*****
Pertarungan di halaman rumah Ki Demang Ngares yang luas itu
semakin lama semakin sengit dan mendebarkan bagi siapa saja yang sempat
melihatnya.
Tidak hanya orang-orang upahan Ki Demang yang datang bersama
rombongan Nyi Sekar Mirah itu sendiri, tetapi orang-orang upahan yang bertugas
di rumah itu pun tidak ingin ketinggalan untuk pengalaman yang sangat langka
tersebut.
Bahkan para kawula Kademangan Ngares pun mulai berdatangan
pula untuk menyaksikan pemandangan yang sangat jarang sekali mereka dapatkan.
Namun yang membedakan adalah mereka tidak berani secara terang-terangan untuk
melakukannya.
Mereka hanya berani mengintip dari kejauhan atau yang paling
dekat adalah dari sela-sela dinding pembatas yang mengelilingi rumah Ki Demang
tersebut.
Meski sebenarnya mereka diliputi ketakutan, namun rasa
penasaran di hati telah membuat mereka dapat mengalahkan rasa takut itu
sendiri.
Sementara Nyi Sekar Mirah yang tadi sempat melihat sosok yang
tidak asing baginya di kejauhan, segera memberikan isyarat kepada ibu Sekar
Wangi yang pandangan matanya sedang terpusat pada pertarungan yang mulai
mendebarkan jantung.
Nyi Pandan Wangi pun segera menoleh ke arah orang yang
mencolek tubuhnya, namun ternyata dirinya hanya mendapatkan jawaban dengan
isyarat mata, agar dirinya segera melihat ke arah yang dimaksud.
“Kau atau aku yang akan menemuinya?”. bertanya ibu Bayu
Swandana setelah menyadari apa yang dimaksud.
“Terserah kepada Mbokayu saja, karena menurutku yang paling
penting adalah salah satu dari kita harus tetap disini untuk menjaga segala
kemungkinan”.
“Baiklah kalau begitu, aku yang akan menghampirinya dan kau
tetap awasi pertarungan dan keadaan di sekitarnya”.
“Baik Mbokayu”.
Nyi Pandan Wangi melihat sekali lagi pertarungan itu sebelum
akhirnya dirinya meninggalkan tempat itu guna menemui seseorang yang telah
dikenalnya dengan baik.
Sepertinya tidak butuh waktu terlalu lama untuk mencapai
tempat orang itu, karena memang jaraknya yang tidak terlalu jauh dari tempatnya
tadi berdiri.
“Aku minta maaf kepada Nyi Pandan Wangi, bukan maksudku untuk
bersikap deksura. Tetapi tadi maksudku adalah apakah aku diperkenankan untuk
bergabung di halaman itu, dan bukan bermaksud untuk meminta Nyi Pandan Wangi
datang kemari”.
“Sudahlah Ki Agahan, tidak perlu terlalu kau pikirkan masalah
itu. Apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan kepadaku?”.
“Maaf Nyi Pandan Wangi, bukan maksudku untuk bersikap deksura.
Tetapi sebaiknya serahkan saja masalah di tempat ini kepada kami, biarlah kami
yang mengurusnya. Nyi Pandan Wangi dan rombongan silahkan lanjutkan saja
perjalanan”.
“Aku percaya dengan kemampuan kalian, dan bukan maksudku
mengecilkan kalian. Tetapi semua ini adalah kami yang mulai, jadi alangkah
kurang pantas jika kemudian aku serahkan kepada orang lain untuk
menyelesaikannya”.
“Apakah pantas jika kami hanya menjadi penonton saja?”.
“Bukankah tidak ada yang aku lakukan pula di halaman itu,
selain hanya menjadi penonton? siaga saja agar tetap terhubung satu sama lain,
sembari kita lihat perkembangan yang ada disini”.
Halaman 3 - 4
“Baiklah kalau begitu, Nyi”.
“Nanti jika kami membutuhkan bantuan kalian, kami akan segera
memberikan isyarat kepada kalian untuk meminta bantuan”.
“Baik Nyi, kami akan selalu berusaha bersiap kapanpun Nyi
Pandan Wangi memberikan perintah”.
“Terima kasih, Ki Agahan. Jika tidak ada lagi yang ingin kau
sampaikan, aku akan kembali kesana”.
“Sepertinya tidak ada lagi, Nyi. Silahkan, kami akan
memantaunya dari kejauhan”. sahut pemimpin Padepokan Orang Bercambuk itu
sembari dengan sedikit membungkukkan badannya.
Kemudian anak perempuan Swargi Ki Gede Menoreh itu pun segera
beranjak dari tempat itu, lalu segera bergegas kembali untuk bergabung
dengan rombongannya yang berada di halaman rumah Ki Demang Ngares.
“Ada apa, Mbokayu?”. bertanya Nyi Sekar Mirah lirih, setelah
melihat ibu Sekar Wangi telah berdiri di sebelahnya.
“Ki Agahan ingin meminta masalah ini biar diselesaikannya
bersama para cantrik, dan kita dipersilahkan untuk melanjutkan perjalanan”.
“Lalu apa jawab Mbokayu?”.
“Aku menolaknya, dan aku katakan kepadanya. Bahwa tidak
sepantasnya jika masalah ini kita yang mulai, lalu kita limpahkan kepada orang
lain”.
“Aku sependapat, karena kita yang memulainya, maka kita pula
yang harus menyelesaikannya. Kecuali jika dalam keadaan tertentu saja kita akan
melimpahkannya kepada orang lain.
“Demikian pula pendapatku”. sahut Nyi Pandan Wangi yang
semakin memusatkan perhatiannya terhadap pertempuran yang semakin mendebarkan
jantung yang ada di hadapannya.
Sementara di gelanggang pertarungan Ki Demang Ngares yang
tidak ingin dipermalukan di hadapan para kawulanya, segera meningkatkan tataran
kemampuannya semakin tinggi lagi ketika tidak dapat segera menembus pertahanan
lawannya yang terasa masih sedemikian rapatnya.
Tataran demi tataran dari apa yang ditunjukkannya membuat
lawannya semakin mengerti bahwa jalur ilmu yang pernah disadapnya itu sangat
tidak asing baginya.
Namun lawannya pun menyadari bahwa ilmu itu kemudian sudah
tidak murni lagi karena telah tercampur dengan jalur ilmu lain yang belum
dikenalnya.
Sehingga ketika terjadi benturan demi benturan yang semakin
sengit pada tataran yang sangat tinggi, pada saat ada kesempatan Nyi Rara Wulan
mencoba mengambil jarak yang cukup dari lawannya untuk menilai keadaan.
Setelah menyerang lawannya dengan serangan membadai, lalu
sejenak kemudian dia dengan lompatan panjang beberapa langkah ke belakang
berusaha menjauh dari lawannya.
Ki Demang Ngares yang sudah bersiap akan memburu lawannya
segera diurungkannya ketika mendengar peringatan dari lawannya yang datang
tiba-tiba.
“Tunggu Ki Demang”.
“Apakah kau akan menyerah?”. sahut Ki Demang dengan senyum
tipis namun sinis.
“Apa menurutmu semudah itu aku akan menyerah?”.
“Lalu untuk apa lagi kau menghentikan pertarungan ini jika
tidak berniat untuk menyerah?”.
“Sejak kita mengawali pertarungan, aku melihat kau telah
menggunakan sebuah jalur ilmu yang sangat aku kenal, meski sudah tidak murni
lagi. Dari mana kau sadap ilmumu itu?”.
Halaman 5 - 6
“Ya tentu saja dari guruku”.
“Apa hubunganmu dengan Perguruan Kedung Jati?”.
“Apa yang kau tahu tentang Perguruan Kedung Jati? tentu yang
kau tahu hanya sekedar ceritanya saja bahwa dulu perguruan itu adalah salah
satu perguruan yang sangat dihormati, meski aku lihat jalur ilmumu pun
menunjukkan bahwa kau pernah menyadapnya yang entah dari siapa?”.
“Aku menyadap jalur ilmu Perguruan Kedung Jati dari guruku
sebagai pewarisnya yang sah”.
“Omong kosong, kau jangan membodohiku dengan cerita
ngayawaramu itu. Kau kira aku adalah anak kecil yang mudah kau bohongi dengan
ceritamu itu? dengarlah, Nyi Sanak! aku tahu dengan pasti sejarah panjang
Perguruan Kedung Jati”.
“Terserah apa katamu, tetapi aku sudah mengatakan yang
sebenarnya. Lalu siapakah gurumu?”.
“Guruku adalah orang yang telah memiliki nama besar di dunia
kanuragan, tetapi jika dilihat dari umurmu yang sekarang, tentu orang sepertimu
tidak akan mengenalnya meski aku sebutkan namanya sekalipun”.
“Sebut saja, barangkali setidaknya aku pernah mendengar
namanya dari guruku”.
“Guruku memang tidak memiliki jalur pewaris yang sah secara
langsung, tetapi guruku menyadap ilmu Perguruan Kedung Jati dari pewarisnya
yang sah ketika guruku sedang sama-sama nyantrik di tempat kakek guruku,
makanya ketika ilmu itu turun kepadaku menjadi sudah tidak murni lagi”.
Nyi Rara Wulan dan kawan-kawannya mendengarkan cerita itu
dengan seksama, sembari mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi di masa
lampau.
“Lalu… siapa nama gurumu itu?”.
“Kyai Girimaya”.
“Kyai Girimaya?”. desis Nyi Rara Wulan, sembari tanpa sadarnya
menoleh ke arah gurunya yang berdiri di samping kanannya.
Namun Nyi Sekar Mirah hanya dapat menanggapi dengan
menggelengkan kepala perlahan serta dengan kerut di kening yang tiba-tiba
membayang.
“Benar… guruku bernama Kyai Girimaya”.
“Sejauh ingatanku, aku belum pernah mendengar namanya”.
“Tentu saja, kau tidak akan mengenalnya. Memangnya kau siapa
diantara para raksasa kanuragan? sehingga kau merasa sudah mengenal mereka
semua?”.
Kata-kata itu benar-benar menghujam ke pusat jantung yang
paling dalam ibu Arya Nakula, namun dirinya tidak mau terlarut ke dalam
perasaannya sendiri.
“Lalu siapa orang yang kau sebut tadi adalah pewaris yang sah
dari jalur ilmu Perguruan Kedung Jati?”.
“Kini orangnya memang telah tiada, namun nama besarnya tidak
akan pernah hilang dimakan waktu, dia adalah Ki Saba Lintang”.
Bagaikan disengat ribuan tawon yang sedang mengamuk, Nyi Rara
Wulan, Nyi Sekar Mirah, dan Nyi Pandan Wangi benar-benar terkejut mendengar
nama terakhir yang telah disebutkan.
Bukan karena ketiganya itu menjadi ketakutan, tetapi karena
ketiganya telah mengalami beberapa kejadian yang berhubungan dengan orang
tersebut, terutama bagi Nyi Sekar Mirah sebagai orang yang berhasil
mengalahkannya dalam sebuah perang tanding.
Perubahan sikap yang terjadi kepada lawannya tersebut tidak
luput dari perhatian Ki Demang Ngares, yang kemudian membuat sebuah kesimpulan.
Namun sebuah kesimpulan yang hanya sekedar berdasarkan penilaiannya secara
pribadi.
Halaman 7 - 8
“Guruku dan Ki Saba Lintang menjadi saudara seperguruan sejak
Ki Saba Lintang itu sendiri datang kepada kakek guru dan memintanya agar mau
mengangkatnya menjadi muridnya”. lanjut Ki Demang Ngares yang semakin percaya
diri bahwa ceritanya telah membuat lawannya menjadi mulai ketakutan.
Nyi Rara Wulan dan kawan-kawannya tidak pernah menduga
sebelumnya bahwa dalam perjalanannya kali ini mereka telah menemukan kenyataan
bahwa ternyata masih ada sisa-sisa masa lalu yang kembali terkuak.
“Dan guruku adalah kakak seperguruan dari Ki Saba Lintang,
baik secara silsilah perguruan maupun secara tataran kemampuan yang mereka
miliki”.
Ki Demang Ngares memang sengaja menceritakan hal itu dengan
tujuan agar lawannya menjadi berpikir ulang untuk melanjutkan pertarungan, atau
bahkan mereka akan menyerah tanpa harus dirinya bersusah payah bertempur lebih
dahulu.
Namun pertanyaan yang kemudian terlontar justru sangat
mengejutkan Ki Demang Ngares, yang tidak pernah menduga bahwa pertanyaan itu
akan muncul dari mulut lawannya.
“Apakah kau sudah mendengar pula tentang cerita tentang Ki
Saba Lintang di akhir hayatnya?”.
“Ki Saba Lintang telah gugur sebagai seorang pemimpin besar
Perguruan Kedung Jati, dalam sebuah perang tanding pada saat terjadi perang
antara Demak dan Mataram”.
“Apakah kau tahu siapakah yang menjadi lawannya?”.
Ki Demang Ngares yang mengetahui dengan pasti cerita itu mulai
merasakan kegetiran yang mendalam, sebab orang yang telah dieluk-elukkan
sebagai seorang pemimpin besar harus gugur ketika berperang tanding melawan
seorang perempuan.
“Kenapa kau menjadi terdiam, Ki Demang?”.
“Tentu saja aku tahu lawannya, kenapa kau bertanya demikian?”.
“Jika kau memang mengetahuinya, siapakah lawan perang tanding
Ki Saba Lintang itu?”.
“Jika aku mengatakannya pun percuma saja, karena kau tentu
tidak akan mengetahui orang itu, sebab dia adalah orang yang jarang sekali
muncul diantara orang-orang yang berilmu tinggi”.
“Kenapa kau dapat memastikan demikian?”.
“Sebab dia hanyalah seorang perempuan”.
“Memangnya kenapa jika yang menjadi lawan Ki Saba Lintang itu
seorang perempuan? dan apa salahnya jika yang mampu mengalahkan Ki Saba Lintang
itu adalah seorang perempuan?”.
Pertanyaan
lawannya itu semakin menambah kegetiran hatinya yang harus menerima kenyataan
bahwa, cerita yang tadi sempat dipergunakannya dengan maksud untuk
menakut-nakuti lawannya tetapi justru kini menjadi seperti senjata makan
tuannya sendiri.
Karena
ternyata lawannya kali ini tidak dapat dengan mudahnya untuk ditakut-takuti
dengan cerita pertarungan yang garang dan nggegirisi di masa lampau tersebut.
Tiba-tiba
tenggorokannya terasa menjadi kelu untuk mengucapkan suatu kenyataan, apalagi
sebuah kenyataan yang terasa sangat pahit dan menyakitkan baginya.
“Sebelum
aku menjawab pertanyaanmu, siapa kau sebenarnya? siapa namamu dan siapa pula
kawan-kawanmu itu?’. berkata Ki Demang Ngares yang mencoba mengalihkan
pembicaraan guna mengusir kegetiran hatinya meski hanya sejenak.
“Aku Wulan,
dan kami adalah enam perempuan pengembara yang kebetulan sedang melintas di
tempat ini. Pada awalnya kami hanya berniat sekedar melintas saja dan sama
sekali tidak berniat mengusikmu, tetapi orang-orang upahanmu lah yang mulai
lebih dulu sehingga kami putuskan untuk menyelesaikan masalah ini”.
Halaman 9 - 10
Mendengar
jawaban itu Ki Demang Ngares kemudian memandang ke arah enam perempuan di
hadapannya tersebut dengan seksama secara bergantian.
Perempuan
yang berjumlah enam orang dengan kesemuanya mengenakan pakaian khusus, memang
mungkin ada benarnya jika mereka adalah para pengembara.
Namun dari
tatapan matanya yang tajam sepertinya telah menyiratkan keraguan, sebab selama
ini dirinya belum pernah mendengar atau bahkan melihat sendiri bahwa ada
pengembara sebanyak itu dan kesemuanya adalah perempuan.
Namun
sebelum demang muda itu menanggapi…
“Aku tidak
memaksa kau untuk percaya, karena percaya atau tidak itu adalah urusanmu, bukan
urusanku. Tetapi yang jelas aku sudah mengatakan yang sebenarnya”.
“Ya… kau
benar”.
“Apakah
sekarang aku sudah dapat mendengar jawaban dari pertanyaanku tadi?”.
“Setelah
aku perhatikan, sepertinya kau banyak tahu tentang cerita itu. Dan apa
hubunganmu dengan cerita itu?”. sahut Ki Demang yang justru balik bertanya.
“Kau tidak
usah berputar-putar, Ki Demang. Jawab dulu pertanyaanku tadi, baru kemudian aku
akan jawab pertanyaanmu”.
“Pada saat
itu Ki Saba Lintang dikalahkan oleh Nyi Lurah Agung Sedayu, atau yang lebih
dikenal pula dengan nama Sekar Mirah. Orang yang mengaku sebagai pewaris yang
sah pemimpin tertinggi Perguruan Kedung Jati”.
“Apakah kau
yakin jika Nyi Lurah Agung Sedayu hanyalah sekedar mengaku-aku sebagai pewaris
yang sah sebagai pemimpin Perguruan Kedung Jati?”.
“Jika dia
tidak mengaku-aku sebagai pewaris yang sah, lalu dari manakah dia mendapatkan
semua itu? secara penalaran wajar, itu sangat mustahil, apalagi dia tidak lebih
dari seorang perempuan”.
“Memang
sulit dipercaya, tetapi bukan berarti mustahil bukan?”.
Mendapat
pertanyaan yang semakin menyudutkannya, membuat Ki Demang Ngares merasa semakin
kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Karena biar
bagaimanapun, meski dirinya belum pernah mengenalnya secara pribadi namun
paling tidak telah mendengar cerita tentang orang yang pada saat itu dikenal
dengan nama Nyi Lurah Agung Sedayu serba sedikit.
Nyi Rara
Wulan yang melihat lawannya masih saja terdiam setelah beberapa saat, menjadi
semakin tertarik untuk terus mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin
mengganggu penalarannya.
“Apakah kau
pernah mengenalnya?”. berkata Nyi Rara Wulan sembari melirik ke arah gurunya
yang kebetulan sedang berdiri beberapa langkah di sebelah kanannya.
Nyi Sekar Mirah yang merasa namanya disinggung, segera memberikan isyarat kepada muridnya itu untuk tidak membuka jati dirinya di halaman rumah tersebut.
Namun sepertinya ibu Arya Nakula yang merasa sudah terlanjur memulai membicarakan hal itu sudah tidak dapat dicegah lagi untuk melanjutkan kata-katanya.
Halaman 11-12
Ki Demang
yang melihat kejadian itu, tanpa sadar ikut melirik pula ke arah yang sama
dengan apa yang dilakukan oleh anak perempuan Ki Purbarumeksa tersebut dengan
penuh tanda tanya.
“Belum. Apa
maksudmu bertanya demikian?”.
“Ketahuilah…
bahwa orang yang telah mengalahkan Ki Saba Lintang dalam perang tanding adalah
guruku itu, yang memang pewaris yang sah dan bukan sekedar hanya mengaku-aku
tanpa dasar sebagai salah satu pemimpin Perguruan Kedung Jati”. sahut Nyi Rara
Wulan sembari menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah yang dimaksud.
“Omong
kosong, mana mungkin? semakin lama omonganmu semakin ngayawara seperti orang
yang sedang mabuk kecubung. Kau kira aku anak kemarin sore yang dapat kau
bohongi begitu saja, he ?”. sahut Ki Demang dengan suara setengah berteriak.
“Kita akan
sama-sama melihat, siapakah diantara kita yang sebenarnya sedang mabuk
kecubung”. sahut Nyi Rara Wulan yang tidak mau kalah.
“Memangnya
apa yang akan kau lakukan?”. sahut Ki Demang Ngares yang penuh dengan tanda
tanya.
“Mbokayu,
tolong tunjukkan kepada Ki Demang bahwa memang Mbokayu lah pewaris yang sah
sebagai salah satu pemimpin dari Perguruan Kedung Jati”.
Ki Demang
yang mendengar hal itu keningnya menjadi semakin berkerut sembari dengan penuh
tanda tanya, apa yang sebenarnya akan mereka lakukan.
Sementara
Nyi Sekar Mirah yang tidak ingin mengecewakan muridnya tersebut segera membuka
selongsong yang berada di punggungnya, lalu menarik isinya. Maka dengan segera
terlihatlah Tongkat Baja Putih yang ceritanya begitu melegenda selama ini di
tanah tempat mereka berpijak.
Mata Ki
Demang Ngares tiba-tiba membelalak seraya mulutnya ternganga karena saking
terkejutnya dengan apa yang sedang dilihatnya tersebut.
“Apakah kau
masih meragukannya, Ki Demang?”.
“Bohong!
tidak mungkin! tentu itu hanyalah Tongkat Baja Putih tiruan yang sengaja kalian
buat untuk menakut-nakuti lawan karena nama besarnya”.
“Sekarang
terserah apa katamu, percaya dan tidaknya adalah urusanmu dan bukan urusanku.
Tetapi yang sekarang menjadi urusanku adalah segera menghentikan segala pokalmu
yang telah banyak menyengsarakan sesama”. sahut Nyi Rara Wulan yang sudah tidak
ingin memperpanjang pembicaraan tersebut.
“Jika itu
memang asli, tunjukkan kepadaku”.
“Itu adalah
senjata guruku, bukan senjataku”. sahut ibu Arya Nakula yang tanggap akan maksud
lawannya.
“Biarlah
gurumu yang menggantikan kedudukanmu”.
“Urusan
kita belum selesai, Ki Demang. Jadi tidak semudah itu kau dapat menantang
guruku, kau boleh menantang guruku jika aku sudah menyerah”.
“Persetan…
kesombonganmu benar-benar sudah sundul langit, Nyi Sanak. Aku akan segera
menyelesaikanmu agar dapat segera melawan gurumu itu”.
Selesai
berkata demikian, Ki Demang segera memberikan sebuah isyarat kepada salah satu
pembantunya. Sejenak kemudian, pembantunya pun segera menyerahkan sebuah pedang
yang terlihat agak tipis dan lentur serta berukuran sedikit lebih panjang.
Jika
dilihat dari wujudnya, itu sepertinya bukan seperti pedang kebanyakan. Tentu
itu dari bahan pilihan dan dibuat secara khusus.
Halaman 13-14
“Pinjamlah
senjata gurumu itu jika kau tidak membawa senjata, agar aku tidak dianggap
licik melawan orang yang tidak bersenjata dengan menggunakan senjata, apalagi
kau hanyalah seorang perempuan”. ucap Ki Demang setelah di tangan kanannya
memegang senjata andalannya.
Nyi Rara
Wulan yang melihat lawannya telah bersenjata, tidak mau terjerumus kedalam
kesulitan karena kesombongannya sendiri, maka dirinya pun segera mengurai
senjata andalannya.
Namun
sebelum dirinya benar-benar mengurai selendang yang hampir selalu dikaitkan
pada tubuhnya tersebut, tiba-tiba saja ada suara yang memanggilnya.
“Wulan”.
Sontak saja
ibu Arya Nakula itu segera menoleh ke arah sumber suara yang memanggil, dan
sebuah pemandangan yang tidak pernah diduga sebelumnya telah terjadi begitu
cepatnya.
“Gunakanlah
ini”. ucap Nyi Sekar Mirah sembari melemparkan Tongkat Baja Putihnya ke arah
muridnya.
“Tapi,
Mbokayu…”. sahut Nyi Rara Wulan sembari menangkap tongkat gurunya yang
dilemparkannya tersebut.
“Sudahlah,
gunakanlah dengan sebaik-baiknya”.
“Beruntunglah
Ki Demang, guruku telah berbaik hati bersedia meminjamkannya senjatanya
kepadaku. Meskipun aku tidak akan sebaik guruku ketika menggunakannya tetapi
semoga saja aku tidak akan mengecewakannya”.
“Sedari
tadi kau sudah terlalu banyak bicara, Nyi Sanak. Sebaiknya kita segera
selesaikan urusan kita, agar aku dapat segera menyelesaikan pula yang lain”.
“Kau jangan
sombong, Ki Demang. Jika kau berhasil mengalahkan aku, maka masih ada guruku
yang akan dengan sigap menghadangmu”.
“Persetan,
bersiaplah!”.
Selesai
berkata demikian, Ki Demang pun segera menyerang lawannya dengan pedangnya yang
terjulur lurus mengarah ke dada dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Ki Demang
Ngares memang merasa sudah tidak perlu lagi adanya serangan penjajagan, sebab
keduanya sedikit banyak telah mengetahui kemampuan lawan masing-masing.
Dengan
sigapnya Nyi Rara Wulan melintangkan Tongkat Baja Putih, yang dipinjamkan
gurunya sembari memiringkan tubuhnya. Lawannya yang sudah menduga akan hal itu
segera mengirimkan serangan susulan yang tidak kalah berbahayanya.
Kali ini kaki
kirinya mengincar lambung yang terlihat terbuka pertahanannya, dengan gerakan
memutar ibu Arya Nakula berusaha menghindar sekaligus memberikan serangan
balasan dengan menyapu kedua kaki kanan lawannya yang menginjak tanah.
Sejenak
kemudian pertarungan itu kembali berkobar dengan sengitnya, dan untuk beberapa
saat mereka terlihat saling menyerang dan bertahan dengan sama baiknya.
Keduanya
pun segera meningkatkan kemampuan masing-masing setelah beberapa saat tadi
pertarungan mereka sempat berhenti, sehingga tatarannya yang ditrapkan sempat
mengendur beberapa lapis tatarannya.
Ternyata
memang tidak mudah untuk dapat mengalahkan perempuan yang tiba-tiba ke
kademangannya tersebut, sehingga Ki Demang Ngares harus berpikir keras
bagaimana agar dapat segera mengalahkan lawannya.
Halaman 15-16
Dan sesuatu
yang tidak pernah diduga sebelumnya pun tiba-tiba terjadi dengan demikian
cepatnya, sehingga tidak ada waktu lagi untuk menilai keadaan.
Karena
sebenarnya yang terjadi adalah Ki Demang mengambil sesuatu dari balik kantungnya
yang tergantung di lambung kirinya, lalu melemparkan kepada lawannya.
Terlihat
ada dua benda aneh yang melesat di udara dengan kecepatan tinggi ke arah
sasarannya, namun Nyi Rara Wulan masih sempat berkelit untuk menghindari yang
satu, sementara yang satu lagi terpaksa dipukul dengan tongkatnya.
Ternyata
itu adalah senjata rahasia yang hidup, yaitu ular Bandotan jantan yang terkenal
dengan bisanya yang sangat mematikan jika terkena gigitannya.
Sontak saja
Nyi Rara Wulan segera memukul kepala ular yang sudah jatuh ke atas tanah
tersebut hingga remuk dan mati, agar tidak membahayakan yang lain.
Bersamaan
dengan itu, tiba-tiba mereka yang berada di tempat itu dikejutkan oleh suara
teriakan dari salah satu orang upahan Ki Demang Ngares yang tadi berdiri di belakang
garis serangan.
“Aaa…”.
Sontak saja
hal itu menarik perhatian semua orang yang hadir di halaman rumah itu, karena
ternyata orang upahan itu telah menjadi korban gigitan senjata rahasia yang
hidup tersebut.
“Kalian
memang terlalu dungu!”. geram Ki Demang. Lalu lanjutnya, “kenapa kalian berdiri
disitu? apa kalian sudah bosan hidup, he?”.
Orang
upahan itu mengerang kesakitan setelah mendapat gigitan dari ular Bandotan
jantan, yang menjadi senjata rahasia majikannya tersebut.
Sementara
kawan-kawannya lalu mengerumuninya dan berusaha menolong, namun sejenak
kemudian mereka kebingungan sendiri dengan apa yang harus mereka lakukan untuk
menolong.
Sebab
mereka sendiri tidak memiliki kemampuan tentang kawruh pengobatan, terutama
untuk menolong orang yang digigit ular bandotan yang bisanya terkenal sangat
ganas.
“Percuma
saja kalian menolongnya, karena bisa ular Bandotan jantan itu akan dapat
membunuh lebih cepat dari waktu yang kalian butuhkan untuk menolongnya”. ucap
Ki Demang yang kecewa kepada para orang upahannya yang dianggap terlalu dungu.
Raut
wajah-wajah kebingungan dari orang-orang upahan itu mendengar keterangan
tersebut, namun memang tidak ada lagi yang dapat mereka lakukan untuk menolong.
Semuanya
akan menjadi sia-sia saja karena terlambat, sebab tidak lama kemudian orang
yang tergigit ular bandotan itu segera melemah dengan begitu cepatnya.
Sementara
tanpa banyak disadari banyak orang, Nyi Rara Wulan yang ikut menyaksikan
kejadian tersebut sempat begidik ngeri, lalu segera menelan obat penawar racun
yang telah dibawanya dalam bumbung kecil.
Dan dirinya
merasa beruntung bahwa sebelum kejadian mengenaskan menimpanya, kebetulan
dirinya telah membawa bekal obat yang dibutuhkan.
“Rawatlah
kawan kalian itu sebagaimana mestinya, dan menyingkirlah dari sini, agar tidak
jatuh korban berikutnya”. berkata Ki Demang kepada anak buahnya.
Orang-orang
upahan itupun segera membawa kawannya yang sudah tidak bernyawa itu untuk
menyingkir dari pertarungan dua orang yang berilmu tinggi.
Halaman 17-18
Sembari
mulai meninggalkan halaman rumah itu, tanpa sadar mereka pun begidik ngeri
ketika membayangkan jika hal itu menimpa diri mereka, karena biar bagaimanapun
mereka tidak ingin mengalami nasib buruk tersebut.
Meski
mereka tidak dapat ingkar, bahwa hal itu adalah akibat yang wajar dari
pekerjaan kasar yang dilakukan, namun mereka tidak melihat ada pilihan yang
lebih baik.
“Jika kau menjadi
ketakutan setelah melihat kejadian itu, menyerahlah, Nyi Sanak. Agar kau tidak
mengalami nasib serupa”. sahut Ki Demang memperingatkan.
“Terima
kasih atas peringatanmu, tetapi bukankah bukan kau yang menentukan nasib
seseorang? ada yang memiliki kuasa atas itu, yaitu Yang Maha Agung?”.
“Sudahlah,
Nyi Sanak. Kau tidak usah berbicara ngayawara, sekarang yang paling penting
adalah pikirkan saja nasibmu yang sudah diujung tanduk. Bersiaplah”. sahut Ki
Demang yang ingin segera menyelesaikan pertarungan.
Selesai
berkata demikian, Ki Demang segera menyerang kembali lawannya dengan pedang di
tangannya dengan serangan yang cepat dan membadai.
Nyi Rara
Wulan yang agak terlambat menanggapi keadaan, pada awalnya sempat terdesak
beberapa saat. Namun beruntunglah bahwa dia adalah orang yang sangat
berpengalaman dalam pertarungan yang bagaimanapun garangnya.
Sehingga
tidak menjadi gugup ketika mendapati keadaan yang demikian, meski juga belum
terbiasa dengan senjata yang kini berada di tangannya.
Namun
sebagai orang yang berilmu sangat tinggi, dia mampu menyesuaikan diri dengan
cepat. Hanya pada awal-awal pertarungan saja masih merasa canggung.
Setelah
beberapa saat pertarungan berlangsung, dirinya sudah mulai terbiasa dengan
senjata Tongkat Baja Putih berkepala tengkorak yang sangat mengerikan itu.
Semakin
lama pertarungan menjadi sangat sengit, karena keduanya semakin meningkatkan
kemampuannya masing-masing semakin tinggi.
Sepertinya
keduanya memiliki keinginan yang sama, yaitu sama-sama ingin segera
menyelesaikan pertarungan. Sehingga pertarungan berlangsung semakin cepat dan
keras.
Sesekali
mereka mampu saling menembus pertahanan lawannya yang terbuka, namun sama-sama
membuat mereka mengerutkan kening setelah melihat apa yang terjadi.
Namun
pertarungan tidak berhenti dan masih terus berlangsung dengan sengitnya, bahkan
orang orang yang belum mencapai tataran kemampuan itu seperti sedang melihat
Burung Sikatan yang saling menyambar-nyambar di udara tanpa pernah tahu apa
yang sebenarnya yang sedang terjadi.
Pada akhirnya
Ki Demang mampu menembus pertahanan Nyi Rara Wulan yang kembali terbuka, kali
ini berhasil menggores pundaknya sebelah kiri.
Namun yang
kemudian terjadi adalah terdengar umpatan yang sangat kotor dari mulut Ki
Demang setelah melihat kenyataan bahwa pedangnya hanya mampu menggores pakaian
dan tidak mampu melukai lawannya.
“Dasar
perempuan Iblis”. geram Ki Demang yang tetap melanjutkan pertarungan.
“Kenapa kau
masih saja suka mengumpat?”.
“Kau jangan
berpura-pura, Nyi Sanak. Apa kau kira aku anak kemarin sore yang baru belajar
kanuragan?”.
Halaman 19-20
“Bukankah
sejak tadi pun kau telah melakukannya?”.
“Ya… aku
hanya tidak mengira sejak awal jika kau mampu melakukannya, sehingga hal itu
sempat membuatku terkejut”.
“Salahmu
sendiri, kau terlalu meremehkan lawanmu sehingga kau kehilangan penalaran wajar
atas kemampuan lawanmu yang sebenarnya”. sahut Nyi Rara Wulan sembari melayani
pertarungan yang semakin sengit.
“Kau jangan
terlalu sombong, Nyi Sanak. Kau jangan senang dulu, jangan kau kira aku tidak
mampu menembus ilmu kebalmu itu”. sahut Ki Demang dengan penuh percaya diri.
“Apa kau
kira hanya kau yang mampu menembus ilmu kebal?”.
“Baiklah,
bersiaplah!”.
Selesai
berkata demikian, Ki Demang Ngares segera menyerang lawannya dengan pertarungan
jarak pendek dengan serangan membadai dan sama sekali tidak memberikan
kesempatan, bahkan hanya untuk sekedar menarik nafas.
Namun
ketika lawannya sudah mulai menemukan kedudukannya dengan baik, maka Ki Demang
segera berusaha mengambil jarak beberapa langkah surut dari lawannya.
Sejenak
kemudian Ki Demang itu kembali melompat ke arah lawannya, namun hal yang tidak
pernah diduga oleh semua orang adalah demang itu tiba-tiba menghilang di bawah
sinar matahari yang cukup terik.
“Aji
Panglimunan”. desis Nyi Sekar Mirah tanpa sadarnya.
“Kau benar”.
“Sepertinya
aku terlalu gegabah memberikan kesempatan kepada Rara Wulan untuk melawannya,
Mbokayu”.
“Itu bukan
salahmu, Sekar Mirah. Bukankah sejak awal kita memang sama-sama belum tahu
siapa lawan kita dan seberapa tinggi kemampuannya”.
“Aji Panglimunan
adalah ilmu yang sangat nggegirisi, jika terjadi sesuatu dengan Rara Wulan
tentu akulah orang yang merasa paling bersalah, Mbokayu”.
“Itu bukan
hanya menjadi tanggung jawabmu, tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama, dan
tentu akupun ikut bertanggung jawab pula jika hal itu terjadi”.
“Semoga
Rara Wulan dapat mengatasi lawannya dengan baik”.
“Ya… itu
harapan kita semua, dan sebaiknya kita sama-sama nenuwun kepada Yang Maha Welas
Asih”. sahut Nyi Pandan Wangi yang berusaha menenangkan marunya
tersebut.
Sementara
kawula Kademangan Ngares yang kebetulan menyaksikan pertarungan tersebut dari
tempat persembunyiannya masing-masing menjadi semakin kebingungan dan semakin
tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
“Ternyata
Ki Demang memiliki ilmu Iblis”.
“Kakang
benar, Ki Demang dapat menghilang secara tiba-tiba dari lawannya yang berilmu
sangat tinggi itu”. sahut kawannya yang berada di sebelahnya.
“Pantas
saja selama ini Ki Demang berani berbuat sekehendak hatinya, karena ternyata
dia memiliki kemampuan yang sudah di luar nalar, dan sepertinya harapan kita
akan nasib para kawula Kademangan Ngares ini harus kita singkirkan jauh-jauh”.
“Maksud
Kakang?”.
“Bukankah
tadinya kita memiliki harapan nasib yang lebih baik ketika kademangan ini
kedatangan keenam perempuan itu, tetapi setelah melihat semua itu, sepertinya
harapan itu hanya tinggal menjadi harapan saja bagi kita”.
Halaman 21-22
“Apakah
ilmu Iblis itu tidak terlawan?”.
“Aku tidak
tahu, tetapi bagaimana caranya seseorang dapat bertarung melawan orang yang
tidak dapat dilihat wujudnya?”.
Kawannya
pun menjadi terdiam mendapat jawaban tersebut karena dirinya memang tidak
memiliki bekal kanuragan yang cukup sebagai dasar untuk mengurai masalah
tersebut.
Dan
akhirnya yang dapat mereka lakukan hanyalah menyaksikan pertarungan yang ada di
hadapannya dan menunggu apa yang bakal terjadi kemudian.
Ketiga adik
angkat Nyi Rara Wulan pun tidak dapat menyembunyikan ketegangan dan
kegelisahannya yang sangat setelah melihat apa yang terjadi di arena
pertempuran.
“Ternyata
lawan mbokayu Rara Wulan kali ini bukan orang sembarangan, semoga dia dapat
mengatasinya”. desis Padmini yang pandangan matanya seakan tidak dapat
meninggalkan arena pertempuran barang sekejap pun.
“Tetapi
bagaimana jika…”.
“Kau jangan
berpikiran macam-macam, Baruni”. potong Padmini cepat, sembari tanpa menoleh.
“Maaf
Mbokayu”. sahut Baruni dengan suara perlahan setelah menyadari
keterlanjurannya.
“Kita lihat
dulu saja apa yang terjadi, sebelum membuat pertimbangan apapun. Sembari jangan
lupa kita panjatkan panuwunan kepada Yang Maha Welas Asih bagi keselamatan
mbokayumu”. sahut Nyi Pandan Wangi yang berusaha menengahi pembicaraan ketiga
perempuan yang berdiri di belakangnya.
“Baik Nyi”.
sahut ketiganya hampir berbarengan.
Sejenak
kemudian perhatian kelima perempuan perkasa itu kembali terpusat ke arena
pertarungan yang sedang berlangsung dan kini telah memasuki babak yang semakin
menegangkan pada tataran yang semakin tinggi.
Ketegangan
yang benar-benar membuat jantung seakan mau meledak, terutama bagi rombongan
Nyi Pandan Wangi yang sedang berada di pihak yang kurang menguntungkan.
Apalagi
mereka sadar, bahwa Nyi Rara Wulan tidak memiliki sejenis ilmu yang sama untuk
mengatasinya. Sehingga mereka hanya dapat menerka-nerka saja apa yang bakal
dilakukan untuk melawan Aji Panglimunan.
Sementara
Nyi Rara Wulan yang tidak pernah menduga bahwa lawannya memiliki ilmu yang
sangat nggegirisi itu menjadi sangat terkejut, namun pengalamannya telah
menuntunnya untuk tetap berusaha tenang dan bersikap wajar.
“Gila…”.
ucap Nyi Rara Wulan setelah menyadari lawannya yang tiba-tiba menghilang dari
hadapannya.
Kemudian
dia pun segera menoleh ke kanan-kiri, lalu memutar tubuhnya beberapa kali untuk
lebih memastikan apa yang sebenarnya sedang dilihatnya.
Namun dalam
kesibukannya mencari keberadaan lawannya, tiba-tiba dirinya harus terlempar
beberapa langkah surut ketika mendapat serangan dari arah depan dan tepat
mengenai lambungnya yang terbuka.
“Ah…”.
Terdengar
suara mengaduh tertahan dari mulut anak Ki Purbarumeksa, sembari menjaga keseimbangannya
agar tidak jatuh terlentang di atas tanah yang berdebu.
Halaman 23-24
Namun dalam
pada itu terdengar pula suara tawa yang menyakitkan dari Ki Demang yang masih
bersembunyi dibalik ilmunya yang sangat nggegirisi itu.
Langkah
pertama yang dilakukan Nyi Rara Wulan untuk kesulitannya adalah dengan
meningkatkan ilmu kebalnya hingga ke puncak untuk melindungi tubuhnya dari
serangan-serangan tak terduga yang dapat menyakitinya.
Karena
dalam keadaan yang demikian, tentu sangat mungkin sekali dirinya akan terlambat
menanggapi setiap serangan yang bakal datang untuk menyakitinya.
Dan benar
saja, baru saja mengetrapkan ilmu kebal hingga ke tataran puncak, dirinya telah
mendapatkan serangan yang datang dari arah belakang. Sehingga membuatnya hampir
terjatuh terjerembab di tanah.
Meski dalam
keadaan yang demikian sulit, Nyi Rara Wulan yang memiliki pengalaman yang
sangat luas tidak menjadi gugup atau bahkan kehilangan penalaran yang wajar
dalam menanggapi keadaan tersebut.
Untuk
beberapa saat dirinya memang menjadi bulan-bulanan serangan lawannya yang
berlindung dibalik Aji Panglimunan, bahkan beberapa kali dia menjadi bahan
tertawaan lawannya karena telah menyerang ke tempat kosong atau terlambat dalam
menanggapi keadaan.
Namun
bersamaan itu dirinya pun segera mengetrapkan Aji Sapta Pandulu dan Aji Sapta
Panggrahita hingga ke puncak untuk melacak keberadaan lawannya.
“Sesalilah
nasibmu yang buruk, karena kau telah berani bersikap deksura kepadaku, Nyi
Sanak”.
“Kenapa aku
harus menyesal?”.
“Setan
Alas… selembar nyawamu sudah berada di ujung ubun-ubun saja kau masih berani
menyombongkan diri?’. sahut Ki Demang dengan penuh kegeraman.
“Bukankah
bukan kau yang menentukan nasibku, tetapi Yang Maha Agung lah yang memiliki
kuasa atas itu”.
“Apakah kau
sadar dengan apa yang kau katakan? sekarang nasibmu sudah berada di tanganku,
dan kau tidak akan mungkin mampu menghindar”.
“Jika Yang
Maha Agung masih mengasihiku, tentu tidak akan kekurangan cara untuk
menyelamatkanku dari bahaya yang bagaimanapun juga, bahkan meski ajal sudah mau
menjemputku”.
“Dasar
Iblis Betina, tetapi baiklah. Mungkin itu adalah kata-kata orang yang sudah
berputus asa dengan nasibnya, sehingga sudah kehilangan penalaran yang sehat”.
“Bukankah
kita semua pada akhirnya akan mati pula? yang membedakan hanyalah waktu dan
caranya saja?”.
“Tetapi
kali ini kau akan mati dengan cara yang sangat hina, karena tubuhmu akan
terkapar di tempat ini dengan disaksikan oleh kawan-kawanmu, sebelum mereka
akan menyusulmu menuju ke alam kelanggengan”.
“Tidak
semudah itu kau dapat membunuhku, apalagi guruku”.
“Setan
Alas, Genderuwo, Tetekan… kau benar-benar telah membuat kesabaranku habis.
Bersiaplah!”. sahut Ki Demang yang nampaknya sudah tidak dapat menahan diri
lagi atas kemarahannya terhadap lawannya.
Sejenak
kemudian terdengar deru udara dari arah belakang yang bergerak dengan cepatnya,
dan tiba-tiba punggung ibu Arya Nakula seperti dihantam dengan benda yang
sangat keras, sehingga membuatnya terdorong beberapa langkah ke depan.
Halaman 25-26
Beruntunglah
bahwa dirinya melindungi diri dengan ilmu kebal, sehingga serangan itu meski
sempat mengguncang pertahanan tubuhnya, namun tidak benar-benar menyakitinya.
Dan dalam
keadaan demikian dirinya masih dapat menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak
tersuruk ke tanah berdebu di halaman rumah besar tersebut.
Lalu dengan
cepat dirinya segera memperbaiki kedudukannya untuk menyambut serangan-serangan
berikutnya yang mungkin akan jauh lebih berbahaya.
Nyi Rara
Wulan yang berilmu sangat tinggi kini sebenarnya sudah menjadi lebih mapan
setelah mengetrapkan Aji Sapta Pandulu dan Aji Sapta Panggrahita dan sudah siap
untuk menghadapi segala kemungkinan.
Namun entah
kenapa tidak segera ditunjukkan kepada lawannya bahwa sebenarnya dirinya telah
mampu melacak keberadaan lawannya dengan tepat.
Sepertinya
Nyi Rara Wulan sengaja menyembunyikan hal itu karena memiliki sebuah rencana
yang dianggap paling baik untuk mengatasi lawannya.
Dan benar
saja, ternyata setelah beberapa saat membiarkan tubuhnya menjadi bulan-bulanan
lawannya selama itu tidak membahayakan keselamatannya, telah membuat lawannya
merasa di atas angin dan justru itu kelengahan yang ditunggu.
Nyi Rara
Wulan yang sudah bersiap menggenggam Tongkat Baja Putih dengan kedua tangannya,
dengan sabar menunggu serangan lawannya yang datang dari arah samping.
Serangan
yang demikian cepat dengan balutan Aji Panglimunan itu sepertinya benar-benar
ingin mengakhiri lawannya, karena berusaha mengincar tengkuk dengan dilandasi
tenaga cadangan yang sangat besar karena pada tataran puncak.
Ki Demang
dengan penuh percaya diri akan segera mengakhiri lawannya tersebut setelah
serangannya berhasil mengenai sasaran, meski dia tahu bahwa lawannya berlindung
di balik ilmu kebal.
Namun tanpa
disadari bahwa Nyi Rara Wulan yang telah menggenggam erat tongkatnya dan sedang
menunggu serangan itupun telah mengetrapkan tenaga cadangan hingga ke puncak
untuk menyerang balik lawannya.
Sebab
dirinya sadar, bahwa akan percuma saja jika dirinya menyerang lawannya jika
tidak dengan dilandasi tenaga cadangan hingga ke puncak, karena lawannya pun
berlindung dibalik ilmu kebalnya yang biasa disebut, Aji Lembu Sekilan.
Di saat
serangan Ki Demang yang sangat mematikan itu hampir menemui sasarannya,
tiba-tiba Nyi Rara Wulan berkelit sembari mengirimkan serangan balik.
Tentu saja
hal ini sangat mengejutkan Ki Demang yang tidak pernah menduga sebelumnya,
sehingga dirinya terlambat untuk menanggapi keadaan.
Karena
ternyata Tongkat Baja Putih itu sudah siap menghantam kepalanya, dan inilah
kesalahan yang harus dibayar mahal oleh Ki Demang Ngares.
Kepala
tengkorak dari Tongkat Baja Putih itu menghantam kepala Ki Demang dengan sangat
kerasnya tanpa ada kesempatan lagi untuk menangkis apalagi untuk
menghindarinya.
Tak pelak
terdengarlah suara teriakan yang sangat keras dan melengking karena rasa sakit
setelah dipukul oleh tongkat yang terbuat dari baja pilihan itu.
Bersamaan
dengan itu tubuh Ki Demang seakan melayang karena terdorong oleh tenaga yang
sangat besar dan terjatuh di atas tanah berdebu halaman rumah kebanggaannya.
Halaman 27-28
Dan
seketika itu pula tubuh Ki Demang berangsur-angsur terlihat karena pemusatan
Aji Panglimunan telah terpecah setelah dirinya merasakan kesakitan.
Ternyata
pukulan Tongkat Baja Putih yang dilandasi dengan tenaga cadangan Nyi Rara Wulan
yang berada pada puncaknya telah memberikan akibat yang luar biasa terhadap
lawannya.
Beruntunglah
bahwa Ki Demang Ngares masih berlindung dibalik ilmu kebalnya, jika tidak? maka
akibatnya tentu akan mengerikan sekali bagi dirinya.
Tubuh itu
hanya dapat mengerang kesakitan di atas tanah setelah terlempar karena mendapat
pukulan yang sangat mengerikan dan mematikan tersebut.
Mungkin
jika yang menjadi sasaran itu adalah bagian tubuh yang lain, mungkin akan dapat
berakibat lain. Tetapi ini adalah kepala, yang menjadi bagian terpenting dari
tubuh manusia.
Jika sudah
berhubungan dengan kepala, benturan sekecil apapun dapat berakibat bencana.
Apalagi kali ini benturan dengan dilandasi oleh tenaga cadangan hingga tataran
puncak Nyi Rara Wulan sebagai orang yang berilmu sangat tinggi.
Dan
sepertinya Aji Lembu Sekilan yang dimiliki oleh Ki Demang belum mampu
benar-benar melindungi dirinya dari serangan lawannya yang berilmu sangat
tinggi.
Meski dari
luar sepertinya tidak terlihat luka sama sekali, namun entah apa yang terjadi
dengan bagian dalam kepalanya. Karena setelah tubuh itu terlempar tidak dapat
segera bangkit lagi.
Bahkan
setelah sejenak sempat mengerang kesakitan, Ki Demang menjadi terdiam. Entah
terdiam karena hanya sekedar pingsan atau telah meregang nyawa.
“Mari kita
lihat keadaannya”. ajak Nyi Pandan Wangi.
Dan tidak
lupa, Nyi Pandan Wangi memerintahkan kepada ketiga perempuan muda yang ikut
bersamanya agar tetap berada di tempatnya sembari mengawasi keadaan.
Sebab
dirinya berpendapat, jangan sampai kelengahan sekecil apapun akan menyeret
mereka ke dalam kesulitan. Apalagi sekarang mereka sedang berada di tempat
asing yang belum mereka tahu keadaannya dan orang-orangnya secara keseluruhan.
Kemudian
Nyi Pandan Wangi, Nyi Sekar Mirah, dan Nyi Rara Wulan segera mendekati tubuh
yang terbaring di atas tanah itu untuk melihat keadaannya.
“Sepertinya
dia hanya pingsan”. ucap ibu Bayu Swandana memberikan keterangan setelah
memeriksa.
“Lalu apa
yang akan kita lakukan, Mbokayu?”. bertanya ibu Arya Nakula meminta pendapat.
“Menurut
pendapatku, yang jelas kita tidak dapat membiarkan dia tetap disini, setelah
sadar Ki Demang harus mempertanggung jawabkan segala perbuatannya yang telah
melanggar paugeran selama ini”.
“Apakah
kita akan membawanya?”.
“Aku rasa
kita sudah kehilangan banyak waktu di tempat ini, jadi sebaiknya kita harus
dapat segera membereskannya. Tetapi tentu saja kita tidak mungkin membawanya
dalam kita menjalankan tugas. Biar bagaimanapun kita sedang mengemban tugas
yang tidak dapat kita anggap enteng”.
“Apakah
kita akan meninggalkannya disini?”.
“Tentu
tidak, Rara Wulan. Itu akan sangat membahayakan para kawula Kademangan Ngares
ini. Mereka akan dapat menjadi korban pelampiasan Ki Demang yang gagal
mengalahkan kita”.
Halaman 29-30
“Lalu apa
pendapat, Mbokayu Pandan Wangi?”.
“Sebaiknya
kita kumpulkan orang-orang yang ada, lalu kita membuat hubungan dengan Prajurit
Mataram. Biarlah Ki Demang mempertanggung jawabkan perbuatannya di Mataram”.
“Baiklah,
aku sependapat”.
Kemudian
Nyi Pandan Wangi memerintahkan salah satu dari orang upahan Ki Demang untuk
mencari tali, untuk mengikat Ki Demang jika nanti sudah tersadar.
Lalu mereka
berusaha menyadarkan Ki Demang dari pingsannya, dan tak lama kemudian orang
itupun mulai bergerak perlahan setelah menemukan kesadarannya.
Tanpa
menunggu lebih lama lagi, mereka segera mendudukkan Ki Demang, lalu mengikat
kedua tangannya di belakang layaknya seorang tawanan.
“Kalian
siapa? apa yang kalian lakukan? kenapa tanganku harus diikat?”. ucap Ki Demang
yang berusaha meronta.
Pertanyaan
bertubi-tubi dari Ki Demang itu membuat ketiganya menjadi saling pandang
sejenak, sebelum kembali melanjutkan pertanyaan-pertanyaan berikutnya.
“Apakah kau
tidak mengenal kami?”.
“Memangnya
kalian siapa?”. sahut Ki Demang yang dari raut wajahnya nampak kebingungan
sembari memandang ke arah ketiganya secara bergantian.
“Tidak
penting siapa kami, karena yang paling penting adalah kau harus mempertanggung
jawabkan perbuatanmu”. sahut Nyi Pandan Wangi dengan suara yang terdengar
tegas.
“Memangnya
apa salahku?”. sahut Ki Demang yang kebingungan.
Kata-kata yang
keluar dari mulut Ki Demang Ngares semakin membuat ketiga perempuan itu merasa
janggal, sehingga membuat mereka menjadi saling pandang.
Namun
mereka masih dapat menahan diri untuk tidak membicarakannya di depan orangnya,
meski tanpa harus berjanji sebelumnya.
Setelah
mereka selesai mengikat Ki Demang Ngares dan mengumpulkan semua orang yang
berada di tempat itu, termasuk para pembantu di rumah Ki Demang, maka mereka
segera agak menyingkir untuk membicarakan langkah selanjutnya.
“Sepertinya
telah terjadi sesuatu dengan Ki Demang”. berkata Nyi Sekar Mirah mengawali
pembicaraan.
“Sepertinya
kau telah memukul kepala Ki Demang terlalu keras, Rara Wulan. Sehingga telah
membuat ingatannya terganggu”. ucap Nyi Pandan Wangi menimpali.
“Sepertinya
demikian, Mbokayu”.
“Beruntunglah
bahwa pada saat terjadi benturan dia masih terlindungi oleh ilmu kebalnya. Jika
tidak, maka sudah barang tentu dia akan mengalami nasib yang sangat buruk”.
“Justru
karena dia berlindung dengan ilmu kebalnya, maka aku menghantam kepalanya dengan
landasan tenaga cadangan hingga ke puncak, Mbokayu”.
“Dan
ternyata landasan ilmu puncakmu itu telah berhasil menembus ilmu kebalnya,
sehingga benturan di kepalanya itu telah mengguncang isi kepalanya, sehingga
sekarang telah membuat ingatannya telah terganggu”.
“Lalu apa
yang harus kita lakukan selanjutnya menurut mbokayu berdua?”. sahut Nyi Rara
Wulan, lalu memandang ke arah keduanya secara bergantian.
bersambung.....

siaaap di tunggu Ki
BalasHapussiyaaap. sabar menanti Ki ......
BalasHapussemoga wedaran segera bisa dinikmati kembali......
BalasHapussudah kangen sama wedarannya....
BalasHapusAlhamdulillah, dah sampai halaman 10. Terimakasih Ki, makin memikat ceritanya ....
BalasHapus