PdTL 25



Halaman 1 – 2

*****

Pertarungan di halaman rumah Ki Demang Ngares yang luas itu semakin lama semakin sengit dan mendebarkan bagi siapa saja yang sempat melihatnya.

Tidak hanya orang-orang upahan Ki Demang yang datang bersama rombongan Nyi Sekar Mirah itu sendiri, tetapi orang-orang upahan yang bertugas di rumah itu pun tidak ingin ketinggalan untuk pengalaman yang sangat langka tersebut.

Bahkan para kawula Kademangan Ngares pun mulai berdatangan pula untuk menyaksikan pemandangan yang sangat jarang sekali mereka dapatkan. Namun yang membedakan adalah mereka tidak berani secara terang-terangan untuk melakukannya.

Mereka hanya berani mengintip dari kejauhan atau yang paling dekat adalah dari sela-sela dinding pembatas yang mengelilingi rumah Ki Demang tersebut.

Meski sebenarnya mereka diliputi ketakutan, namun rasa penasaran di hati telah membuat mereka dapat mengalahkan rasa takut itu sendiri. 

Sementara Nyi Sekar Mirah yang tadi sempat melihat sosok yang tidak asing baginya di kejauhan, segera memberikan isyarat kepada ibu Sekar Wangi yang pandangan matanya sedang terpusat pada pertarungan yang mulai mendebarkan jantung.

Nyi Pandan Wangi pun segera menoleh ke arah orang yang mencolek tubuhnya, namun ternyata dirinya hanya mendapatkan jawaban dengan isyarat mata, agar dirinya segera melihat ke arah yang dimaksud.

“Kau atau aku yang akan menemuinya?”. bertanya ibu Bayu Swandana setelah menyadari apa yang dimaksud.

“Terserah kepada Mbokayu saja, karena menurutku yang paling penting adalah salah satu dari kita harus tetap disini untuk menjaga segala kemungkinan”.

“Baiklah kalau begitu, aku yang akan menghampirinya dan kau tetap awasi pertarungan dan keadaan di sekitarnya”.

“Baik Mbokayu”.

Nyi Pandan Wangi melihat sekali lagi pertarungan itu sebelum akhirnya dirinya meninggalkan tempat itu guna menemui seseorang yang telah dikenalnya dengan baik.

Sepertinya tidak butuh waktu terlalu lama untuk mencapai tempat orang itu, karena memang jaraknya yang tidak terlalu jauh dari tempatnya tadi berdiri.

“Aku minta maaf kepada Nyi Pandan Wangi, bukan maksudku untuk bersikap deksura. Tetapi tadi maksudku adalah apakah aku diperkenankan untuk bergabung di halaman itu, dan bukan bermaksud untuk meminta Nyi Pandan Wangi datang kemari”.

“Sudahlah Ki Agahan, tidak perlu terlalu kau pikirkan masalah itu. Apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan kepadaku?”.

“Maaf Nyi Pandan Wangi, bukan maksudku untuk bersikap deksura. Tetapi sebaiknya serahkan saja masalah di tempat ini kepada kami, biarlah kami yang mengurusnya. Nyi Pandan Wangi dan rombongan silahkan lanjutkan saja perjalanan”.

“Aku percaya dengan kemampuan kalian, dan bukan maksudku mengecilkan kalian. Tetapi semua ini adalah kami yang mulai, jadi alangkah kurang pantas jika kemudian aku serahkan kepada orang lain untuk menyelesaikannya”.

“Apakah pantas jika kami hanya menjadi penonton saja?”.

“Bukankah tidak ada yang aku lakukan pula di halaman itu, selain hanya menjadi penonton? siaga saja agar tetap terhubung satu sama lain, sembari kita lihat perkembangan yang ada disini”.

 

Halaman 3 - 4

“Baiklah kalau begitu, Nyi”.

“Nanti jika kami membutuhkan bantuan kalian, kami akan segera memberikan isyarat kepada kalian untuk meminta bantuan”.

“Baik Nyi, kami akan selalu berusaha bersiap kapanpun Nyi Pandan Wangi memberikan perintah”.

“Terima kasih, Ki Agahan. Jika tidak ada lagi yang ingin kau sampaikan, aku akan kembali kesana”.

“Sepertinya tidak ada lagi, Nyi. Silahkan, kami akan memantaunya dari kejauhan”. sahut pemimpin Padepokan Orang Bercambuk itu sembari dengan sedikit membungkukkan badannya.

Kemudian anak perempuan Swargi Ki Gede Menoreh itu pun segera beranjak dari tempat itu, lalu segera bergegas kembali  untuk bergabung dengan rombongannya yang berada di halaman rumah Ki Demang Ngares.

“Ada apa, Mbokayu?”. bertanya Nyi Sekar Mirah lirih, setelah melihat ibu Sekar Wangi telah berdiri di sebelahnya.

“Ki Agahan ingin meminta masalah ini biar diselesaikannya bersama para cantrik, dan kita dipersilahkan untuk melanjutkan perjalanan”.

“Lalu apa jawab Mbokayu?”.

“Aku menolaknya, dan aku katakan kepadanya. Bahwa tidak sepantasnya jika masalah ini kita yang mulai, lalu kita limpahkan kepada orang lain”.

“Aku sependapat, karena kita yang memulainya, maka kita pula yang harus menyelesaikannya. Kecuali jika dalam keadaan tertentu saja kita akan melimpahkannya kepada orang lain.

“Demikian pula pendapatku”. sahut Nyi Pandan Wangi yang semakin memusatkan perhatiannya terhadap pertempuran yang semakin mendebarkan jantung yang ada di hadapannya.

Sementara di gelanggang pertarungan Ki Demang Ngares yang tidak ingin dipermalukan di hadapan para kawulanya, segera meningkatkan tataran kemampuannya semakin tinggi lagi ketika tidak dapat segera menembus pertahanan lawannya yang terasa masih sedemikian rapatnya.

Tataran demi tataran dari apa yang ditunjukkannya membuat lawannya semakin mengerti bahwa jalur ilmu yang pernah disadapnya itu sangat tidak asing baginya.

Namun lawannya pun menyadari bahwa ilmu itu kemudian sudah tidak murni lagi karena telah tercampur dengan jalur ilmu lain yang belum dikenalnya.

Sehingga ketika terjadi benturan demi benturan yang semakin sengit pada tataran yang sangat tinggi, pada saat ada kesempatan Nyi Rara Wulan mencoba mengambil jarak yang cukup dari lawannya untuk menilai keadaan.

Setelah menyerang lawannya dengan serangan membadai, lalu sejenak kemudian dia dengan lompatan panjang beberapa langkah ke belakang berusaha menjauh dari lawannya.

Ki Demang Ngares yang sudah bersiap akan memburu lawannya segera diurungkannya ketika mendengar peringatan dari lawannya yang datang tiba-tiba.

“Tunggu Ki Demang”.

“Apakah kau akan menyerah?”. sahut Ki Demang dengan senyum tipis namun sinis.

“Apa menurutmu semudah itu aku akan menyerah?”.

“Lalu untuk apa lagi kau menghentikan pertarungan ini jika tidak berniat untuk menyerah?”.

“Sejak kita mengawali pertarungan, aku melihat kau telah menggunakan sebuah jalur ilmu yang sangat aku kenal, meski sudah tidak murni lagi. Dari mana kau sadap ilmumu itu?”.

 

Halaman 5 - 6

“Ya tentu saja dari guruku”.

“Apa hubunganmu dengan Perguruan Kedung Jati?”.

“Apa yang kau tahu tentang Perguruan Kedung Jati? tentu yang kau tahu hanya sekedar ceritanya saja bahwa dulu perguruan itu adalah salah satu perguruan yang sangat dihormati, meski aku lihat jalur ilmumu pun menunjukkan bahwa kau pernah menyadapnya yang entah dari siapa?”.

“Aku menyadap jalur ilmu Perguruan Kedung Jati dari guruku sebagai pewarisnya yang sah”.

“Omong kosong, kau jangan membodohiku dengan cerita ngayawaramu itu. Kau kira aku adalah anak kecil yang mudah kau bohongi dengan ceritamu itu? dengarlah, Nyi Sanak! aku tahu dengan pasti sejarah panjang Perguruan Kedung Jati”.

“Terserah apa katamu, tetapi aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Lalu siapakah gurumu?”.

“Guruku adalah orang yang telah memiliki nama besar di dunia kanuragan, tetapi jika dilihat dari umurmu yang sekarang, tentu orang sepertimu tidak akan mengenalnya meski aku sebutkan namanya sekalipun”.

“Sebut saja, barangkali setidaknya aku pernah mendengar namanya dari guruku”.

“Guruku memang tidak memiliki jalur pewaris yang sah secara langsung, tetapi guruku menyadap ilmu Perguruan Kedung Jati dari pewarisnya yang sah ketika guruku sedang sama-sama nyantrik di tempat kakek guruku, makanya ketika ilmu itu turun kepadaku menjadi sudah tidak murni lagi”.

Nyi Rara Wulan dan kawan-kawannya mendengarkan cerita itu dengan seksama, sembari mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi di masa lampau.

“Lalu… siapa nama gurumu itu?”.

“Kyai Girimaya”.

“Kyai Girimaya?”. desis Nyi Rara Wulan, sembari tanpa sadarnya menoleh ke arah gurunya yang berdiri di samping kanannya.

Namun Nyi Sekar Mirah hanya dapat menanggapi dengan menggelengkan kepala perlahan serta dengan kerut di kening yang tiba-tiba membayang.

“Benar… guruku bernama Kyai Girimaya”.

“Sejauh ingatanku, aku belum pernah mendengar namanya”.

“Tentu saja, kau tidak akan mengenalnya. Memangnya kau siapa diantara para raksasa kanuragan? sehingga kau merasa sudah mengenal mereka semua?”.

Kata-kata itu benar-benar menghujam ke pusat jantung yang paling dalam ibu Arya Nakula, namun dirinya tidak mau terlarut ke dalam perasaannya sendiri.

“Lalu siapa orang yang kau sebut tadi adalah pewaris yang sah dari jalur ilmu Perguruan Kedung Jati?”.

“Kini orangnya memang telah tiada, namun nama besarnya tidak akan pernah hilang dimakan waktu, dia adalah Ki Saba Lintang”.

Bagaikan disengat ribuan tawon yang sedang mengamuk, Nyi Rara Wulan, Nyi Sekar Mirah, dan Nyi Pandan Wangi benar-benar terkejut mendengar nama terakhir yang telah disebutkan.

Bukan karena ketiganya itu menjadi ketakutan, tetapi karena ketiganya telah mengalami beberapa kejadian yang berhubungan dengan orang tersebut, terutama bagi Nyi Sekar Mirah sebagai orang yang  berhasil mengalahkannya dalam sebuah perang tanding.

Perubahan sikap yang terjadi kepada lawannya tersebut tidak luput dari perhatian Ki Demang Ngares, yang kemudian membuat sebuah kesimpulan. Namun sebuah kesimpulan yang hanya sekedar berdasarkan penilaiannya secara pribadi.

 

Halaman 7 - 8

“Guruku dan Ki Saba Lintang menjadi saudara seperguruan sejak Ki Saba Lintang itu sendiri datang kepada kakek guru dan memintanya agar mau mengangkatnya menjadi muridnya”. lanjut Ki Demang Ngares yang semakin percaya diri bahwa ceritanya telah membuat lawannya menjadi mulai ketakutan.

Nyi Rara Wulan dan kawan-kawannya tidak pernah menduga sebelumnya bahwa dalam perjalanannya kali ini mereka telah menemukan kenyataan bahwa ternyata masih ada sisa-sisa masa lalu yang kembali terkuak.

“Dan guruku adalah kakak seperguruan dari Ki Saba Lintang, baik secara silsilah perguruan maupun secara tataran kemampuan yang mereka miliki”.

Ki Demang Ngares memang sengaja menceritakan hal itu dengan tujuan agar lawannya menjadi berpikir ulang untuk melanjutkan pertarungan, atau bahkan mereka akan menyerah tanpa harus dirinya bersusah payah bertempur lebih dahulu.

Namun pertanyaan yang kemudian terlontar justru sangat mengejutkan Ki Demang Ngares, yang tidak pernah menduga bahwa pertanyaan itu akan muncul dari mulut lawannya.

“Apakah kau sudah mendengar pula tentang cerita tentang Ki Saba Lintang di akhir hayatnya?”.

“Ki Saba Lintang telah gugur sebagai seorang pemimpin besar Perguruan Kedung Jati, dalam sebuah perang tanding pada saat terjadi perang antara Demak dan Mataram”.

“Apakah kau tahu siapakah yang menjadi lawannya?”.

Ki Demang Ngares yang mengetahui dengan pasti cerita itu mulai merasakan kegetiran yang mendalam, sebab orang yang telah dieluk-elukkan sebagai seorang pemimpin besar harus gugur ketika berperang tanding melawan seorang perempuan.

“Kenapa kau menjadi terdiam, Ki Demang?”.

“Tentu saja aku tahu lawannya, kenapa kau bertanya demikian?”.

“Jika kau memang mengetahuinya, siapakah lawan perang tanding Ki Saba Lintang itu?”.

“Jika aku mengatakannya pun percuma saja, karena kau tentu tidak akan mengetahui orang itu, sebab dia adalah orang yang jarang sekali muncul diantara orang-orang yang berilmu tinggi”.

“Kenapa kau dapat memastikan demikian?”.

“Sebab dia hanyalah seorang perempuan”.

“Memangnya kenapa jika yang menjadi lawan Ki Saba Lintang itu seorang perempuan? dan apa salahnya jika yang mampu mengalahkan Ki Saba Lintang itu adalah seorang perempuan?”.

Pertanyaan lawannya itu semakin menambah kegetiran hatinya yang harus menerima kenyataan bahwa, cerita yang tadi sempat dipergunakannya dengan maksud untuk menakut-nakuti lawannya tetapi justru kini menjadi seperti senjata makan tuannya sendiri.

Karena ternyata lawannya kali ini tidak dapat dengan mudahnya untuk ditakut-takuti dengan cerita pertarungan yang garang dan nggegirisi di masa lampau tersebut.

Tiba-tiba tenggorokannya terasa menjadi kelu untuk mengucapkan suatu kenyataan, apalagi sebuah kenyataan yang terasa sangat pahit dan menyakitkan baginya.

“Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, siapa kau sebenarnya? siapa namamu dan siapa pula kawan-kawanmu itu?’. berkata Ki Demang Ngares yang mencoba mengalihkan pembicaraan guna mengusir kegetiran hatinya meski hanya sejenak.

“Aku Wulan, dan kami adalah enam perempuan pengembara yang kebetulan sedang melintas di tempat ini. Pada awalnya kami hanya berniat sekedar melintas saja dan sama sekali tidak berniat mengusikmu, tetapi orang-orang upahanmu lah yang mulai lebih dulu sehingga kami putuskan untuk menyelesaikan masalah ini”.

 

Halaman 9 - 10

Mendengar jawaban itu Ki Demang Ngares kemudian memandang ke arah enam perempuan di hadapannya tersebut dengan seksama secara bergantian.

Perempuan yang berjumlah enam orang dengan kesemuanya mengenakan pakaian khusus, memang mungkin ada benarnya jika mereka adalah para pengembara.

Namun dari tatapan matanya yang tajam sepertinya telah menyiratkan keraguan, sebab selama ini dirinya belum pernah mendengar atau bahkan melihat sendiri bahwa ada pengembara sebanyak itu dan kesemuanya adalah perempuan.

Namun sebelum demang muda itu menanggapi…

“Aku tidak memaksa kau untuk percaya, karena percaya atau tidak itu adalah urusanmu, bukan urusanku. Tetapi yang jelas aku sudah mengatakan yang sebenarnya”.

“Ya… kau benar”.

“Apakah sekarang aku sudah dapat mendengar jawaban dari pertanyaanku tadi?”.

“Setelah aku perhatikan, sepertinya kau banyak tahu tentang cerita itu. Dan apa hubunganmu dengan cerita itu?”. sahut Ki Demang yang justru balik bertanya.

“Kau tidak usah berputar-putar, Ki Demang. Jawab dulu pertanyaanku tadi, baru kemudian aku akan jawab pertanyaanmu”.

“Pada saat itu Ki Saba Lintang dikalahkan oleh Nyi Lurah Agung Sedayu, atau yang lebih dikenal pula dengan nama Sekar Mirah. Orang yang mengaku sebagai pewaris yang sah pemimpin tertinggi Perguruan Kedung Jati”.

“Apakah kau yakin jika Nyi Lurah Agung Sedayu hanyalah sekedar mengaku-aku sebagai pewaris yang sah sebagai pemimpin Perguruan Kedung Jati?”.

“Jika dia tidak mengaku-aku sebagai pewaris yang sah, lalu dari manakah dia mendapatkan semua itu? secara penalaran wajar, itu sangat mustahil, apalagi dia tidak lebih dari seorang perempuan”.

“Memang sulit dipercaya, tetapi bukan berarti mustahil bukan?”.

Mendapat pertanyaan yang semakin menyudutkannya, membuat Ki Demang Ngares merasa semakin kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Karena biar bagaimanapun, meski dirinya belum pernah mengenalnya secara pribadi namun paling tidak telah mendengar cerita tentang orang yang pada saat itu dikenal dengan nama Nyi Lurah Agung Sedayu serba sedikit.

Nyi Rara Wulan yang melihat lawannya masih saja terdiam setelah beberapa saat, menjadi semakin tertarik untuk terus mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin mengganggu penalarannya.

“Apakah kau pernah mengenalnya?”. berkata Nyi Rara Wulan sembari melirik ke arah gurunya yang kebetulan sedang berdiri beberapa langkah di sebelah kanannya.

Nyi Sekar Mirah yang merasa namanya disinggung, segera memberikan isyarat kepada muridnya itu untuk tidak membuka jati dirinya di halaman rumah tersebut.

Namun sepertinya ibu Arya Nakula yang merasa sudah terlanjur memulai membicarakan hal itu sudah tidak dapat dicegah lagi untuk melanjutkan kata-katanya.


Halaman 11-12

Ki Demang yang melihat kejadian itu, tanpa sadar ikut melirik pula ke arah yang sama dengan apa yang dilakukan oleh anak perempuan Ki Purbarumeksa tersebut dengan penuh tanda tanya.

“Belum. Apa maksudmu bertanya demikian?”.

“Ketahuilah… bahwa orang yang telah mengalahkan Ki Saba Lintang dalam perang tanding adalah guruku itu, yang memang pewaris yang sah dan bukan sekedar hanya mengaku-aku tanpa dasar sebagai salah satu pemimpin Perguruan Kedung Jati”. sahut Nyi Rara Wulan sembari menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah yang dimaksud.

“Omong kosong, mana mungkin? semakin lama omonganmu semakin ngayawara seperti orang yang sedang mabuk kecubung. Kau kira aku anak kemarin sore yang dapat kau bohongi begitu saja, he ?”. sahut Ki Demang dengan suara setengah berteriak.

“Kita akan sama-sama melihat, siapakah diantara kita yang sebenarnya sedang mabuk kecubung”. sahut Nyi Rara Wulan yang tidak mau kalah.

“Memangnya apa yang akan kau lakukan?”. sahut Ki Demang Ngares yang penuh dengan tanda tanya.

“Mbokayu, tolong tunjukkan kepada Ki Demang bahwa memang Mbokayu lah pewaris yang sah sebagai salah satu pemimpin dari Perguruan Kedung Jati”.

Ki Demang yang mendengar hal itu keningnya menjadi semakin berkerut sembari dengan penuh tanda tanya, apa yang sebenarnya akan mereka lakukan.

Sementara Nyi Sekar Mirah yang tidak ingin mengecewakan muridnya tersebut segera membuka selongsong yang berada di punggungnya, lalu menarik isinya. Maka dengan segera terlihatlah Tongkat Baja Putih yang ceritanya begitu melegenda selama ini di tanah tempat mereka berpijak.

Mata Ki Demang Ngares tiba-tiba membelalak seraya mulutnya ternganga karena saking terkejutnya dengan apa yang sedang dilihatnya tersebut.

“Apakah kau masih meragukannya, Ki Demang?”.

“Bohong! tidak mungkin! tentu itu hanyalah Tongkat Baja Putih tiruan yang sengaja kalian buat untuk menakut-nakuti lawan karena nama besarnya”.

“Sekarang terserah apa katamu, percaya dan tidaknya adalah urusanmu dan bukan urusanku. Tetapi yang sekarang menjadi urusanku adalah segera menghentikan segala pokalmu yang telah banyak menyengsarakan sesama”. sahut Nyi Rara Wulan yang sudah tidak ingin memperpanjang pembicaraan tersebut.

“Jika itu memang asli, tunjukkan kepadaku”.

“Itu adalah senjata guruku, bukan senjataku”. sahut ibu Arya Nakula yang tanggap akan maksud lawannya.

“Biarlah gurumu yang menggantikan kedudukanmu”.

“Urusan kita belum selesai, Ki Demang. Jadi tidak semudah itu kau dapat menantang guruku, kau boleh menantang guruku jika aku sudah menyerah”.

“Persetan… kesombonganmu benar-benar sudah sundul langit, Nyi Sanak. Aku akan segera menyelesaikanmu agar dapat segera melawan gurumu itu”.

Selesai berkata demikian, Ki Demang segera memberikan sebuah isyarat kepada salah satu pembantunya. Sejenak kemudian, pembantunya pun segera menyerahkan sebuah pedang yang terlihat agak tipis dan lentur serta berukuran sedikit lebih panjang.

Jika dilihat dari wujudnya, itu sepertinya bukan seperti pedang kebanyakan. Tentu itu dari bahan pilihan dan dibuat secara khusus.

 

Halaman 13-14

“Pinjamlah senjata gurumu itu jika kau tidak membawa senjata, agar aku tidak dianggap licik melawan orang yang tidak bersenjata dengan menggunakan senjata, apalagi kau hanyalah seorang perempuan”. ucap Ki Demang setelah di tangan kanannya memegang senjata andalannya.

Nyi Rara Wulan yang melihat lawannya telah bersenjata, tidak mau terjerumus kedalam kesulitan karena kesombongannya sendiri, maka dirinya pun segera mengurai senjata andalannya.

Namun sebelum dirinya benar-benar mengurai selendang yang hampir selalu dikaitkan pada tubuhnya tersebut, tiba-tiba saja ada suara yang memanggilnya.

“Wulan”.

Sontak saja ibu Arya Nakula itu segera menoleh ke arah sumber suara yang memanggil, dan sebuah pemandangan yang tidak pernah diduga sebelumnya telah terjadi begitu cepatnya.

“Gunakanlah ini”. ucap Nyi Sekar Mirah sembari melemparkan Tongkat Baja Putihnya ke arah muridnya.

“Tapi, Mbokayu…”. sahut Nyi Rara Wulan sembari menangkap tongkat gurunya yang dilemparkannya tersebut.

“Sudahlah, gunakanlah dengan sebaik-baiknya”.

“Beruntunglah Ki Demang, guruku telah berbaik hati bersedia meminjamkannya senjatanya kepadaku. Meskipun aku tidak akan sebaik guruku ketika menggunakannya tetapi semoga saja aku tidak akan mengecewakannya”.

“Sedari tadi kau sudah terlalu banyak bicara, Nyi Sanak. Sebaiknya kita segera selesaikan urusan kita, agar aku dapat segera menyelesaikan pula yang lain”.

“Kau jangan sombong, Ki Demang. Jika kau berhasil mengalahkan aku, maka masih ada guruku yang akan dengan sigap menghadangmu”.

“Persetan, bersiaplah!”.

Selesai berkata demikian, Ki Demang pun segera menyerang lawannya dengan pedangnya yang terjulur lurus mengarah ke dada dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Ki Demang Ngares memang merasa sudah tidak perlu lagi adanya serangan penjajagan, sebab keduanya sedikit banyak telah mengetahui kemampuan lawan masing-masing.

Dengan sigapnya Nyi Rara Wulan melintangkan Tongkat Baja Putih, yang dipinjamkan gurunya sembari memiringkan tubuhnya. Lawannya yang sudah menduga akan hal itu segera mengirimkan serangan susulan yang tidak kalah berbahayanya.

Kali ini kaki kirinya mengincar lambung yang terlihat terbuka pertahanannya, dengan gerakan memutar ibu Arya Nakula berusaha menghindar sekaligus memberikan serangan balasan dengan menyapu kedua kaki kanan lawannya yang menginjak tanah.

Sejenak kemudian pertarungan itu kembali berkobar dengan sengitnya, dan untuk beberapa saat mereka terlihat saling menyerang dan bertahan dengan sama baiknya.

Keduanya pun segera meningkatkan kemampuan masing-masing setelah beberapa saat tadi pertarungan mereka sempat berhenti, sehingga tatarannya yang ditrapkan sempat mengendur beberapa lapis tatarannya.

Ternyata memang tidak mudah untuk dapat mengalahkan perempuan yang tiba-tiba ke kademangannya tersebut, sehingga Ki Demang Ngares harus berpikir keras bagaimana agar dapat segera mengalahkan lawannya.

 

Halaman 15-16

Dan sesuatu yang tidak pernah diduga sebelumnya pun tiba-tiba terjadi dengan demikian cepatnya, sehingga tidak ada waktu lagi untuk menilai keadaan.

Karena sebenarnya yang terjadi adalah Ki Demang mengambil sesuatu dari balik kantungnya yang tergantung di lambung kirinya, lalu melemparkan kepada lawannya.

Terlihat ada dua benda aneh yang melesat di udara dengan kecepatan tinggi ke arah sasarannya, namun Nyi Rara Wulan masih sempat berkelit untuk menghindari yang satu, sementara yang satu lagi terpaksa dipukul dengan tongkatnya.

Ternyata itu adalah senjata rahasia yang hidup, yaitu ular Bandotan jantan yang terkenal dengan bisanya yang sangat mematikan jika terkena gigitannya.

Sontak saja Nyi Rara Wulan segera memukul kepala ular yang sudah jatuh ke atas tanah tersebut hingga remuk dan mati, agar tidak membahayakan yang lain.

Bersamaan dengan itu, tiba-tiba mereka yang berada di tempat itu dikejutkan oleh suara teriakan dari salah satu orang upahan Ki Demang Ngares yang tadi berdiri di belakang garis serangan.

“Aaa…”.

Sontak saja hal itu menarik perhatian semua orang yang hadir di halaman rumah itu, karena ternyata orang upahan itu telah menjadi korban gigitan senjata rahasia yang hidup tersebut.

“Kalian memang terlalu dungu!”. geram Ki Demang. Lalu lanjutnya, “kenapa kalian berdiri disitu? apa kalian sudah bosan hidup, he?”.

Orang upahan itu mengerang kesakitan setelah mendapat gigitan dari ular Bandotan jantan, yang menjadi senjata rahasia majikannya tersebut.

Sementara kawan-kawannya lalu mengerumuninya dan berusaha menolong, namun sejenak kemudian mereka kebingungan sendiri dengan apa yang harus mereka lakukan untuk menolong.

Sebab mereka sendiri tidak memiliki kemampuan tentang kawruh pengobatan, terutama untuk menolong orang yang digigit ular bandotan yang bisanya terkenal sangat ganas.

“Percuma saja kalian menolongnya, karena bisa ular Bandotan jantan itu akan dapat membunuh lebih cepat dari waktu yang kalian butuhkan untuk menolongnya”. ucap Ki Demang yang kecewa kepada para orang upahannya yang dianggap terlalu dungu.

Raut wajah-wajah kebingungan dari orang-orang upahan itu mendengar keterangan tersebut, namun memang tidak ada lagi yang dapat mereka lakukan untuk menolong.

Semuanya akan menjadi sia-sia saja karena terlambat, sebab tidak lama kemudian orang yang tergigit ular bandotan itu segera melemah dengan begitu cepatnya.

Sementara tanpa banyak disadari banyak orang, Nyi Rara Wulan yang ikut menyaksikan kejadian tersebut sempat begidik ngeri, lalu segera menelan obat penawar racun yang telah dibawanya dalam bumbung kecil.

Dan dirinya merasa beruntung bahwa sebelum kejadian mengenaskan menimpanya, kebetulan dirinya telah membawa bekal obat yang dibutuhkan.

“Rawatlah kawan kalian itu sebagaimana mestinya, dan menyingkirlah dari sini, agar tidak jatuh korban berikutnya”. berkata Ki Demang kepada anak buahnya.

Orang-orang upahan itupun segera membawa kawannya yang sudah tidak bernyawa itu untuk menyingkir dari pertarungan dua orang yang berilmu tinggi.

 

Halaman 17-18

Sembari mulai meninggalkan halaman rumah itu, tanpa sadar mereka pun begidik ngeri ketika membayangkan jika hal itu menimpa diri mereka, karena biar bagaimanapun mereka tidak ingin mengalami nasib buruk tersebut.

Meski mereka tidak dapat ingkar, bahwa hal itu adalah akibat yang wajar dari pekerjaan kasar yang dilakukan, namun mereka tidak melihat ada pilihan yang lebih baik.

“Jika kau menjadi ketakutan setelah melihat kejadian itu, menyerahlah, Nyi Sanak. Agar kau tidak mengalami nasib serupa”. sahut Ki Demang memperingatkan.

“Terima kasih atas peringatanmu, tetapi bukankah bukan kau yang menentukan nasib seseorang? ada yang memiliki kuasa atas itu, yaitu Yang Maha Agung?”.

“Sudahlah, Nyi Sanak. Kau tidak usah berbicara ngayawara, sekarang yang paling penting adalah pikirkan saja nasibmu yang sudah diujung tanduk. Bersiaplah”. sahut Ki Demang yang ingin segera menyelesaikan pertarungan.

Selesai berkata demikian, Ki Demang segera menyerang kembali lawannya dengan pedang di tangannya dengan serangan yang cepat dan membadai.

Nyi Rara Wulan yang agak terlambat menanggapi keadaan, pada awalnya sempat terdesak beberapa saat. Namun beruntunglah bahwa dia adalah orang yang sangat berpengalaman dalam pertarungan yang bagaimanapun garangnya.

Sehingga tidak menjadi gugup ketika mendapati keadaan yang demikian, meski juga belum terbiasa dengan senjata yang kini berada di tangannya.

Namun sebagai orang yang berilmu sangat tinggi, dia mampu menyesuaikan diri dengan cepat. Hanya pada awal-awal pertarungan saja masih merasa canggung.

Setelah beberapa saat pertarungan berlangsung, dirinya sudah mulai terbiasa dengan senjata Tongkat Baja Putih berkepala tengkorak yang sangat mengerikan itu.

Semakin lama pertarungan menjadi sangat sengit, karena keduanya semakin meningkatkan kemampuannya masing-masing semakin tinggi.

Sepertinya keduanya memiliki keinginan yang sama, yaitu sama-sama ingin segera menyelesaikan pertarungan. Sehingga pertarungan berlangsung semakin cepat dan keras.

Sesekali mereka mampu saling menembus pertahanan lawannya yang terbuka, namun sama-sama membuat mereka mengerutkan kening setelah melihat apa yang terjadi.

Namun pertarungan tidak berhenti dan masih terus berlangsung dengan sengitnya, bahkan orang orang yang belum mencapai tataran kemampuan itu seperti sedang melihat Burung Sikatan yang saling menyambar-nyambar di udara tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya yang sedang terjadi.

Pada akhirnya Ki Demang mampu menembus pertahanan Nyi Rara Wulan yang kembali terbuka, kali ini berhasil menggores pundaknya sebelah kiri.

Namun yang kemudian terjadi adalah terdengar umpatan yang sangat kotor dari mulut Ki Demang setelah melihat kenyataan bahwa pedangnya hanya mampu menggores pakaian dan tidak mampu melukai lawannya.

“Dasar perempuan Iblis”. geram Ki Demang yang tetap melanjutkan pertarungan.

“Kenapa kau masih saja suka mengumpat?”.

“Kau jangan berpura-pura, Nyi Sanak. Apa kau kira aku anak kemarin sore yang baru belajar kanuragan?”.

 

Halaman 19-20

“Bukankah sejak tadi pun kau telah melakukannya?”.

“Ya… aku hanya tidak mengira sejak awal jika kau mampu melakukannya, sehingga hal itu sempat membuatku terkejut”.

“Salahmu sendiri, kau terlalu meremehkan lawanmu sehingga kau kehilangan penalaran wajar atas kemampuan lawanmu yang sebenarnya”. sahut Nyi Rara Wulan sembari melayani pertarungan yang semakin sengit.

“Kau jangan terlalu sombong, Nyi Sanak. Kau jangan senang dulu, jangan kau kira aku tidak mampu menembus ilmu kebalmu itu”. sahut Ki Demang dengan penuh percaya diri.

“Apa kau kira hanya kau yang mampu menembus ilmu kebal?”.

“Baiklah, bersiaplah!”.

Selesai berkata demikian, Ki Demang Ngares segera menyerang lawannya dengan pertarungan jarak pendek dengan serangan membadai dan sama sekali tidak memberikan kesempatan, bahkan hanya untuk sekedar menarik nafas.

Namun ketika lawannya sudah mulai menemukan kedudukannya dengan baik, maka Ki Demang segera berusaha mengambil jarak beberapa langkah surut dari lawannya.

Sejenak kemudian Ki Demang itu kembali melompat ke arah lawannya, namun hal yang tidak pernah diduga oleh semua orang adalah demang itu tiba-tiba menghilang di bawah sinar matahari yang cukup terik.

“Aji Panglimunan”. desis Nyi Sekar Mirah tanpa sadarnya.

“Kau benar”.

“Sepertinya aku terlalu gegabah memberikan kesempatan kepada Rara Wulan untuk melawannya, Mbokayu”.

“Itu bukan salahmu, Sekar Mirah. Bukankah sejak awal kita memang sama-sama belum tahu siapa lawan kita dan seberapa tinggi kemampuannya”.

“Aji Panglimunan adalah ilmu yang sangat nggegirisi, jika terjadi sesuatu dengan Rara Wulan tentu akulah orang yang merasa paling bersalah, Mbokayu”.

“Itu bukan hanya menjadi tanggung jawabmu, tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama, dan tentu akupun ikut bertanggung jawab pula jika hal itu terjadi”.

“Semoga Rara Wulan dapat mengatasi lawannya dengan baik”.

“Ya… itu harapan kita semua, dan sebaiknya kita sama-sama nenuwun kepada Yang Maha Welas Asih”. sahut Nyi Pandan Wangi yang berusaha menenangkan marunya tersebut.

Sementara kawula Kademangan Ngares yang kebetulan menyaksikan pertarungan tersebut dari tempat persembunyiannya masing-masing menjadi semakin kebingungan dan semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

“Ternyata Ki Demang memiliki ilmu Iblis”.

“Kakang benar, Ki Demang dapat menghilang secara tiba-tiba dari lawannya yang berilmu sangat tinggi itu”. sahut kawannya yang berada di sebelahnya.

“Pantas saja selama ini Ki Demang berani berbuat sekehendak hatinya, karena ternyata dia memiliki kemampuan yang sudah di luar nalar, dan sepertinya harapan kita akan nasib para kawula Kademangan Ngares ini harus kita singkirkan jauh-jauh”.

“Maksud Kakang?”.

“Bukankah tadinya kita memiliki harapan nasib yang lebih baik ketika kademangan ini kedatangan keenam perempuan itu, tetapi setelah melihat semua itu, sepertinya harapan itu hanya tinggal menjadi harapan saja bagi kita”.

 

Halaman 21-22

“Apakah ilmu Iblis itu tidak terlawan?”.

“Aku tidak tahu, tetapi bagaimana caranya seseorang dapat bertarung melawan orang yang tidak dapat dilihat wujudnya?”.

Kawannya pun menjadi terdiam mendapat jawaban tersebut karena dirinya memang tidak memiliki bekal kanuragan yang cukup sebagai dasar untuk mengurai masalah tersebut.

Dan akhirnya yang dapat mereka lakukan hanyalah menyaksikan pertarungan yang ada di hadapannya dan menunggu apa yang bakal terjadi kemudian.

Ketiga adik angkat Nyi Rara Wulan pun tidak dapat menyembunyikan ketegangan dan kegelisahannya yang sangat setelah melihat apa yang terjadi di arena pertempuran.

“Ternyata lawan mbokayu Rara Wulan kali ini bukan orang sembarangan, semoga dia dapat mengatasinya”. desis Padmini yang pandangan matanya seakan tidak dapat meninggalkan arena pertempuran barang sekejap pun.

“Tetapi bagaimana jika…”.

“Kau jangan berpikiran macam-macam, Baruni”. potong Padmini cepat, sembari tanpa menoleh.

“Maaf Mbokayu”. sahut Baruni dengan suara perlahan setelah menyadari keterlanjurannya.

“Kita lihat dulu saja apa yang terjadi, sebelum membuat pertimbangan apapun. Sembari jangan lupa kita panjatkan panuwunan kepada Yang Maha Welas Asih bagi keselamatan mbokayumu”. sahut Nyi Pandan Wangi yang berusaha menengahi pembicaraan ketiga perempuan yang berdiri di belakangnya.

“Baik Nyi”. sahut ketiganya hampir berbarengan.

Sejenak kemudian perhatian kelima perempuan perkasa itu kembali terpusat ke arena pertarungan yang sedang berlangsung dan kini telah memasuki babak yang semakin menegangkan pada tataran yang semakin tinggi.

Ketegangan yang benar-benar membuat jantung seakan mau meledak, terutama bagi rombongan Nyi Pandan Wangi yang sedang berada di pihak yang kurang menguntungkan.

Apalagi mereka sadar, bahwa Nyi Rara Wulan tidak memiliki sejenis ilmu yang sama untuk mengatasinya. Sehingga mereka hanya dapat menerka-nerka saja apa yang bakal dilakukan untuk melawan Aji Panglimunan.

Sementara Nyi Rara Wulan yang tidak pernah menduga bahwa lawannya memiliki ilmu yang sangat nggegirisi itu menjadi sangat terkejut, namun pengalamannya telah menuntunnya untuk tetap berusaha tenang dan bersikap wajar.

“Gila…”. ucap Nyi Rara Wulan setelah menyadari lawannya yang tiba-tiba menghilang dari hadapannya.

Kemudian dia pun segera menoleh ke kanan-kiri, lalu memutar tubuhnya beberapa kali untuk lebih memastikan apa yang sebenarnya sedang dilihatnya.

Namun dalam kesibukannya mencari keberadaan lawannya, tiba-tiba dirinya harus terlempar beberapa langkah surut ketika mendapat serangan dari arah depan dan tepat mengenai lambungnya yang terbuka.

“Ah…”.

Terdengar suara mengaduh tertahan dari mulut anak Ki Purbarumeksa, sembari menjaga keseimbangannya agar tidak jatuh terlentang di atas tanah yang berdebu.

 

Halaman 23-24

Namun dalam pada itu terdengar pula suara tawa yang menyakitkan dari Ki Demang yang masih bersembunyi dibalik ilmunya yang sangat nggegirisi itu.

Langkah pertama yang dilakukan Nyi Rara Wulan untuk kesulitannya adalah dengan meningkatkan ilmu kebalnya hingga ke puncak untuk melindungi tubuhnya dari serangan-serangan tak terduga yang dapat menyakitinya.

Karena dalam keadaan yang demikian, tentu sangat mungkin sekali dirinya akan terlambat menanggapi setiap serangan yang bakal datang untuk menyakitinya.

Dan benar saja, baru saja mengetrapkan ilmu kebal hingga ke tataran puncak, dirinya telah mendapatkan serangan yang datang dari arah belakang. Sehingga membuatnya hampir terjatuh terjerembab di tanah.

Meski dalam keadaan yang demikian sulit, Nyi Rara Wulan yang memiliki pengalaman yang sangat luas tidak menjadi gugup atau bahkan kehilangan penalaran yang wajar dalam menanggapi keadaan tersebut.

Untuk beberapa saat dirinya memang menjadi bulan-bulanan serangan lawannya yang berlindung dibalik Aji Panglimunan, bahkan beberapa kali dia menjadi bahan tertawaan lawannya karena telah menyerang ke tempat kosong atau terlambat dalam menanggapi keadaan.

Namun bersamaan itu dirinya pun segera mengetrapkan Aji Sapta Pandulu dan Aji Sapta Panggrahita hingga ke puncak untuk melacak keberadaan lawannya.

“Sesalilah nasibmu yang buruk, karena kau telah berani bersikap deksura kepadaku, Nyi Sanak”.

“Kenapa aku harus menyesal?”.

“Setan Alas… selembar nyawamu sudah berada di ujung ubun-ubun saja kau masih berani menyombongkan diri?’. sahut Ki Demang dengan penuh kegeraman.

“Bukankah bukan kau yang menentukan nasibku, tetapi Yang Maha Agung lah yang memiliki kuasa atas itu”.

“Apakah kau sadar dengan apa yang kau katakan? sekarang nasibmu sudah berada di tanganku, dan kau tidak akan mungkin mampu menghindar”.

“Jika Yang Maha Agung masih mengasihiku, tentu tidak akan kekurangan cara untuk menyelamatkanku dari bahaya yang bagaimanapun juga, bahkan meski ajal sudah mau menjemputku”.

“Dasar Iblis Betina, tetapi baiklah. Mungkin itu adalah kata-kata orang yang sudah berputus asa dengan nasibnya, sehingga sudah kehilangan penalaran yang sehat”.

“Bukankah kita semua pada akhirnya akan mati pula? yang membedakan hanyalah waktu dan caranya saja?”.

“Tetapi kali ini kau akan mati dengan cara yang sangat hina, karena tubuhmu akan terkapar di tempat ini dengan disaksikan oleh kawan-kawanmu, sebelum mereka akan menyusulmu menuju ke alam kelanggengan”.

“Tidak semudah itu kau dapat membunuhku, apalagi guruku”.

“Setan Alas, Genderuwo, Tetekan… kau benar-benar telah membuat kesabaranku habis. Bersiaplah!”. sahut Ki Demang yang nampaknya sudah tidak dapat menahan diri lagi atas kemarahannya terhadap lawannya.

Sejenak kemudian terdengar deru udara dari arah belakang yang bergerak dengan cepatnya, dan tiba-tiba punggung ibu Arya Nakula seperti dihantam dengan benda yang sangat keras, sehingga membuatnya terdorong beberapa langkah ke depan.

 

Halaman 25-26

Beruntunglah bahwa dirinya melindungi diri dengan ilmu kebal, sehingga serangan itu meski sempat mengguncang pertahanan tubuhnya, namun tidak benar-benar menyakitinya.

Dan dalam keadaan demikian dirinya masih dapat menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak tersuruk ke tanah berdebu di halaman rumah besar tersebut.

Lalu dengan cepat dirinya segera memperbaiki kedudukannya untuk menyambut serangan-serangan berikutnya yang mungkin akan jauh lebih berbahaya.

Nyi Rara Wulan yang berilmu sangat tinggi kini sebenarnya sudah menjadi lebih mapan setelah mengetrapkan Aji Sapta Pandulu dan Aji Sapta Panggrahita dan sudah siap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Namun entah kenapa tidak segera ditunjukkan kepada lawannya bahwa sebenarnya dirinya telah mampu melacak keberadaan lawannya dengan tepat.

Sepertinya Nyi Rara Wulan sengaja menyembunyikan hal itu karena memiliki sebuah rencana yang dianggap paling baik untuk mengatasi lawannya.

Dan benar saja, ternyata setelah beberapa saat membiarkan tubuhnya menjadi bulan-bulanan lawannya selama itu tidak membahayakan keselamatannya, telah membuat lawannya merasa di atas angin dan justru itu kelengahan yang ditunggu.

Nyi Rara Wulan yang sudah bersiap menggenggam Tongkat Baja Putih dengan kedua tangannya, dengan sabar menunggu serangan lawannya yang datang dari arah samping.

Serangan yang demikian cepat dengan balutan Aji Panglimunan itu sepertinya benar-benar ingin mengakhiri lawannya, karena berusaha mengincar tengkuk dengan dilandasi tenaga cadangan yang sangat besar karena pada tataran puncak.

Ki Demang dengan penuh percaya diri akan segera mengakhiri lawannya tersebut setelah serangannya berhasil mengenai sasaran, meski dia tahu bahwa lawannya berlindung di balik ilmu kebal.

Namun tanpa disadari bahwa Nyi Rara Wulan yang telah menggenggam erat tongkatnya dan sedang menunggu serangan itupun telah mengetrapkan tenaga cadangan hingga ke puncak untuk menyerang balik lawannya.

Sebab dirinya sadar, bahwa akan percuma saja jika dirinya menyerang lawannya jika tidak dengan dilandasi tenaga cadangan hingga ke puncak, karena lawannya pun berlindung dibalik ilmu kebalnya yang biasa disebut, Aji Lembu Sekilan.

Di saat serangan Ki Demang yang sangat mematikan itu hampir menemui sasarannya, tiba-tiba Nyi Rara Wulan berkelit sembari mengirimkan serangan balik.

Tentu saja hal ini sangat mengejutkan Ki Demang yang tidak pernah menduga sebelumnya, sehingga dirinya terlambat untuk menanggapi keadaan.

Karena ternyata Tongkat Baja Putih itu sudah siap menghantam kepalanya, dan inilah kesalahan yang harus dibayar mahal oleh Ki Demang Ngares.

Kepala tengkorak dari Tongkat Baja Putih itu menghantam kepala Ki Demang dengan sangat kerasnya tanpa ada kesempatan lagi untuk menangkis apalagi untuk menghindarinya.

Tak pelak terdengarlah suara teriakan yang sangat keras dan melengking karena rasa sakit setelah dipukul oleh tongkat yang terbuat dari baja pilihan itu.

Bersamaan dengan itu tubuh Ki Demang seakan melayang karena terdorong oleh tenaga yang sangat besar dan terjatuh di atas tanah berdebu halaman rumah kebanggaannya.

 

Halaman 27-28

Dan seketika itu pula tubuh Ki Demang berangsur-angsur terlihat karena pemusatan Aji Panglimunan telah terpecah setelah dirinya merasakan kesakitan.

Ternyata pukulan Tongkat Baja Putih yang dilandasi dengan tenaga cadangan Nyi Rara Wulan yang berada pada puncaknya telah memberikan akibat yang luar biasa terhadap lawannya.

Beruntunglah bahwa Ki Demang Ngares masih berlindung dibalik ilmu kebalnya, jika tidak? maka akibatnya tentu akan mengerikan sekali bagi dirinya.

Tubuh itu hanya dapat mengerang kesakitan di atas tanah setelah terlempar karena mendapat pukulan yang sangat mengerikan dan mematikan tersebut.

Mungkin jika yang menjadi sasaran itu adalah bagian tubuh yang lain, mungkin akan dapat berakibat lain. Tetapi ini adalah kepala, yang menjadi bagian terpenting dari tubuh manusia.

Jika sudah berhubungan dengan kepala, benturan sekecil apapun dapat berakibat bencana. Apalagi kali ini benturan dengan dilandasi oleh tenaga cadangan hingga tataran puncak Nyi Rara Wulan sebagai orang yang berilmu sangat tinggi.

Dan sepertinya Aji Lembu Sekilan yang dimiliki oleh Ki Demang belum mampu benar-benar melindungi dirinya dari serangan lawannya yang berilmu sangat tinggi.

Meski dari luar sepertinya tidak terlihat luka sama sekali, namun entah apa yang terjadi dengan bagian dalam kepalanya. Karena setelah tubuh itu terlempar tidak dapat segera bangkit lagi.

Bahkan setelah sejenak sempat mengerang kesakitan, Ki Demang menjadi terdiam. Entah terdiam karena hanya sekedar pingsan atau telah meregang nyawa.

“Mari kita lihat keadaannya”. ajak Nyi Pandan Wangi.

Dan tidak lupa, Nyi Pandan Wangi memerintahkan kepada ketiga perempuan muda yang ikut bersamanya agar tetap berada di tempatnya sembari mengawasi keadaan.

Sebab dirinya berpendapat, jangan sampai kelengahan sekecil apapun akan menyeret mereka ke dalam kesulitan. Apalagi sekarang mereka sedang berada di tempat asing yang belum mereka tahu keadaannya dan orang-orangnya secara keseluruhan.

Kemudian Nyi Pandan Wangi, Nyi Sekar Mirah, dan Nyi Rara Wulan segera mendekati tubuh yang terbaring di atas tanah itu untuk melihat keadaannya.

“Sepertinya dia hanya pingsan”. ucap ibu Bayu Swandana memberikan keterangan setelah memeriksa.

“Lalu apa yang akan kita lakukan, Mbokayu?”. bertanya ibu Arya Nakula meminta pendapat.

“Menurut pendapatku, yang jelas kita tidak dapat membiarkan dia tetap disini, setelah sadar Ki Demang harus mempertanggung jawabkan segala perbuatannya yang telah melanggar paugeran selama ini”.

“Apakah kita akan membawanya?”.

“Aku rasa kita sudah kehilangan banyak waktu di tempat ini, jadi sebaiknya kita harus dapat segera membereskannya. Tetapi tentu saja kita tidak mungkin membawanya dalam kita menjalankan tugas. Biar bagaimanapun kita sedang mengemban tugas yang tidak dapat kita anggap enteng”.

“Apakah kita akan meninggalkannya disini?”.

“Tentu tidak, Rara Wulan. Itu akan sangat membahayakan para kawula Kademangan Ngares ini. Mereka akan dapat menjadi korban pelampiasan Ki Demang yang gagal mengalahkan kita”.

 

Halaman 29-30

“Lalu apa pendapat, Mbokayu Pandan Wangi?”.

“Sebaiknya kita kumpulkan orang-orang yang ada, lalu kita membuat hubungan dengan Prajurit Mataram. Biarlah Ki Demang mempertanggung jawabkan perbuatannya di Mataram”.

“Baiklah, aku sependapat”.

Kemudian Nyi Pandan Wangi memerintahkan salah satu dari orang upahan Ki Demang untuk mencari tali, untuk mengikat Ki Demang jika nanti sudah tersadar.

Lalu mereka berusaha menyadarkan Ki Demang dari pingsannya, dan tak lama kemudian orang itupun mulai bergerak perlahan setelah menemukan kesadarannya.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, mereka segera mendudukkan Ki Demang, lalu mengikat kedua tangannya di belakang layaknya seorang tawanan.

“Kalian siapa? apa yang kalian lakukan? kenapa tanganku harus diikat?”. ucap Ki Demang yang berusaha meronta.

Pertanyaan bertubi-tubi dari Ki Demang itu membuat ketiganya menjadi saling pandang sejenak, sebelum kembali melanjutkan pertanyaan-pertanyaan berikutnya.

“Apakah kau tidak mengenal kami?”.

“Memangnya kalian siapa?”. sahut Ki Demang yang dari raut wajahnya nampak kebingungan sembari memandang ke arah ketiganya secara bergantian.

“Tidak penting siapa kami, karena yang paling penting adalah kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu”. sahut Nyi Pandan Wangi dengan suara yang terdengar tegas.

“Memangnya apa salahku?”. sahut Ki Demang yang kebingungan.

Kata-kata yang keluar dari mulut Ki Demang Ngares semakin membuat ketiga perempuan itu merasa janggal, sehingga membuat mereka menjadi saling pandang.

Namun mereka masih dapat menahan diri untuk tidak membicarakannya di depan orangnya, meski tanpa harus berjanji sebelumnya.

Setelah mereka selesai mengikat Ki Demang Ngares dan mengumpulkan semua orang yang berada di tempat itu, termasuk para pembantu di rumah Ki Demang, maka mereka segera agak menyingkir untuk membicarakan langkah selanjutnya.

“Sepertinya telah terjadi sesuatu dengan Ki Demang”. berkata Nyi Sekar Mirah mengawali pembicaraan.

“Sepertinya kau telah memukul kepala Ki Demang terlalu keras, Rara Wulan. Sehingga telah membuat ingatannya terganggu”. ucap Nyi Pandan Wangi menimpali.

“Sepertinya demikian, Mbokayu”.

“Beruntunglah bahwa pada saat terjadi benturan dia masih terlindungi oleh ilmu kebalnya. Jika tidak, maka sudah barang tentu dia akan mengalami nasib yang sangat buruk”.

“Justru karena dia berlindung dengan ilmu kebalnya, maka aku menghantam kepalanya dengan landasan tenaga cadangan hingga ke puncak, Mbokayu”.

“Dan ternyata landasan ilmu puncakmu itu telah berhasil menembus ilmu kebalnya, sehingga benturan di kepalanya itu telah mengguncang isi kepalanya, sehingga sekarang telah membuat ingatannya telah terganggu”.

“Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya menurut mbokayu berdua?”. sahut Nyi Rara Wulan, lalu memandang ke arah keduanya secara bergantian.

 

bersambung.....






Padepokan Tanah Leluhur

Terima kasih

 

5 komentar: