada Ki Jagabaya. Apakah dia belum beristirahat?”.
“Belum Kakang, Ki Jagabaya masih berada di pendapa bersama yang lain”.
Kemudian rombongan yang baru saja datang itu segera menemui Ki Jagabaya dan orang-orang penting di Tanah Perdikan Menoreh setelah sebelumnya menambatkan kudanya masing-masing.
Dan orang-orang yang berada di pendapa itu kini bernafas lega setelah menyadari siapakah rombongan yang datang, lalu mereka menyambutnya dengan suasana yang hangat.
“Syukurlah jika kalian yang datang, tadi kami sudah diliputi ketegangan kembali setelah mendengar derap kaki kuda dari kejauhan”. berkata Ki Jagabaya setelah utusannya itu duduk di pendapa dan bergabung dengan yang lain.
“Aku minta maaf jika telah membuat kalian semua dirundung kegelisahan karena kedatangan kami”.
“Semua itu karena kami tidak akan mengira jika kalian akan dapat kembali secepat ini, apa yang sebenarnya telah terjadi?”. sahut Ki Jagabaya yang masih merasa heran.
Kemudian pemimpin utusan itu menjelaskan secara singkat apa yang mereka alami selama di perjalanan, hingga akhirnya kembali setelah disusul oleh rombongan Kawul.
“Ki Pringsewu?”. desis Ki Jagabaya dan hampir semua orang yang baru saja mendengar laporan itu dan tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.
Halaman 33 - 34
“Demikianlah Ki Jagabaya, di tepian Kali Progo sebelum kami menyeberang, kami telah dihadang oleh Ki Pringsewu yang ternyata berilmu sangat tinggi. Dan pada akhirnya kami harus mengakui bahwa dengan kami yang berenam pun kami tidak berdaya menghadapinya”.
“Jangankan kalian berenam, ternyata para penculik yang telah membuat ontran-ontran disini dan tidak ada yang mampu menghentikan mereka pun harus mengakui kenyataan bahwa mereka tidak berdaya menghadapi Ki Pringsewu ”.
“Iya Ki Jagabaya, tadi Kawul pun sudah sempat menceritakannya kepadaku sekilas tentang hal itu”.
“Apakah masih ada yang ingin kau laporkan?”.
“Aku rasa hanya itu yang dapat aku laporkan dari hasil perjalananku bersama kawan-kawan yang lain malam ini”.
“Terima kasih atas laporanmu, dan sebaiknya kita lanjutkan pembicaraan yang tadi sempat tertunda”. sahut Ki Jagabaya.
“Jika aku telah mengganggu pembicaraan kalian, sebaiknya aku segera kembali ke tempatku”. sahut pemimpin utusan yang baru saja datang itu, sembari bersiap beranjak dari tempat duduknya.
“Kalian berdua tidak perlu pergi, ini pembicaraan kita bersama dan untuk kepentingan kita bersama pula”. sahut Ki Jagabaya segera mencegahnya.
Dua orang yang baru saja datang yang mewakili kawan-kawannya itupun segera mengurungkan niatnya untuk pergi dari pendapa, sebab keduanya termasuk orang-orang yang dianggap penting di jajaran Pasukan Pengawal.
“Lalu bagaimana pendapat kalian tentang para tawanan itu? dengan kepergian para pepunden kita yang entah sampai kapan, maka membuat kita kebingungan untuk membuat keputusan. Tetapi disisi lain, kita tidak dapat membiarkan ini terus berlarut-larut”.
Seketika orang-orang yang hadir di pendapa itu kembali terdiam karena mereka masih kebingungan untuk mencari jawaban yang dianggap paling baik.
Guna mengurangi ketegangan dalam berpikir, satu dua diantara mereka mulai menikmati hidangan yang ada, yang kemudian diikuti yang lain pula.
Pagi yang dingin disertai embun yang menghalangi pandangan mata jarak jauh membuat suasana makin lengkap dengan mereka mulai diperdengarkan suara kicau burung-burung pagi yang terkesan begitu riangnya, yang seolah-olah telah melupakan begitu saja ontran-ontran yang semalam telah terjadi.
“Tentang para tawanan itu, aku persilahkan Ki Jagabaya saja yang memutuskan, apakah kalian setuju?”. ucap bebahu itu menyampaikan pendapatnya.
“Jangan begitu Ki, sebab aku sendiri pun tidak berani mengambil keputusan yang nantinya harus aku pertanggung jawabkan benar dan salahnya di hadapan pepunden kita. Maka dari itu aku mengajak kalian semua untuk berunding”. sergah Ki Jagabaya yang tidak berani memikul tanggung jawab itu seorang diri.
“Meskipun kita berunding, tetapi jika pada akhirnya tidak ada yang berani mengambil keputusan, lalu bagaimana? bukankah jika demikian perundingan kita hanya akan sia-sia belaka?”.
Hampir semua orang yang hadir di tempat itu hanya dapat terdiam dan dalam hati masing-masing membenarkan pula pendapat tersebut.
“Untuk apa kita berunding jika pada akhirnya tidak ada yang diputuskan?”.
Pertanyaan yang kurang lebih sama telah terngiang pada penalaran orang-orang tersebut, namun di sisi lain mereka harus segera mengambil keputusan terhadap nasib para tawanan yang telah menunggu dalam kepasrahan.
Halaman 35 - 36
*****
Sementara itu Pasukan Surabaya yang semalam telah tiba di Wirasaba, mereka masih memiliki cukup waktu untuk beristirahat sebelum kembali melanjutkan perjalanan untuk melakukan pengejaran terhadap Pasukan Mataram.
Ki Tumenggung Surawisa yang kebetulan mendapat kepercayaan dari Kanjeng Adipati Jayalengkara untuk menjadi Senopati Agung pun harus benar-benar memperhatikan keadaan pasukannya.
Jangan sampai pasukannya kekurangan makan dan istirahat, sebab jika terjadi demikian. Dan jika nantinya mereka berhasil menyusul pasukan lawan, maka dapat dipastikan mereka tidak berada dalam kemampuan terbaiknya.
Dan jika yang terjadi demikian, maka secara tidak langsung mereka diibaratkan seperti ulo nantang gebuk, atau dengan kata lain mereka hanya akan membunuh diri.
Meskipun mereka adalah pasukan yang terdiri dari orang-orang pilihan, namun bukan berarti mereka telah terhindar dari kebutuhan lahiriah.
Setinggi apapun kemampuan seseorang, pasti dirinya tidak akan mampu melepaskan diri dari kebutuhan lahiriah. Sebab itu memang sudah menjadi pepesthen dari Yang Maha Welas Asih yang tidak dapat lagi ditawar oleh siapapun.
Meskipun ada kalanya manusia menjalani laku-laku tertentu yang bersifat menghindari kebutuhan lahiriah karena tujuan tertentu. Namun pada akhirnya, jika laku tersebut telah selesai maka akan kembali lagi ke kodratnya.
Sebab jika kita tidak memenuhi kebutuhan lahiriah tersebut, maka secara perlahan-lahan raga kita akan mengalami kerusakan, dan kemungkinan paling buruknya adalah kita akan kehilangan nyawa kita yang hanya selembar-lembarnya untuk menjalani hidup selama di dunia ini.
Pasukan Surabaya yang tadi malam tiba di Wirasaba memang sengaja memilih Istana Kadipaten sebagai tempat peristirahatan sementara, sebab mereka tahu tempat itu kini telah kosong setelah terjadi penyerangan dari Pasukan Mataram.
Rombongan Ki Tumenggung Wisabaya sebagai pasukan kecil pembuka jalan memang sengaja memilih tempat itu karena dianggap tempat yang paling baik, sebelum mereka akan keluar masuk hutan selama pengejaran.
Sementara pagi itu pasukan tersebut sudah hampir seluruhnya mulai terbangun di tempatnya masing-masing meski dengan perasaan yang masih malas.
Namun pada akhirnya mereka bangkit pula ketika teringat akan tugas berat yang masih menanti dari yang baru mereka mulai di tempat mereka sedang berpijak.
“Ternyata Pasukan Mataram tidak lebih dari sekumpulan orang-orang pengecut”. ucap seorang Prajurit Surabaya berwajah garang yang baru saja bangkit dari pembaringannya.
“Bukan Pengecut”. sahut kawannya yang lain.
“Lalu apa namanya kalau bukan pengecut? jika mereka melarikan diri ketika tahu akan kedatangan kita?”. sahut orang pertama tadi dengan kening berkerut.
“Tentu karena mereka sadar, bahwa mereka tidak akan menang melawan kita”.
“Ada benarnya pula ucapanmu”.
“Mereka tentu sudah memperhitungkan semuanya, meski mereka masih memiliki beberapa orang yang berilmu sangat tinggi sekalipun. Tetapi apalah artinya semua itu, jika harus menghadapi pasukan kita yang masih utuh?”.
“Apakah maksudmu kita akan dengan mudah dapat mengalahkan mereka, jika kita berhasil mengejarnya?”.
Halaman 37 - 38
“Mungkin”.
“Kenapa mungkin? bukankah tadi kau bilang bahwa apalah artinya beberapa orang yang berilmu tinggi jika harus menghadapi pasukan kita yang masih utuh?”.
“Bukankah kita belum tentu berhasil mengejar mereka sebelum memasuki Mataram?”.
Pembicaraan itu kemudian harus terputus karena nasi ransum telah datang, sehingga mulut mereka menjadi sibuk untuk mengunyah makanan yang disuapkan ke dalam mulut.
Sementara orang-orang penting dari Pasukan Surabaya sedang berkumpul di satu tempat sembari membicarakan apa saja yang berhubungan dengan tugas yang mereka emban setelah menikmati makan pagi bersama-sama.
Termasuk Ki Tumenggung Wisabaya yang sejak keberangkatan biasanya terpisah dengan pasukan induk karena tugas yang diembannya.
“Bagaimana dengan tugasmu, Adi Wisabaya? laporan apa yang dapat aku dengar pagi ini?”. berkata Ki Tumenggung Surawisa kepada adik kandung sekaligus adik seperguruannya tersebut.
“Berdasarkan laporan dari prajurit sandi yang kita sebar, pada perkembangan terakhir Pasukan Mataram hanya mampu bergerak lambat, sehingga kemungkinan kita untuk berhasil mengejar mereka sebelum memasuki Mataram semakin besar”.
“Menurut perkiraan, ada berapa orang berilmu tinggi yang perlu mendapat perhatian?”.
“Aku kira hanya beberapa orang saja, Kakang. Selain empat Priyagung Mataram, ada Ki Tumenggung Suratani yang pada hari pertama perang mendapat kepercayaan menjadi Senopati Agung, tetapi terluka parah setelah berperang tanding. Orang yang telah mengalahkan Ki Patih Rangga Permana sampai sekarang masih belum ada kabarnya ada dimana, dan orang yang telah mengalahkan Ki Ageng Wirasaba pun seakan menghilang bagai ditelan bumi setelah terjadi perang tanding”.
“Jadi… kira-kira ada berapa orang berilmu tinggi yang dalam kemampuan terbaiknya untuk bertempur?”.
“Jika itu yang Kakang tanyakan, aku rasa empat Priyagung Mataram itu sendiri dan sisanya sepertinya tidak ada lagi yang terlalu menonjol dan harus mendapat perhatian khusus, paling jika dia dapat sembuh dengan cepat adalah Ki Tumenggung Suratani”.
“Apakah diantara para senopati mereka tidak ada yang terlihat menonjol kemampuannya secara pribadi?”.
“Berdasarkan laporan yang aku terima, tidak ada, Kakang. Para senopati mereka memang termasuk orang-orang yang berilmu sangat tinggi, tetapi tidak ada lagi yang terlalu menonjol dari nama-nama yang telah aku sebutkan”.
“Menurutmu seberapa tinggi tataran kemampuan para Senopati Mataram itu?”.
“Aku rasa para senopati kita pun tidak kalah tinggi”.
“Apakah para senopati kita akan menemui kesulitan jika nanti berhadapan langsung dengan mereka dalam sebuah perang gelar di medan yang sesungguhnya?”.
“Aku kira tidak, Kakang Surawisa. Sebab para senopati kita pun adalah para senopati pilihan dengan kemampuannya yang aku rasa tidak akan mengecewakan”.
“Syukurlah kalau begitu”
“Tetapi jika nanti perang telah pecah, jangan paksa kami untuk bertarung terikat dengan gelar, sebab kami yang tidak terbiasa menggunakannya tentu akan menemukan kesulitan”. sahut orang yang sudah terlihat sepuh namun belum terlalu sepuh dan sama sekali tidak mengenakan ciri-ciri keprajuritan.
Halaman 39 - 40
“Oh… Kyai Sasrawisa tidak perlu kuatir, meskipun nantinya kita akan berperang menggunakan gelar, tetapi aku bebaskan kalian untuk tidak terikat pada gelar itu sendiri. Hanya saja aku berpesan, yang penting kalian jangan mendahului gerak maju pasukan kita”.
“Kami yang bukan prajurit, meskipun mengerti apa itu perang gelar. Tetapi dalam pertempuran yang sesungguhnya kami masih sering lupa dengan segala paugeran perang gelar”.
“Aku dapat memakluminya, Kyai. Sebab kalian yang berasal dari padepokan memang tidak terbiasa dengan segala paugeran perang gelar dalam keprajuritan, sehingga justru hal itu menyulitkan diri kalian sendiri. Dan untuk mengatasi hal itu, maka aku memberikan kebebasan kepada kalian”.
“Ya… aku rasa itu lebih baik, dan aku sudah merasa tidak sabar untuk dapat segera berhadapan dengan sekumpulan orang-orang pengecut itu, terutama pada orang yang mengaku dirinya sebagai Panembahan Hanyakrakusuma itu”.
“Sabar Kyai Gandhawisa, nanti pada saatnya tentu kau akan dapat melakukannya”.
“Aku minta orang itu menjadi lawanku”.
“Sabar Kyai, semua itu nanti akan kita tentukan bersama setelah kita mendapat laporan terakhir atau pada saat menjelang pecah perang agar kita memiliki keterangan yang lebih lengkap siapakah lawan-lawan yang bakal kita hadapi”.
“Aku penasaran dengan kemampuan anak ingusan yang menjadi pepunden seluruh kawula Mataram itu, apakah kemampuannya sudah setara dengan kesombongannya?”.
“Kita semua pasti akan mendapat lawan, Kyai. Tetapi aku harap Kyai dapat lebih bersabar untuk menunggu hingga saatnya tiba”.
“Sebenarnya aku bukanlah orang yang dapat dengan mudah untuk menahan kesabaran, tetapi kali ini aku harus melakukannya. Sebab orang yang akan menjadi pelampiasan ketidak sabaranku itu masih belum berada di hadapanku”.
“Maka dari itu sejak sekarang Kyai harus mulai belajar bersabar, karena segala sesuatu yang kita lakukan itu belum tentu dapat kita lakukan dengan serta merta, ada kalanya kita perlu menunggu. Seperti apa yang kita lakukan sekarang”.
“Silahkan kalian lanjutkan pembicaraan kalian, jika aku terlalu banyak bicara malah justru semakin membuatku tidak dapat menahan diri”.
“Baik Kyai Gandhawisa”. sahut Ki Tumenggung Surawisa yang kemudian memberikan isyarat kepada adik seperguruannya untuk melanjutkan laporannya yang tadi sempat terputus.
“Selain itu ada yang masih ingin aku laporkan kepada Kakang”.
“Apa itu? katakanlah”.
“Semalam ketika aku tiba di tempat ini, aku menemukan seseorang yang mengaku sebagai prajurit sandi Wirasaba yang baru saja pulang dari Tuban untuk menjenguk keluarganya setelah mendengar kabar bahwa disini telah terjadi perang”.
“Lalu?”. sahut Ki Tumenggung Surawisa singkat.
“Dia mengaku telah mengenal dengan baik jalan yang bakal kita lalui, dan dia bersedia membantu kita sebagai penunjuk jalan”.
“Apakah kau yakin dengannya?”.
“Aku sudah berusaha sejauh mungkin mengorek keterangan darinya bersama dengan kawan-kawan yang lain, selain itu kami juga sudah memberi peringatan keras kepadanya. Jika dia berani bermain-main dengan ucapannya, maka aku sendirilah orang pertama yang akan memenggal kepalanya”.
“Lalu apa jawabnya?”.
Halaman 41 - 42
“Sembari dengan wajah ketakutan, dia menjawab. Aku persilahkan Ki Sanak melakukan apapun yang Ki Sanak mau atas diriku, bahkan jika ingin memenggal kepalaku sekalipun”.
“Bagaimana menurut kalian?”. berkata Ki Tumenggung Surawisa kepada semua yang hadir di tempat itu sembari memandang berkeliling untuk melihat tanggapan mereka.
“Aku rasa itu salah satu pertanda baik, bahwa dengan semakin banyaknya orang yang bergabung dengan pasukan ini, maka akan semakin baik pula, meski itu tidak lebih dari hanya sekedar seorang penunjuk jalan”.
“Aku sependapat dengan Kyai Sasrawisa, di dalam pasukan itu memiliki tugas dan perannya masing-masing, termasuk penunjuk jalan sekalipun. Jadi kita jangan menyepelekan seorang penunjuk jalan, sebab dia adalah ujung tombak langkah kita”. sahut Kyai Gandhawisa ikut angkat bicara.
“Ki Tumenggung Gagak Saba, sebagai orang Wirasaba, apakah kira-kira kau dapat mengenali prajuritmu dengan baik?”.
“Maaf Ki Tumenggung Surawisa, selama aku bertugas di Wirasaba, waktuku lebih banyak mengemban tugas untuk mengawal keluarga Kanjeng Adipati, sehingga aku hampir tidak mengenali orang-orang di luar lingkunganku”.
“Tetapi bukankah paling tidak kau dapat mengenali ciri-ciri khusus yang dapat dijadikan dasar penilaian?”.
“Maaf Ki Tumenggung Surawisa, mungkin jika itu adalah prajurit biasa tentu aku dapat memberikan barang sedikit keterangan. Tetapi untuk prajurit sandi, bukankah mereka memang sengaja dirahasiakan ciri khususnya? dan hanya orang-orang tertentu saja yang diperkenankan mengetahuinya”.
“Benar pula ucapanmu”.
“Dan kebetulan orang-orang yang mengetahui rahasia tentang ciri-ciri khusus prajurit sandi telah gugur, yaitu Ki Tumenggung Randuwana, Ki Patih Rangga Permana, dan Kanjeng Adipati sendiri yang menurut laporan terakhir yang aku terima, dia telah menjadi tawanan Pasukan Mataram”.
“Ya sudah kalau begitu”.
“Kenapa tiba-tiba Kakang Surawisa bertanya tentang ciri khusus prajurit sandi Wirasaba? apakah kau tidak percaya dengan keteranganku tentang prajurit itu?”. bertanya Ki Tumenggung Wisabaya yang menangkap keraguan kakaknya.
“Kau jangan tersinggung dulu, Adi Wisabaya. Mana mungkin aku meragukan keteranganmu, tetapi entah kenapa tiba-tiba saja aku ingin mengetahui hal itu”.
“Apa perlu sekarang kita panggil dia menghadap untuk dimintai keterangan? agar kalian juga dapat melihatnya secara langsung? bukan sekedar mendengarkan laporanku saja?”. sahut Ki Tumenggung Wisabaya yang sepertinya merasa tersinggung dengan ucapan kakak seperguruannya tersebut.
Ki Tumenggung Surawisa yang menyadari keterlanjurannya tidak dapat mencegah maksud adik seperguruannya lagi agar suasananya tidak semakin runyam hanya karena berawal dari kesalahan kecil yang dibuatnya.
Akhirnya orang yang sebelumnya mengaku sebagai prajurit sandi Wirasaba itu dipanggil untuk dimintai keterangan seperlunya di hadapan orang-orang penting Pasukan Surabaya.
Wajah orang itupun penuh tanda tanya dan ketakutan ketika diperintahkan untuk menghadap orang-orang penting Surabaya untuk dimintai keterangan.
Namun dia tidak dapat menolak perintah tersebut ketika dirinya dijemput dan kemudian diantar oleh salah satu prajurit Surabaya yang bertugas.
Halaman 43 - 44
“Sekarang aku persilahkan kepada kalian untuk bertanya secara langsung kepadanya”. ucap Ki Tumenggung Wisabaya ketika orang yang dimasuk telah berada di hadapannya.
“Siapa namamu?”. bertanya Ki Tumenggung Surawisa mulai membuka pembicaraan.
“Gumbala, Ki Tumenggung “. sahut orang itu dengan kepala tetap menunduk untuk berusaha menyembunyikan rasa ketakutan yang mulai menghinggapinya tubuhnya.
“Apakah benar yang adalah prajurit sandi Wirasaba?”.
“Demikianlah Ki Tumenggung”.
“Kenapa kau masih dapat berkeliaran bebas setelah pecah perang antara Wirasaba dan Mataram?”.
“Pada saat pecah perang kebetulan aku sedang mendapat tugas di Tuban, dan ketika aku mendengar tentang kabar ini aku segera ingin menjenguk keluargaku yang berada disini, Tetapi ketika aku tiba disini aku sudah tidak dapat menemukan mereka”.
“Kenapa kau datang sendiri dan tidak bersama kawanmu meski hanya seorang?”.
“Karena mereka sudah ditarik kembali lebih dulu untuk membantu kesatuan yang berada disini menjelang pecah perang dengan Mataram”.
“Lalu kenapa kau masih disana dan tidak ikut bersama kawanmu ketika dia kembali ke Wirasaba?”.
“Sebab pada saat itu kami tidak pernah akan mengira jika akan terjadi seperti ini, sehingga aku diperintahkan untuk tetap melanjutkan tugas dan katanya nanti setelah perang usai, aku akan disusul kembali oleh kawanku”.
“Setelah kau tahu apa yang terjadi, lalu apa yang sebenarnya ingin kau lakukan?”.
“Aku tidak tahu, aku masih bingung apa yang ingin aku lakukan. Sebab Wirasaba sekarang sudah jatuh dan akupun belum berhasil menemukan keluargaku yang entah bagaimana nasibnya sekarang, masih hidup atau sudah…..”. tiba-tiba suara Gumbala terputus karena harus menahan kesedihan.
“Lalu kenapa kau mau membantu kami?”.
“Sebab aku telah kehilangan keluargaku karena ulah orang-orang Mataram, jadi aku ingin membalaskan sakit hatiku kepada mereka yang telah membuat hidupku menjadi sengsara”.
“Siapa yang ingin bertanya kepadanya? barangkali pertanyaanku kepadanya tidak mewakili perasaan kalian”. ucap Ki Tumenggung Surawisa sembari memandang berkeliling.
Namun sepertinya tidak ada yang berniat untuk bertanya lebih lanjut, sehingga tidak lama kemudian prajurit sandi Wirasaba itupun diperintahkan untuk segera meninggalkan tempat.
“Karena tidak ada lagi yang ingin bertanya kepadamu, aku persilahkan kau kembali ke tempatmu. Dan tidak lupa aku ucapkan terima kasih atas niat baikmu kepada kami”. ucap Ki Tumenggung Surawisa kepada Gumbala.
“Baik Ki Tumenggung, terima kasih atas kepercayaannya”. sahut Gumbala sembari menghaturkan sembahnya.
Selesai berkata demikian, maka Gumbala pun segera meninggalkan tempat itu untuk kembali ke tempatnya yang telah diperuntukkan baginya selama bersama dengan Pasukan Surabaya.
“Bagaimana pendapat Kakang Surawisa setelah bertemu dan bertanya langsung dengan prajurit Wirasaba itu?”. ucap Ki Tumenggung Wisabaya setelah Gumbala meninggalkan tempat itu.
“Ya… seperti yang aku katakan sebelumnya kepadamu, Adi Wisabaya. Aku percaya dengan laporanmu dan aku tidak pernah merasa ragu sedikitpun”.
Halaman 45 - 46
“Syukurlah”. sahut Ki Tumenggung Wisabaya yang kini merasa lebih lega perasaannya.
“Jika tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, sebaiknya kita segera bersiap untuk melanjutkan perjalanan, agar kita tidak kehilangan waktu”.
“Marilah”.
Kemudian mereka pun segera mempersiapkan diri, termasuk dengan memeriksa barang bawaan masing-masing yang masih akan mereka gunakan nantinya.
*****
Sementara itu Kyai Samber Geni bersama murid-muridnya yang berada di ruangan khusus bagi para tawanan yang telah melakukan kesalahan sedang menunggu nasibnya.
Tetapi murid-muridnya yang telah mengenal dengan baik gurunya dalam waktu yang cukup lama tersebut sempat merasa heran dengan keputusan gurunya sendiri yang begitu mudahnya menyerahkan diri.
“Maaf Guru, kenapa Guru melakukan ini?”.
“Apa maksudmu, Lanjar?”.
“Kenapa Guru menyerahkan diri dan bersedia menerima hukuman atas apa yang telah kita lakukan?”.
“Bukankah sudah aku katakan, bahwa kita tidak akan dapat menang melawan bayangan semu Ki Pringsewu? jadi misalkan kita berkeras hati untuk melarikan diri darinya, itu hanya akan menjadi sebuah kesia-siaan belaka”.
“Kenapa tiba-tiba Guru menjadi seorang penakut? tidak seperti Guru yang kami kenal selama ini?”.
“Kau memang terlalu dungu, Lanjar. Bukan masalah takut atau tidaknya, tetapi sembari kita disini aku sedang memikirkan suatu rencana yang barangkali dapat berguna bagi kita semua nantinya. Dalam bertindak kita juga perlu menggunakan akal”.
“Memangnya apa rencana Guru sekarang?”.
“Akupun belum tahu, tetapi sedang aku pikirkan tentang hal itu”.
“Aku kira Guru sudah memiliki sebuah rencana, ternyata masih memikirkannya”.
“Kau kira mudah membuat rencana yang paling baik dengan keadaan yang sulit seperti ini?”. sahut Kyai Samber Geni sembari dengan kedua matanya yang membelalak.
“Maaf Guru”. sahut Lanjar yang seketika nyalinya menciut mendapat tanggapan demikian dari gurunya.
“Seharusnya kalian bantu aku untuk berpikir, daripada hanya mengeluh dan sekedar meratapi nasib”.
“Maaf Guru, aku bukan pemikir yang baik”.
“Dasar dungu”. sahut Kyai Samber Geni lalu memandang ke arah murid-muridnya yang lain.
“Kami juga bukan pemikir yang baik, Guru”. berkata Rambat yang mewakili perasaan kawan-kawannya.
Namun keempat murid itu menjadi sangat terkejut sekaligus heran ketika tiba-tiba mendengar gurunya tertawa setelah mendengar jawaban tersebut.
“Kenapa tiba-tiba Guru tertawa? apakah Guru teringat akan sesuatu yang sangat menyenangkan?”. bertanya Rambat mencoba memberanikan diri.
“Apakah kalian ingin tahu kenapa aku tertawa?”.
“Iya Guru”.
Halaman 47 - 48
“Karena aku baru sadar, bahwa ternyata kita tidak lebih dari sekumpulan orang-orang dungu”.
Jawaban itu seketika membuat keempat murid Kyai Samber Geni terdiam dan hanya dapat tersenyum masam di bawah cahaya lampu minyak yang berasal dari celah-celah kecil dinding dan sinarnya hanya tampak temaram.
*****
Sementara itu cahaya kemerah merahan mulai tampak di langit pada sisi sebelah timur sebagai pertanda bahwa hari baru telah menjelang di tempat itu.
Setelah perjalanan panjang di sepanjang malam, Nyi Pandan Wangi dan kawan-kawannya menyempatkan diri untuk mencari sumber air guna membersihkan diri seperlunya sebelum mereka memasuki keramaian.
Sebab sembari mereka melanjutkan perjalanan, mereka juga akan mencari kedai yang dapat mereka temui untuk mengisi perut yang sudah mulai berbunyi.
Makanan dan minuman hangat tentu akan dapat menyegarkan tubuh mereka yang terasa cukup lelah setelah di sepanjang malam harus melawan hawa dinginnya malam.
“Sudah lama sekali rasanya aku tidak melakukan perjalanan sepanjang ini, bahkan aku sudah lupa kapan terakhir kali melakukannya karena saking sudah lamanya”. ucap Nyi Rara Wulan setelah membersihkan diri pada aliran sungai kecil namun airnya sangat jernih yang mereka temukan.
“Sepertinya kau menyukainya?”.
“Iya Mbokayu Sekar Mirah, aku jadi teringat masa-masa waktu masih muda dulu, menyusuri jalan-jalan di sepanjang tanah ini tanpa dibayangi beban apapun”.
“Apakah kau ingin menjadi muda kembali?”.
“Ah… Mbokayu”. sahut Nyi Rara Wulan dengan wajah agak bersemu merah.
“Di masa mudaku, aku justru hampir tidak pernah melakukan perjalanan panjang seperti layaknya para pengembara yang dapat pergi kemanapun mengikuti langkah kakinya”. sahut Nyi Pandan Wangi sembari memandang langit yang ada jauh disana.
“Itu sangat wajar karena Mbokayu adalah anak semata wayang Swargi Ki Gede Menoreh, berbeda dengan aku yang bukan anak kepala sebuah tanah perdikan”.
“Bukankah kau justru berasal dari Kotaraja dan dari keluarga petinggi Mataram, tetapi nyatanya kau dapat melakukannya, Rara Wulan. Karena sejak muda kau telah berani menentukan sikap terhadap kedua orang tuamu, tetapi tidak dengan aku”.
“Aku hanya menyampaikan pendapatku tentang apa yang baik atas diriku dan apa yang tidak, Mbokayu. tidak lebih”.
“Sebagai seorang perempuan anak dari petinggi Mataram tentu hal itu tidak wajar, Rara Wulan. Tetapi kau beruntung bahwa pada akhirnya kedua orang tuamu dapat menerima keputusanmu meski hal itu dianggap tidak wajar oleh orang-orang sekitarnya”.
“Mbokayu Pandan Wangi benar, aku memang beruntung”.
“Apakah kita akan berlama-lama di tempat ini dan membiarkan mereka mendengar pembicaraan kita dengan perut yang sudah mulai kosong?”. sahut Nyi Sekar Mirah mengalihkan pembicaraan, sembari menunjuk ke arah ketiga adik angkat Nyi Rara Wulan yang terduduk di pinggiran sungai.
“Kami belum merasa lapar”. sahut Padmini yang terkejut dan menjadi merasa tidak enak hati.
“Maafkan aku karena telah melupakan kalian, marilah kita segera mencari kedai untuk mengisi perut yang memang sudah waktunya untuk diisi”. sahut Nyi Pandan Wangi yang tersadar.
Halaman 49 - 50
Kemudian mereka pun segera meninggalkan tempat itu setelah semuanya selesai membersihkan diri, dan bersiap untuk memasuki padukuhan terdekat untuk mencari kedai yang menjajakan kebutuhan yang mereka cari.
Ternyata memang tidak mudah untuk dapat menemukan sebuah kedai yang mereka cari di padukuhan-padukuhan kecil yang telah berhasil mereka lewati dalam perjalanan setelah beberapa saat melangkahkan kaki.
Hingga akhirnya mereka berhasil juga menemukan sebuah kedai yang kebetulan berada di pinggir jalan yang terlihat tidak banyak orang berlalu-lalang.
Keenam perempuan itu tanpa ragu memasuki kedai yang dari luar sepertinya tampak sepi tersebut, dan ternyata di dalam kedai itu memang sepi pengunjung.
Kedai itu adalah sebuah kedai yang kecil, sehingga ketika dimasuki enam orang sekaligus, maka seolah-olah tempat itu menjadi ramai.
Merekapun segera disambut dengan ramahnya oleh pemilik kedai lalu dipersilahkan duduk di bangku yang memang masih kosong semua, dan mereka pun memilih bangku yang saling berhadapan dengan dipisahkan oleh meja di tengahnya.
“Silahkan Nyi Sanak semua, silahkan. Selamat datang di kedai kecil ini, silahkan pilih bangku yang kalian sukai”. sambut perempuan lebih dari paruh baya dan berbadan gemuk, sembari tersenyum penuh keramahan.
“Apakah kami dapat memesan nasi megono dan wedang jahe untuk kami berenam?”. ucap Nyi Pandan Wangi mewakili yang lain sembari tersenyum pula.
“Bisa Nyi, apakah ada yang lain?”.
“Tidak Nyi, itu saja”.
“Baik Nyi, silahkan ditunggu. Pesanan kalian akan segera kami siapkan”. sahut pemilik kedai itu, kemudian berlalu dari hadapan tamunya guna menyiapkan pesanan yang diminta.
“Kenapa kedai ini tampak sepi ya?”. celetuk Nyi Rara Wulan.
“Mungkin pemiliknya baru saja buka”. sahut Nyi Sekar Mirah yang menjawab sekenanya.
“Ah… mana mungkin kedai baru buka pada waktu matahari sudah lebih dari sepenggalah seperti sekarang ini?”.
“Mungkin saja pemilik kedainya tadi kesiangan”. sahut Nyi Sekar Mirah lalu tertawa.
“Ah… Mbokayu ada-ada saja”. sahut ibu Arya Nakula sembari tersenyum masam.
Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya keenam perempuan itu menerima hidangan yang dibawa dengan sebuah nampan kayu sesuai pesanan yang masih mengepulkan asap tipis, baik dari nasi megono maupun wedang jahenya.
“Silahkan menikmati pesanan kalian, Nyi Sanak. Jika kalian membutuhkan sesuatu, kalian jangan sungkan untuk memanggil aku”. berkata pemilik kedai itu setelah meletakkan pesanan terakhir di meja para tamunya.
“Terima kasih, Nyi. Nanti kami akan memanggilmu jika kami memang membutuhkan sesuatu yang lain”. sahut Nyi Pandan Wangi sembari tersenyum.
Kemudian keenam perempuan itupun mulai menikmati hidangan yang ada di hadapan mereka setelah pemilik kedai berlalu dan kembali ke tempat duduknya.
Seruputan pertama wedang jahe di sebuah mangkuk yang terbuat dari tanah liat pada pagi menjelang siang itu begitu nikmat dan segarnya ketika melalui kerongkongan orang-orang yang sudah merasa kehausan.
Halaman 51 - 52
Wedang jahe dengan gula kelapa yang masih hangat itu benar-benar dapat melepaskan dahaga yang sudah mereka tahan beberapa lama.
Namun belum juga dapat separuh keenam orang itu menikmati hidangan yang mereka pesan, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berwajah garang dengan sebuah pedang terselip di lambung kirinya memasuki tempat itu.
Dan tanpa basa-basi orang itu langsung menemui pemilik kedai sembari pandangan matanya tidak luput untuk mengamati keenam pengunjung kedai.
“Nyi Dumuk? kemana suamimu?”. bertanya orang itu sembari masih mencuri-curi pandang kepada para tamu kedai yang baginya masih terasa asing.
“Biasanya jika pada wayah begini dia sedang bekerja di sawah di ujung jalan setelah selesai membantu pekerjaanku di kedai ini. Jika kau memerlukannya, carilah dia disana pasti akan kau temukan”.
“Biasanya kapan dia pulang bekerja di sawah?”.
“Biasanya pada wayah menjelang surup dia akan datang kemari untuk membantu pekerjaanku disini lebih dulu sebelum kami pulang bersama-sama ke rumah”.
“Ya sudah, nanti jika suamimu pulang aku akan kembali lagi”.
Selesai berkata demikian maka orang itu segera beranjak pergi, namun sekali lagi pandangan matanya tidak mau dilepaskan dari tamu kedai yang kebetulan semuanya perempuan”.
Rombongan Nyi Pandan Wangi sempat memperhatikan sekilas kejadian itu, namun mereka sengaja membiarkannya saja meski dalam hati masing-masing merasa ada yang janggal dengan pandangan mata yang demikian.
“Tatapan mata yang aneh”. celetuk ibu Bagus Sadewa.
“Iya… aku juga sempat mengamatinya sekilas, tetapi sedapat mungkin kita harus menghindari perselisihan di sepanjang perjalanan agar kita tidak terlambat sampai ke tempat tujuan”.
“Mbokayu benar, kita tidak perlu menggubris segala sesuatu jika tidak dalam keadaan yang sangat terpaksa. Sebab kita sedang berkejaran dengan waktu”.
“Semoga saja kita tidak menemui hambatan yang berarti di sepanjang perjalanan, selain kita akan berhemat waktu, kita juga akan dapat berhemat tenaga”.
“Mbokayu berdua benar, kita memang harus menghindari perselisihan yang bagaimanapun bentuknya untuk menghemat waktu dan tenaga sebelum waktu dan tenaga kita memang benar-benar dibutuhkan”. berkata ibu Arya Nakula yang ikut menimpali pembicaraan.
Tanpa berjanji sebelumnya, tetapi kemudian pembicaraan mereka terputus begitu saja, sebab kini mulut mereka lebih sibuk untuk mengunyah makanan di mulut dan bermaksud untuk segera menyelesaikannya lalu segera pula meninggalkan tempat itu.
Sebagai orang yang sudah berpengalaman luas, mereka sepertinya mulai merasakan ada sesuatu yang janggal dengan orang yang tadi memasuki kedai.
Sehingga untuk menghindari hal-hal yang tidak mereka inginkan, maka mereka memutuskan lebih baik untuk menghindarinya segera mungkin sebelum benar-benar terjadi.
Setelah mereka selesai semua menikmati hidangan yang ada di hadapan mereka, maka Nyi Pandan Wangi segera memanggil pemilik kedai untuk membayar semua makanan yang telah dipesan.
“Kenapa Nyi Sanak tiba-tiba menjadi tergesa-gesa? apakah kalian ada keperluan yang mendesak? sehingga tidak ingin berlama-lama lagi di kedai kecil milikku ini?”. ucap pemilik kedai, masih tetap dengan sikap ramahnya seperti pada saat tamu-tamunya datang.
Halaman 53 - 54
“Benar Nyi, kami harus segera melanjutkan perjalanan”.
“Maaf Nyi Sanak, aku hanya ingin memberi peringatan kepada kalian bahwa orang yang tadi datang kemari sepertinya sedang mengawasi kalian?”. ucap pemilik kedai dengan suara lirih.
“Mengawasi kami? apa yang telah kami perbuat di tempat ini? sehingga kami harus diawasi?”. kali ini Nyi Sekar Mirah lah yang menyahut ucapan pemilik kedai.
“Kalian memang tidak melakukan suatu kesalahan atau sejenisnya, tetapi ketahuilah bahwa orang yang tadi datang itu adalah tangan kanan Ki Demang, tadi dia bertanya-tanya kepadaku hanya sekedar untuk basa-basi saja. Sebab tujuan utamanya adalah mengamati kalian semua”.
“Kenapa mereka harus mengamati kami?”.
“Dia adalah orang upahan yang menjadi tangan kanan Ki Demang yang ditugaskan untuk mengamati orang-orang yang ada di daerah ini, terutama terhadap orang asing yang melintas”.
“Apakah salah jika ada orang dari daerah lain yang melintas kademangan ini?”.
“Kalian memang tidak salah, tetapi Ki Demang yang belum lama menggantikan ayahnya ini suka bertindak semaunya sendiri tanpa mengikuti paugeran yang berlaku”.
“Memangnya apa saja yang telah Ki Demang itu perbuat?”.
“Meminta secara paksa barang bawaan orang yang melintasi daerah ini, dan pernah pula aku mendengar kabar jika ada seorang gadis yang ditangkap dengan alasan yang tidak jelas, dan kemudian dibawa ke suatu tempat dan dinodai oleh Ki Demang itu”.
“Manusia yang lebih hina dari binatang jalang sekalipun”. desis Nyi Rara Wulan yang tidak dapat lagi menahan dirinya untuk tetap terus diam mendengar keterangan tersebut.
“Apakah tidak ada yang berusaha melawan atau bahkan melaporkannya kepada Mataram, Nyi?”.
“Bagi yang berani berbuat demikian maka sebelum mereka melakukannya atau tidak lama kemudian dia akan mengalami nasib buruk oleh tangan kanan Ki Demang yang memang termasuk orang kaya di daerah ini, sehingga banyak memiliki orang-orang upahan yang berilmu sangat tinggi dan tidak terlawan di daerah ini”.
“Benar-benar tindakan yang sudah jauh dari batas”. sahut Nyi Pandan Wangi yang merasa ikut berprihatin dengan apa yang telah terjadi di daerah tersebut.
“Maaf Nyi Sanak, aku tidak bermaksud buruk kepada kalian. Tetapi aku mengatakan semua ini adalah agar nanti kalian lebih berhati-hati setelah keluar dari kedai ini, apalagi kalian semua adalah perempuan. Barangkali kalian termasuk perempuan yang disukainya, terutama kalian yang masih muda”.
“Justru kami merasa berterima kasih atas peringatanmu ini, Nyi. Sehingga nanti kami tidak terkejut dan akan lebih berhati-hati. Dan semoga saja kami masih dapat berlari kencang untuk menghindari niat buruk mereka”. sahut Nyi Pandan Wangi.
“Aku rasa itu lebih baik, meski jika aku lihat dari ciri-ciri yang kalian kenakan kalian tentu bukanlah perempuan kebanyakan, tetapi tangan kanan Ki Demang adalah orang-orang yang berilmu sangat tinggi dan kejam terhadap korban-korbanya”.
“Sekali lagi terima kasih atas peringatanmu, Nyi. Semoga Yang Maha Welas Asih selalu melindungi kita semua. Dan sebaiknya kami segera melanjutkan perjalanan agar kami tidak semakin kehilangan waktu”. sahut Nyi Pandan Wangi, sekaligus berpamitan setelah menyelesaikan pembayaran makanan mereka.
“Sepertinya kalian adalah orang-orang baik, jadi aku rasa tentu Yang Maha Agung akan selalu melindungi kalian kapanpun dan dimanapun kalian berada”.
Halaman 55 - 56
“Ah… Nyi Sanak terlalu memuji”. sahut Nyi Pandan Wangi dengan wajah yang agak bersemu merah, lalu memberikan isyarat kepada yang lain untuk segera meninggalkan tempat itu.
Kemudian keenam perempuan itupun satu persatu mulai keluar dari kedai kecil itu, lalu kembali melanjutkan perjalanan setelah sempat tertunda karena mereka harus memenuhi kebutuhan lahiriah sesuai kodrat-Nya.
Kademangan yang tampak tenang dan baik-baik saja ternyata menyimpan kisah kelamnya sendiri dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah dilakukan oleh pemimpinnya sendiri.
Seorang Demang yang seharusnya dapat menjadi tempat berkeluh kesah sekaligus menjadi pamomong seluruh kawulanya justru pelaku utama kejahatannya.
Dan yang lebih memprihatinkan adalah orang-orang yang ada di sekitarnya atau orang yang pernah melintas daerah ini belum ada yang mampu berbuat sesuatu untuk menegakkan paugeran.
“Seandainya saja kita memiliki waktu yang lebih longgar”. desis istri Ki Lurah Glagah Putih itu tanpa sadarnya, sembari terus melangkahkan kakinya di atas tanah yang mulai panas karena sinar matahari.
“Memangnya apa yang akan kau lakukan, Rara Wulan?”.
“Aku merasa sangat prihatin dengan keadaan kademangan ini setelah mendengar kisahnya dari pemilik kedai itu”.
“Aku mengerti, dan aku rasa kita semua memiliki perasaan yang hampir sama dengan apa yang kau rasakan”.
“Apakah Mbokayu Pandan Wangi sependapat jika kita meluangkan waktu sebentar untuk membantu orang-orang disini yang sedang mengalami kesulitan?”.
“Sebenarnya aku pun tergerak untuk membantu mereka, tetapi masalahnya tidak sesederhana itu, Rara Wulan”.
“Maksud Mbokayu Pandan Wangi?”.
“Bukankah kita baru sekedar mendengar kisah ini secara sepihak? dan kita belum mengetahui dengan pasti apa yang sebenarnya telah terjadi di tempat ini secara keseluruhan?”.
“Tetapi aku rasa pemilik kedai itu adalah orang yang baik dan berkata jujur atas apa yang dikatakannya”.
“Aku mengerti, Rara Wulan. Tetapi bukankah kita tidak dapat langsung melabrak Ki Demang di rumahnya begitu saja, hanya dengan berbekal cerita dari pemilik kedai itu”.
“Aku sependapat dengan Mbokayu Pandan Wangi, untuk sementara ini dengan terpaksa kita belum dapat melakukan sesuatu, untuk membantu mereka. Sebab selain kita belum tahu kejadian yang sebenarnya secara keseluruhan, waktu kita juga terlalu sempit jika ingin mencari keterangan dan mengumpulkan bukti-bukti kejahatan Ki Demang itu, atau bahkan menangkap basah kejahatan yang sedang dilakukannya”.
“Jika memang Yang Maha Welas Asih sudah ingin menghukum Demang itu, tentu tidak akan pernah kekurangan cara untuk itu. Dan begitu pula sebaliknya, jika memang Yang Maha Welas Asih belum ingin menghukum kesalahan demi kesalahan yang dibuatnya, maka siapapun belum ada yang akan mampu menghentikan segala tindakan kejahatannya”.
“Mbokayu Pandan Wangi benar”. sahut Nyi Rara Wulan yang pada akhirnya tidak dapat lagi membantah dan harus rela untuk mengurungkan niat baiknya.
“Kita sebagai manusia hanya dapat berusaha sebaik-baiknya atas apa yang kita lakukan, tetapi pada akhirnya kita tidak dapat ingkar bahwa segala apa yang kita lakukan adalah semata-mata karena atas izin dari Yang Maha Welas Asih”.
“Aku sependapat dengan Mbokayu Pandan Wangi”. sahut Nyi Rara Wulan di sela-sela kakinya yang terus melangkah.
Halaman 57 - 58
Semakin lama maka rombongan itu semakin menjauhi kedai yang tadi mereka kunjungi dengan pemiliknya yang sangat ramah dan baik, dan kini mereka telah menyusuri jalan-jalan kademangan yang hanya sesekali saja berpapasan dengan orang lain.
Hingga pada akhirnya rombongan itu akan sampai di ujung jalan kademangan yang di sekitarnya hampir dikelilingi oleh pategalan, baik yang terawat maupun yang dibiarkan liar begitu saja oleh pemiliknya.
Namun ketika mereka akan memasuki jalan setapak yang sempit tiba-tiba Nyi Pandan Wangi dan Nyi Sekar Mirah yang kebetulan berada di barisan paling depan merasa kurang mapan untuk terus melangkahkan kakinya.
Keduanya menghentikan langkah kakinya lalu memandang berkeliling untuk memeriksa keadaan sekitar dengan bekal kemampuan yang mereka miliki.
Hingga pada akhirnya mereka saling pandang dan mengangguk perlahan sebagai sebuah isyarat apa yang bakal mereka lakukan kemudian.
Empat perempuan yang berada di belakangnya pun ikut berhenti dan mencoba ikut memeriksa apa yang sebenarnya telah menarik perhatian kedua orang di hadapannya sejauh yang mereka mampu.
“Apakah sebaiknya kita tunggu dulu disini barang sejenak?”. bertanya Nyi Pandan Wangi meminta pendapat kepada yang lain.
“Terserah Mbokayu saja, kami akan mengikuti”.
“Yang lain?”.
“Kami ikut Mbokayu Rara Wulan”. sahut Padmini yang sekaligus mewakili kedua adiknya.
“Baiklah… sepertinya kita memang cukup lelah dan perlu beristirahat barang sebentar”. sahut Nyi Pandan Wangi yang sengaja bersuara agak keras.
Kemudian mereka pun mencari tempat istirahat masing-masing di sekitaran tempat itu sembari menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya di tempat itu.
Setelah beberapa lama menunggu sembari berbincang tentang apa saja yang menarik bagi mereka, tiba-tiba dari balik pategalan terdengar sumpah serapah.
Tidak lama kemudian muncullah beberapa orang dari pategalan liar yang banyak ditumbuhi oleh semak-semak, dan salah satunya adalah orang yang tadi sempat bertemu di kedai.
“Ternyata kalian adalah sekumpulan Iblis betina”. ucap orang yang baru saja datang itu dengan penuh kekesalan.
Keenam perempuan itu sengaja tidak menanggapi orang yang baru saja datang tersebut, hingga membuat mereka semakin marah bukan kepalang.
“He… Iblis-Iblis betina yang sombong, kami datang karena ada keperluan yang harus kami selesaikan dengan kalian”.
Namun keenam perempuan itu masih membiarkan saja orang yang berwajah garang itu berbicara apa saja, dan sepertinya orang itu adalah pemimpin rombongan tersebut.
Baru kali ini orang itu merasa diremehkan, bahkan oleh para perempuan. Sehingga dirinya tidak dapat menahan diri lagi, lalu melihat apa saja yang ada di dekatnya lalu dilemparkan ke arah Nyi Rara Wulan yang kebetulan jaraknya paling dekat.
Orang itu yakin bahwa lemparannya tidak akan meleset dari sasarannya, sebab dirinya tidak hanya sekedar menggunakan tenaga kewadagan karena sebelumnya telah diliputi oleh kemarahan yang sangat akibat merasa sangat terhina.
Namun betapa terkejutnya orang berwajah garang itu ketika menyadari kenyataan bahwa perempuan yang menjadi sasarannya seakan dengan begitu mudahnya menghindarinya.
Halaman 59 - 60
Hanya dengan sedikit berkelit ke samping Nyi Rara Wulan berhasil menghindarkan diri dari bahaya yang tadi sempat mengancamnya jiwanya melalui sebatang kayu sebesar genggaman orang dewasa.
“He…?”.
Orang yang tadi melempar kayu itu benar-benar terkejut setelah serangannya hanya membelah udara kosong, dan orang yang diserangnya tidak terlihat panik sama sekali.
Dan kemudian semua perempuan yang tadi duduk di rerumputan kini telah berdiri semua dan menghadap ke arah orang yang baru saja datang dan dipenuhi oleh kemarahan yang sudah sampai ke ubun-ubun tanpa sebab yang jelas.
“Ki Sanak, sebenarnya apa masalahmu dengan kami? kenapa kau tiba-tiba datang dengan penuh kemarahan tanpa sebab yang jelas? padahal kita belum pernah saling mengenal sebelumnya?”. bertanya Nyi Sekar Mirah mewakili yang lain sebagai juru bicara.
“Aku tidak memiliki keperluan dengan kalian, tetapi ada seseorang yang memerlukan kalian. Dan aku diperintahkan untuk mengantar kalian semua ke tempatnya”.
“Jika kalian memang berniat ingin menemui kami, lalu kenapa kalian harus mengendap-endap di balik semak-semak?”.
“Itu adalah cara kami, agar tugas kami cepat selesai”.
“Dari awal cara yang kalian lakukan saja sudah menunjukkan bahwa kalian tidak bermaksud baik, ditambah lagi kemudian kalian memperlakukan kami dengan sangat buruk. Siapakah sebenarnya kalian dan siapakah orang yang katanya memerlukan kami itu?”.
“Nanti kalian akan tahu sendiri siapakah orang yang telah memerintahkan kami, jika kalian sudah sampai disana. Dan aku jamin kalian tidak akan menyesal nantinya, terutama ketiga perempuan yang terlihat paling muda di antara kalian itu”.
Mendengar jawaban tersebut membuat Nyi Sekar Mirah menoleh kepada marunya, yang kebetulan sedang memandang ke arahnya pula, lalu mengangguk perlahan. Sementara keempat perempuan lain yang melihatnya hanya terdiam dan menunggu apa yang bakal terjadi selanjutnya sembari dalam kewaspadaan tertinggi.
“Memangnya apa yang akan kau lakukan terhadap mereka?”.
“Bukankah tadi sudah aku katakan, bahwa kalian akan tahu sendiri jika sudah tiba disana”.
“Lalu bagaimana jika kami menolak?”.
“Kami akan memaksa kalian dengan cara kami, dan jangan sesali jika nanti kalian akan bernasib buruk karena telah berani menentang permintaan kami”.
“Apakah kalian pikir, hanya kalian saja yang dapat memaksakan kehendak terhadap orang lain?”.
“Apalah artinya seorang perempuan di hadapan kami, meskipun kalian memiliki kemampuan yang sangat tinggi sekalipun. Tentu kami tetap akan dapat mengalahkan kalian, lagipula jumlah kami lebih banyak dari kalian”.
Selesai berkata demikian, lalu orang itu melontarkan sebuah isyarat. Dan tidak lama kemudian muncul lagi beberapa kawannya, sehingga sekarang mereka berjumlah sekitar lima belas orang.
Hal itu dilakukan orang itu setelah menyadari serangannya tadi tidak menemui sasaran, sehingga kali ini mereka harus lebih berhati-hati dalam bertindak.
“Apakah kalian tidak merasa malu? menghadapi kami yang hanya berenam dan semuanya perempuan, kalian harus mengerahkan lima belas orang”.
“Apa peduliku? yang penting bagiku adalah tugasku dapat aku laksanakan dengan baik dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya sehingga aku akan segera mendapat bagianku”.
Halaman 61 - 62
“Oh… ternyata kalian adalah orang-orang upahan, siapa yang telah membayarmu? dan berapakah dia membayarmu? bagaimana jika aku dapat membayar kalian dua kali lipat dari yang majikanmu sekarang bayarkan kepada kalian?”.
“Kau adalah orang yang paling sombong yang pernah aku temui, mana mungkin kalian memiliki uang untuk membayar kami? untuk membayar makanan di kedai saja kalian harus berhitung dulu”.
Nyi Sekar Mirah yang merasa tergelitik oleh jawaban orang-orang di hadapannya segera meraih sesuatu dibalik bajunya, namun segera dicegah oleh Nyi Pandan Wangi dengan menahan tangan itu dan menggeleng perlahan.
“Sebaiknya kita jangan membuang-buang waktu, ingat tugas kita”. berkata Nyi Pandan Wangi mengingatkan dengan suara lirih dan hampir berbisik.
“Maaf Ki Sanak, aku tidak dapat berlama-lama lagi berada di tempat ini. Menyingkirlah dari jalan yang akan kami lewati”. ucap ibu Bagus Sadewa kepada orang-orang yang menghadang perjalanan mereka berenam.
“Aku tidak peduli dengan kalian berdua, tetapi tinggalkan saja keempat orang kawanmu itu”.
“Mana mungkin aku meninggalkan mereka?”.
“Terserah kepada kalian jika ingin mengalami nasib buruk”.
Nyi Sekar Mirah yang tidak ingin tertunda lebih lama lagi perjalanannya segera mendekati pemimpin rombongan yang berwajah garang itu, hingga mereka saling berhadapan.
“Apa maksudmu, Ki Sanak?”. bertanya Nyi Sekar Mirah sembari menatap tajam kepada orang yang berdiri di hadapannya tersebut.
“Kalian akan mengalami nasib buruk”.
Baru saja orang itu selesai bicara, entah apa yang sebenarnya telah terjadi. Tiba-tiba orang itu telah terlempar beberapa langkah ke belakang, dan Nyi Sekar Mirah sendiri tampak sudah bergeser dari tempatnya tadi berdiri.
Kejadian itu benar-benar mengejutkan semua orang upahan itu, sehingga mereka terlambat menyadari apa yang sebenarnya terjadi dan dengan demikian maka mereka tidak sempat menolong kawannya yang terlempar.
Dan yang semakin membuat mereka terkejut adalah kawannya yang tadi terlempar itu seketika pingsan ketika tubuhnya menghantam tanah dengan kerasnya.
Kejadian itu sesaat membuat mereka menjadi tercenung, antara heran, kagum, dan bingung apa yang bakal mereka lakukan selanjutnya. Sebab orang yang pingsan itu adalah pemimpin mereka yang biasanya memberikan perintah.
Namun sesaat kemudian…
“Kepung mereka semua, jangan sampai ada yang lolos. Mereka harus bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan ini”. berkata salah satu dari orang upahan itu mengingatkan kawan-kawannya.
Orang-orang upahan yang masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, masih terpaku di tempatnya masing-masing meski telah mendapat peringatan kawannya yang memang biasanya menjadi wakil orang yang pingsan.
“Kalian jangan hanya diam saja seperti orang kesambet, ayo kita kepung keenam perempuan ini dan jangan biarkan mereka lolos”. teriak orang itu mengulangi peringatannya, agar kawan-kawannya segera bergerak.
Seolah terbangun dari mimpi indah, orang-orang upahan itu segera bergerak dan mencari lawannya masing-masing. Dan karena jumlah mereka lebih banyak maka ada yang dua lawan satu dan tiga lawan satu.
Halaman 63 - 64
Tetapi yang mereka kepung yang tidak lebih dari seorang perempuan, ternyata mereka tidak menunjukkan rasa kepanikan atau bahkan ketakutan dari wajahnya.
Keenam perempuan yang mengenakan pakaian khusus itu sudah bersiap menunggu lawannya, dan masing-masing mendapatkan lawan dua orang, kecuali Nyi Sekar Mirah yang harus melawan tiga orang sekaligus.
Mereka yang sejak awal sama-sama ingin segera menyelesaikan pertarungan, maka pertarungan langsung pada tataran tinggi tanpa didahului pertarungan penjajagan.
Mereka terlihat saling menyerang dan bertahan dengan sama baiknya meski dari salah satu pihak terdiri dari para perempuan yang harus melawan dua orang sekaligus yang berwajah garang.
Setelah beberapa saat terjadi pertarungan tangan kosong yang sangat sengit dan mendebarkan dari beberapa arena yang saling berdekatan tersebut, perlahan-lahan keseimbangan pertarungan itu mulai terlihat goyah.
Hal itu dimulai ketika terjadi benturan antara Padmini dengan salah satu lawannya, yang kemudian hanya terdengar sumpah serapah yang sangat kotor dari mulutnya, lalu memeriksa tangan kanannya yang seakan baru saja menghantam batu hitam.
“Setan Alas, Genderuwo, Tetekan…”. umpat orang itu yang tidak pernah menduga bahwa perempuan yang masih cukup muda itu memiliki tataran kemampuan yang jauh lebih tinggi dari apa yang diperkirakan sebelumnya.
Sebab rasa-rasanya tangan yang tadi digunakan untuk benturan dengan tangan yang terlihat lebih kecil dengan kulitnya pun terlihat lebih halus menjadi retak karenanya.
Namun hal itu tidak membuatnya menjadi sadar diri, malah justru membuatnya semakin membabi buta untuk membalas rasa sakit yang diakibatkan oleh lawannya tersebut.
Semakin lama semakin terlihat keseimbangan pertarungan yang semakin timpang dari kedua belah pihak, orang-orang upahan itu mulai kehabisan nafas ketika pada tataran puncak kemampuannya, dirinya mendapat serangan yang semakin membadai.
Satu persatu mulai bertumbangan, ada yang terlempar ketika mendapat serangan dari lawannya, lalu sudah tidak sanggup bangkit lagi dengan nafasnya yang memburu. Dan ada pula yang memang sudah kehabisan nafas meski mereka sudah bertempur bersama kawannya, apalagi jika mereka hanya seorang diri.
Hingga akhirnya tidak ada lagi dari orang-orang upahan itu yang masih sanggup berdiri melawan para perempuan yang memang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan.
Nyi Sekar Mirah pun segera mendekati salah satu dari mereka yang dianggap berpengaruh dan masih sadarkan diri untuk dimintai keterangan yang diperlukan.
Dengan berjongkok di sebelah orang yang masih terbaring dengan nafasnya yang masih memburu, dia mulai mencoba mengorek keterangan.
“Siapa sebenarnya kalian? dan siapa yang menyuruh kalian melakukan semua ini?”.
Orang itu tidak dapat segera menjawab pertanyaan tersebut, entah karena masih sibuk untuk mengatur nafasnya yang terlihat masih kembang kempis atau memang tidak berniat memberikan keterangan kepada orang yang dihadangnya.
“Sekali lagi aku bertanya kepadamu, siapakah kalian dan siapa pula orang yang telah menyuruh dan mengupah kalian semua untuk melakukan semua ini?”.
Karena orang itu tidak segera menjawab, maka Nyi Sekar Mirah tidak memiliki pilihan lain dan harus memaksa dengan caranya agar orang itu mau membuka mulut dan memberikan keterangan seperti yang dia mau.
Halaman 65 - 66
Dan seketika orang itu menjerit kesakitan ketika urat di tangan kanannya ditekan dengan kuatnya oleh orang yang baru saja telah mengalahkannya dalam pertarungan.
“Ah….”.
“Jika kau tidak mau menjawab pertanyaanku, maka jangan salahkan aku jika aku akan memaksamu hingga kau mau menjawab semua pertanyaanku”.
“A… ampun, aku akan menjawabnya”.
“Sekarang jawablah pertanyaanku tadi”.
“Kami memang hanya sekedar orang-orang upahan, dan orang yang telah mengupah kami adalah Ki Demang Ngares “.
“Kenapa kau mau melakukannya? meski kau tahu bahwa tindakanmu ini telah melanggar paugeran?”.
“Kami tidak punya pilihan, sebab daerah kami adalah daerah yang gersang dan tidak dapat menghasilkan apa-apa untuk kami jadikan penyambung hidup, sementara kami memiliki keluarga yang harus kami hidupi”.
“Sejauh mana kejahatan yang telah dilakukan oleh Ki Demang?”.
“Kami diperintahkan untuk menghadang orang-orang asing yang melintasi daerah ini dan meminta dengan paksa barang-barang berharga yang dibawa, selain itu Ki Demang adalah orang yang suka akan perempuan-perempuan cantik, terutama para daun muda”.
“Apa yang kalian lakukan kepada para perempuan itu?”.
“Setelah Ki Demang berhasil menikmatinya, maka kami dipersilahkan untuk menikmatinya jika kami mau, sebelum mereka dilepaskan kembali. Tetapi ada pula yang masih dikurung karena Ki Demang masih menyukainya dan akan datang sewaktu-waktu”.
“Apakah Ki Demang tidak memiliki keluarga?”.
“Punya… tetapi anak, istri, dan keluarganya tidak ada yang berani menegur apalagi melawan karena sudah diancam jika berani mengganggu kesenangannya, maka dia tidak segan-segan untuk membunuhnya”.
“Apakah dia adalah orang yang berilmu sangat tinggi sehingga membuat orang-orang yang ada di sekitarnya tidak berani mengusik atau bahkan melawannya?”.
“Demikianlah”.
“Apakah ada orang di sekitarnya yang berilmu tinggi pula?”.
“Ada… gurunya, tetapi gurunya itu jarang sekali datang kemari dan kapan waktunya pun tidak pasti. Jika hanya pada saat ada keperluan saja gurunya datang kemari”.
“Sekarang antarkan kami ke tempat Ki Demang”.
Orang itu seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya, sehingga sempat tertegun beberapa saat sebelum akhirnya dia menjawabnya pula.
“Apakah kau yakin?”.
“Ya… aku yakin, tolong antarkan kami kepada Ki Demang. Tetapi jangan sekali-kali kau berusaha membohongi kami, sebab kami pun tidak segan-segan untuk membunuhmu jika kau mencoba mengkhianati kami”.
Orang itu memandang berkeliling, lalu…
“Siapakah sebenarnya kalian?”.
“Kami adalah sekumpulan Penari Tayub yang sedang sepi tanggapan, jadi kami putuskan untuk mengembara barang sebentar untuk mengurangi kepenatan. Selain itu barangkali ada sesuatu yang dapat kami lakukan selama di pengembaraan”.
“Benarkah kalian Penari Tayub?”.
Halaman 67 - 68
“Sudahlah, marilah antar kami kepada Ki Demang sekarang. Kami tidak memiliki banyak waktu untuk berlama-lama di tempat ini, sebab besok kami ada tanggapan”. sahut Nyi Sekar Mirah yang sebenarnya sudah ingin tertawa dengan apa yang dia ucapkan sendiri, tetapi masih ditahannya.
Selesai berkata demikian, maka Nyi Sekar Mirah pun segera bangkit dari jongkoknya, sementara orang yang tadi terlentang di atas tanah dan kini pernafasannya sudah kembali wajar segera bangkit untuk berdiri.
Sementara orang-orang upahan yang lain mulai bangkit pula, meski tubuh mereka masih terasa sakit di beberapa bagian akibat benturan pada saat pertarungan.
“Sadarkanlah kawanmu yang pingsan itu”. ucap Nyi Sekar Mirah sembari menunjuk ke arah yang dimaksud.
Orang yang dianggap sebagai pemimpin mereka karena tataran kemampuannya dianggap paling tinggi, tetapi ternyata kali ini dialah orang pertama yang tidak berdaya melawan seorang perempuan.
Dengan sedikit usaha dari kawannya, akhirnya pemimpin orang upahan itu tersadar pula dari pingsan karena mendapat hantaman yang sangat keras dari lawannya.
Namun ketika dia tersadar…
“Mana perempuan itu? mana?”. teriak orang itu sembari bersiap dengan kuda-kudanya untuk bertarung.
“Kami semua sudah dikalahkan oleh mereka, Kakang”.
“He…?”.
Kemudian pemimpin orang upahan itu memandang berkeliling dengan tatapan aneh dan bingung, apa yang sebenarnya telah terjadi terhadap kawan-kawannya.
“Apa yang terjadi”. bentak orang itu masih tidak percaya.
“Kami semua telah dikalahkan oleh para perempuan itu”.
“He…? mana mungkin? pasti mereka telah berbuat licik”. sahut orang yang baru pingsan dan belum menemukan penalaran wajar untuk menilai keadaan.
“Apakah kau masih ingin melanjutkan pertarungan, Ki Sanak?”. sahut Nyi Sekar Mirah yang tidak ingin berbelit-belit.
Mendapat tantangan tersebut, justru membuat orang itu jadi memandang berkeliling dan berusaha mengingat-ingat apa yang telah terjadi sebelum tadi dirinya jatuh pingsan.
“Kami semua sudah menyerah, terserah kepada Kakang jika masih ingin melanjutkannya seorang diri”. ucap kawannya yang selama ini menjadi wakilnya pula.
Hal itu semakin membuat dia kebingungan sembari memandang berkeliling untuk menilai keadaan kembali dengan penalaran yang lebih panjang.
“Jika kau masih belum puas, mari kita lanjutkan! tetapi jangan salahkan aku jika nanti aku tidak akan menaruh belas kasihan lagi kepadamu”. ucap Nyi Sekar Mirah yang ingin segera menyelesaikan masalahnya di tempat itu.
“Ampun… Nyi Sanak, aku menyerah. Sebenarnya kami tidak pernah bermaksud buruk kepada kalian, semua ini kami lakukan karena ada yang mengupah kami”. sahut orang itu mulai ketakutan.
“Kawanmu tadi sudah mengatakannya kepadaku, sekarang antarkan kami kepada orang yang telah mengupah kalian. Dan kalian jangan berbuat macam-macam jika masih sayang dengan selembar nyawa kalian masing-masing”.
“He…? apakah kau yakin ingin menemuinya? apakah sudah kau pikirkan masak-masak keputusanmu itu?”.
“Memangnya kenapa?”.
Halaman 69 - 70
“Orang yang mengupah kami itu selain orang kaya, dia adalah orang yang berilmu sangat tinggi, aku khawatir kalian akan bernasib buruk jika berani mengusiknya sedikit saja”.
“Itu bukan urusanmu, sekarang yang menjadi urusanmu adalah antarkan kami kepada Ki Demang Ngares, orang yang telah mengupah kalian untuk berbuat menurut kehendaknya”.
“Baiklah… tetapi jika nanti kalian mengalami nasib buruk jangan salahkan kami dan jangan bawa-bawa nama kami”.
“Itu urusan kami, bukan urusan kalian. Asal kalian jangan berbuat macam-macam saja, maka kami tidak akan menyeret kalian lagi dalam masalah ini”.
“Dimana rumah Ki Demang?”.
“Tidak jauh dari sini, dan rumah itu mudah dicari karena letaknya berada di ujung kademangan di sisi utara, selain itu rumahnya terlihat paling besar dari rumah-rumah yang ada di sekitar tempat itu”.
“Baiklah… marilah kita segera berangkat, agar kami tidak semakin kehilangan waktu”. sahut Nyi Sekar Mirah yang sejak tadi sebagai juru bicara mewakili kawan-kawannya.
“Baiklah Nyi Sanak, marilah aku antarkan kalian ke rumah Ki Demang”. sahut pemimpin orang upahan itu, lalu memberikan isyarat kepada kawan-kawannya agar segera bersiap untuk segera meninggalkan tempat itu bersama-sama.
“Kalian semua berjalanlah di depan”.
Meski tidak ada jawaban, tetapi sepertinya perintah itu tidak perlu diulangi lagi. Karena mereka segera menyesuaikan diri di jalan yang cukup sempit itu untuk puluhan orang.
Orang-orang upahan berwajah garang itu kini memancarkan wajah lesu, karena untuk sementara harus membuang jauh-jauh harga dirinya sebagai orang yang selama ini sangat disegani.
Sebab kali ini mereka tidak dapat berbuat apa-apa dan hanya dapat menurut saja ketika digiring oleh para perempuan yang sebelumnya telah berhasil mengalahkannya, meski mereka sudah berusaha mengeroyoknya.
Kemudian rombongan itu mulai menyusuri jalan kademangan yang menuntun mereka ke arah rumah Ki Demang yang telah menyalahgunakan kekuasaannya untuk menuruti keinginannya pribadi yang ternyata nerak pacak nrajang paugeran.
Rombongan yang layaknya ular besar yang sedang berjalan di siang hari tersebut dengan serta merta mengundang perhatian dari orang-orang yang sempat melihatnya di sepanjang perjalanan.
Wajah-wajah heran, kebingungan, dan penuh tanda tanya tampak tersirat dari mereka yang melihatnya, namun karena mereka tahu siapakah yang sedang mereka lihat. Maka mereka tidak berani bertanya sepatah katapun.
“Mbokayu, sepertinya Yang Maha Welas Asih telah memberikan kesempatan kepada kita untuk mengingatkan tingkah laku Ki Demang Ngares yang sudah diluar batas itu”. berkata Nyi Rara Wulan dengan suara lirih dan setengah berbisik. Di sela-sela kakinya terus melangkah mengikuti para orang upahan itu.
“Semoga Yang Maha Welas Asih memberikan kita kekuatan dan kemudahan untuk dapat menyelesaikan masalah ini dengan sebaik-baiknya”. sahut Nyi Pandan Wangi sembari tersenyum.
“Dan semoga kejadian ini tidak membuat kita terlambat dalam menjalankan tugas utama kita”.
“Iya Sekar Mirah, semoga masalah ini dapat kita selesaikan dengan segera. Agar kita tidak semakin kehilangan waktu yang sangat berharga”.
“Bagaimana jika Ki Demang Ngares itu benar-benar orang yang berilmu sangat tinggi? dan kita menghadapi kesulitan untuk mengalahkannya, Mbokayu Pandan Wangi?”.
Halaman 71 - 72
“Marilah kita sama-sama nenuwun, Rara Wulan. Semoga Yang Maha Welas Asih memberikan petunjuk kepada kita untuk menyelesaikan masalah ini dengan sebaik-baiknya”.
“Mbokayu Pandan Wangi benar, kita memang jangan lupa untuk selalu nenuwun kepada Yang Maha Welas Asih dalam keadaan apapun dan bagaimanapun”.
“Iya Rara Wulan, meski Yang Maha Agung tidak akan selalu mengabulkan seluruh panuwunan kita, tetapi paling tidak dengan kita selalu nenuwun akan membuat kita semakin berhati-hati dalam melangkah dan ingat bahwa tingkah laku kita itu masih berada di jalan-Nya atau tidak”.
Sementara kaki-kaki mereka yang terus melangkah menyusuri jalan kademangan yang semakin lama semakin mendekati rumah Ki Demang Ngares yang menjadi tujuan. Dengan diiringi tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang Kademangan Ngares yang sempat berpapasan di sepanjang perjalanan.
Setelah beberapa lama mereka terus berjalan, akhirnya mereka sampai pula di sebuah ujung jalan sisi utara, jalan yang tinggal beberapa puluh langkah lagi akan sampai tujuan.
Mulai terlihatlah rumah yang tampak memang begitu indah dengan halamannya yang luas yang berisikan tanaman hias yang beraneka ragam namun dipadukan dengan begitu indahnya.
“Apakah Mbokayu tidak ingin rumah seperti ini?”. bisik ibu Bagus Sadewa dengan tatapan menggoda.
“Ah… kau mulai menggangguku”.
Nyi Sekar Mirah hanya menanggapi dengan tersenyum geli.
Akhirnya mereka sampai pula di depan regol rumah Ki Demang Ngares yang bagus dan besar, dan ketika mereka akan masuk telah dihadang oleh dua orang yang bertugas. Entah mereka memang para pengawal Kademangan Ngares atau orang-orang upahan pula.
“Sepertinya kau akan mendapat upah tambahan, Ki Gembong”. ucap salah satu orang yang bertugas jaga ketika pemimpin orang upahan itu sudah berada di hadapannya.
“Semoga saja, apakah Ki Demang ada?”. sahut Ki Gembong sembari tersenyum masam.
“Ada”. sahut penjaga itu singkat.
“Tolong laporkan kedatanganku bersama dengan enam orang perempuan itu”.
“Baik Ki, tunggulah disini untuk segera menikmati hasil kerja kerasmu bersama kawan-kawanmu”. sahut penjaga itu, kemudian berlalu masuk ke rumah untuk melaporkan kedatangan mereka.
Tidak lama kemudian muncullah penjaga tadi yang di belakangnya diikuti oleh orang yang bertubuh sedang, berkumis dan berjenggot tipis.
Namun dari wajahnya menunjukkan raut wajah yang tidak suka dengan kedatangan orang-orang upahannya bersama dengan enam orang perempuan tersebut.
Ki Demang Ngares yang tampak masih muda namun tidak terlalu muda itu melangkahkan kakinya keluar dari rumahnya dengan perlahan sembari matanya mengamati semua orang yang baru saja datang dengan tatapan tajam seperti sedang menahan kemarahan.
Kakinya berhenti ketika dia telah memasuki halaman dimana orang-orang upahannya bersama enam orang perempuan telah menunggu dengan jantung berdebar-debar.
Hal pertama yang dilakukan oleh Demang muda itu adalah mendekati Ki Gembong, selaku pemimpin seluruh orang-orang upahannya yang baru saja datang dengan tatapan tajam.
“Kenapa kalian bawa para perempuan itu kemari? apakah kalian sudah pikun dengan tugas yang aku berikan? sehingga mereka kalian bawa kemari?”. ucap Ki Demang dengan suara menekan.
Halaman 73 - 74
“Maaf Ki Demang, kami gagal melaksanakan perintahmu”.
“Apa maksudmu?”.
“Bukan kami yang membawa mereka kemari, tetapi mereka lah yang membawa kami kemari setelah berhasil mengalahkan kami semua”. sahut Ki Gembong dengan wajah yang mulai ketakutan.
“He…?”.
Bagaikan disambar petir di siang bolong, Ki Demang Ngares itu benar-benar terkejut dan seakan tidak percaya dengan keterangan orang upahannya tersebut.
“Benar Ki Demang, kami semua telah dikalahkan mereka”.
“Lalu apa gunanya aku mengupah kalian jika kalian tidak dapat aku andalkan, he..? jadi sia-sia saja uang yang aku keluarkan untuk mengupah kalian semua”. sahut Ki Demang dengan suara yang semakin meninggi.
“Maaf Ki Demang, kali ini kami memang gagal karena mereka adalah para perempuan yang berilmu sangat tinggi”.
“Omong kosong”.
“Terserah apa kata Ki Demang, tetapi aku mengatakan yang sebenarnya, bahwa kami memang telah dikalahkan mereka”.
“Lalu apa keperluan mereka datang kemari?”.
“Silahkan Ki Demang bertanya sendiri kepada mereka”.
“Kedatangan kami kemari hanyalah ingin memperingatkanmu, hentikanlah segala tingkah lakumu yang telah nerak pacak nrajang paugeran”. berkata Nyi Sekar Mirah yang sudah tidak sabar menunggu lebih lama lagi untuk bicara.
“He…? kau siapa tiba-tiba datang dan berani sesorah di hadapanku?”. sahut Ki Demang Ngares yang sepertinya marah sekali mendapat peringatan tersebut.
“Kau tidak perlu tahu siapa aku, tetapi yang perlu kau tahu adalah, segera hentikanlah kelakuan burukmu yang telah menyengsarakan sesama”. sahut Nyi Sekar Mirah masih dengan sikap tenangnya.
“Setan Alas… lancang sekali kau berani bicara seperti itu di hadapanku, apakah kau tidak pernah diajarkan subashita?”. sahut Ki Demang dengan penuh kemarahan sembari kedua matanya terus membelalak dan seakan mau lepas dari tempatnya.
“Sepertinya kaulah yang harus diajari subashita, Ki Demang. Agar kau memiliki sedikit unggah-ungguh”. kali ini Nyi Rara Wulan lah yang menyahut, karena tidak dapat menahan diri melihat Demang muda yang meledak-ledak itu.
“He… apakah kalian sedang mabuk kecubung, sehingga lupa atau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?”.
“Kaulah yang mabuk kecubung itu, sehingga tidak pernah dapat berpikir dengan benar, dan selalu menilai dirimu sendirilah yang paling benar dan paling berkuasa. Padahal kau lebih hina dari binatang jalang sekalipun”. sahut ibu Arya Nakula yang semakin merasa tertantang untuk menanggapi Demang muda itu.
“Setan Alas, Genderuwo, Tetekan… baru kali ini ada orang yang berani begitu lancangnya kepadaku, jangan salahkan aku jika mulutmu aku sumbat dengan pedangku”.
“Lakukanlah jika kau mampu”. sahut Nyi Rara Wulan yang kemudian mulai mempersiapkan diri.
Nyi Sekar Mirah yang tanggap akan keadaan segera berusaha mencegah muridnya itu dengan tangan kanannya yang telah bersiap melangkahkan kakinya untuk maju ke depan.
“Biar aku saja”.
“Maaf Mbokayu, bukan maksudku untuk deksura kepada Mbokayu berdua. Tetapi kali ini tolong izinkan aku untuk melayaninya, jangan rendahkan Mbokayu berdua hanya untuk melayani orang seperti itu”. sahut ibu Arya Nakula dengan suara ditekan dan dengan raut wajah yang sepertinya sedang menahan kemarahan.
Halaman 75 - 76
Nyi Sekar Mirah yang sudah bersiap untuk menyahut, ternyata telah didahului oleh pemilik rumah yang sudah diliputi oleh kemarahan yang sangat.
“Kalian tidak perlu berebut siapakah yang akan melawanku, kalian semua majulah bersama-sama agar pekerjaanku cepat selesai”. ucap Ki Demang Ngares dengan setengah berteriak.
“Tidak perlu, cukup aku saja untuk melayani manusia kotor sepertimu”. sahut Nyi Rara Wulan yang sepertinya sudah tidak dapat dicegah lagi oleh gurunya.
“Setan Alas… ternyata mulutmu lebih beracun dari Ular Bandotan sekalipun”.
“Aku memang Ular Bandotan yang siapa untuk meracunimu hingga kau terkapar”.
“Kau jangan hanya membual saja, bersiaplah!”.
Sepertinya pertarungan diantara keduanya sudah tidak dapat terhindarkan lagi, dan mereka pun segera membuat gelanggangnya sendiri, sementara yang lain segera menjauh guna memberikan tempat yang cukup.
Nyi Rara Wulan bersama kawan-kawannya yang sejak berangkat memang sudah menggunakan pakaian khususnya, jadi tidak perlu lagi menyingsingkan kain panjangnya seperti yang biasa dia lakukan jika akan memulai pertarungan.
Namun sebelum mulai pertarungan, Ki Demang menyempatkan diri mendekati anak buahnya, lalu membisikkan sesuatu. Entah apa yang dikatakannya, tetapi setelah itu anak buahnya segera meninggalkan tempat itu dan memasuki rumahnya.
“Apakah aku akan mendapat suguhan lebih dulu sebelum mulai pertarungan?”. celetuk Nyi Rara Wulan setelah melihat apa yang dilakukan calon lawannya.
“Setan Alas… itu bukan urusanmu, marilah segera kita mulai agar cepat selesai dan waktuku tidak terbuang sia-sia”. sahut Ki Demang Ngares yang tidak ingin menunda lagi pertarungannya.
Keduanya pun segera bersiap dengan kuda-kudanya untuk memulai sebuah pertarungan, dan sejenak kemudian Ki Demang Ngares itu telah menyerang lawannya pada bagian tubuh yang sangat berbahaya.
Dari serangan pertama itu sudah menyiratkan bahwa Demang muda tersebut ingin segera menyelesaikan pertarungan melawan seorang perempuan.
Kaki kanannya langsung menyerang ulu hati, namun Nyi Rara Wulan yang sudah bersiap pun tidak mau hanya menjadi sasaran empuk lawannya.
Dengan menggeliat ke samping, dia berhasil melepaskan diri dari serangan berbahaya itu sembari melakukan serangan balik mengarah kepala bagian belakang dengan tangan tangan kanannya yang mendatar.
Ibu Bagus Sadewa yang melihat unsur-unsur gerak yang terdapat pada Ki Demang Ngares pada awal pertarungan itu sempat mengerutkan keningnya dan sepertinya semakin tertarik untuk memperhatikannya lebih.
Namun dirinya masih diam saja dan masih ingin melihat perkembangannya atas apa yang dilihatnya guna dapat menilainya dengan lebih tepat.
Sementara orang-orang yang ada di halaman tersebut melihat semua itu dengan jantung berdebar-debar, terutama bagi orang-orang upahan yang sudah sedikit banyak mengetahui tataran kemampuan majikannya tersebut.
Halaman 77 - 78
Justru yang mereka khawatirkan adalah nasib perempuan yang menjadi lawannya, sebab selama ini mereka tahu bahwa majikannya adalah orang yang berilmu sangat tinggi.
Bahkan mereka belum pernah melihat majikannya tersebut dikalahkan dalam sebuah pertarungan oleh seseorang yang berani bersikap berseberangan dengannya.
Pertarungan itu sudah berlangsung dengan semakin sengitnya pada tataran-tataran awal, keduanya sudah saling bertahan dan menyerang dengan sama baiknya.
Ki Demang yang merasa tidak dapat segera menembus pertahanan lawannya segera meningkatkan kemampuannya selapis lebih tinggi, lalu menyerang kembali dengan garangnya.
Anak perempuan Ki Purbarumeksa yang memperhatikan tata gerak lawannya sempat mengerutkan keningnya, namun dirinya masih belum ingin langsung menilainya.
Sama dengan apa yang dilakukan oleh gurunya, dia masih menunggu perkembangan tataran demi tataran yang akan dilakukan oleh lawannya sebelum menilainya.
Namun pemandangan tersebut dapat dijadikannya dasar dirinya untuk semakin memperhatikan tata gerak lawannya yang sangat menarik baginya itu.
Ki Demang yang sudah diliputi oleh kemarahan tersebut memang sepertinya tidak ingin berlama-lama lagi untuk menyelesaikan pertarungannya, sehingga dirinya semakin meningkatkan tataran kemampuannya jika setelah beberapa saat masih merasa belum mampu menembus pertahanan lawannya.
“Ternyata punya bekal pula, Iblis betina satu ini”. membatin Ki Demang Ngares di sela-sela pertarungannya, setelah beberapa saat masih kesulitan menembus pertahanan lawannya yang tidak lebih hanyalah seorang perempuan, yang sejak awal telah dipandangnya sebelah mata.
Ternyata apa yang telah terjadi di halaman tersebut menarik perhatian para kawula Kademangan Ngares yang berada di sekitar tempat itu, baik yang rumahnya memang berada di sekitar tempat itu atau memang kebetulan sedang melintas.
Beberapa dari mereka yang penasaran mencoba mengintip apa yang sedang terjadi di halaman rumah tersebut secara diam-diam dan bersembunyi dari balik apapun.
Mereka yang sudah mengenal watak pemilik rumah dengan baik dalam waktu yang cukup lama, sebenarnya takut jika apa yang mereka lakukan akan ketahuan, dan akan mendapat limpahan kemarahan yang sudah dapat mereka duga.
“Siapakah perempuan itu yang berani menantang Ki Demang?”. berkata seorang paruh baya kepada kawannya yang sedang mengintip dari kejauhan.
“Mana aku tahu, Kakang?”.
“Perempuan itu keladuk wani kurang dedugo”.
“Meski demikian, tetapi paling tidak wanita itu telah memberikan secercah harapan bagi kita semua. Daripada kita sendiri yang justru orang asli sini, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa”.
“Ya kalau perempuan itu dapat mengalahkannya, tetapi jika dia justru bernasib buruk? bukankah itu hanya akan menambah korban dari kesewenang-wenangan Ki Demang saja”.
“Ya sebaiknya kita bantu dia dengan nenuwun, Kakang. Semoga Yang Maha Welas Asih membantunya untuk melawan sumber kejahatan dan ketidakadilan di tempat ini”.
“Kalau itu sudah pasti”.
“Dan semoga ini menjadi jawaban dari panuwunan kita semua, agar segala tindakan buruk Ki Demang segera mendapatkan hukuman yang setimpal, agar tidak akan ada lagi korban-korban berikutnya”. sahut orang yang lebih muda itu.
Halaman 79 - 80
“Ya… aku sependapat, karena sejak dia menggantikan ayahnya sebagai Demang disini, tindakan buruknya justru semakin menjadi-jadi dan semakin membuat banyak orang dicengkam oleh ketakutan karenanya”.
Sementara pertarungan yang terjadi di halaman rumah Ki Demang Ngares itu sudah memasuki tataran yang semakin tinggi dan mendebarkan bagi siapapun yang melihatnya.
Pertarungan yang semakin cepat dan keras sudah mulai mewarnai pertarungan, benturan dari keduanya pun sudah tidak dapat terhindarkan lagi.
Namun Ki Demang lah yang menjadi sangat terkejut ketika terjadi benturan di antara keduanya, dan seketika itu pula dirinya melompat beberapa langkah ke belakang untuk mengambil jarak guna menilai kembali keadaan yang terjadi.
Semua itu terjadi mungkin karena sejak awal Ki Demang Ngares terlalu memandang sebelah mata kepada lawannya yang tidak lebih hanyalah seorang perempuan.
“Setan Alas… ternyata kau memang benar-benar Iblis betina”. umpat Ki Demang sembari memeriksa tangan kanannya yang tadi digunakan untuk benturan, setelah berhasil mengambil jarak beberapa langkah dari lawannya.
Nyi Rara Wulan memang sengaja tidak memburu lawannya dan memberikan kesempatan kepadanya untuk menilai keadaan dengan penalaran yang wajar.
“Apakah kau memerlukan perawatan lebih dulu sebelum kita melanjutkan pertarungan, Ki Demang?”. celetuk Nyi Rara Wulan yang memang sengaja mengganggu lawannya dengan ucapannya yang menyakitkan hati.
“Iblis Laknat… kau jangan senang dulu dengan kemenangan kecilmu ini, aku hanya merasa terkejut karena tidak pernah menduga bahwa kemampuanmu setinggi ini”.
“Sejak tadi pekerjaanmu hanya mengumpat saja, apakah mulutmu tidak lelah? atau mulutmu memang sudah kotor? sebagai cerminan dari akal dan hatimu yang memang sudah kotor?”.
“Setan Alas, Genderuwo, Tetekan… mulutmu memang harus segera aku koyak, agar kau tidak dapat lagi bicara lancang kepadaku”.
“Dari tadi kerjamu hanya mengumpat dan mengancam saja, tetapi tidak pernah dapat kau buktikan ucapanmu”. sahut Nyi Rara Wulan yang memang sengaja sejak tadi memancing kemarahan lawannya agar nanti dalam pertarungan dapat mengurangi penalarannya yang wening.
Ki Demang Ngares benar-benar sudah tidak dapat menahan diri lagi mendengar ucapan lawannya yang begitu menyakitkan hati baginya yang selama ini sangat disegani karena kemampuannya yang tak terkalahkan.
Sementara Nyi Sekar Mirah yang berada di pinggir gelanggang dan hanya menyaksikan pertempuran yang dapat dibilang perang tanding, meski mereka tidak berjanji sebelumnya.
Di sela-sela menyaksikan dan mengawasi jalannya pertempuran, dari sudut matanya tersebut, dirinya menangkap ada sesuatu yang telah menarik perhatiannya…
- - - o - O - 0 - - -
bersambung ke
Djilid
25
..........................................
saya bukan siapa-siapa dan tidak dapat berbuat apa-apa tanpa segala bimbingan, dukungan, dan doa dari panjenengan semua.
Padepokan Tanah Leluhur

Assaalamu'alaikum warahmatullah Ki MDP,
BalasHapusAlhamdulillah semoga panjenengan sehat selalu dan terus berkarya. 🙏
wa'alaikum salam Panembahan Wonokromo...
Hapusamin...
terima kasih atas segala bimbingan, dukungan, dan doa panjenengan.
Alhamdulillah, semoga Ki MDP selalu sehat dan bersemangat
BalasHapusamin...
Hapusterima kasih atas segala bimbingan, dukungan, dan doa dari Ki Ptokwayangan.
Alhamdulillah yang ditunggu-tunggu akhirnya datang jua ... maju terus Ki MDP .. Insya Allah saya akan tetap setia mengikuti tulisan panjenengan.
BalasHapus