*****
Pertarungan di halaman rumah Ki Demang Ngares yang luas itu
semakin lama semakin sengit dan mendebarkan bagi siapa saja yang sempat
melihatnya.
Tidak hanya orang-orang upahan Ki Demang yang datang bersama
rombongan Nyi Sekar Mirah itu sendiri, tetapi orang-orang upahan yang bertugas
di rumah itu pun tidak ingin ketinggalan untuk pengalaman yang sangat langka
tersebut.
Bahkan para kawula Kademangan Ngares pun mulai berdatangan
pula untuk menyaksikan pemandangan yang sangat jarang sekali mereka dapatkan.
Namun yang membedakan adalah mereka tidak berani secara terang-terangan untuk
melakukannya.
Mereka hanya berani mengintip dari kejauhan atau yang paling
dekat adalah dari sela-sela dinding pembatas yang mengelilingi rumah Ki Demang
tersebut.
Meski sebenarnya mereka diliputi ketakutan, namun rasa
penasaran di hati telah membuat mereka dapat mengalahkan rasa takut itu
sendiri.
Sementara Nyi Sekar Mirah yang tadi sempat melihat sosok yang
tidak asing baginya di kejauhan, segera memberikan isyarat kepada ibu Sekar
Wangi yang pandangan matanya sedang terpusat pada pertarungan yang mulai
mendebarkan jantung.
Nyi Pandan Wangi pun segera menoleh ke arah orang yang
mencolek tubuhnya, namun ternyata dirinya hanya mendapatkan jawaban dengan
isyarat mata, agar dirinya segera melihat ke arah yang dimaksud.
“Kau atau aku yang akan menemuinya?”. bertanya ibu Bayu
Swandana setelah menyadari apa yang dimaksud.
“Terserah kepada Mbokayu saja, karena menurutku yang paling
penting adalah salah satu dari kita harus tetap disini untuk menjaga segala
kemungkinan”.
“Baiklah kalau begitu, aku yang akan menghampirinya dan kau
tetap awasi pertarungan dan keadaan di sekitarnya”.
“Baik Mbokayu”.
Nyi Pandan Wangi melihat sekali lagi pertarungan itu sebelum
akhirnya dirinya meninggalkan tempat itu guna menemui seseorang yang telah
dikenalnya dengan baik.
Sepertinya tidak butuh waktu terlalu lama untuk mencapai
tempat orang itu, karena memang jaraknya yang tidak terlalu jauh dari tempatnya
tadi berdiri.
“Aku minta maaf kepada Nyi Pandan Wangi, bukan maksudku untuk
bersikap deksura. Tetapi tadi maksudku adalah apakah aku diperkenankan untuk
bergabung di halaman itu, dan bukan bermaksud untuk meminta Nyi Pandan Wangi
datang kemari”.
“Sudahlah Ki Agahan, tidak perlu terlalu kau pikirkan masalah
itu. Apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan kepadaku?”.
“Maaf Nyi Pandan Wangi, bukan maksudku untuk bersikap deksura.
Tetapi sebaiknya serahkan saja masalah di tempat ini kepada kami, biarlah kami
yang mengurusnya. Nyi Pandan Wangi dan rombongan silahkan lanjutkan saja
perjalanan”.
“Aku percaya dengan kemampuan kalian, dan bukan maksudku
mengecilkan kalian. Tetapi semua ini adalah kami yang mulai, jadi alangkah
kurang pantas jika kemudian aku serahkan kepada orang lain untuk
menyelesaikannya”.
“Apakah pantas jika kami hanya menjadi penonton saja?”.
“Bukankah tidak ada yang aku lakukan pula di halaman itu,
selain hanya menjadi penonton? siaga saja agar tetap terhubung satu sama lain,
sembari kita lihat perkembangan yang ada disini”.
Halaman 3 - 4
“Baiklah kalau begitu, Nyi”.
“Nanti jika kami membutuhkan bantuan kalian, kami akan segera
memberikan isyarat kepada kalian untuk meminta bantuan”.
“Baik Nyi, kami akan selalu berusaha bersiap kapanpun Nyi
Pandan Wangi memberikan perintah”.
“Terima kasih, Ki Agahan. Jika tidak ada lagi yang ingin kau
sampaikan, aku akan kembali kesana”.
“Sepertinya tidak ada lagi, Nyi. Silahkan, kami akan
memantaunya dari kejauhan”. sahut pemimpin Padepokan Orang Bercambuk itu
sembari dengan sedikit membungkukkan badannya.
Kemudian anak perempuan Swargi Ki Gede Menoreh itu pun segera
beranjak dari tempat itu, lalu segera bergegas kembali untuk bergabung
dengan rombongannya yang berada di halaman rumah Ki Demang Ngares.
“Ada apa, Mbokayu?”. bertanya Nyi Sekar Mirah lirih, setelah
melihat ibu Sekar Wangi telah berdiri di sebelahnya.
“Ki Agahan ingin meminta masalah ini biar diselesaikannya
bersama para cantrik, dan kita dipersilahkan untuk melanjutkan perjalanan”.
“Lalu apa jawab Mbokayu?”.
“Aku menolaknya, dan aku katakan kepadanya. Bahwa tidak
sepantasnya jika masalah ini kita yang mulai, lalu kita limpahkan kepada orang
lain”.
“Aku sependapat, karena kita yang memulainya, maka kita pula
yang harus menyelesaikannya. Kecuali jika dalam keadaan tertentu saja kita akan
melimpahkannya kepada orang lain.
“Demikian pula pendapatku”. sahut Nyi Pandan Wangi yang
semakin memusatkan perhatiannya terhadap pertempuran yang semakin mendebarkan
jantung yang ada di hadapannya.
Sementara di gelanggang pertarungan Ki Demang Ngares yang
tidak ingin dipermalukan di hadapan para kawulanya, segera meningkatkan tataran
kemampuannya semakin tinggi lagi ketika tidak dapat segera menembus pertahanan
lawannya yang terasa masih sedemikian rapatnya.
Tataran demi tataran dari apa yang ditunjukkannya membuat
lawannya semakin mengerti bahwa jalur ilmu yang pernah disadapnya itu sangat
tidak asing baginya.
Namun lawannya pun menyadari bahwa ilmu itu kemudian sudah
tidak murni lagi karena telah tercampur dengan jalur ilmu lain yang belum
dikenalnya.
Sehingga ketika terjadi benturan demi benturan yang semakin
sengit pada tataran yang sangat tinggi, pada saat ada kesempatan Nyi Rara Wulan
mencoba mengambil jarak yang cukup dari lawannya untuk menilai keadaan.
Setelah menyerang lawannya dengan serangan membadai, lalu
sejenak kemudian dia dengan lompatan panjang beberapa langkah ke belakang
berusaha menjauh dari lawannya.
Ki Demang Ngares yang sudah bersiap akan memburu lawannya
segera diurungkannya ketika mendengar peringatan dari lawannya yang datang
tiba-tiba.
“Tunggu Ki Demang”.
“Apakah kau akan menyerah?”. sahut Ki Demang dengan senyum
tipis namun sinis.
“Apa menurutmu semudah itu aku akan menyerah?”.
“Lalu untuk apa lagi kau menghentikan pertarungan ini jika
tidak berniat untuk menyerah?”.
“Sejak kita mengawali pertarungan, aku melihat kau telah
menggunakan sebuah jalur ilmu yang sangat aku kenal, meski sudah tidak murni
lagi. Dari mana kau sadap ilmumu itu?”.
Halaman 5 - 6
“Ya tentu saja dari guruku”.
“Apa hubunganmu dengan Perguruan Kedung Jati?”.
“Apa yang kau tahu tentang Perguruan Kedung Jati? tentu yang
kau tahu hanya sekedar ceritanya saja bahwa dulu perguruan itu adalah salah
satu perguruan yang sangat dihormati, meski aku lihat jalur ilmumu pun
menunjukkan bahwa kau pernah menyadapnya yang entah dari siapa?”.
“Aku menyadap jalur ilmu Perguruan Kedung Jati dari guruku
sebagai pewarisnya yang sah”.
“Omong kosong, kau jangan membodohiku dengan cerita
ngayawaramu itu. Kau kira aku adalah anak kecil yang mudah kau bohongi dengan
ceritamu itu? dengarlah, Nyi Sanak! aku tahu dengan pasti sejarah panjang
Perguruan Kedung Jati”.
“Terserah apa katamu, tetapi aku sudah mengatakan yang
sebenarnya. Lalu siapakah gurumu?”.
“Guruku adalah orang yang telah memiliki nama besar di dunia
kanuragan, tetapi jika dilihat dari umurmu yang sekarang, tentu orang sepertimu
tidak akan mengenalnya meski aku sebutkan namanya sekalipun”.
“Sebut saja, barangkali setidaknya aku pernah mendengar
namanya dari guruku”.
“Guruku memang tidak memiliki jalur pewaris yang sah secara
langsung, tetapi guruku menyadap ilmu Perguruan Kedung Jati dari pewarisnya
yang sah ketika guruku sedang sama-sama nyantrik di tempat kakek guruku,
makanya ketika ilmu itu turun kepadaku menjadi sudah tidak murni lagi”.
Nyi Rara Wulan dan kawan-kawannya mendengarkan cerita itu
dengan seksama, sembari mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi di masa
lampau.
“Lalu… siapa nama gurumu itu?”.
“Kyai Girimaya”.
“Kyai Girimaya?”. desis Nyi Rara Wulan, sembari tanpa sadarnya
menoleh ke arah gurunya yang berdiri di samping kanannya.
Namun Nyi Sekar Mirah hanya dapat menanggapi dengan
menggelengkan kepala perlahan serta dengan kerut di kening yang tiba-tiba
membayang.
“Benar… guruku bernama Kyai Girimaya”.
“Sejauh ingatanku, aku belum pernah mendengar namanya”.
“Tentu saja, kau tidak akan mengenalnya. Memangnya kau siapa
diantara para raksasa kanuragan? sehingga kau merasa sudah mengenal mereka
semua?”.
Kata-kata itu benar-benar menghujam ke pusat jantung yang
paling dalam ibu Arya Nakula, namun dirinya tidak mau terlarut ke dalam
perasaannya sendiri.
“Lalu siapa orang yang kau sebut tadi adalah pewaris yang sah
dari jalur ilmu Perguruan Kedung Jati?”.
“Kini orangnya memang telah tiada, namun nama besarnya tidak
akan pernah hilang dimakan waktu, dia adalah Ki Saba Lintang”.
Bagaikan disengat ribuan tawon yang sedang mengamuk, Nyi Rara
Wulan, Nyi Sekar Mirah, dan Nyi Pandan Wangi benar-benar terkejut mendengar
nama terakhir yang telah disebutkan.
Bukan karena ketiganya itu menjadi ketakutan, tetapi karena
ketiganya telah mengalami beberapa kejadian yang berhubungan dengan orang
tersebut, terutama bagi Nyi Sekar Mirah sebagai orang yang berhasil
mengalahkannya dalam sebuah perang tanding.
Perubahan sikap yang terjadi kepada lawannya tersebut tidak
luput dari perhatian Ki Demang Ngares, yang kemudian membuat sebuah kesimpulan.
Namun sebuah kesimpulan yang hanya sekedar berdasarkan penilaiannya secara
pribadi.
Halaman 7 - 8
“Guruku dan Ki Saba Lintang menjadi saudara seperguruan sejak
Ki Saba Lintang itu sendiri datang kepada kakek guru dan memintanya agar mau
mengangkatnya menjadi muridnya”. lanjut Ki Demang Ngares yang semakin percaya
diri bahwa ceritanya telah membuat lawannya menjadi mulai ketakutan.
Nyi Rara Wulan dan kawan-kawannya tidak pernah menduga
sebelumnya bahwa dalam perjalanannya kali ini mereka telah menemukan kenyataan
bahwa ternyata masih ada sisa-sisa masa lalu yang kembali terkuak.
“Dan guruku adalah kakak seperguruan dari Ki Saba Lintang,
baik secara silsilah perguruan maupun secara tataran kemampuan yang mereka
miliki”.
Ki Demang Ngares memang sengaja menceritakan hal itu dengan
tujuan agar lawannya menjadi berpikir ulang untuk melanjutkan pertarungan, atau
bahkan mereka akan menyerah tanpa harus dirinya bersusah payah bertempur lebih
dahulu.
Namun pertanyaan yang kemudian terlontar justru sangat
mengejutkan Ki Demang Ngares, yang tidak pernah menduga bahwa pertanyaan itu
akan muncul dari mulut lawannya.
“Apakah kau sudah mendengar pula tentang cerita tentang Ki
Saba Lintang di akhir hayatnya?”.
“Ki Saba Lintang telah gugur sebagai seorang pemimpin besar
Perguruan Kedung Jati, dalam sebuah perang tanding pada saat terjadi perang
antara Demak dan Mataram”.
“Apakah kau tahu siapakah yang menjadi lawannya?”.
Ki Demang Ngares yang mengetahui dengan pasti cerita itu mulai
merasakan kegetiran yang mendalam, sebab orang yang telah dieluk-elukkan
sebagai seorang pemimpin besar harus gugur ketika berperang tanding melawan
seorang perempuan.
“Kenapa kau menjadi terdiam, Ki Demang?”.
“Tentu saja aku tahu lawannya, kenapa kau bertanya demikian?”.
“Jika kau memang mengetahuinya, siapakah lawan perang tanding
Ki Saba Lintang itu?”.
“Jika aku mengatakannya pun percuma saja, karena kau tentu
tidak akan mengetahui orang itu, sebab dia adalah orang yang jarang sekali
muncul diantara orang-orang yang berilmu tinggi”.
“Kenapa kau dapat memastikan demikian?”.
“Sebab dia hanyalah seorang perempuan”.
“Memangnya kenapa jika yang menjadi lawan Ki Saba Lintang itu
seorang perempuan? dan apa salahnya jika yang mampu mengalahkan Ki Saba Lintang
itu adalah seorang perempuan?”.
Pertanyaan
lawannya itu semakin menambah kegetiran hatinya yang harus menerima kenyataan
bahwa, cerita yang tadi sempat dipergunakannya dengan maksud untuk
menakut-nakuti lawannya tetapi justru kini menjadi seperti senjata makan
tuannya sendiri.
Karena
ternyata lawannya kali ini tidak dapat dengan mudahnya untuk ditakut-takuti
dengan cerita pertarungan yang garang dan nggegirisi di masa lampau tersebut.
Tiba-tiba
tenggorokannya terasa menjadi kelu untuk mengucapkan suatu kenyataan, apalagi
sebuah kenyataan yang terasa sangat pahit dan menyakitkan baginya.
“Sebelum
aku menjawab pertanyaanmu, siapa kau sebenarnya? siapa namamu dan siapa pula
kawan-kawanmu itu?’. berkata Ki Demang Ngares yang mencoba mengalihkan
pembicaraan guna mengusir kegetiran hatinya meski hanya sejenak.
“Aku Wulan,
dan kami adalah enam perempuan pengembara yang kebetulan sedang melintas di
tempat ini. Pada awalnya kami hanya berniat sekedar melintas saja dan sama
sekali tidak berniat mengusikmu, tetapi orang-orang upahanmu lah yang mulai
lebih dulu sehingga kami putuskan untuk menyelesaikan masalah ini”.
Halaman 9 - 10
Mendengar
jawaban itu Ki Demang Ngares kemudian memandang ke arah enam perempuan di
hadapannya tersebut dengan seksama secara bergantian.
Perempuan
yang berjumlah enam orang dengan kesemuanya mengenakan pakaian khusus, memang
mungkin ada benarnya jika mereka adalah para pengembara.
Namun dari
tatapan matanya yang tajam sepertinya telah menyiratkan keraguan, sebab selama
ini dirinya belum pernah mendengar atau bahkan melihat sendiri bahwa ada
pengembara sebanyak itu dan kesemuanya adalah perempuan.
Namun
sebelum demang muda itu menanggapi…
“Aku tidak
memaksa kau untuk percaya, karena percaya atau tidak itu adalah urusanmu, bukan
urusanku. Tetapi yang jelas aku sudah mengatakan yang sebenarnya”.
“Ya… kau
benar”.
“Apakah
sekarang aku sudah dapat mendengar jawaban dari pertanyaanku tadi?”.
“Setelah
aku perhatikan, sepertinya kau banyak tahu tentang cerita itu. Dan apa
hubunganmu dengan cerita itu?”. sahut Ki Demang yang justru balik bertanya.
“Kau tidak
usah berputar-putar, Ki Demang. Jawab dulu pertanyaanku tadi, baru kemudian aku
akan jawab pertanyaanmu”.
“Pada saat
itu Ki Saba Lintang dikalahkan oleh Nyi Lurah Agung Sedayu, atau yang lebih
dikenal pula dengan nama Sekar Mirah. Orang yang mengaku sebagai pewaris yang
sah pemimpin tertinggi Perguruan Kedung Jati”.
“Apakah kau
yakin jika Nyi Lurah Agung Sedayu hanyalah sekedar mengaku-aku sebagai pewaris
yang sah sebagai pemimpin Perguruan Kedung Jati?”.
“Jika dia
tidak mengaku-aku sebagai pewaris yang sah, lalu dari manakah dia mendapatkan
semua itu? secara penalaran wajar, itu sangat mustahil, apalagi dia tidak lebih
dari seorang perempuan”.
“Memang
sulit dipercaya, tetapi bukan berarti mustahil bukan?”.
Mendapat
pertanyaan yang semakin menyudutkannya, membuat Ki Demang Ngares merasa semakin
kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Karena biar
bagaimanapun, meski dirinya belum pernah mengenalnya secara pribadi namun
paling tidak telah mendengar cerita tentang orang yang pada saat itu dikenal
dengan nama Nyi Lurah Agung Sedayu serba sedikit.
Nyi Rara
Wulan yang melihat lawannya masih saja terdiam setelah beberapa saat, menjadi
semakin tertarik untuk terus mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin
mengganggu penalarannya.
“Apakah kau
pernah mengenalnya?”. berkata Nyi Rara Wulan sembari melirik ke arah gurunya
yang kebetulan sedang berdiri beberapa langkah di sebelah kanannya.
Nyi Sekar
Mirah yang merasa namanya disinggung, segera memberikan isyarat kepada muridnya
itu untuk tidak membuka jati dirinya di halaman rumah tersebut.
Namun sepertinya ibu Arya Nakula yang merasa sudah
terlanjur memulai membicarakan hal itu sudah tidak dapat dicegah lagi untuk
melanjutkan kata-katanya.
bersambung.....

siaaap di tunggu Ki
BalasHapussiyaaap. sabar menanti Ki ......
BalasHapussemoga wedaran segera bisa dinikmati kembali......
BalasHapussudah kangen sama wedarannya....
BalasHapusAlhamdulillah, dah sampai halaman 10. Terimakasih Ki, makin memikat ceritanya ....
BalasHapus