PdTL 25



Halaman 1 – 2

*****

Pertarungan di halaman rumah Ki Demang Ngares yang luas itu semakin lama semakin sengit dan mendebarkan bagi siapa saja yang sempat melihatnya.

Tidak hanya orang-orang upahan Ki Demang yang datang bersama rombongan Nyi Sekar Mirah itu sendiri, tetapi orang-orang upahan yang bertugas di rumah itu pun tidak ingin ketinggalan untuk pengalaman yang sangat langka tersebut.

Bahkan para kawula Kademangan Ngares pun mulai berdatangan pula untuk menyaksikan pemandangan yang sangat jarang sekali mereka dapatkan. Namun yang membedakan adalah mereka tidak berani secara terang-terangan untuk melakukannya.

Mereka hanya berani mengintip dari kejauhan atau yang paling dekat adalah dari sela-sela dinding pembatas yang mengelilingi rumah Ki Demang tersebut.

Meski sebenarnya mereka diliputi ketakutan, namun rasa penasaran di hati telah membuat mereka dapat mengalahkan rasa takut itu sendiri. 

Sementara Nyi Sekar Mirah yang tadi sempat melihat sosok yang tidak asing baginya di kejauhan, segera memberikan isyarat kepada ibu Sekar Wangi yang pandangan matanya sedang terpusat pada pertarungan yang mulai mendebarkan jantung.

Nyi Pandan Wangi pun segera menoleh ke arah orang yang mencolek tubuhnya, namun ternyata dirinya hanya mendapatkan jawaban dengan isyarat mata, agar dirinya segera melihat ke arah yang dimaksud.

“Kau atau aku yang akan menemuinya?”. bertanya ibu Bayu Swandana setelah menyadari apa yang dimaksud.

“Terserah kepada Mbokayu saja, karena menurutku yang paling penting adalah salah satu dari kita harus tetap disini untuk menjaga segala kemungkinan”.

“Baiklah kalau begitu, aku yang akan menghampirinya dan kau tetap awasi pertarungan dan keadaan di sekitarnya”.

“Baik Mbokayu”.

Nyi Pandan Wangi melihat sekali lagi pertarungan itu sebelum akhirnya dirinya meninggalkan tempat itu guna menemui seseorang yang telah dikenalnya dengan baik.

Sepertinya tidak butuh waktu terlalu lama untuk mencapai tempat orang itu, karena memang jaraknya yang tidak terlalu jauh dari tempatnya tadi berdiri.

“Aku minta maaf kepada Nyi Pandan Wangi, bukan maksudku untuk bersikap deksura. Tetapi tadi maksudku adalah apakah aku diperkenankan untuk bergabung di halaman itu, dan bukan bermaksud untuk meminta Nyi Pandan Wangi datang kemari”.

“Sudahlah Ki Agahan, tidak perlu terlalu kau pikirkan masalah itu. Apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan kepadaku?”.

“Maaf Nyi Pandan Wangi, bukan maksudku untuk bersikap deksura. Tetapi sebaiknya serahkan saja masalah di tempat ini kepada kami, biarlah kami yang mengurusnya. Nyi Pandan Wangi dan rombongan silahkan lanjutkan saja perjalanan”.

“Aku percaya dengan kemampuan kalian, dan bukan maksudku mengecilkan kalian. Tetapi semua ini adalah kami yang mulai, jadi alangkah kurang pantas jika kemudian aku serahkan kepada orang lain untuk menyelesaikannya”.

“Apakah pantas jika kami hanya menjadi penonton saja?”.

“Bukankah tidak ada yang aku lakukan pula di halaman itu, selain hanya menjadi penonton? siaga saja agar tetap terhubung satu sama lain, sembari kita lihat perkembangan yang ada disini”.

 

Halaman 3 - 4

“Baiklah kalau begitu, Nyi”.

“Nanti jika kami membutuhkan bantuan kalian, kami akan segera memberikan isyarat kepada kalian untuk meminta bantuan”.

“Baik Nyi, kami akan selalu berusaha bersiap kapanpun Nyi Pandan Wangi memberikan perintah”.

“Terima kasih, Ki Agahan. Jika tidak ada lagi yang ingin kau sampaikan, aku akan kembali kesana”.

“Sepertinya tidak ada lagi, Nyi. Silahkan, kami akan memantaunya dari kejauhan”. sahut pemimpin Padepokan Orang Bercambuk itu sembari dengan sedikit membungkukkan badannya.

Kemudian anak perempuan Swargi Ki Gede Menoreh itu pun segera beranjak dari tempat itu, lalu segera bergegas kembali  untuk bergabung dengan rombongannya yang berada di halaman rumah Ki Demang Ngares.

“Ada apa, Mbokayu?”. bertanya Nyi Sekar Mirah lirih, setelah melihat ibu Sekar Wangi telah berdiri di sebelahnya.

“Ki Agahan ingin meminta masalah ini biar diselesaikannya bersama para cantrik, dan kita dipersilahkan untuk melanjutkan perjalanan”.

“Lalu apa jawab Mbokayu?”.

“Aku menolaknya, dan aku katakan kepadanya. Bahwa tidak sepantasnya jika masalah ini kita yang mulai, lalu kita limpahkan kepada orang lain”.

“Aku sependapat, karena kita yang memulainya, maka kita pula yang harus menyelesaikannya. Kecuali jika dalam keadaan tertentu saja kita akan melimpahkannya kepada orang lain.

“Demikian pula pendapatku”. sahut Nyi Pandan Wangi yang semakin memusatkan perhatiannya terhadap pertempuran yang semakin mendebarkan jantung yang ada di hadapannya.

Sementara di gelanggang pertarungan Ki Demang Ngares yang tidak ingin dipermalukan di hadapan para kawulanya, segera meningkatkan tataran kemampuannya semakin tinggi lagi ketika tidak dapat segera menembus pertahanan lawannya yang terasa masih sedemikian rapatnya.

Tataran demi tataran dari apa yang ditunjukkannya membuat lawannya semakin mengerti bahwa jalur ilmu yang pernah disadapnya itu sangat tidak asing baginya.

Namun lawannya pun menyadari bahwa ilmu itu kemudian sudah tidak murni lagi karena telah tercampur dengan jalur ilmu lain yang belum dikenalnya.

Sehingga ketika terjadi benturan demi benturan yang semakin sengit pada tataran yang sangat tinggi, pada saat ada kesempatan Nyi Rara Wulan mencoba mengambil jarak yang cukup dari lawannya untuk menilai keadaan.

Setelah menyerang lawannya dengan serangan membadai, lalu sejenak kemudian dia dengan lompatan panjang beberapa langkah ke belakang berusaha menjauh dari lawannya.

Ki Demang Ngares yang sudah bersiap akan memburu lawannya segera diurungkannya ketika mendengar peringatan dari lawannya yang datang tiba-tiba.

“Tunggu Ki Demang”.

“Apakah kau akan menyerah?”. sahut Ki Demang dengan senyum tipis namun sinis.

“Apa menurutmu semudah itu aku akan menyerah?”.

“Lalu untuk apa lagi kau menghentikan pertarungan ini jika tidak berniat untuk menyerah?”.

“Sejak kita mengawali pertarungan, aku melihat kau telah menggunakan sebuah jalur ilmu yang sangat aku kenal, meski sudah tidak murni lagi. Dari mana kau sadap ilmumu itu?”.

 

Halaman 5 - 6

“Ya tentu saja dari guruku”.

“Apa hubunganmu dengan Perguruan Kedung Jati?”.

“Apa yang kau tahu tentang Perguruan Kedung Jati? tentu yang kau tahu hanya sekedar ceritanya saja bahwa dulu perguruan itu adalah salah satu perguruan yang sangat dihormati, meski aku lihat jalur ilmumu pun menunjukkan bahwa kau pernah menyadapnya yang entah dari siapa?”.

“Aku menyadap jalur ilmu Perguruan Kedung Jati dari guruku sebagai pewarisnya yang sah”.

“Omong kosong, kau jangan membodohiku dengan cerita ngayawaramu itu. Kau kira aku adalah anak kecil yang mudah kau bohongi dengan ceritamu itu? dengarlah, Nyi Sanak! aku tahu dengan pasti sejarah panjang Perguruan Kedung Jati”.

“Terserah apa katamu, tetapi aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Lalu siapakah gurumu?”.

“Guruku adalah orang yang telah memiliki nama besar di dunia kanuragan, tetapi jika dilihat dari umurmu yang sekarang, tentu orang sepertimu tidak akan mengenalnya meski aku sebutkan namanya sekalipun”.

“Sebut saja, barangkali setidaknya aku pernah mendengar namanya dari guruku”.

“Guruku memang tidak memiliki jalur pewaris yang sah secara langsung, tetapi guruku menyadap ilmu Perguruan Kedung Jati dari pewarisnya yang sah ketika guruku sedang sama-sama nyantrik di tempat kakek guruku, makanya ketika ilmu itu turun kepadaku menjadi sudah tidak murni lagi”.

Nyi Rara Wulan dan kawan-kawannya mendengarkan cerita itu dengan seksama, sembari mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi di masa lampau.

“Lalu… siapa nama gurumu itu?”.

“Kyai Girimaya”.

“Kyai Girimaya?”. desis Nyi Rara Wulan, sembari tanpa sadarnya menoleh ke arah gurunya yang berdiri di samping kanannya.

Namun Nyi Sekar Mirah hanya dapat menanggapi dengan menggelengkan kepala perlahan serta dengan kerut di kening yang tiba-tiba membayang.

“Benar… guruku bernama Kyai Girimaya”.

“Sejauh ingatanku, aku belum pernah mendengar namanya”.

“Tentu saja, kau tidak akan mengenalnya. Memangnya kau siapa diantara para raksasa kanuragan? sehingga kau merasa sudah mengenal mereka semua?”.

Kata-kata itu benar-benar menghujam ke pusat jantung yang paling dalam ibu Arya Nakula, namun dirinya tidak mau terlarut ke dalam perasaannya sendiri.

“Lalu siapa orang yang kau sebut tadi adalah pewaris yang sah dari jalur ilmu Perguruan Kedung Jati?”.

“Kini orangnya memang telah tiada, namun nama besarnya tidak akan pernah hilang dimakan waktu, dia adalah Ki Saba Lintang”.

Bagaikan disengat ribuan tawon yang sedang mengamuk, Nyi Rara Wulan, Nyi Sekar Mirah, dan Nyi Pandan Wangi benar-benar terkejut mendengar nama terakhir yang telah disebutkan.

Bukan karena ketiganya itu menjadi ketakutan, tetapi karena ketiganya telah mengalami beberapa kejadian yang berhubungan dengan orang tersebut, terutama bagi Nyi Sekar Mirah sebagai orang yang  berhasil mengalahkannya dalam sebuah perang tanding.

Perubahan sikap yang terjadi kepada lawannya tersebut tidak luput dari perhatian Ki Demang Ngares, yang kemudian membuat sebuah kesimpulan. Namun sebuah kesimpulan yang hanya sekedar berdasarkan penilaiannya secara pribadi.

 

Halaman 7 - 8

“Guruku dan Ki Saba Lintang menjadi saudara seperguruan sejak Ki Saba Lintang itu sendiri datang kepada kakek guru dan memintanya agar mau mengangkatnya menjadi muridnya”. lanjut Ki Demang Ngares yang semakin percaya diri bahwa ceritanya telah membuat lawannya menjadi mulai ketakutan.

Nyi Rara Wulan dan kawan-kawannya tidak pernah menduga sebelumnya bahwa dalam perjalanannya kali ini mereka telah menemukan kenyataan bahwa ternyata masih ada sisa-sisa masa lalu yang kembali terkuak.

“Dan guruku adalah kakak seperguruan dari Ki Saba Lintang, baik secara silsilah perguruan maupun secara tataran kemampuan yang mereka miliki”.

Ki Demang Ngares memang sengaja menceritakan hal itu dengan tujuan agar lawannya menjadi berpikir ulang untuk melanjutkan pertarungan, atau bahkan mereka akan menyerah tanpa harus dirinya bersusah payah bertempur lebih dahulu.

Namun pertanyaan yang kemudian terlontar justru sangat mengejutkan Ki Demang Ngares, yang tidak pernah menduga bahwa pertanyaan itu akan muncul dari mulut lawannya.

“Apakah kau sudah mendengar pula tentang cerita tentang Ki Saba Lintang di akhir hayatnya?”.

“Ki Saba Lintang telah gugur sebagai seorang pemimpin besar Perguruan Kedung Jati, dalam sebuah perang tanding pada saat terjadi perang antara Demak dan Mataram”.

“Apakah kau tahu siapakah yang menjadi lawannya?”.

Ki Demang Ngares yang mengetahui dengan pasti cerita itu mulai merasakan kegetiran yang mendalam, sebab orang yang telah dieluk-elukkan sebagai seorang pemimpin besar harus gugur ketika berperang tanding melawan seorang perempuan.

“Kenapa kau menjadi terdiam, Ki Demang?”.

“Tentu saja aku tahu lawannya, kenapa kau bertanya demikian?”.

“Jika kau memang mengetahuinya, siapakah lawan perang tanding Ki Saba Lintang itu?”.

“Jika aku mengatakannya pun percuma saja, karena kau tentu tidak akan mengetahui orang itu, sebab dia adalah orang yang jarang sekali muncul diantara orang-orang yang berilmu tinggi”.

“Kenapa kau dapat memastikan demikian?”.

“Sebab dia hanyalah seorang perempuan”.

“Memangnya kenapa jika yang menjadi lawan Ki Saba Lintang itu seorang perempuan? dan apa salahnya jika yang mampu mengalahkan Ki Saba Lintang itu adalah seorang perempuan?”.

Pertanyaan lawannya itu semakin menambah kegetiran hatinya yang harus menerima kenyataan bahwa, cerita yang tadi sempat dipergunakannya dengan maksud untuk menakut-nakuti lawannya tetapi justru kini menjadi seperti senjata makan tuannya sendiri.

Karena ternyata lawannya kali ini tidak dapat dengan mudahnya untuk ditakut-takuti dengan cerita pertarungan yang garang dan nggegirisi di masa lampau tersebut.

Tiba-tiba tenggorokannya terasa menjadi kelu untuk mengucapkan suatu kenyataan, apalagi sebuah kenyataan yang terasa sangat pahit dan menyakitkan baginya.

“Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, siapa kau sebenarnya? siapa namamu dan siapa pula kawan-kawanmu itu?’. berkata Ki Demang Ngares yang mencoba mengalihkan pembicaraan guna mengusir kegetiran hatinya meski hanya sejenak.

“Aku Wulan, dan kami adalah enam perempuan pengembara yang kebetulan sedang melintas di tempat ini. Pada awalnya kami hanya berniat sekedar melintas saja dan sama sekali tidak berniat mengusikmu, tetapi orang-orang upahanmu lah yang mulai lebih dulu sehingga kami putuskan untuk menyelesaikan masalah ini”.

 

Halaman 9 - 10

Mendengar jawaban itu Ki Demang Ngares kemudian memandang ke arah enam perempuan di hadapannya tersebut dengan seksama secara bergantian.

Perempuan yang berjumlah enam orang dengan kesemuanya mengenakan pakaian khusus, memang mungkin ada benarnya jika mereka adalah para pengembara.

Namun dari tatapan matanya yang tajam sepertinya telah menyiratkan keraguan, sebab selama ini dirinya belum pernah mendengar atau bahkan melihat sendiri bahwa ada pengembara sebanyak itu dan kesemuanya adalah perempuan.

Namun sebelum demang muda itu menanggapi…

“Aku tidak memaksa kau untuk percaya, karena percaya atau tidak itu adalah urusanmu, bukan urusanku. Tetapi yang jelas aku sudah mengatakan yang sebenarnya”.

“Ya… kau benar”.

“Apakah sekarang aku sudah dapat mendengar jawaban dari pertanyaanku tadi?”.

“Setelah aku perhatikan, sepertinya kau banyak tahu tentang cerita itu. Dan apa hubunganmu dengan cerita itu?”. sahut Ki Demang yang justru balik bertanya.

“Kau tidak usah berputar-putar, Ki Demang. Jawab dulu pertanyaanku tadi, baru kemudian aku akan jawab pertanyaanmu”.

“Pada saat itu Ki Saba Lintang dikalahkan oleh Nyi Lurah Agung Sedayu, atau yang lebih dikenal pula dengan nama Sekar Mirah. Orang yang mengaku sebagai pewaris yang sah pemimpin tertinggi Perguruan Kedung Jati”.

“Apakah kau yakin jika Nyi Lurah Agung Sedayu hanyalah sekedar mengaku-aku sebagai pewaris yang sah sebagai pemimpin Perguruan Kedung Jati?”.

“Jika dia tidak mengaku-aku sebagai pewaris yang sah, lalu dari manakah dia mendapatkan semua itu? secara penalaran wajar, itu sangat mustahil, apalagi dia tidak lebih dari seorang perempuan”.

“Memang sulit dipercaya, tetapi bukan berarti mustahil bukan?”.

Mendapat pertanyaan yang semakin menyudutkannya, membuat Ki Demang Ngares merasa semakin kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Karena biar bagaimanapun, meski dirinya belum pernah mengenalnya secara pribadi namun paling tidak telah mendengar cerita tentang orang yang pada saat itu dikenal dengan nama Nyi Lurah Agung Sedayu serba sedikit.

Nyi Rara Wulan yang melihat lawannya masih saja terdiam setelah beberapa saat, menjadi semakin tertarik untuk terus mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin mengganggu penalarannya.

“Apakah kau pernah mengenalnya?”. berkata Nyi Rara Wulan sembari melirik ke arah gurunya yang kebetulan sedang berdiri beberapa langkah di sebelah kanannya.

Nyi Sekar Mirah yang merasa namanya disinggung, segera memberikan isyarat kepada muridnya itu untuk tidak membuka jati dirinya di halaman rumah tersebut.

Namun sepertinya ibu Arya Nakula yang merasa sudah terlanjur memulai membicarakan hal itu sudah tidak dapat dicegah lagi untuk melanjutkan kata-katanya.

bersambung.....






Padepokan Tanah Leluhur

Terima kasih

 

5 komentar: