*****
Pertarungan di halaman rumah Ki Demang Ngares yang luas itu
semakin lama semakin sengit dan mendebarkan bagi siapa saja yang sempat
melihatnya.
Tidak hanya orang-orang upahan Ki Demang yang datang bersama
rombongan Nyi Sekar Mirah itu sendiri, tetapi orang-orang upahan yang bertugas
di rumah itu pun tidak ingin ketinggalan untuk pengalaman yang sangat langka
tersebut.
Bahkan para kawula Kademangan Ngares pun mulai berdatangan
pula untuk menyaksikan pemandangan yang sangat jarang sekali mereka dapatkan.
Namun yang membedakan adalah mereka tidak berani secara terang-terangan untuk
melakukannya.
Mereka hanya berani mengintip dari kejauhan atau yang paling
dekat adalah dari sela-sela dinding pembatas yang mengelilingi rumah Ki Demang
tersebut.
Meski sebenarnya mereka diliputi ketakutan, namun rasa
penasaran di hati telah membuat mereka dapat mengalahkan rasa takut itu
sendiri.
Sementara Nyi Sekar Mirah yang tadi sempat melihat sosok yang
tidak asing baginya di kejauhan, segera memberikan isyarat kepada ibu Sekar
Wangi yang pandangan matanya sedang terpusat pada pertarungan yang mulai
mendebarkan jantung.
Nyi Pandan Wangi pun segera menoleh ke arah orang yang
mencolek tubuhnya, namun ternyata dirinya hanya mendapatkan jawaban dengan
isyarat mata, agar dirinya segera melihat ke arah yang dimaksud.
“Kau atau aku yang akan menemuinya?”. bertanya ibu Bayu
Swandana setelah menyadari apa yang dimaksud.
“Terserah kepada Mbokayu saja, karena menurutku yang paling
penting adalah salah satu dari kita harus tetap disini untuk menjaga segala
kemungkinan”.
“Baiklah kalau begitu, aku yang akan menghampirinya dan kau
tetap awasi pertarungan dan keadaan di sekitarnya”.
“Baik Mbokayu”.
Nyi Pandan Wangi melihat sekali lagi pertarungan itu sebelum
akhirnya dirinya meninggalkan tempat itu guna menemui seseorang yang telah
dikenalnya dengan baik.
Sepertinya tidak butuh waktu terlalu lama untuk mencapai
tempat orang itu, karena memang jaraknya yang tidak terlalu jauh dari tempatnya
tadi berdiri.
“Aku minta maaf kepada Nyi Pandan Wangi, bukan maksudku untuk
bersikap deksura. Tetapi tadi maksudku adalah apakah aku diperkenankan untuk
bergabung di halaman itu, dan bukan bermaksud untuk meminta Nyi Pandan Wangi
datang kemari”.
“Sudahlah Ki Agahan, tidak perlu terlalu kau pikirkan masalah
itu. Apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan kepadaku?”.
“Maaf Nyi Pandan Wangi, bukan maksudku untuk bersikap deksura.
Tetapi sebaiknya serahkan saja masalah di tempat ini kepada kami, biarlah kami
yang mengurusnya. Nyi Pandan Wangi dan rombongan silahkan lanjutkan saja
perjalanan”.
“Aku percaya dengan kemampuan kalian, dan bukan maksudku
mengecilkan kalian. Tetapi semua ini adalah kami yang mulai, jadi alangkah
kurang pantas jika kemudian aku serahkan kepada orang lain untuk
menyelesaikannya”.
“Apakah pantas jika kami hanya menjadi penonton saja?”.
“Bukankah tidak ada yang aku lakukan pula di halaman itu,
selain hanya menjadi penonton? siaga saja agar tetap terhubung satu sama lain,
sembari kita lihat perkembangan yang ada disini”.
Halaman 3 - 4
“Baiklah kalau begitu, Nyi”.
“Nanti jika kami membutuhkan bantuan kalian, kami akan segera
memberikan isyarat kepada kalian untuk meminta bantuan”.
“Baik Nyi, kami akan selalu berusaha bersiap kapanpun Nyi
Pandan Wangi memberikan perintah”.
“Terima kasih, Ki Agahan. Jika tidak ada lagi yang ingin kau
sampaikan, aku akan kembali kesana”.
“Sepertinya tidak ada lagi, Nyi. Silahkan, kami akan
memantaunya dari kejauhan”. sahut pemimpin Padepokan Orang Bercambuk itu
sembari dengan sedikit membungkukkan badannya.
Kemudian anak perempuan Swargi Ki Gede Menoreh itu pun segera
beranjak dari tempat itu, lalu segera bergegas kembali untuk bergabung
dengan rombongannya yang berada di halaman rumah Ki Demang Ngares.
“Ada apa, Mbokayu?”. bertanya Nyi Sekar Mirah lirih, setelah
melihat ibu Sekar Wangi telah berdiri di sebelahnya.
“Ki Agahan ingin meminta masalah ini biar diselesaikannya
bersama para cantrik, dan kita dipersilahkan untuk melanjutkan perjalanan”.
“Lalu apa jawab Mbokayu?”.
“Aku menolaknya, dan aku katakan kepadanya. Bahwa tidak
sepantasnya jika masalah ini kita yang mulai, lalu kita limpahkan kepada orang
lain”.
“Aku sependapat, karena kita yang memulainya, maka kita pula
yang harus menyelesaikannya. Kecuali jika dalam keadaan tertentu saja kita akan
melimpahkannya kepada orang lain.
“Demikian pula pendapatku”. sahut Nyi Pandan Wangi yang
semakin memusatkan perhatiannya terhadap pertempuran yang semakin mendebarkan
jantung yang ada di hadapannya.
Sementara di gelanggang pertarungan Ki Demang Ngares yang
tidak ingin dipermalukan di hadapan para kawulanya, segera meningkatkan tataran
kemampuannya semakin tinggi lagi ketika tidak dapat segera menembus pertahanan
lawannya yang terasa masih sedemikian rapatnya.
Tataran demi tataran dari apa yang ditunjukkannya membuat
lawannya semakin mengerti bahwa jalur ilmu yang pernah disadapnya itu sangat
tidak asing baginya.
Namun lawannya pun menyadari bahwa ilmu itu kemudian sudah
tidak murni lagi karena telah tercampur dengan jalur ilmu lain yang belum
dikenalnya.
Sehingga ketika terjadi benturan demi benturan yang semakin
sengit pada tataran yang sangat tinggi, pada saat ada kesempatan Nyi Rara Wulan
mencoba mengambil jarak yang cukup dari lawannya untuk menilai keadaan.
Setelah menyerang lawannya dengan serangan membadai, lalu
sejenak kemudian dia dengan lompatan panjang beberapa langkah ke belakang
berusaha menjauh dari lawannya.
Ki Demang Ngares yang sudah bersiap akan memburu lawannya
segera diurungkannya ketika mendengar peringatan dari lawannya yang datang
tiba-tiba.
“Tunggu Ki Demang”.
“Apakah kau akan menyerah?”. sahut Ki Demang dengan senyum
tipis namun sinis.
“Apa menurutmu semudah itu aku akan menyerah?”.
“Lalu untuk apa lagi kau menghentikan pertarungan ini jika
tidak berniat untuk menyerah?”.
“Sejak kita mengawali pertarungan, aku melihat kau telah
menggunakan sebuah jalur ilmu yang sangat aku kenal, meski sudah tidak murni
lagi. Dari mana kau sadap ilmumu itu?”.
Halaman 5 - 6
“Ya tentu saja dari guruku”.
“Apa hubunganmu dengan Perguruan Kedung Jati?”.
“Apa yang kau tahu tentang Perguruan Kedung Jati? tentu yang
kau tahu hanya sekedar ceritanya saja bahwa dulu perguruan itu adalah salah
satu perguruan yang sangat dihormati, meski aku lihat jalur ilmumu pun
menunjukkan bahwa kau pernah menyadapnya yang entah dari siapa?”.
“Aku menyadap jalur ilmu Perguruan Kedung Jati dari guruku
sebagai pewarisnya yang sah”.
“Omong kosong, kau jangan membodohiku dengan cerita
ngayawaramu itu. Kau kira aku adalah anak kecil yang mudah kau bohongi dengan
ceritamu itu? dengarlah, Nyi Sanak! aku tahu dengan pasti sejarah panjang
Perguruan Kedung Jati”.
“Terserah apa katamu, tetapi aku sudah mengatakan yang
sebenarnya. Lalu siapakah gurumu?”.
“Guruku adalah orang yang telah memiliki nama besar di dunia
kanuragan, tetapi jika dilihat dari umurmu yang sekarang, tentu orang sepertimu
tidak akan mengenalnya meski aku sebutkan namanya sekalipun”.
“Sebut saja, barangkali setidaknya aku pernah mendengar
namanya dari guruku”.
“Guruku memang tidak memiliki jalur pewaris yang sah secara
langsung, tetapi guruku menyadap ilmu Perguruan Kedung Jati dari pewarisnya
yang sah ketika guruku sedang sama-sama nyantrik di tempat kakek guruku,
makanya ketika ilmu itu turun kepadaku menjadi sudah tidak murni lagi”.
Nyi Rara Wulan dan kawan-kawannya mendengarkan cerita itu
dengan seksama, sembari mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi di masa
lampau.
“Lalu… siapa nama gurumu itu?”.
“Kyai Girimaya”.
“Kyai Girimaya?”. desis Nyi Rara Wulan, sembari tanpa sadarnya
menoleh ke arah gurunya yang berdiri di samping kanannya.
Namun Nyi Sekar Mirah hanya dapat menanggapi dengan
menggelengkan kepala perlahan serta dengan kerut di kening yang tiba-tiba
membayang.
“Benar… guruku bernama Kyai Girimaya”.
“Sejauh ingatanku, aku belum pernah mendengar namanya”.
“Tentu saja, kau tidak akan mengenalnya. Memangnya kau siapa
diantara para raksasa kanuragan? sehingga kau merasa sudah mengenal mereka
semua?”.
Kata-kata itu benar-benar menghujam ke pusat jantung yang
paling dalam ibu Arya Nakula, namun dirinya tidak mau terlarut ke dalam
perasaannya sendiri.
“Lalu siapa orang yang kau sebut tadi adalah pewaris yang sah
dari jalur ilmu Perguruan Kedung Jati?”.
“Kini orangnya memang telah tiada, namun nama besarnya tidak
akan pernah hilang dimakan waktu, dia adalah Ki Saba Lintang”.
Bagaikan disengat ribuan tawon yang sedang mengamuk, Nyi Rara
Wulan, Nyi Sekar Mirah, dan Nyi Pandan Wangi benar-benar terkejut mendengar
nama terakhir yang telah disebutkan.
Bukan karena ketiganya itu menjadi ketakutan, tetapi karena
ketiganya telah mengalami beberapa kejadian yang berhubungan dengan orang
tersebut, terutama bagi Nyi Sekar Mirah sebagai orang yang berhasil
mengalahkannya dalam sebuah perang tanding.
Perubahan sikap yang terjadi kepada lawannya tersebut tidak
luput dari perhatian Ki Demang Ngares, yang kemudian membuat sebuah kesimpulan.
Namun sebuah kesimpulan yang hanya sekedar berdasarkan penilaiannya secara
pribadi.
Halaman 7 - 8
“Guruku dan Ki Saba Lintang menjadi saudara seperguruan sejak
Ki Saba Lintang itu sendiri datang kepada kakek guru dan memintanya agar mau
mengangkatnya menjadi muridnya”. lanjut Ki Demang Ngares yang semakin percaya
diri bahwa ceritanya telah membuat lawannya menjadi mulai ketakutan.
Nyi Rara Wulan dan kawan-kawannya tidak pernah menduga
sebelumnya bahwa dalam perjalanannya kali ini mereka telah menemukan kenyataan
bahwa ternyata masih ada sisa-sisa masa lalu yang kembali terkuak.
“Dan guruku adalah kakak seperguruan dari Ki Saba Lintang,
baik secara silsilah perguruan maupun secara tataran kemampuan yang mereka
miliki”.
Ki Demang Ngares memang sengaja menceritakan hal itu dengan
tujuan agar lawannya menjadi berpikir ulang untuk melanjutkan pertarungan, atau
bahkan mereka akan menyerah tanpa harus dirinya bersusah payah bertempur lebih
dahulu.
Namun pertanyaan yang kemudian terlontar justru sangat
mengejutkan Ki Demang Ngares, yang tidak pernah menduga bahwa pertanyaan itu
akan muncul dari mulut lawannya.
“Apakah kau sudah mendengar pula tentang cerita tentang Ki
Saba Lintang di akhir hayatnya?”.
“Ki Saba Lintang telah gugur sebagai seorang pemimpin besar
Perguruan Kedung Jati, dalam sebuah perang tanding pada saat terjadi perang
antara Demak dan Mataram”.
“Apakah kau tahu siapakah yang menjadi lawannya?”.
Ki Demang Ngares yang mengetahui dengan pasti cerita itu mulai
merasakan kegetiran yang mendalam, sebab orang yang telah dieluk-elukkan
sebagai seorang pemimpin besar harus gugur ketika berperang tanding melawan
seorang perempuan.
“Kenapa kau menjadi terdiam, Ki Demang?”.
“Tentu saja aku tahu lawannya, kenapa kau bertanya demikian?”.
“Jika kau memang mengetahuinya, siapakah lawan perang tanding
Ki Saba Lintang itu?”.
“Jika aku mengatakannya pun percuma saja, karena kau tentu
tidak akan mengetahui orang itu, sebab dia adalah orang yang jarang sekali
muncul diantara orang-orang yang berilmu tinggi”.
“Kenapa kau dapat memastikan demikian?”.
“Sebab dia hanyalah seorang perempuan”.
“Memangnya kenapa jika yang menjadi lawan Ki Saba Lintang itu
seorang perempuan? dan apa salahnya jika yang mampu mengalahkan Ki Saba Lintang
itu adalah seorang perempuan?”.
Pertanyaan
lawannya itu semakin menambah kegetiran hatinya yang harus menerima kenyataan
bahwa, cerita yang tadi sempat dipergunakannya dengan maksud untuk
menakut-nakuti lawannya tetapi justru kini menjadi seperti senjata makan
tuannya sendiri.
Karena
ternyata lawannya kali ini tidak dapat dengan mudahnya untuk ditakut-takuti
dengan cerita pertarungan yang garang dan nggegirisi di masa lampau tersebut.
Tiba-tiba
tenggorokannya terasa menjadi kelu untuk mengucapkan suatu kenyataan, apalagi
sebuah kenyataan yang terasa sangat pahit dan menyakitkan baginya.
“Sebelum
aku menjawab pertanyaanmu, siapa kau sebenarnya? siapa namamu dan siapa pula
kawan-kawanmu itu?’. berkata Ki Demang Ngares yang mencoba mengalihkan
pembicaraan guna mengusir kegetiran hatinya meski hanya sejenak.
“Aku Wulan,
dan kami adalah enam perempuan pengembara yang kebetulan sedang melintas di
tempat ini. Pada awalnya kami hanya berniat sekedar melintas saja dan sama
sekali tidak berniat mengusikmu, tetapi orang-orang upahanmu lah yang mulai
lebih dulu sehingga kami putuskan untuk menyelesaikan masalah ini”.
Halaman 9 - 10
Mendengar
jawaban itu Ki Demang Ngares kemudian memandang ke arah enam perempuan di
hadapannya tersebut dengan seksama secara bergantian.
Perempuan
yang berjumlah enam orang dengan kesemuanya mengenakan pakaian khusus, memang
mungkin ada benarnya jika mereka adalah para pengembara.
Namun dari
tatapan matanya yang tajam sepertinya telah menyiratkan keraguan, sebab selama
ini dirinya belum pernah mendengar atau bahkan melihat sendiri bahwa ada
pengembara sebanyak itu dan kesemuanya adalah perempuan.
Namun
sebelum demang muda itu menanggapi…
“Aku tidak
memaksa kau untuk percaya, karena percaya atau tidak itu adalah urusanmu, bukan
urusanku. Tetapi yang jelas aku sudah mengatakan yang sebenarnya”.
“Ya… kau
benar”.
“Apakah
sekarang aku sudah dapat mendengar jawaban dari pertanyaanku tadi?”.
“Setelah
aku perhatikan, sepertinya kau banyak tahu tentang cerita itu. Dan apa
hubunganmu dengan cerita itu?”. sahut Ki Demang yang justru balik bertanya.
“Kau tidak
usah berputar-putar, Ki Demang. Jawab dulu pertanyaanku tadi, baru kemudian aku
akan jawab pertanyaanmu”.
“Pada saat
itu Ki Saba Lintang dikalahkan oleh Nyi Lurah Agung Sedayu, atau yang lebih
dikenal pula dengan nama Sekar Mirah. Orang yang mengaku sebagai pewaris yang
sah pemimpin tertinggi Perguruan Kedung Jati”.
“Apakah kau
yakin jika Nyi Lurah Agung Sedayu hanyalah sekedar mengaku-aku sebagai pewaris
yang sah sebagai pemimpin Perguruan Kedung Jati?”.
“Jika dia
tidak mengaku-aku sebagai pewaris yang sah, lalu dari manakah dia mendapatkan
semua itu? secara penalaran wajar, itu sangat mustahil, apalagi dia tidak lebih
dari seorang perempuan”.
“Memang
sulit dipercaya, tetapi bukan berarti mustahil bukan?”.
Mendapat
pertanyaan yang semakin menyudutkannya, membuat Ki Demang Ngares merasa semakin
kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Karena biar
bagaimanapun, meski dirinya belum pernah mengenalnya secara pribadi namun
paling tidak telah mendengar cerita tentang orang yang pada saat itu dikenal
dengan nama Nyi Lurah Agung Sedayu serba sedikit.
Nyi Rara
Wulan yang melihat lawannya masih saja terdiam setelah beberapa saat, menjadi
semakin tertarik untuk terus mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin
mengganggu penalarannya.
“Apakah kau
pernah mengenalnya?”. berkata Nyi Rara Wulan sembari melirik ke arah gurunya
yang kebetulan sedang berdiri beberapa langkah di sebelah kanannya.
Nyi Sekar Mirah yang merasa namanya disinggung, segera memberikan isyarat kepada muridnya itu untuk tidak membuka jati dirinya di halaman rumah tersebut.
Namun sepertinya ibu Arya Nakula yang merasa sudah terlanjur memulai membicarakan hal itu sudah tidak dapat dicegah lagi untuk melanjutkan kata-katanya.
Halaman 11-12
Ki Demang
yang melihat kejadian itu, tanpa sadar ikut melirik pula ke arah yang sama
dengan apa yang dilakukan oleh anak perempuan Ki Purbarumeksa tersebut dengan
penuh tanda tanya.
“Belum. Apa
maksudmu bertanya demikian?”.
“Ketahuilah…
bahwa orang yang telah mengalahkan Ki Saba Lintang dalam perang tanding adalah
guruku itu, yang memang pewaris yang sah dan bukan sekedar hanya mengaku-aku
tanpa dasar sebagai salah satu pemimpin Perguruan Kedung Jati”. sahut Nyi Rara
Wulan sembari menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah yang dimaksud.
“Omong
kosong, mana mungkin? semakin lama omonganmu semakin ngayawara seperti orang
yang sedang mabuk kecubung. Kau kira aku anak kemarin sore yang dapat kau
bohongi begitu saja, he ?”. sahut Ki Demang dengan suara setengah berteriak.
“Kita akan
sama-sama melihat, siapakah diantara kita yang sebenarnya sedang mabuk
kecubung”. sahut Nyi Rara Wulan yang tidak mau kalah.
“Memangnya
apa yang akan kau lakukan?”. sahut Ki Demang Ngares yang penuh dengan tanda
tanya.
“Mbokayu,
tolong tunjukkan kepada Ki Demang bahwa memang Mbokayu lah pewaris yang sah
sebagai salah satu pemimpin dari Perguruan Kedung Jati”.
Ki Demang
yang mendengar hal itu keningnya menjadi semakin berkerut sembari dengan penuh
tanda tanya, apa yang sebenarnya akan mereka lakukan.
Sementara
Nyi Sekar Mirah yang tidak ingin mengecewakan muridnya tersebut segera membuka
selongsong yang berada di punggungnya, lalu menarik isinya. Maka dengan segera
terlihatlah Tongkat Baja Putih yang ceritanya begitu melegenda selama ini di
tanah tempat mereka berpijak.
Mata Ki
Demang Ngares tiba-tiba membelalak seraya mulutnya ternganga karena saking
terkejutnya dengan apa yang sedang dilihatnya tersebut.
“Apakah kau
masih meragukannya, Ki Demang?”.
“Bohong!
tidak mungkin! tentu itu hanyalah Tongkat Baja Putih tiruan yang sengaja kalian
buat untuk menakut-nakuti lawan karena nama besarnya”.
“Sekarang
terserah apa katamu, percaya dan tidaknya adalah urusanmu dan bukan urusanku.
Tetapi yang sekarang menjadi urusanku adalah segera menghentikan segala pokalmu
yang telah banyak menyengsarakan sesama”. sahut Nyi Rara Wulan yang sudah tidak
ingin memperpanjang pembicaraan tersebut.
“Jika itu
memang asli, tunjukkan kepadaku”.
“Itu adalah
senjata guruku, bukan senjataku”. sahut ibu Arya Nakula yang tanggap akan maksud
lawannya.
“Biarlah
gurumu yang menggantikan kedudukanmu”.
“Urusan
kita belum selesai, Ki Demang. Jadi tidak semudah itu kau dapat menantang
guruku, kau boleh menantang guruku jika aku sudah menyerah”.
“Persetan…
kesombonganmu benar-benar sudah sundul langit, Nyi Sanak. Aku akan segera
menyelesaikanmu agar dapat segera melawan gurumu itu”.
Selesai
berkata demikian, Ki Demang segera memberikan sebuah isyarat kepada salah satu
pembantunya. Sejenak kemudian, pembantunya pun segera menyerahkan sebuah pedang
yang terlihat agak tipis dan lentur serta berukuran sedikit lebih panjang.
Jika
dilihat dari wujudnya, itu sepertinya bukan seperti pedang kebanyakan. Tentu
itu dari bahan pilihan dan dibuat secara khusus.
Halaman 13-14
“Pinjamlah
senjata gurumu itu jika kau tidak membawa senjata, agar aku tidak dianggap
licik melawan orang yang tidak bersenjata dengan menggunakan senjata, apalagi
kau hanyalah seorang perempuan”. ucap Ki Demang setelah di tangan kanannya
memegang senjata andalannya.
Nyi Rara
Wulan yang melihat lawannya telah bersenjata, tidak mau terjerumus kedalam
kesulitan karena kesombongannya sendiri, maka dirinya pun segera mengurai
senjata andalannya.
Namun
sebelum dirinya benar-benar mengurai selendang yang hampir selalu dikaitkan
pada tubuhnya tersebut, tiba-tiba saja ada suara yang memanggilnya.
“Wulan”.
Sontak saja
ibu Arya Nakula itu segera menoleh ke arah sumber suara yang memanggil, dan
sebuah pemandangan yang tidak pernah diduga sebelumnya telah terjadi begitu
cepatnya.
“Gunakanlah
ini”. ucap Nyi Sekar Mirah sembari melemparkan Tongkat Baja Putihnya ke arah
muridnya.
“Tapi,
Mbokayu…”. sahut Nyi Rara Wulan sembari menangkap tongkat gurunya yang
dilemparkannya tersebut.
“Sudahlah,
gunakanlah dengan sebaik-baiknya”.
“Beruntunglah
Ki Demang, guruku telah berbaik hati bersedia meminjamkannya senjatanya
kepadaku. Meskipun aku tidak akan sebaik guruku ketika menggunakannya tetapi
semoga saja aku tidak akan mengecewakannya”.
“Sedari
tadi kau sudah terlalu banyak bicara, Nyi Sanak. Sebaiknya kita segera
selesaikan urusan kita, agar aku dapat segera menyelesaikan pula yang lain”.
“Kau jangan
sombong, Ki Demang. Jika kau berhasil mengalahkan aku, maka masih ada guruku
yang akan dengan sigap menghadangmu”.
“Persetan,
bersiaplah!”.
Selesai
berkata demikian, Ki Demang pun segera menyerang lawannya dengan pedangnya yang
terjulur lurus mengarah ke dada dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Ki Demang
Ngares memang merasa sudah tidak perlu lagi adanya serangan penjajagan, sebab
keduanya sedikit banyak telah mengetahui kemampuan lawan masing-masing.
Dengan
sigapnya Nyi Rara Wulan melintangkan Tongkat Baja Putih, yang dipinjamkan
gurunya sembari memiringkan tubuhnya. Lawannya yang sudah menduga akan hal itu
segera mengirimkan serangan susulan yang tidak kalah berbahayanya.
Kali ini kaki
kirinya mengincar lambung yang terlihat terbuka pertahanannya, dengan gerakan
memutar ibu Arya Nakula berusaha menghindar sekaligus memberikan serangan
balasan dengan menyapu kedua kaki kanan lawannya yang menginjak tanah.
Sejenak
kemudian pertarungan itu kembali berkobar dengan sengitnya, dan untuk beberapa
saat mereka terlihat saling menyerang dan bertahan dengan sama baiknya.
Keduanya
pun segera meningkatkan kemampuan masing-masing setelah beberapa saat tadi
pertarungan mereka sempat berhenti, sehingga tatarannya yang ditrapkan sempat
mengendur beberapa lapis tatarannya.
Ternyata
memang tidak mudah untuk dapat mengalahkan perempuan yang tiba-tiba ke
kademangannya tersebut, sehingga Ki Demang Ngares harus berpikir keras
bagaimana agar dapat segera mengalahkan lawannya.
Halaman 15-16
Dan sesuatu
yang tidak pernah diduga sebelumnya pun tiba-tiba terjadi dengan demikian
cepatnya, sehingga tidak ada waktu lagi untuk menilai keadaan.
Karena
sebenarnya yang terjadi adalah Ki Demang mengambil sesuatu dari balik kantungnya
yang tergantung di lambung kirinya, lalu melemparkan kepada lawannya.
Terlihat
ada dua benda aneh yang melesat di udara dengan kecepatan tinggi ke arah
sasarannya, namun Nyi Rara Wulan masih sempat berkelit untuk menghindari yang
satu, sementara yang satu lagi terpaksa dipukul dengan tongkatnya.
Ternyata
itu adalah senjata rahasia yang hidup, yaitu ular Bandotan jantan yang terkenal
dengan bisanya yang sangat mematikan jika terkena gigitannya.
Sontak saja
Nyi Rara Wulan segera memukul kepala ular yang sudah jatuh ke atas tanah
tersebut hingga remuk dan mati, agar tidak membahayakan yang lain.
Bersamaan
dengan itu, tiba-tiba mereka yang berada di tempat itu dikejutkan oleh suara
teriakan dari salah satu orang upahan Ki Demang Ngares yang tadi berdiri di belakang
garis serangan.
“Aaa…”.
Sontak saja
hal itu menarik perhatian semua orang yang hadir di halaman rumah itu, karena
ternyata orang upahan itu telah menjadi korban gigitan senjata rahasia yang
hidup tersebut.
“Kalian
memang terlalu dungu!”. geram Ki Demang. Lalu lanjutnya, “kenapa kalian berdiri
disitu? apa kalian sudah bosan hidup, he?”.
Orang
upahan itu mengerang kesakitan setelah mendapat gigitan dari ular Bandotan
jantan, yang menjadi senjata rahasia majikannya tersebut.
Sementara
kawan-kawannya lalu mengerumuninya dan berusaha menolong, namun sejenak
kemudian mereka kebingungan sendiri dengan apa yang harus mereka lakukan untuk
menolong.
Sebab
mereka sendiri tidak memiliki kemampuan tentang kawruh pengobatan, terutama
untuk menolong orang yang digigit ular bandotan yang bisanya terkenal sangat
ganas.
“Percuma
saja kalian menolongnya, karena bisa ular Bandotan jantan itu akan dapat
membunuh lebih cepat dari waktu yang kalian butuhkan untuk menolongnya”. ucap
Ki Demang yang kecewa kepada para orang upahannya yang dianggap terlalu dungu.
Raut
wajah-wajah kebingungan dari orang-orang upahan itu mendengar keterangan
tersebut, namun memang tidak ada lagi yang dapat mereka lakukan untuk menolong.
Semuanya
akan menjadi sia-sia saja karena terlambat, sebab tidak lama kemudian orang
yang tergigit ular bandotan itu segera melemah dengan begitu cepatnya.
Sementara
tanpa banyak disadari banyak orang, Nyi Rara Wulan yang ikut menyaksikan
kejadian tersebut sempat begidik ngeri, lalu segera menelan obat penawar racun
yang telah dibawanya dalam bumbung kecil.
Dan dirinya
merasa beruntung bahwa sebelum kejadian mengenaskan menimpanya, kebetulan
dirinya telah membawa bekal obat yang dibutuhkan.
“Rawatlah
kawan kalian itu sebagaimana mestinya, dan menyingkirlah dari sini, agar tidak
jatuh korban berikutnya”. berkata Ki Demang kepada anak buahnya.
Orang-orang
upahan itupun segera membawa kawannya yang sudah tidak bernyawa itu untuk
menyingkir dari pertarungan dua orang yang berilmu tinggi.
Halaman 17-18
Sembari
mulai meninggalkan halaman rumah itu, tanpa sadar mereka pun begidik ngeri
ketika membayangkan jika hal itu menimpa diri mereka, karena biar bagaimanapun
mereka tidak ingin mengalami nasib buruk tersebut.
Meski
mereka tidak dapat ingkar, bahwa hal itu adalah akibat yang wajar dari
pekerjaan kasar yang dilakukan, namun mereka tidak melihat ada pilihan yang
lebih baik.
“Jika kau menjadi
ketakutan setelah melihat kejadian itu, menyerahlah, Nyi Sanak. Agar kau tidak
mengalami nasib serupa”. sahut Ki Demang memperingatkan.
“Terima
kasih atas peringatanmu, tetapi bukankah bukan kau yang menentukan nasib
seseorang? ada yang memiliki kuasa atas itu, yaitu Yang Maha Agung?”.
“Sudahlah,
Nyi Sanak. Kau tidak usah berbicara ngayawara, sekarang yang paling penting
adalah pikirkan saja nasibmu yang sudah diujung tanduk. Bersiaplah”. sahut Ki
Demang yang ingin segera menyelesaikan pertarungan.
Selesai
berkata demikian, Ki Demang segera menyerang kembali lawannya dengan pedang di
tangannya dengan serangan yang cepat dan membadai.
Nyi Rara
Wulan yang agak terlambat menanggapi keadaan, pada awalnya sempat terdesak
beberapa saat. Namun beruntunglah bahwa dia adalah orang yang sangat
berpengalaman dalam pertarungan yang bagaimanapun garangnya.
Sehingga
tidak menjadi gugup ketika mendapati keadaan yang demikian, meski juga belum
terbiasa dengan senjata yang kini berada di tangannya.
Namun
sebagai orang yang berilmu sangat tinggi, dia mampu menyesuaikan diri dengan
cepat. Hanya pada awal-awal pertarungan saja masih merasa canggung.
Setelah
beberapa saat pertarungan berlangsung, dirinya sudah mulai terbiasa dengan
senjata Tongkat Baja Putih berkepala tengkorak yang sangat mengerikan itu.
Semakin
lama pertarungan menjadi sangat sengit, karena keduanya semakin meningkatkan
kemampuannya masing-masing semakin tinggi.
Sepertinya
keduanya memiliki keinginan yang sama, yaitu sama-sama ingin segera
menyelesaikan pertarungan. Sehingga pertarungan berlangsung semakin cepat dan
keras.
Sesekali
mereka mampu saling menembus pertahanan lawannya yang terbuka, namun sama-sama
membuat mereka mengerutkan kening setelah melihat apa yang terjadi.
Namun
pertarungan tidak berhenti dan masih terus berlangsung dengan sengitnya, bahkan
orang orang yang belum mencapai tataran kemampuan itu seperti sedang melihat
Burung Sikatan yang saling menyambar-nyambar di udara tanpa pernah tahu apa
yang sebenarnya yang sedang terjadi.
Pada akhirnya
Ki Demang mampu menembus pertahanan Nyi Rara Wulan yang kembali terbuka, kali
ini berhasil menggores pundaknya sebelah kiri.
Namun yang
kemudian terjadi adalah terdengar umpatan yang sangat kotor dari mulut Ki
Demang setelah melihat kenyataan bahwa pedangnya hanya mampu menggores pakaian
dan tidak mampu melukai lawannya.
“Dasar
perempuan Iblis”. geram Ki Demang yang tetap melanjutkan pertarungan.
“Kenapa kau
masih saja suka mengumpat?”.
“Kau jangan
berpura-pura, Nyi Sanak. Apa kau kira aku anak kemarin sore yang baru belajar
kanuragan?”.
Halaman 19-20
“Bukankah
sejak tadi pun kau telah melakukannya?”.
“Ya… aku
hanya tidak mengira sejak awal jika kau mampu melakukannya, sehingga hal itu
sempat membuatku terkejut”.
“Salahmu
sendiri, kau terlalu meremehkan lawanmu sehingga kau kehilangan penalaran wajar
atas kemampuan lawanmu yang sebenarnya”. sahut Nyi Rara Wulan sembari melayani
pertarungan yang semakin sengit.
“Kau jangan
terlalu sombong, Nyi Sanak. Kau jangan senang dulu, jangan kau kira aku tidak
mampu menembus ilmu kebalmu itu”. sahut Ki Demang dengan penuh percaya diri.
“Apa kau
kira hanya kau yang mampu menembus ilmu kebal?”.
“Baiklah,
bersiaplah!”.
Selesai
berkata demikian, Ki Demang Ngares segera menyerang lawannya dengan pertarungan
jarak pendek dengan serangan membadai dan sama sekali tidak memberikan
kesempatan, bahkan hanya untuk sekedar menarik nafas.
Namun
ketika lawannya sudah mulai menemukan kedudukannya dengan baik, maka Ki Demang
segera berusaha mengambil jarak beberapa langkah surut dari lawannya.
Sejenak
kemudian Ki Demang itu kembali melompat ke arah lawannya, namun hal yang tidak
pernah diduga oleh semua orang adalah demang itu tiba-tiba menghilang di bawah
sinar matahari yang cukup terik.
“Aji
Panglimunan”. desis Nyi Sekar Mirah tanpa sadarnya.
“Kau benar”.
“Sepertinya
aku terlalu gegabah memberikan kesempatan kepada Rara Wulan untuk melawannya,
Mbokayu”.
“Itu bukan
salahmu, Sekar Mirah. Bukankah sejak awal kita memang sama-sama belum tahu
siapa lawan kita dan seberapa tinggi kemampuannya”.
“Aji Panglimunan
adalah ilmu yang sangat nggegirisi, jika terjadi sesuatu dengan Rara Wulan
tentu akulah orang yang merasa paling bersalah, Mbokayu”.
“Itu bukan
hanya menjadi tanggung jawabmu, tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama, dan
tentu akupun ikut bertanggung jawab pula jika hal itu terjadi”.
“Semoga
Rara Wulan dapat mengatasi lawannya dengan baik”.
“Ya… itu
harapan kita semua, dan sebaiknya kita sama-sama nenuwun kepada Yang Maha Welas
Asih”. sahut Nyi Pandan Wangi yang berusaha menenangkan marunya
tersebut.
Sementara
kawula Kademangan Ngares yang kebetulan menyaksikan pertarungan tersebut dari
tempat persembunyiannya masing-masing menjadi semakin kebingungan dan semakin
tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
“Ternyata
Ki Demang memiliki ilmu Iblis”.
“Kakang
benar, Ki Demang dapat menghilang secara tiba-tiba dari lawannya yang berilmu
sangat tinggi itu”. sahut kawannya yang berada di sebelahnya.
“Pantas
saja selama ini Ki Demang berani berbuat sekehendak hatinya, karena ternyata
dia memiliki kemampuan yang sudah di luar nalar, dan sepertinya harapan kita
akan nasib para kawula Kademangan Ngares ini harus kita singkirkan jauh-jauh”.
“Maksud
Kakang?”.
“Bukankah
tadinya kita memiliki harapan nasib yang lebih baik ketika kademangan ini
kedatangan keenam perempuan itu, tetapi setelah melihat semua itu, sepertinya
harapan itu hanya tinggal menjadi harapan saja bagi kita”.
Halaman 21-22
“Apakah
ilmu Iblis itu tidak terlawan?”.
“Aku tidak
tahu, tetapi bagaimana caranya seseorang dapat bertarung melawan orang yang
tidak dapat dilihat wujudnya?”.
Kawannya
pun menjadi terdiam mendapat jawaban tersebut karena dirinya memang tidak
memiliki bekal kanuragan yang cukup sebagai dasar untuk mengurai masalah
tersebut.
Dan
akhirnya yang dapat mereka lakukan hanyalah menyaksikan pertarungan yang ada di
hadapannya dan menunggu apa yang bakal terjadi kemudian.
Ketiga adik
angkat Nyi Rara Wulan pun tidak dapat menyembunyikan ketegangan dan
kegelisahannya yang sangat setelah melihat apa yang terjadi di arena
pertempuran.
“Ternyata
lawan mbokayu Rara Wulan kali ini bukan orang sembarangan, semoga dia dapat
mengatasinya”. desis Padmini yang pandangan matanya seakan tidak dapat
meninggalkan arena pertempuran barang sekejap pun.
“Tetapi
bagaimana jika…”.
“Kau jangan
berpikiran macam-macam, Baruni”. potong Padmini cepat, sembari tanpa menoleh.
“Maaf
Mbokayu”. sahut Baruni dengan suara perlahan setelah menyadari
keterlanjurannya.
“Kita lihat
dulu saja apa yang terjadi, sebelum membuat pertimbangan apapun. Sembari jangan
lupa kita panjatkan panuwunan kepada Yang Maha Welas Asih bagi keselamatan
mbokayumu”. sahut Nyi Pandan Wangi yang berusaha menengahi pembicaraan ketiga
perempuan yang berdiri di belakangnya.
“Baik Nyi”.
sahut ketiganya hampir berbarengan.
Sejenak
kemudian perhatian kelima perempuan perkasa itu kembali terpusat ke arena
pertarungan yang sedang berlangsung dan kini telah memasuki babak yang semakin
menegangkan pada tataran yang semakin tinggi.
Ketegangan
yang benar-benar membuat jantung seakan mau meledak, terutama bagi rombongan
Nyi Pandan Wangi yang sedang berada di pihak yang kurang menguntungkan.
Apalagi
mereka sadar, bahwa Nyi Rara Wulan tidak memiliki sejenis ilmu yang sama untuk
mengatasinya. Sehingga mereka hanya dapat menerka-nerka saja apa yang bakal
dilakukan untuk melawan Aji Panglimunan.
Sementara
Nyi Rara Wulan yang tidak pernah menduga bahwa lawannya memiliki ilmu yang
sangat nggegirisi itu menjadi sangat terkejut, namun pengalamannya telah
menuntunnya untuk tetap berusaha tenang dan bersikap wajar.
“Gila…”.
ucap Nyi Rara Wulan setelah menyadari lawannya yang tiba-tiba menghilang dari
hadapannya.
Kemudian
dia pun segera menoleh ke kanan-kiri, lalu memutar tubuhnya beberapa kali untuk
lebih memastikan apa yang sebenarnya sedang dilihatnya.
Namun dalam
kesibukannya mencari keberadaan lawannya, tiba-tiba dirinya harus terlempar
beberapa langkah surut ketika mendapat serangan dari arah depan dan tepat
mengenai lambungnya yang terbuka.
“Ah…”.
Terdengar
suara mengaduh tertahan dari mulut anak Ki Purbarumeksa, sembari menjaga keseimbangannya
agar tidak jatuh terlentang di atas tanah yang berdebu.
Halaman 23-24
Namun dalam
pada itu terdengar pula suara tawa yang menyakitkan dari Ki Demang yang masih
bersembunyi dibalik ilmunya yang sangat nggegirisi itu.
Langkah
pertama yang dilakukan Nyi Rara Wulan untuk kesulitannya adalah dengan
meningkatkan ilmu kebalnya hingga ke puncak untuk melindungi tubuhnya dari
serangan-serangan tak terduga yang dapat menyakitinya.
Karena
dalam keadaan yang demikian, tentu sangat mungkin sekali dirinya akan terlambat
menanggapi setiap serangan yang bakal datang untuk menyakitinya.
Dan benar
saja, baru saja mengetrapkan ilmu kebal hingga ke tataran puncak, dirinya telah
mendapatkan serangan yang datang dari arah belakang. Sehingga membuatnya hampir
terjatuh terjerembab di tanah.
Meski dalam
keadaan yang demikian sulit, Nyi Rara Wulan yang memiliki pengalaman yang
sangat luas tidak menjadi gugup atau bahkan kehilangan penalaran yang wajar
dalam menanggapi keadaan tersebut.
Untuk
beberapa saat dirinya memang menjadi bulan-bulanan serangan lawannya yang
berlindung dibalik Aji Panglimunan, bahkan beberapa kali dia menjadi bahan
tertawaan lawannya karena telah menyerang ke tempat kosong atau terlambat dalam
menanggapi keadaan.
Namun
bersamaan itu dirinya pun segera mengetrapkan Aji Sapta Pandulu dan Aji Sapta
Panggrahita hingga ke puncak untuk melacak keberadaan lawannya.
“Sesalilah
nasibmu yang buruk, karena kau telah berani bersikap deksura kepadaku, Nyi
Sanak”.
“Kenapa aku
harus menyesal?”.
“Setan
Alas… selembar nyawamu sudah berada di ujung ubun-ubun saja kau masih berani
menyombongkan diri?’. sahut Ki Demang dengan penuh kegeraman.
“Bukankah
bukan kau yang menentukan nasibku, tetapi Yang Maha Agung lah yang memiliki
kuasa atas itu”.
“Apakah kau
sadar dengan apa yang kau katakan? sekarang nasibmu sudah berada di tanganku,
dan kau tidak akan mungkin mampu menghindar”.
“Jika Yang
Maha Agung masih mengasihiku, tentu tidak akan kekurangan cara untuk
menyelamatkanku dari bahaya yang bagaimanapun juga, bahkan meski ajal sudah mau
menjemputku”.
“Dasar
Iblis Betina, tetapi baiklah. Mungkin itu adalah kata-kata orang yang sudah
berputus asa dengan nasibnya, sehingga sudah kehilangan penalaran yang sehat”.
“Bukankah
kita semua pada akhirnya akan mati pula? yang membedakan hanyalah waktu dan
caranya saja?”.
“Tetapi
kali ini kau akan mati dengan cara yang sangat hina, karena tubuhmu akan
terkapar di tempat ini dengan disaksikan oleh kawan-kawanmu, sebelum mereka
akan menyusulmu menuju ke alam kelanggengan”.
“Tidak
semudah itu kau dapat membunuhku, apalagi guruku”.
“Setan
Alas, Genderuwo, Tetekan… kau benar-benar telah membuat kesabaranku habis.
Bersiaplah!”. sahut Ki Demang yang nampaknya sudah tidak dapat menahan diri
lagi atas kemarahannya terhadap lawannya.
Sejenak
kemudian terdengar deru udara dari arah belakang yang bergerak dengan cepatnya,
dan tiba-tiba punggung ibu Arya Nakula seperti dihantam dengan benda yang
sangat keras, sehingga membuatnya terdorong beberapa langkah ke depan.
Halaman 25-26
Beruntunglah
bahwa dirinya melindungi diri dengan ilmu kebal, sehingga serangan itu meski
sempat mengguncang pertahanan tubuhnya, namun tidak benar-benar menyakitinya.
Dan dalam
keadaan demikian dirinya masih dapat menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak
tersuruk ke tanah berdebu di halaman rumah besar tersebut.
Lalu dengan
cepat dirinya segera memperbaiki kedudukannya untuk menyambut serangan-serangan
berikutnya yang mungkin akan jauh lebih berbahaya.
Nyi Rara
Wulan yang berilmu sangat tinggi kini sebenarnya sudah menjadi lebih mapan
setelah mengetrapkan Aji Sapta Pandulu dan Aji Sapta Panggrahita dan sudah siap
untuk menghadapi segala kemungkinan.
Namun entah
kenapa tidak segera ditunjukkan kepada lawannya bahwa sebenarnya dirinya telah
mampu melacak keberadaan lawannya dengan tepat.
Sepertinya
Nyi Rara Wulan sengaja menyembunyikan hal itu karena memiliki sebuah rencana
yang dianggap paling baik untuk mengatasi lawannya.
Dan benar
saja, ternyata setelah beberapa saat membiarkan tubuhnya menjadi bulan-bulanan
lawannya selama itu tidak membahayakan keselamatannya, telah membuat lawannya
merasa di atas angin dan justru itu kelengahan yang ditunggu.
Nyi Rara
Wulan yang sudah bersiap menggenggam Tongkat Baja Putih dengan kedua tangannya,
dengan sabar menunggu serangan lawannya yang datang dari arah samping.
Serangan
yang demikian cepat dengan balutan Aji Panglimunan itu sepertinya benar-benar
ingin mengakhiri lawannya, karena berusaha mengincar tengkuk dengan dilandasi
tenaga cadangan yang sangat besar karena pada tataran puncak.
Ki Demang
dengan penuh percaya diri akan segera mengakhiri lawannya tersebut setelah
serangannya berhasil mengenai sasaran, meski dia tahu bahwa lawannya berlindung
di balik ilmu kebal.
Namun tanpa
disadari bahwa Nyi Rara Wulan yang telah menggenggam erat tongkatnya dan sedang
menunggu serangan itupun telah mengetrapkan tenaga cadangan hingga ke puncak
untuk menyerang balik lawannya.
Sebab
dirinya sadar, bahwa akan percuma saja jika dirinya menyerang lawannya jika
tidak dengan dilandasi tenaga cadangan hingga ke puncak, karena lawannya pun
berlindung dibalik ilmu kebalnya yang biasa disebut, Aji Lembu Sekilan.
Di saat
serangan Ki Demang yang sangat mematikan itu hampir menemui sasarannya,
tiba-tiba Nyi Rara Wulan berkelit sembari mengirimkan serangan balik.
Tentu saja
hal ini sangat mengejutkan Ki Demang yang tidak pernah menduga sebelumnya,
sehingga dirinya terlambat untuk menanggapi keadaan.
Karena
ternyata Tongkat Baja Putih itu sudah siap menghantam kepalanya, dan inilah
kesalahan yang harus dibayar mahal oleh Ki Demang Ngares.
Kepala
tengkorak dari Tongkat Baja Putih itu menghantam kepala Ki Demang dengan sangat
kerasnya tanpa ada kesempatan lagi untuk menangkis apalagi untuk
menghindarinya.
Tak pelak
terdengarlah suara teriakan yang sangat keras dan melengking karena rasa sakit
setelah dipukul oleh tongkat yang terbuat dari baja pilihan itu.
Bersamaan
dengan itu tubuh Ki Demang seakan melayang karena terdorong oleh tenaga yang
sangat besar dan terjatuh di atas tanah berdebu halaman rumah kebanggaannya.
Halaman 27-28
Dan
seketika itu pula tubuh Ki Demang berangsur-angsur terlihat karena pemusatan
Aji Panglimunan telah terpecah setelah dirinya merasakan kesakitan.
Ternyata
pukulan Tongkat Baja Putih yang dilandasi dengan tenaga cadangan Nyi Rara Wulan
yang berada pada puncaknya telah memberikan akibat yang luar biasa terhadap
lawannya.
Beruntunglah
bahwa Ki Demang Ngares masih berlindung dibalik ilmu kebalnya, jika tidak? maka
akibatnya tentu akan mengerikan sekali bagi dirinya.
Tubuh itu
hanya dapat mengerang kesakitan di atas tanah setelah terlempar karena mendapat
pukulan yang sangat mengerikan dan mematikan tersebut.
Mungkin
jika yang menjadi sasaran itu adalah bagian tubuh yang lain, mungkin akan dapat
berakibat lain. Tetapi ini adalah kepala, yang menjadi bagian terpenting dari
tubuh manusia.
Jika sudah
berhubungan dengan kepala, benturan sekecil apapun dapat berakibat bencana.
Apalagi kali ini benturan dengan dilandasi oleh tenaga cadangan hingga tataran
puncak Nyi Rara Wulan sebagai orang yang berilmu sangat tinggi.
Dan
sepertinya Aji Lembu Sekilan yang dimiliki oleh Ki Demang belum mampu
benar-benar melindungi dirinya dari serangan lawannya yang berilmu sangat
tinggi.
Meski dari
luar sepertinya tidak terlihat luka sama sekali, namun entah apa yang terjadi
dengan bagian dalam kepalanya. Karena setelah tubuh itu terlempar tidak dapat
segera bangkit lagi.
Bahkan
setelah sejenak sempat mengerang kesakitan, Ki Demang menjadi terdiam. Entah
terdiam karena hanya sekedar pingsan atau telah meregang nyawa.
“Mari kita
lihat keadaannya”. ajak Nyi Pandan Wangi.
Dan tidak
lupa, Nyi Pandan Wangi memerintahkan kepada ketiga perempuan muda yang ikut
bersamanya agar tetap berada di tempatnya sembari mengawasi keadaan.
Sebab
dirinya berpendapat, jangan sampai kelengahan sekecil apapun akan menyeret
mereka ke dalam kesulitan. Apalagi sekarang mereka sedang berada di tempat
asing yang belum mereka tahu keadaannya dan orang-orangnya secara keseluruhan.
Kemudian
Nyi Pandan Wangi, Nyi Sekar Mirah, dan Nyi Rara Wulan segera mendekati tubuh
yang terbaring di atas tanah itu untuk melihat keadaannya.
“Sepertinya
dia hanya pingsan”. ucap ibu Bayu Swandana memberikan keterangan setelah
memeriksa.
“Lalu apa
yang akan kita lakukan, Mbokayu?”. bertanya ibu Arya Nakula meminta pendapat.
“Menurut
pendapatku, yang jelas kita tidak dapat membiarkan dia tetap disini, setelah
sadar Ki Demang harus mempertanggung jawabkan segala perbuatannya yang telah
melanggar paugeran selama ini”.
“Apakah
kita akan membawanya?”.
“Aku rasa
kita sudah kehilangan banyak waktu di tempat ini, jadi sebaiknya kita harus
dapat segera membereskannya. Tetapi tentu saja kita tidak mungkin membawanya
dalam kita menjalankan tugas. Biar bagaimanapun kita sedang mengemban tugas
yang tidak dapat kita anggap enteng”.
“Apakah
kita akan meninggalkannya disini?”.
“Tentu
tidak, Rara Wulan. Itu akan sangat membahayakan para kawula Kademangan Ngares
ini. Mereka akan dapat menjadi korban pelampiasan Ki Demang yang gagal
mengalahkan kita”.
Halaman 29-30
“Lalu apa
pendapat, Mbokayu Pandan Wangi?”.
“Sebaiknya
kita kumpulkan orang-orang yang ada, lalu kita membuat hubungan dengan Prajurit
Mataram. Biarlah Ki Demang mempertanggung jawabkan perbuatannya di Mataram”.
“Baiklah,
aku sependapat”.
Kemudian
Nyi Pandan Wangi memerintahkan salah satu dari orang upahan Ki Demang untuk
mencari tali, untuk mengikat Ki Demang jika nanti sudah tersadar.
Lalu mereka
berusaha menyadarkan Ki Demang dari pingsannya, dan tak lama kemudian orang
itupun mulai bergerak perlahan setelah menemukan kesadarannya.
Tanpa
menunggu lebih lama lagi, mereka segera mendudukkan Ki Demang, lalu mengikat
kedua tangannya di belakang layaknya seorang tawanan.
“Kalian
siapa? apa yang kalian lakukan? kenapa tanganku harus diikat?”. ucap Ki Demang
yang berusaha meronta.
Pertanyaan
bertubi-tubi dari Ki Demang itu membuat ketiganya menjadi saling pandang
sejenak, sebelum kembali melanjutkan pertanyaan-pertanyaan berikutnya.
“Apakah kau
tidak mengenal kami?”.
“Memangnya
kalian siapa?”. sahut Ki Demang yang dari raut wajahnya nampak kebingungan
sembari memandang ke arah ketiganya secara bergantian.
“Tidak
penting siapa kami, karena yang paling penting adalah kau harus mempertanggung
jawabkan perbuatanmu”. sahut Nyi Pandan Wangi dengan suara yang terdengar
tegas.
“Memangnya
apa salahku?”. sahut Ki Demang yang kebingungan.
Kata-kata yang
keluar dari mulut Ki Demang Ngares semakin membuat ketiga perempuan itu merasa
janggal, sehingga membuat mereka menjadi saling pandang.
Namun
mereka masih dapat menahan diri untuk tidak membicarakannya di depan orangnya,
meski tanpa harus berjanji sebelumnya.
Setelah
mereka selesai mengikat Ki Demang Ngares dan mengumpulkan semua orang yang
berada di tempat itu, termasuk para pembantu di rumah Ki Demang, maka mereka
segera agak menyingkir untuk membicarakan langkah selanjutnya.
“Sepertinya
telah terjadi sesuatu dengan Ki Demang”. berkata Nyi Sekar Mirah mengawali
pembicaraan.
“Sepertinya
kau telah memukul kepala Ki Demang terlalu keras, Rara Wulan. Sehingga telah
membuat ingatannya terganggu”. ucap Nyi Pandan Wangi menimpali.
“Sepertinya
demikian, Mbokayu”.
“Beruntunglah
bahwa pada saat terjadi benturan dia masih terlindungi oleh ilmu kebalnya. Jika
tidak, maka sudah barang tentu dia akan mengalami nasib yang sangat buruk”.
“Justru
karena dia berlindung dengan ilmu kebalnya, maka aku menghantam kepalanya dengan
landasan tenaga cadangan hingga ke puncak, Mbokayu”.
“Dan
ternyata landasan ilmu puncakmu itu telah berhasil menembus ilmu kebalnya,
sehingga benturan di kepalanya itu telah mengguncang isi kepalanya, sehingga
sekarang telah membuat ingatannya telah terganggu”.
“Lalu apa
yang harus kita lakukan selanjutnya menurut mbokayu berdua?”. sahut Nyi Rara
Wulan, lalu memandang ke arah keduanya secara bergantian.
Halaman 31 – 32
“Yang jelas kita tidak dapat meninggalkan Ki Demang begitu
saja disini, meski sekarang dia telah kehilangan ingatannya. Tetapi biar
bagaimanapun kita harus menyelesaikan masalah ini hingga tuntas dengan segala
pertimbangan, bahkan hingga kemungkinan paling buruk sekalipun”.
“Aku sependapat, meski keadaan Ki Demang sekarang seperti itu,
tetapi biar bagaimanapun dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya selama
ini. Meski dengan cara yang khusus, mengingat keadaannya yang sekarang. Tetapi
apapun itu, biarlah Mataram yang memutuskan”.
“Ya… aku rasa itu adalah cara yang paling baik yang dapat kita
lakukan, biarlah Mataram yang memutuskan hukuman apa yang paling pantas
baginya”. sahut Nyi Pandan Wangi.
“Sebaiknya kita segera membuat hubungan dengan Prajurit
Mataram yang bertugas di daerah ini, agar kita tidak semakin kehilangan banyak
waktu”.
“Kau benar, Sekar Mirah. Sebaiknya kita memang jangan banyak
membuang-buang waktu, tugas utama kita telah menunggu”. sahut Nyi Pandan wangi
mengakhiri pembicaraan.
Sementara teriknya sinar matahari semakin menyengat kulit di
saat menjelang puncaknya di halaman rumah Ki Demang Ngares yang cukup luas.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya apa yang mereka
tunggu datang pula, yaitu beberapa orang Prajurit Mataram yang siap
membawa Ki Demang Ngares ke Mataram untuk dimintai pertanggung jawabannya.
“Aku minta maaf jika telah mengganggu tugasmu, Ki Lurah”.
“Tidak apa-apa, Nyi Sanak. Ini memang sudah menjadi tugasku,
tetapi jika aku boleh tahu, siapakah sebenarnya Nyi Sanak ini yang mengetahui
tata cara keprajuritan”.
Mendapat pertanyaan tersebut Nyi Pandan Wangi segera
memberikan isyarat kepada Nyi Rara Wulan untuk menjawab dan memberikan sedikit
penjelasan.
Nyi Rara Wulan yang tanggap pun segera menjawab.
“Aku adalah Rara Wulan, istri Ki Lurah Glagah Putih dari
Kesatuan Pasukan Sandi. Kebetulan kami telah menangkap basah sendiri kejahatan
Ki Demang Ngares, dan kami pikir Mataram lah yang lebih pantas mengadilinya”.
“Ki Lurah Glagah Putih? adik sepupu Ki Agung Sedayu itu kah?”.
“Ya… kau benar, Ki Lurah”.
“Sebenarnya kami tidak ingin merepotkan kalian, tetapi kami
sendiri tidak memiliki banyak waktu untuk mengurusnya, sebab kami sendiri
sedang mengemban tugas dari Ki Patih Singaranu”. sahut Nyi Pandan Wangi.
“Tugas dari Ki Patih Singaranu?”. sahut Ki Lurah itu sangat
terkejut, mendapat keterangan tersebut.
“Demikianlah, Ki Lurah. Jika kau tidak percaya kepada kami,
sampaikan saja salam hormat kami kepada Ki Patih jika kau telah menghadap di
Kepatihan”. sahut Nyi Pandan Wangi yang tidak ingin berbelit-belit.
“Ba.. baik, Nyi. Aku percaya”.
“Terima kasih, Ki Lurah. Setelah kami serahkan Ki Demang
Ngares kepadamu, maka kami sekaligus pamit undur diri untuk melanjutkan tugas
agar kami tidak semakin kehilangan waktu”.
Halaman
33 - 34
“Baiklah, Nyi. Silahkan kalian lanjutkan perjalanan, agar
kalian tidak semakin kehilangan waktu dalam mengemban tugas. Biarlah untuk
selanjutnya aku yang akan mengurus Ki Demang bersama kawan-kawanku”.
Tetapi sebelum Nyi Pandan Wangi dan rombongan benar-benar
meninggalkan tempat itu, dia lebih dulu memberikan keterangan yang diperlukan
kepada Prajurit Mataram yang berpangkat lurah tersebut tentang siapa Ki Demang
dan seberapa tinggi kemampuannya, serta keadaannya yang sekarang.
“Terima kasih atas keterangan, Nyi Sanak. Keterangan itu
sangat berarti sekali bagi kami, dan semoga perjalanan kami menuju Mataram
tidak menemui hambatan yang berarti”.
“Kami mengucapkan terima kasih pula kepada Ki Lurah, atas
kesediaan Ki Lurah memenuhi permintaan kami”.
“Oh… ini memang sudah menjadi kewajibanku, Nyi”.
“Tetapi tetap saja kami perlu mengucapkan terima kasih, dan
sekaligus pamit undur diri, agar kami tidak menjadi semakin terlambat dalam
menjalankan tugas”.
“Baik Nyi, semoga perjalanan Nyi Sanak semua tidak akan
terhambat lagi sampai ke tempat tujuan”. sahut Ki Lurah itu sembari sedikit
membungkukkan tubuhnya.
Sejenak kemudian keenam perempuan itu mulai meninggalkan
halaman rumah itu dengan perasaan lega dan tanpa beban lagi, sebab kini
masalahnya telah tuntas.
Matahari yang telah mencapai puncaknya memang terasa sangat
menyengat kulit, namun tidak menjadi alasan bagi mereka untuk menunda lagi
perjalanan yang tadi sempat terhambat.
Karena dalam tugas yang sangat penting seperti ini, waktu akan
menjadi sangat berarti sekali. Sebab segala kemungkinan dapat terjadi kapanpun
dan dimanapun.
Sehingga mereka harus dapat memanfaatkan waktu dengan
sebaik-baiknya, sebelum mereka menyesalinya karena kesalahan yang mereka buat
sendiri.
Langkah-langkah kaki keenam perempuan itu pun kini menjadi
terasa lebih ringan setelah berhasil menuntaskan masalah yang ada di hadapan
mereka. Meskipun sebenarnya bukan tugas mereka, namun panggilan jiwa terhadap
sesama lah yang telah menuntun mereka untuk membantu.
Dan kebetulan mereka adalah orang-orang yang memiliki bekal
untuk membantu kesulitan sesama yang diakibatkan oleh seseorang yang merasa
memiliki kemampuan dan kuasa.
Memang tidak ada keuntungan yang mereka dapatkan, namun entah
kenapa dengan mereka berhasil membantu sesama dari kesulitan, ada sebuah
kesenangan dan kebanggaan tersendiri.
Sesuai dengan pesan dari para orang tua dan guru yang telah
membimbing, tidak penting setinggi apa ilmu yang kau kuasai dan dari mana
asalnya, karena yang paling penting adalah seberapa jauh ilmu itu berguna bagi
sesama.
Meski jika menuruti semua itu tidak akan pernah ada habisnya,
namun paling tidak mereka sudah berusaha dengan sebaik-baiknya sejauh yang
mereka mampu.
Karena sudah menjadi kehendak-Nya bahwa antara kebaikan dan
keburukan akan selalu berjalan beriringan di dunia ini dan tidak akan pernah
ada habisnya, dan hanya Yang Maha Welas Asih lah yang tahu semua rahasia itu.
Meski tidak mudah, karena kita sebagai manusia adalah
tempatnya bodoh, lali, lan apes. Tetapi kita sebagai hambanya tetap
harus berusaha dengan sebaik-baiknya untuk tetap berada di jalan yang selalu
diridhoinya, dari sejak kita dilahirkan hingga kita menghembuskan nafas yang
terakhir.
Halaman
35 -36
Rombongan para perempuan itu semakin lama semakin jauh
meninggalkan halaman rumah Ki Demang Ngares, guna melanjutkan perjalanan yang
tadi sempat tertunda beberapa lama.
*****
Sementara itu di Tanah Perdikan Menoreh, tepatnya di rumah
Swargi Ki Gede Menoreh sedang berkumpul beberapa orang, bukan sebuah acara
resmi, namun sepertinya ada sesuatu yang penting yang perlu mereka bicarakan.
Nampak Ki Jagabaya dan beberapa pemimpin pengawal yang masih
terluka akibat kejadian semalam, ditambah beberapa orang bebahu terdekat yang
mendapat undangan telah berada di pendapa setelah matahari melewati puncaknya.
“Aku sebagai orang yang kebetulan untuk sementara mendapat
kepercayaan dari Ki Agung Sedayu untuk memimpin tanah perdikan ini selama
orang-orang penting tanah ini tidak berada di tempat, mengucapkan terima kasih
atas kehadiran kalian semua”.
Semua orang yang hadir masih berdiam diri untuk mendengarkan
sedikit sesorah dan mungkin keterangan yang penting, sehubungan dengan mereka
dikumpulkan di tempat itu oleh Ki Jagabaya.
Kemudian Ki Jagabaya pun memberikan keterangan bahwa semalam
telah terjadi ontran-ontran yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
Namun beruntunglah bahwa ontran-ontran tersebut sudah dapat teratasi
dengan cara yang tidak pernah mereka duga pula sebelumnya.
Meski ontran-ontran itu telah dapat diatasi, namun kini
timbul masalah baru yang harus segera mereka selesaikan, yaitu menentukan nasib
para tawanan yang masih ditempatkan di tempat khusus yang dijaga oleh beberapa
pengawal pilihan.
“Sekarang aku ingin meminta pendapat kalian, apa yang
sebaiknya kita lakukan dengan para tawanan itu?”. bertanya Ki Jagabaya sembari
memandang berkeliling kepada semua orang yang hadir di pendapa.
Mendapat pertanyaan tersebut, mereka pun menjadi terdiam dan
saling pandang sembari menimbang-nimbang, pendapat apa yang paling baik yang
dapat disampaikan sesuai dengan pendapat yang diminta oleh Ki Jagabaya
tersebut.
“Jika saja ada Nyi Pandan Wangi atau Ki Agung Sedayu, tentu
kita tidak akan menjadi kebingungan menghadapi masalah ini. Atau paling tidak,
jika ada Ki Prastawa”. ucap Ki Jagabaya menyambung kata-katanya.
“Ki Jagabaya benar, tetapi biar bagaimanapun kita harus
melihat kenyataan. Bahwa orang-orang yang telah kau sebutkan itu sedang tidak
berada di tempat ini, dan kita harus dapat menyelesaikan masalah ini tanpa
mereka”.
“Lalu apa pendapat Ki Demang?”.
“Menurut pendapatku, bukankah selama ini kita cukup dekat
dengan para prajurit Mataram yang berada di Kesatuan Pasukan Khusus di Menoreh
ini? bagaimana jika kita meminta bantuan kepada mereka untuk membawa para
tawanan ke Mataram?”.
“Aku rasa pendapat Ki Demang adalah pendapat yang sangat baik
dan perlu dipertimbangkan, Ki Jagabaya”. sahut salah satu bebahu.
“Aku sempat berpikir demikian pula, tetapi yang menjadi
pertimbanganku adalah, kita akan menghadap siapa disana? sebab Ki Tumenggung
Suratani selaku pemimpin Pasukan Khusus disana sedang mengemban tugas melawat
ke bang wetan. Apakah ada diantara kita yang mengenal salah satu senopati dari
barak Pasukan Khusus yang sekarang tinggal disana?”.
Halaman
37 - 38
“Apakah kita harus mengenal salah satu diantara mereka?”.
sahut Ki Demang.
“Bukankah kita semua tahu, bahwa kita semua yang ada disini
tidak ada yang mereka kenal, lalu bagaimana kita dapat meyakinkan mereka bahwa
kita benar adalah orang-orang dari Tanah Perdikan Menoreh di hadapan mereka
jika tidak ada yang mereka kenal diantara kita?”.
“Apakah kita tidak dapat menggunakan nama Ki Agung Sedayu atau
Nyi Pandan Wangi untuk memudahkan urusan ini?”.
“Jika saja nama-nama itu ada disini, tentu aku tidak akan
sampai merasa kebingungan, tetapi masalahnya aku belum pernah dan tidak berani
menggunakan nama mereka tanpa perintah atau sepengetahuan dari mereka”. sahut
Ki Jagabaya mulai lesu.
“Sebuah masalah yang sebenarnya mudah namun sulit dalam
pelaksanaannya, karena membawa nama seseorang yang sangat kita hormati”. sahut
salah satu bebahu yang lain.
“Jika kita memang menemui kesulitan yang sama dalam hal ini,
bagaimana jika kita bawa saja para tawanan itu ke Mataram sama sekali?”. sahut
salah satu pemimpin pengawal.
Orang-orang yang terkejut mendengar pendapat tersebut,
seketika menoleh ke arah pendapa sebelah kiri, dimana sumber suara itu berasal.
“Menurut pendapatku, bukankah kita dapat menghadap ke
Kepatihan? dan aku rasa kita tentu akan diterima menghadap jika masih
menyangkut Ki Agung Sedayu atau keluarganya”. sambung orang yang sejenak
menjadi pusat perhatian banyak orang tersebut.
“Aku sependapat”. sahut salah satu mewakili yang kemudian
diikuti yang lain, meski hanya dengan anggukan kepala perlahan atau sekedar
dijawab di dalam hatinya masing-masing.
“Akupun sependapat. Tetapi ada yang harus kita ingat, para
tawanan kita itu adalah orang-orang yang berilmu sangat tinggi. Apakah ada yang
berani menjamin bahwa dalam perjalanan nanti para pengawal yang mengantar akan
baik-baik saja hingga setibanya di Mataram?”. sahut Ki Jagabaya.
Mendapat peringatan tersebut membuat semua orang yang hadir
menjadi terdiam, karena seperti kehabisan kata-kata untuk menyampaikan pendapat
lagi.
Sebab kemungkinan-kemungkinan yang telah tersampaikan itu
benar adanya, dan sementara mereka sendiri merasa tidak memiliki kemampuan
untuk menjamin nasib para pengawal yang akan diutus membawa para tawanan ke
Mataram tetap baik-baik saja.
Selain itu perjalanan dari Tanah Perdikan Menoreh menuju
Mataram itu bukanlah sebuah perjalanan yang pendek, sehingga segala kemungkinan
dapat terjadi.
Apalagi setelah para tawanan menyadari bahwa yang mengawal
mereka menuju Mataram adalah orang-orang yang dapat dengan mudah mereka
kalahkan, tentu sangat mungkin sekali jika mereka akan memberontak atau bahkan
menyakiti para pengawal di dalam perjalanan.
“Jika memang demikian keadaannya, bagaimana jika kita tunggu
saja kepulangan salah satu dari Ki Agung Sedayu, Ki Prastawa, atau Ki
Tumenggung Suratani dari tugasnya? agar kita tidak menemui masalah baru dari
masalah ini”. bertanya Ki Demang …………..
“Marilah sembari kita berpikir, kita nikmati pula hidangan
yang sudah mulai dingin ini”. sahut Ki Jagabaya mempersilahkan dan terlihat
mengawali meraih hidangan di hadapannya.
Halaman
39 - 40
Maka sejenak kemudian orang-orang di pendapa itu menjadi sibuk
menikmati hidangan yang memang sudah mulai dingin karena setelah beberapa lama
dibiarkan karena mereka terlalu sibuk membicarakan keperluan mereka.
Meski mulut mereka terlihat sibuk menikmati hidangan yang ada,
namun sebenarnya mereka tidak dapat menyembunyikan kebingungan dari wajah-wajah
mereka atas masalah yang sedang mereka hadapi bersama.
Sementara teriknya sinar matahari di tempat itu sudah semakin
berkurang bersamaan dengan sang surya itu sendiri mulai tergelincir semakin ke
arah barat.
Namun bersamaan dengan itu para pengawal yang bertugas di
regol rumah itu telah dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang begitu
tiba-tiba.
Seseorang yang terlihat kurus dan berpakaian serba lusuh,
serta mengenakan sebuah caping sebagai penutup kepala untuk melindungi dari
teriknya sinar matahari.
Tidak lama kemudian orang yang sudah terlihat sangat sepuh itu
tiba di depan pintu regol yang dijaga pengawal yang terlihat masih cukup muda.
“Maaf Ki Sanak, benarkah ini rumah Nyi Pandan Wangi?”.
bertanya orang tua itu setibanya di hadapan para pengawal.
“Benar Ki Sanak, tetapi siapakah Ki Sanak ini? dan ada keperluan
apakah datang kemari?”. sahut salah satu pengawal.
“Orang-orang biasa menyebutku, Ki Pringsewu. Keperluanku
datang kemari, jika diperbolehkan aku ingin bertemu dengan Ki Jagabaya”.
“Ki Pringsewu?”. sahut pengawal itu terkejut.
“Demikianlah, Ki Sanak”.
“Apakah kau adalah orang yang telah berhasil menolong Sekar
Wangi semalam dari para penculik itu?”.
“Kebetulan demikian, Ki Sanak. Apakah aku diperbolehkan
bertemu dengan Ki Jagabaya?”.
“Baik.. baik, Ki Pringsewu. Marilah aku antar kau bertemu
dengan Ki Jagabaya. Kebetulan Ki Jagabaya sedang berada di pendapa bersama para
pemimpin pengawal dan beberapa bebahu yang memang sengaja diundang untuk
datang”.
“Jika Ki Jagabaya sedang ada keperluan, sebaiknya aku tunggu
saja disini sampai selesai agar tidak mengganggu”.
“Bagaimana, Kakang?”. bertanya pengawal itu meminta pendapat
kepada kawannya yang terlihat sedikit lebih tua darinya.
“Sebaiknya kau laporkan saja dulu kedatangan Ki Pringsewu,
untuk selanjutnya terserah Ki Jagabaya untuk mengambil sikap, bakal diperintahkan
untuk menunggu atau langsung ditemui”.
“Baiklah, aku akan melaporkan ini kepada Ki Jagabaya”. sahut
pengawal yang lebih muda.
“Terima kasih, Ki Sanak. Aku tunggu disini”. sahut Ki
Pringsewu yang mendengar percakapan kedua pengawal itu.
Kemudian pengawal yang lebih muda itu segera meninggalkan
tempat itu guna menemui dan memberikan laporan kepada Ki Jagabaya yang sedang
berada di pendapa.
Dan Ki Jagabaya yang mendapat laporan itupun tidak dapat
menyembunyikan keterkejutannya di hadapan orang-orang yang hadir, meski
pengawal itu memberikan laporan dengan berbisik.
“Ki Pringsewu, katamu?”.
Halaman
41 - 42
“Demikianlah Ki Jagabaya, dia menunggu di depan regol”.
“Kenapa kau tidak membawanya kemari?”.
“Maaf Ki, aku tidak ingin membuat kesalahan dengan langsung
membawanya kemari tanpa melaporkannya lebih dulu dan mendapat persetujuan dari
Ki Jagabaya”.
“Ya… aku mengerti, sekarang bawalah Ki Pringsewu itu kemari.
Kita wajib berterima kasih kepadanya”.
Tidak lama kemudian pengawal itu datang kembali bersama dengan
Ki Pringsewu yang seketika menjadi pusat perhatian orang-orang yang hadir di
tempat itu.
“Silahkan Ki Pringsewu, silahkan bergabung bersama kami”.
sambut Ki Jagabaya yang turun dari pendapa.
“Apakah aku sedang berhadapan dengan Ki Jagabaya?”. sahut Ki
Pringsewu yang justru balik bertanya.
“Benar Ki Pringsewu, marilah kita bergabung dengan yang lain”.
sahut Ki Jagabaya mempersilahkah tamunya dengan ramah untuk naik ke pendapa.
“Maaf Ki Jagabaya, aku tidak punya banyak waktu. Kedatanganku
kemari hanyalah ingin menanyakan bagaimana dengan para penculik Sekar Wangi?”.
“Oh… mereka masih menjadi tawanan kami, karena kami belum
dapat mengambil keputusan sehubungan dengan para penculik itu. Dan pertemuan
ini sejak tadi membicarakan masalah itu, tetapi hingga kini kami masih belum
dapat mengambil keputusan”.
“Kenapa kalian masih menawan mereka? kenapa kalian tidak
mengirimnya ke Mataram?”.
“Itulah masalahnya Ki Pringsewu, kami merasa tidak memiliki
kemampuan yang cukup untuk mengawal mereka hingga ke Mataram dengan baik,
bukankah mereka adalah orang-orang yang berilmu sangat tinggi?”.
“Oh… aku mengerti maksudmu, apakah oleh sebab itu kalian masih
menjadikan mereka tawanan kalian?”.
“Demikianlah, Ki Pringsewu”.
“Jika itu yang menjadi masalahnya, aku bersedia membantu
kesulitan yang kalian alami”.
“Maksud Ki Pringsewu?”.
“Aku bersedia membantu kalian untuk mengawal para tawanan
hingga ke Mataram”.
Ki Jagabaya terkejut sekaligus merasa bagaikan disiram banyu
sewindu setelah mendengar ucapan tamunya yang belum pernah dikenal sebelumnya,
namun begitu tulus membantu kesulitan orang-orang dari Tanah Perdikan Menoreh.
“Sekali lagi aku hanya dapat mengucapkan terima kasih atas
kebaikan Ki Pringsewu, semoga Yang Maha Welas Asih membalas segala kebaikanmu
ini”.
“Kau tidak perlu berterima kasih kepadaku, Ki Jagabaya. Ini
sudah menjadi kewajibanku terhadap sesama”.
“Tetapi tetap saja kami wajib berterima kasih kepada Ki
Pringsewu, karena kebaikan Ki Pringsewu telah menghindarkan kami dari kesulitan
yang tidak dapat kami atasi. Bahkan kami tidak dapat membayangkan apa yang akan
terjadi kepada kami jika nanti Ki Agung Sedayu dan Nyi Pandan Wangi pulang dan
mengetahui jika anaknya telah diculik”.
Halaman
43 -44
“Sudahlah… lupakan saja, sekarang kau perintahkan saja kepada
para pengawal yang akan kau utus ke Mataram, lalu keluarkan para tawanan itu.
Kita berangkat sekarang”.
“Berangkat sekarang?”.
“Ya… berangkat sekarang”.
“Apakah Ki Pringsewu tidak beristirahat dulu barang sejenak,
kami akan menyiapkan minuman hangat dan beberapa potong makanan”.
“Sudah aku katakan, aku tidak punya banyak waktu. Sebaiknya
lakukan saja apa yang aku katakan atau aku akan pergi lagi”.
“Ba.. baik… Ki Pringsewu, aku akan segera laksanakan seperti
apa yang kau katakan”. sahut Ki Jagabaya agak tergagap.
Kemudian Ki Jagabaya pun segera melaksanakan apa yang diminta
oleh Ki Pringsewu, termasuk mengeluarkan para tawanan dari tempat khusus itu.
Tidak lama kemudian mereka pun telah berkumpul di halaman yang
cukup luas itu, termasuk para tawanan. Yaitu, Kyai Samber Geni dan
murid-muridnya.
“Kalian akan membawa kami kemana?”. bertanya Kyai Samber Geni
setelah mereka berkumpul.
“Mataram”. kali ini Ki Pringsewu lah yang menyahut.
“Kenapa kami harus dibawa ke Mataram?”.
“Untuk mempertanggung jawabkan perbuatan kalian”.
“Bukankan kami melakukan perbuatan itu disini? bukan di
Mataram”.
“Karena tidak ada tempat yang lebih pantas untuk mengadili
perbuatan kalian selain Mataram”.
“Bukankah kami sudah menyesali perbuatan kami?”.
“Biarlah nanti Mataram yang memutuskan”.
Kyai Samber Geni yang tadinya berusaha membela diri pada
akhirnya tidak dapat berkata apa-apa lagi, apalagi yang berbantahan dengan
dirinya adalah orang yang telah mengalahkannya dalam adu kanuragan, sehingga
mau tidak mau dirinya harus mengalah.
Sehingga apa yang akan dilakukan terhadap dirinya beserta
murid-muridnya hanya dapat diterima dengan pasrah selama itu masih dalam batas
paugeran, jika sudah diluar itu maka mereka pun akan mengambil sikap lain meski
nyawa mereka dipertaruhkan.
“Kyai Samber Geni, kalian akan diantar para pengawal ke Mataram
sesuai dengan jumlah kalian. Dan untuk berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan
maka aku akan mengawal kalian dari kejauhan, jadi jangan sekali-kali kalian
berpikir macam-macam di sepanjang perjalanan. Sebab aku akan selalu mengawasi
kalian”.
Kyai Samber Geni serta keempat muridnya hanya terdiam.
“Jika kalian melakukan sesuatu yang tidak seharusnya, maka aku
akan segera datang untuk membantu para pengawal”. sambung Ki Pringsewu
memberikan keterangan.
Kyai Samber Geni yang pada awalnya merasa ada kesempatan untuk
melarikan diri dari para pengawal seketika mengurungkan kembali niatnya.
Karena biar bagaimanapun Kyai Samber Geni menyadari bahwa
dirinya tidak akan mampu menang melawan kemampuan bayangan semu yang sangat
nggegirisi itu sebelum dapat menemukan titik kelemahannya, yaitu dengan
menemukan wujud aslinya.
Halaman
45 - 46
Tetapi itulah yang menjadi masalahnya, hingga saat ini dirinya
masih saja belum mampu menemukan kelemahan itu meski sudah berusaha sejauh apa
yang dapat dilakukannya.
“Sebaiknya kalian segera berangkat, agar tidak kemalaman
ketika kalian tiba di Mataram”. ucap Ki Pringsewu mengingatkan.
“Maaf Ki Pringsewu, di Mataram kami harus menghadap siapa?”.
bertanya pemimpin pengawal yang mendapat tugas mengawal para tawanan ke
Mataram.
“Kalian pergilah ke Kepatihan dan menghadap Ki Patih
Singaranu, laporkan saja apa yang telah terjadi dan apa yang telah dilakukan
oleh Kyai Samber Geni bersama murid-muridnya”.
“Bagaimana jika Ki Patih Singaranu tidak berkenan menerima
kami untuk menghadap karena tidak tepat waktunya”.
“Jika kalian tiba di Kepatihan selambat-lambatnya masih wayah
sepi bocah, aku rasa Ki Patih Singaranu tidak akan keberatan untuk menerima
kalian untuk menghadap. Maka dari itu segeralah berangkat agar kalian tidak
kemalaman tiba di Kepatihan”.
“Baik Ki Pringsewu, kami akan berangkat sekarang”. sahut
pemimpin rombongan pengawal.
Kemudian dia pun memberikan isyarat kepada yang lain untuk
segera berangkat agar tidak kemalaman, sebab mereka hanya akan berjalan kaki.
Maka sejenak kemudian rombongan yang kini berjumlah dua belah
orang tersebut mulai berangkat meninggalkan halaman rumah itu untuk pergi ke
Mataram.
Dan mereka memang sengaja tidak mengikat para tawanan agar
tidak menarik perhatian dan berusaha sejauh mungkin menghindari
pertanyaan-pertanyaan yang mungkin dapat menghambat di sepanjang perjalanan.
Setelah rombongan itu telah berlalu, maka Ki Pringsewu pun
segera pamit undur diri guna melakukan tugasnya sebagaimana yang tadi telah
dikatakannya.
Ki Pringsewu tidak akan berjalan bersama rombongan, namun akan
selalu mengawasi apa yang terjadi di dalam rombongan dari kejauhan dengan bekal
kemampuan yang dimilikinya.
Dalam hati para pengawal memang merasa janggal dengan apa yang
dikatakan oleh Ki Pringsewu, namun mereka tidak berani membantah apalagi menanyakannya
secara langsung.
Dan mereka hanya mengiyakan dan melaksanakan saja apa yang
dikatakan oleh orang tua itu, karena mereka telah mendengar tentang
kemampuannya yang sangat tinggi dan telah berhasil mengalahkan kelima penculik
itu yang berilmu sangat tinggi pula, terutama kemampuan Kyai Samber Geni.
“Kita wajib mengucapkan terima kasih kepada Yang Maha Welas
Asih atas segala kemurahannya, karena pertolongan-Nya tidak pernah ada habisnya
kepada kita dan dengan cara yang tidak pernah kita duga sebelumnya”. berkata Ki
Jagabaya setelah melepas orang-orang yang meninggalkan tempat itu.
“Ki Jagabaya benar, kita memang wajib bersyukur atas semua
ini, karena Yang Maha Agung adalah Yang Maha Berkehendak dan Maha Penolong
pula”. sahut salah satu bebahu yang kebetulan masih berdiri di sebelahnya.
“Yang masih menjadi pertanyaan di hatiku adalah siapakah
sebenarnya Ki Pringsewu itu? dan kenapa tiba-tiba dia mau membantu kita sejauh
ini?”. desis Ki Jagabaya.
“Akupun berpikir demikian pula”.
“Tetapi entah kenapa aku tidak memiliki cukup keberanian untuk
bertanya kepada orangnya langsung ketika dia masih berada di hadapanku tadi”.
ucap Ki Jagabaya yang mencoba mengungkapkan apa yang dirasakannya.
Halaman
47 - 48
“Menurutku tidak terlalu penting siapakah dia dan dari mana
asalnya, tetapi yang paling penting bagiku adalah orang itu adalah orang yang
tetap dapat dipercaya ucapannya”.
“Apakah kau meragukannya?”. sahut Ki Jagabaya dengan raut
wajah keheranan.
“Lebih tepatnya bukan meragukannya, apakah aku salah jika
bersikap lebih hati-hati terhadap orang yang belum kita kenal siapakah gerangan
dirinya?”.
“Memang tidak salah jika kita bersikap hati-hati, tetapi
jangan sampai sikap hati-hati itu membuat kita berprasangka berlebihan kepada
orang lain, terutama orang asing yang belum pernah kita kenal sebelumnya”.
sahut Ki Jagabaya yang mencoba menengahi pembicaraan tersebut.
*****
Sementara hari itu tampak senja sudah hampir menjelang ketika
di sisi barat langit sudah terlihat cahaya kemerah-merahan yang menghiasi
luasnya cakrawala.
Meski mulai terasa lelah, namun langkah-langkah kaki itu terus
berjalan menyusuri jalan setapak di sebuah pinggiran pategalan yang agak jauh
dari padukuhan terdekat.
Karena selain mereka telah menempuh perjalanan jauh, sejak
semalam mereka memang belum sempat beristirahat sama sekali dan terus berjalan
di sepanjang malam.
Tetapi mereka adalah para perempuan yang telah terbiasa dengan
laku-laku berat selama ngangsu kawruh kanuragan di sepanjang hidup, sehingga
membuat mereka menjadi perempuan yang semakin tangguh dan tanggon.
Dengan berbekal hal itulah maka menjadikan mereka
memiliki kelebihan dari orang kebanyakan, sehingga perjalanan yang berat dan
melelahkan itu bukan masalah besar bagi mereka.
Namun tetap saja sebagai manusia, setangguh apapun dia pasti
memiliki batas kemampuannya masing-masing, termasuk kemampuan secara kewadagan.
Setiap orang pasti membutuhkan waktu istirahat untuk
memulihkan dan menjaga kebugaran wadagnya agar tetap dalam keadaan paling baik
ketika melakukan suatu pekerjaan, sesuai dengan keinginan pemilik wadag.
Dan hal itu sangat disadari pula oleh Nyi Pandan Wangi dan
kawan-kawannya yang sedang melakukan perjalanan yang sangat jauh dengan
berjalan kaki.
“Sebaiknya malam ini kita beristirahat, agar kebugaran kita
tetap terjaga”. ucap Nyi Pandan Wangi kepada kawan-kawannya.
“Aku rasa memang demikian, Mbokayu. Tetapi kita akan
beristirahat dimana? di alam bebas, menumpang di banjar padukuhan, atau kita
perlu menyewa penginapan?”.
“Agar istirahat kita lebih baik, aku rasa sebaiknya kita menumpang
di banjar padukuhan atau memang jika perlu kita mencari penginapan”.
“Apakah Mbokayu Pandan Wangi sekarang sudah tidak dapat
beristirahat dengan baik jika di alam bebas?”. sahut ibu Bagus Sadewa sembari
melayangkan senyuman mengejek.
“Bukan begitu, Sekar Mirah. Tetapi yang justru perlu kita
pikirkan adalah mereka berempat”. sahut Nyi Pandan Wangi sembari menunjuk ke
arah yang dimaksud. Lalu lanjutnya, “Kita bertanggung jawab atas mereka”.
Halaman
49 - 50
“Kami tidak mempermasalahkan jika memang Mbokayu berdua ingin
mengajak kami beristirahat di alam bebas, bukankah kamipun sudah terbiasa
melakukannya pula?”.
“Aku mengerti maksudmu, Rara Wulan. Tetapi kali ini, setelah
kita menempuh perjalanan jauh, bahkan sejak semalam kita belum beristirahat
sama sekali dan tadi siang kau sempat bertarung. Sehingga aku merasa tidak
sampai hati jika harus mengajak kalian beristirahat di alam bebas”.
“Bagaimana jika kita nanti menumpang beristirahat di banjar
atau menyewa penginapan, tetapi justru dihampiri oleh masalah baru dengan
orang-orang sekitar? bukankah dengan demikian kita justru tidak dapat
beristirahat dengan tenang?”.
“Kau benar Rara Wulan, tetapi bukankah di alam bebas pun kita
tidak dapat menjamin tidak akan terganggu?”.
“Kalau begitu terserah, Mbokayu berdua. Kami manut
saja”. sahut ibu Arya Nakula tanpa merasa keberatan sama sekali apapun
keputusan yang akan diambil.
“Tetapi untuk mengurangi sejauh mungkin kemungkinan kurang
baik yang bakal timbul, sebaiknya kita mencari penginapan saja. Sebab di
penginapan kita dapat sejauh mungkin mengurangi perhatian dan pertanyaan dari
orang sekitar, berbeda sekali jika kita menumpang di banjar”.
“Baiklah, kami manut saja”. sahut Nyi Rara Wulan,
sekaligus mewakili ketiga adik angkatnya.
“Maksudku dengan malam ini kita dapat beristirahat dengan
sebaik-baiknya adalah agar besok pagi-pagi sekali kita dapat mengejar waktu
yang tadi sempat terhambat”.
“Kalau begitu marilah kita sembari mencari jalan menuju
padukuhan terdekat dan mencari penginapan, dan semoga kita beruntung menemukan
penginapan yang bagus dengan harga yang paling murah”.
“Ah… macam kau”. sahut Nyi Pandan Wangi.
Sementara yang lain hanya dapat tersenyum mendengar kelakar
Nyi Sekar Mirah yang tiba-tiba itu, lalu mengikutinya dari belakang langkah
kedua perempuan perkasa tersebut.
Sinar kemerah-merahan di sisi barat mengiringi langkah-langkah
para perempuan itu yang berniat mencari penginapan sebagai tempat
peristirahatan malam ini.
Setelah beberapa lama menyusuri jalan yang semakin gelap
karena malam telah tiba, tetapi ternyata mereka tidak dapat dengan segera
menemukan penginapan yang dicari.
Mereka sudah bertanya kepada beberapa orang yang sempat
berpapasan di jalan, namun berdasarkan keterangan yang ada penginapan yang
terdekat berada di kademangan sebelah.
Dan keadaan tersebut membuat mereka terpaksa harus terus
melangkahkan kaki ke tempat yang dituju hingga di penghujung wayah sepi bocah,
karena memang tidak mudah untuk dapat menemukan penginapan di daerah yang masih
asing.
Akhirnya pada penghujung wayah sepi bocah itu, keenam perempuan
itu tiba pula di halaman sebuah penginapan yang terlihat tidak begitu besar,
namun cukup bagus.
Karena kebetulan tidak ada petugas yang menjaga pintu regol,
maka keenam perempuan itupun langsung masuk saja ke halaman penginapan.
Petugas penginapan yang berumur hampir paruh baya, sedang
duduk bersantai pada sebuah tiang bangunan melihat kedatangan keenam perempuan
itupun menjadi sangat terkejut.
Halaman
51 - 52
Dan yang semakin membuatnya terkejut adalah pakaian yang
dikenakan keenam perempuan itu tidak selayaknya yang dikenakan oleh perempuan
kebanyakan, tetapi mereka semua mengenakan pakaian khusus, bahkan beberapa
diantaranya bersenjata.
Masih dengan perasaan yang diselimuti rasa terkejut, dengan
langkah tergopoh-gopoh petugas penginapan itupun segera menghampiri beberapa
orang asing yang tiba-tiba datang ke tempatnya tersebut.
“Maaf Nyi Sanak, ada keperluan apakah, Nyi Sanak semua datang
kemari? apakah ada yang dapat aku bantu?”. sambut petugas penginapan itu dengan
ramahnya.
“Kami sedang kemalaman di perjalanan dan sedang mencari
penginapan, apakah benar tempat ini adalah penginapan?”. sahut Nyi Pandan Wangi
mewakili yang lain.
“Benar sekali, Nyi Sanak. Nyi Sanak semua tidak salah tempat,
marilah silahkan, silahkan. Kalian mau memesan berapa kamar?”. sahut petugas penginapan
sembari mempersilahkan tamu-tamunya dengan ramah.
“Satu kamar saja, Ki Sanak”.
Sontak saja mendengar jawaban tersebut membuat petugas
penginapan kebingungan sekaligus heran dengan apa yang telah didengarnya,
hingga membuatnya memandang ke arah ibu Sekar Wangi yang menjadi juru bicara.
“Apakah hanya, Nyi Sanak saja yang akan menginap?”.
“Tidak, kami berenam”.
“Maaf, Nyi Sanak. Bukan maksudku untuk menolak permintaanmu,
tetapi biasanya di tempat ini setiap kamarnya hanya dapat ditempati oleh dua
orang, atau paling banyak tiga orang. Sebab ambennya hanya cukup
ditempati orang sebanyak itu”.
“Apakah ukuran kamarmu cukup jika ditempati dua amben?”.
kali ini Nyi Sekar Mirah lah yang menjawab.
“Eh.. em…”. sahut petugas itu penuh keraguan.
“Kau tidak usah khawatir, Ki Sanak. Kami akan tetap membayar
biaya penginapan untuk dua kamar, meski kami minta dalam satu kamar”. sahut ibu
Bagus Sadewa yang tanggap apa yang sedang dikhawatirkan oleh petugas penginapan
tersebut.
“Tetapi jika dalam satu kamar ditempati oleh dua amben, tentu
kamar itu akan menjadi sempit”.
“Apakah kami harus membayarnya sekarang agar kau percaya?”.
“Bukan itu maksudku, Nyi Sanak. Tetapi aku mengatakan apa
adanya tentang kamar yang akan kalian tempati”.
“Dan tolong sekalian siapkan pula makan malam bagi kami
berenam, apakah ini cukup?”. berkata Nyi Sekar Mirah sembari mengambil sesuatu
dari kampilnya, lalu menyerahkannya kepada petugas penginapan yang menjadi
semakin kebingungan.
“Uang perak?”. desis petugas itu tertegun di tempatnya.
“Jika masih kurang aku tambah lagi, Ki Sanak”.
“Oh.. tidak, Nyi Sanak. Bahkan ini lebihnya masih cukup
banyak”. sahut petugas penginapan itu dengan suara tergagap.
“Baiklah, kalau begitu tolong segera siapkan makan malam bagi
kami berenam”.
“Apakah Nyi Sanak menghendaki makan malam yang lengkap dengan
segala lauk pauknya?”.
“Ah.. tidak perlu seperti itu, Ki Sanak. Makan malam yang
wajar dan sepantasnya saja, lagipula kami sudah ingin segera beristirahat. Jika
kami menunggu makan malam seperti yang kau sebutkan itu, tentu setelah tengah
malam kami baru dapat beristirahat”.
Halaman
53 - 54
“Baiklah, Nyi Sanak. Kami akan segera siapkan kamar dan makan
malam seperti yang kalian minta. Sembari menunggu, jika kalian ingin pergi
pakiwan ada di sebelah kiri ujung lorong itu, dan kebetulan ada empat. Jadi
kalian tidak perlu menunggu giliran terlalu lama”.
“Baik, Ki Sanak. Terima kasih”.
Kemudian petugas penginapan itupun segera meninggalkan
tamu-tamunya guna menyiapkan pesanan yang diminta, yaitu kamar yang perlu
diatur secara khusus dan makan malam bagi enam orang sekaligus.
“Maaf Mbokayu, Pandan Wangi. Bolehkah aku bertanya sesuatu?”.
ucap ibu Arya Nakula dengan suara perlahan, setelah petugas penginapan pergi
dari hadapan mereka.
“Katakanlah!”.
“Kenapa Mbokayu hanya memesan satu kamar?”.
“Agar memudahkan kita untuk saling mengawasi”.
“Bukankah kita dapat saling memberikan isyarat jika tiba-tiba
terjadi sesuatu?”.
“Tetapi dengan kita berada di dalam satu kamar, akan semakin
memudahkan kita dalam saling menjaga dan akan lebih cepat pula untuk bertindak
jika terjadi sesuatu. Selain itu kita dapat mengurangi orang yang ditugaskan
untuk berjaga”.
“Mbokayu benar”.
“Lagipula kalian tentu lelah, jadi untuk malam ini kalian
beristirahatlah dengan sebaik-baiknya, biarlah aku dan Sekar Mirah yang akan
bergantian bertugas malam ini”.
“Ah… kami sangat deksura sekali jika seperti itu yang terjadi,
biarlah aku, Setiti, dan Baruni saja yang bergantian berjaga”. sahut Padmini
yang tidak dapat menahan diri untuk terus diam.
“Itu bukan sebuah sikap deksura, Padmini. Tetapi ini memang
kesepakatan kami berdua, dan kalian tinggal melaksanakannya”.
Sebenarnya keempat perempuan itu merasa kurang mapan dengan
keputusan tersebut, namun biar bagaimanapun mereka tidak berani membantahnya
lagi.
Suasana menjadi hening untuk beberapa saat, hingga akhirnya
Nyi Pandan Wangi membuka suara sembari bangkit dari duduknya.
“Siapa yang mau ke pakiwan lebih dulu?”.
Mendapat pertanyaan itu malah mereka menjadi saling pandang
untuk saling memberikan isyarat tanpa menjawab sepatah katapun.
“Kalau begitu aku dulu, dan terserah tiga yang tersisa”.
Karena yang lain tidak segera menanggapi pertanyaan tersebut,
maka Nyi Sekar Mirah pun segera ikut bangkit untuk mengikuti marunya
yang akan membersihkan diri itu, sembari berucap, “masih ada dua lagi yang
tersisa, terserah kalian”.
Setelah beberapa lama akhirnya keenam perempuan itupun selesai
pula membersihkan diri di pakiwan, dan pada waktu yang hampir bersamaan petugas
penginapan datang menghampiri.
“Kamar yang Nyi Sanak pesan sudah siap, silahkan jika Nyi
Sanak mau langsung pindah ke kamar. Biarlah nanti makan malamnya kami antar ke
kamar kalian”.
Halaman
55 - 56
“Terima kasih, Ki Sanak. Tetapi kami tidak terbiasa makan di
kamar, biarlah kami tunggu di sini saja. Setelah selesai makan malam barulah
kami ke kamar”. sahut Nyi Sekar Mirah.
“Baiklah kalau begitu”. sahut petugas penginapan, lalu pergi.
Tidak lama kemudian makan malam yang ditunggu-tunggu pun tiba
pula dengan menebarkan ciri khas bau harumnya masakan yang menyengat hidung,
sehingga membuat perut yang lapar jadi terasa semakin lapar.
“Maaf, Nyi Sanak. Hanya ini yang dapat kami hidangkan dengan
waktu yang sangat terbatas, jika saja Nyi Sanak semua lebih sabar menunggu,
tentu kami dapat menyediakan makan malam yang lebih baik dari ini”. berkata
petugas penginapan sembari menurunkan hidangan yang dibawa oleh kedua kawannya
dengan nampan.
“Aku rasa ini hidangan makan malam yang sangat baik, bahkan
sudah lebih dari cukup menurutku”.
“Silahkan nikmati makan malam kalian, jika memerlukan sesuatu
panggillah aku”. berkata petugas penginapan itu dengan ramahnya setelah
menurunkan semua hidangan, lalu segera pergi untuk memberikan kesempatan kepada
tamu-tamunya untuk menikmati makan malam tanpa merasa terganggu.
“Baik, Ki Sanak. Terima kasih”.
*****
Pada akhirnya para pengawal Tanah Perdikan Menoreh telah
berhasil membawa tawanan ke Mataram dan telah tiba di Kepatihan pada saat wayah
sepi bocah.
Dan ketika rombongan itu telah tiba di Kepatihan, mereka
dihentikan oleh prajurit yang bertugas di depan pintu regol untuk dimintai
keterangan seperlunya.
“Maaf Ki Sanak, siapakah kalian dan ada keperluan apa datang
kemari?”. bertanya salah satu prajurit yang bertugas.
“Kami adalah pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang
diutus untuk mengantarkan para tawanan yang berjumlah lima orang, dan jika kami
diperkenankan mohon izin untuk menghadap kepada Ki Patih Singaranu”.
“Menghadap Ki Patih Singaranu, katamu?”. sahut prajurit itu
merasa heran.
“Benar, Ki Sanak”.
“Pada waktu seperti ini?”. sahut prajurit itu sembari memandang
ke arah kawannya yang berdiri di sebelahnya.
“Jika kami diizinkan, Ki Sanak. Jika kami harus menunggu besok
pagi, biarlah kami akan menunggunya hingga besok pagi”.
“Apakah menurutmu Ki Patih Singaranu masih berkenan menerima
tamu untuk menghadap sekarang?”. bertanya prajurit itu kepada kawannya meminta
pendapat.
“Aku tidak tahu, coba kau laporkan saja kepada Ki Lurah.
Biarlah Ki Lurah yang memutuskan”. sahut kawannya.
“Kalian tunggulah disini dulu, Ki Sanak. Aku akan
melaporkannya lebih dulu kepada Ki Lurah, sebab aku tidak berani membuat
keputusan”. ucap prajurit itu kepada pengawal Tanah Perdikan Menoreh.
“Terima kasih, Ki Sanak. Kami akan menunggunya disini”.
Tidak lama kemudian prajurit itu telah kembali bersama
seseorang, dan jika dilihat dari ciri-ciri yang dikenakannya, sepertinya itulah
Ki Lurah yang dimaksud.
Halaman
57 - 58
“Apa yang dapat aku bantu, Ki Sanak?”. berkata orang yang baru
saja datang itu dengan ramahnya.
“Begini Ki Lurah, kami para pengawal dari Tanah Perdikan
Menoreh yang diutus untuk menyerahkan para tawanan yang berjumlah lima orang
ini, sebab kami tidak berani membuat keputusan sendiri atas nasib mereka karena
pemimpin tertinggi Tanah Perdikan Menoreh sedang tidak berada di tempat”.
“Memangnya kesalahan apa yang telah mereka buat?”.
Pemimpin rombongan pengawal itu kemudian menjelaskan secara
singkat namun runut kejadian yang telah terjadi hingga akhirnya mereka menjadi
tawanan.
“Begitu rupanya”.
“Demikianlah, Ki Lurah”.
“Aku akan mencoba membantu kalian untuk menyampaikan keinginan
kalian untuk menghadap kepada pelayan dalam, tetapi aku tidak tahu apakan Ki
Patih Singaranu berkenan menerima kalian sekarang atau besok, biarlah nanti Ki
Patih Singaranu sendiri yang memutuskan”.
“Terima kasih, Ki Lurah. Kami akan menunggunya disini”.
Kemudian Ki Lurah tersebut pergi meninggalkan tempat itu
dan melaporkan apa yang terjadi kepada Pelayan Dalam yang telah dikenalnya
dengan baik, namun jawaban pelayan dalam pun hampir sama dengannya ketika
mendapat laporan tersebut.
“Meski aku ragu, tetapi aku coba dulu melaporkannya kepada Ki
Patih Singaranu. Semoga saja Ki Patih Singaranu berkenan menerima mereka untuk
menghadap malam ini”.
“Baiklah, aku tunggu kau di sini”.
Dengan perasaan ragu pelayan dalam itu melangkahkan kakinya
untuk melaporkan permintaan para Pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang ingin
menghadap malam itu juga.
Setelah menunggu beberapa saat, Ki Lurah itu kembali didatangi
oleh Pelayan Dalam yang telah melaksanakan tugasnya dan akan memberikan
jawabannya.
“Mereka semua ditunggu Ki Patih Singaranu sekarang, bawalah
mereka semua kemari dan aku yang akan mengantarkan mereka semua ke serambi
kanan”. berkata Pelayan Dalam tersebut.
“He…? jadi Ki Patih Singaranu berkenan menerima mereka?”.
sahut Ki Lurah yang terkejut mendengar keterangan tersebut.
“Demikianlah”.
“Jarang sekali ada orang biasa yang diperkenankan menghadap
pada saat-saat begini”. desis Ki Lurah.
“Memang biasanya demikian, akupun tidak tahu kenapa kali ini
Ki Patih Singaranu berkenan menerima mereka. Tetapi lanjutkan nanti saja
pembicaraan ini, segeralah sampaikan kepada mereka agar Ki Patih tidak terlalu
lama menunggu”.
“Kau benar. Baiklah kalau begitu, aku akan menyampaikannya
kepada mereka, lalu membawanya kemari”.
Meski dengan perasaan yang berdebar-debar karena baru pertama
kalinya mereka memasuki Kepatihan, pada akhirnya para Pengawal Tanah Perdikan
Menoreh yang membawa lima orang tawanan itupun berhasil menghadap Ki Patih
Singaranu.
“Aku ingin mendengar laporan kalian”. berkata Ki Patih
Singaranu setelah mereka saling berhadapan.
“Ampun Ki Patih Singaranu, hamba ingin melaporkan bahwa kami
ingin menyerahkan kelima tawanan ini kepada Ki Patih Singaranu. Karena kami
merasa bahwa Mataram lah yang paling pantas memutuskan nasib mereka”. sahut
pemimpin pengawal yang mewakili kawan-kawannya sebagai juru bicara.
Halaman
59 - 60
“Kesalahan apa yang telah mereka perbuat?”.
Kemudian pengawal itu kembali menjelaskan secara singkat dan
runut apa yang telah terjadi dari awal hingga akhirnya mereka tiba di Kepatihan
untuk menyerahkan para tawanan.
“Jadi Ki Pringsewu yang menyarankan kalian untuk membawa Kyai
Samber Geni bersama murid-muridnya kemari?”. berkata Ki Patih Singaranu setelah
selesai mendengarkan laporan dari Pengawal Menoreh itu.
“Demikianlah, Ki Patih”.
“Beruntunglah kalian telah bertemu dengan Ki Pringsewu,
sehingga masalah yang menimpa kalian dapat segera teratasi, bahkan dia bersedia
pula mengawal kalian hingga kemari”.
“Benar Ki Patih, kami merasa sangat beruntung sekali telah
kedatangan Ki Pringsewu yang bersedia membantu kesulitan yang kami alami, padahal
kami belum pernah mengenalnya sebelumnya”.
“Aku mengenalnya”.
“Benarkah?”. sahut pemimpin pengawal itu, sembari tanpa
sadarnya mengangkat wajahnya, namun segera ditundukkannya kembali setelah
menyadari keterlanjurannya.
“Benar, aku mengenal Ki Pringsewu. Dia adalah orang yang baik,
meski kadang terlihat aneh, mungkin memang begitu orangnya”.
Orang-orang yang mendengarnya tidak menyahut, mereka hanya
menanggapinya saja dengan mengangguk-anggukkan kepalanya di tempat duduknya
masing-masing.
“Lalu kenapa Ki Pringsewu tidak ikut menghadap kemari bersama
kalian?”.
“Maaf Ki Patih, kami tidak tahu”.
“Apakah kalian tidak menanyakan kepadanya?”.
“Kami tidak berani, Ki Patih”.
“Kenapa kalian tidak berani menanyakannya?”.
“Kami takut akan menyinggung perasaannya”.
“Begitu rupanya, tetapi aku rasa dia bukanlah orang yang mudah
tersinggung, apalagi jika hanya kalian tanyakan tentang hal itu kepadanya”.
“Tetapi kami tidak berani, sebab kami baru saja mengenalnya
dan belum mengenalnya dengan baik. Sehingga lebih baik kami untuk tidak
berpikir atau bertanya yang macam-macam kepadanya”.
“Aku mengerti, lalu apakah ada hal lain yang ingin kalian
sampaikan kepadaku?”.
“Ampun Ki Patih, sepertinya hanya itu yang dapat hamba
sampaikan”.
“Jika demikian, aku persilahkan kalian kembali ke tempat
kalian. Dan jika nanti kalian bertemu dengan Ki Pringsewu, tolong sampaikan
salam dariku”.
“Sendika dawuh, Ki Patih. Ampun Ki Patih, lalu bagaimana
dengan para tawanan ini?”.
“Bukankah kalian ingin menyerahkannya kepada Mataram?”.
“Demikianlah, Ki Patih”.
“Kalau begitu tinggalkan saja mereka, biarlah aku yang akan
mengurusnya. Kalian kembali saja ke Tanah Perdikan Menoreh”.
“Sendika
dawuh, Ki Patih”.
“Dan aku
ingin sampaikan kepada kalian dan pemimpin sementara Tanah Perdikan Menoreh,
bahwa kemungkinan pemimpin kalian, yaitu Ki Agung Sedayu dan Nyi Pandan Wangi
kemungkinan masih agak lama untuk kembali di tengah-tengah kalian, sebab mereka
sedang mengemban tugas dari Mataram”.
‘Sendika
dawuh, Ki Patih”.
“Sepertinya
hanya itu yang dapat aku sampaikan kepada kalian”.
“Sendika
dawuh, Ki Patih. Kalau begitu kami sekaligus mohon pamit untuk undur diri untuk
kembali ke Tanah Perdikan Menoreh”. sahut pemimpin pengawal sembari
menghaturkan sembahnya yang diikuti oleh kawan-kawannya.
“Silahkan,
semoga perjalanan kalian tidak menemui hambatan yang berarti di sepanjang
perjalanan”.
Kemudian
para pengawal itupun segera meninggalkan tempat sekaligus meninggalkan para
tawanan yang tadi mereka bawa itu dengan perasaan lega, karena merasa tugas
yang dibebankan di pundak mereka telah selesai dijalankan dengan baik.
Halaman
61 - 62
Setelah para Pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu telah pergi,
Ki Patih Singaranu pun segera memanggil salah satu prajurit untuk menjalankan
perintahnya.
“Tolong panggilkan beberapa prajurit untuk membawa para
tawanan ini ke tempat khusus para tawanan, biarlah mereka menunggu di sana
hingga aku memanggil mereka”.
“Sendika dawuh, Ki Patih”.
Tidak lama kemudian mereka semua pun telah pergi meninggalkan
pertemuan itu, kecuali Ki Patih Singaranu yang masih tampak terdiam duduk di
tempatnya.
“Ki Pringsewu”. desis Ki Patih Singaranu sembari tersenyum di
dalam kesendiriannya, lalu segera bangkit dan menuju tempat peristirahatannya.
*****
Sementara itu Pasukan Surabaya yang berjumlah segelar sepapan
dan sedang berusaha mengejar gerak mundur Pasukan Mataram, malam itu harus
beristirahat di sebuah padang perdu pinggiran hutan setelah sepanjang hari
melakukan perjalanan panjang.
Biarpun semangat mereka begitu menggebu-gebu untuk dapat
segera menyusul sasaran, namun mereka bukanlah sekumpulan orang yang kehilangan
akal.
Dan setiap langkah yang mereka jejakkan telah mereka pikirkan
dengan penuh perhitungan dengan segala kemungkinan yang bakal terjadi kemudian.
Meskipun mereka adalah orang-orang pilihan dan sudah sangat terlatih
dengan baik, namun tetap saja mereka adalah manusia biasa yang masih
membutuhkan dukungan kewadagan.
Dukungan kewadagan itu tidak lain adalah makanan dan istirahat
yang cukup, sebab orang setinggi apapun kemampuan seseorang pasti masih
membutuhkan semua itu.
Dan akan menjadi sebuah kesia-siaan saja jika orang yang
berilmu sangat tinggi, namun ketika dirinya bertarung sedang kekurangan makan
dan istirahat.
Karena dalam keadaan wadagnya lemah, tentu dirinya tidak akan
dapat menunjukkan kemampuan terbaik yang dimilikinya, meski orang-orang yang
memiliki kelebihan adalah orang-orang yang terbiasa menjalani berbagai jenis
laku prihatin, tetapi semua itu tentu ada batasnya.
Dan sebagai sebuah kesatuan, apalagi sebuah kesatuan pasukan
yang sangat terlatih, tentu Pasukan Surabaya sangat menyadari akan kebutuhan
tersebut. Sehingga mereka pun sudah memperhitungkan semua kebutuhan itu.
Padang perdu yang biasanya hanya berselimutkan kesepian dan
kegelapan, namun malam itu nampak ramai dan terang oleh cahaya obor yang
dinyalakan para prajurit Surabaya.
Meski sedang beristirahat, tetapi tetap saja para prajurit
memiliki kesibukan akan tugasnya sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh
senopati dari kesatuannya masing-masing.
Namun ada yang menarik dalam perjalanan pasukan segelar
sepapan Pasukan Surabaya kali ini, sebab mereka mendapat penunjuk jalan dari
pihak luar di tengah perjalanan. Dan kebetulan itu memang sangat diperlukan,
sehingga orang itu kemudian diajak serta di dalam pasukan.
Meski mereka percaya, namun tetap saja sebagai para prajurit
mereka tidak akan pernah percaya sepenuhnya dengan orang asing yang baru saja
mereka temukan, sehingga mereka menempatkan beberapa prajurit untuk selalu
mengawasinya.
Halaman
63 - 64
Dan kebetulan yang mendapat tugas untuk mengawasinya adalah
keempat prajurit kepercayaan Ki Tumenggung Wisabaya, orang yang pertama kali
menemukannya.
Dalam pengenalan singkat hingga akhirnya mereka beristirahat
sementara di padang perdu Kademangan Munung kali ini, mereka belum menemukan
ada tanda-tanda yang mencurigakan.
Yang dapat mereka tangkap dari orang itu, adalah orang itu
cukup pendiam dan baru bicara jika ditanya, itupun dia hanya akan menjawab
seperlunya saja sesuai apa yang dia ketahui.
Mungkin pula karena orang itu mulai ada rasa ketakutan berada
di antara para prajurit yang baru saja dikenalnya dengan jumlah yang segitu
banyaknya.
Sehingga dirinya berpikir untuk mencari aman dengan
menempatkan diri dengan sebaik mungkin agar tidak menimbulkan masalah yang akan
dapat menyeretnya kedalam kesulitan.
Meski keempat prajurit yang mengawasinya sesekali mencoba
untuk lebih mendekatkan diri dengan cara mengajaknya bicara tentang apa saja
yang menarik bagi mereka, namun sepertinya orang itu memang orang yang terlihat
kaku dan tidak suka basa-basi.
“Gumbala, bagaimana awalnya kau menjadi seorang prajurit?”.
bertanya Ki Rangga Jala Wetan mencoba mencairkan suasana di tempat
istirahatnya.
“Aku anak padesan yang miskin, dan orang tuaku hanyalah buruh
kasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluargaku”.
“Sudah berapa lama kau menjadi prajurit?”. sahut Ki Rangga
Jala Lor ikut menimpali.
“Belum terlalu lama, karena dulu beberapa kali aku selalu
gagal ketika mengikuti pendadaran pada saat penerimaan prajurit baru, karena
kemampuanku dianggap belum memenuhi syarat”.
“Apa yang membuatmu tetap ingin menjadi prajurit?”.
“Aku tidak punya pilihan lain yang aku anggap lebih baik”.
“Lalu kau berguru dimana untuk meningkatkan kemampuanmu,
hingga akhirnya kau terpilih menjadi prajurit?”.
“Tetanggaku ada bekas prajurit yang telah purna tugas karena
umurnya, dan kebetulan dia bersedia membimbingku hingga aku berhasil memenuhi
syarat dan diterima menjadi seorang prajurit”.
“Apakah kau tidak pernah berguru pada seseorang yang berilmu
tinggi? atau bahkan nyantrik di sebuah padepokan meski dalam waktu yang
singkat?”.
“Aku tidak sampai hati meninggalkan orang tuaku yang sudah
semakin tua untuk pergi hanya dengan tujuan seperti itu, berbeda sekali ketika
aku menjadi prajurit. Meski sama saja aku pergi dari rumah, tapi ketika pulang
ada hasil yang dapat aku serahkan”.
“Ya.. ya… aku mengerti”.
“Kenapa kau tidak berusaha mencari keluargamu, setelah kau
tidak berhasil menemukan mereka di rumah?”.
“Aku tidak tahu harus mencari mereka kemana”.
“Apakah kau tidak memiliki sanak kadang atau kawan yang
mungkin dapat kau datangi? jika kau tidak berhasil menemukan mereka, paling
tidak kau dapat mencari keterangan kemanakah keluargamu itu pergi?”.
“Kami tidak memiliki sanak kadang yang jauh dari tempat
tinggalku, apalagi kawan seperti yang kau sebutkan itu. Sehingga aku tidak tahu
harus bertanya kepada siapa dan mencari mereka kemana untuk menemukannya”.
“Aku turut berprihatin atas apa yang kau alami”.
Halaman
65 - 66
“Terima kasih”.
Sementara di perkemahan yang tampak paling besar, masih
terlihat ada beberapa orang penting dari Pasukan Surabaya yang membicarakan
perkembangan terakhir sebelum mereka pergi beristirahat melepas lelah.
“Adi Wisabaya, apa yang dapat kau laporkan atas perkembangan
terakhir, baik dari pasukan kita sendiri maupun dari Mataram?”.
“Berdasarkan laporan terakhir yang aku terima, pasukan kita
dalam keadaan baik-baik saja dan mereka tidak ada yang melalaikan tugasnya
sesuai dengan perintah dari Kakang Surawisa”.
“Syukurlah kalau begitu”.
“Dan tentang Pasukan Mataram, gerak pasukan itu terlihat
lambat karena harus membawa banyak prajuritnya yang terluka dan para tawanan
yang mereka bawa ke Mataram”.
“Apakah dengan demikian, semakin lama kita dapat memangkas
jarak dengan mereka menjadi semakin dekat? bahkan hingga dapat menyusulnya?”.
“Berdasarkan perhitungan, sepertinya demikian, Kakang”.
“Berdasarkan perhitunganmu, berapa lama kira-kira kita dapat
menyusul Pasukan Mataram itu?”.
“Jika melihat kecepatan gerak pasukan kita, kemungkinan tiga
hari lagi atau paling lambat di hari keempat kita tentu akan berhasil menyusul
mereka”.
“Apakah sudah kau perhitungkan pula jalan-jalan yang bakal
kita lalui beserta kemungkinan hambatan di sepanjang perjalanan yang mungkin
dikarenakan jalan yang harus berbelok-belok untuk menghindari hutan yang
rungkut atau perbukitan yang membuat kita harus jalan melingkar?”.
“Penunjuk jalan yang baru saja kita temukan itu telah mengenal
jalan-jalan yang bakal kita lalui dengan baik, dan dia membantu memilihkan
jalan yang paling baik agar kita semua dapat segera menyusul Pasukan Mataram”.
“Tetapi harus kau bicarakan pula dengan para Prajurit Sandi
kita agar tidak terjadi kesalahpahaman nantinya. Selain itu prajurit kita dapat
memeriksanya lebih dulu, apakah semua keterangan yang disampaikan orang itu
benar adanya”.
“Aku mengerti, Kakang”.
“Adi Wisabaya, kita sama-sama prajurit. Jadi tanpa aku
jelaskan secara mendalam, aku rasa tentu kau tahu maksudku”.
“Iya Kakang, aku mengerti maksudmu. Aku memang telah
memberikan kepercayaan kepadanya, tetapi bukan berarti aku telah percaya
kepadanya sepenuhnya. Orang itu tetap selalu dalam pengawasan, dan aku
memerintahkan empat orang”.
“Karena setelah melihatnya sekilas kemarin, dari lekuk
tubuhnya aku rasa sepertinya orang itu memiliki bekal kanuragan. Tetapi aku
sendiri tidak tahu setinggi apa tatarannya”.
“Sejauh pengetahuanku, bukankah ketika akan memasuki dunia
keprajuritan dimanapun hal itu merupakan syarat wajib yang harus dimiliki semua
orang”.
“Aku tahu maksudmu, Adi. Tapi kemampuan yang aku maksud kali
ini adalah kemampuan yang mungkin lebih dari kemampuan prajurit kebanyakan”.
“Kakang tenang saja, empat orang yang aku tugaskan untuk
selalu mengawasinya adalah prajurit dengan pangkat Rangga semua, jadi meski dia
memiliki kelebihan, tentu akan berpikir ulang jika berniat macam-macam”.
“Syukurlah jika kau sudah memikirkannya”.
Halaman
67 - 68
“Lalu apakah dia sudah memberikan keterangan tentang jalan
mana sajakah yang paling baik yang bakal kita lalui untuk dapat menyusul
Pasukan Mataram dengan sesegera mungkin?”.
“Sudah, Kakang. Dia menyebutkan, dari Kademangan Munung ini
kita akan terus berjalan ke barat dan akan melewati Kademangan Banyu Urip,
Kademangan Wilangan, Kademangan Mejayan, Kademangan Baleredja, Kademangan
Karangmaja, lalu kita harus melewati daerah hutan kecil yang berbukit yang
bernama Selo Tumpang. Tetapi ada jalan di bagian tengahnya sehingga kita tidak
perlu bergerak melingkarinya untuk mencapai Kademangan Dadapan sebelum memasuki
Pajang”.
“Ternyata lengkap sekali keterangan dari orang itu, sepertinya
dia memang benar-benar mengenal dengan baik jalan yang bakal kita lewati ini”.
“Dan menurut perhitungannya dan diperkuat oleh laporan dari
para prajurit sandi kita, jika mengingat keadaan Pasukan Mataram sekarang ini,
maka jalan itulah yang kemungkinannya paling besar akan mereka lewati”.
“Tetapi kita harus berusaha bergerak secepat mungkin dan aku
ingin kita berhasil menyusul pasukan itu sebelum mereka memasuki Pajang. Sebab
jika yang terjadi demikian, pekerjaan kita akan menjadi semakin bertambah”.
“Aku mengerti, Kakang”.
“Kita sama-sama tahu bahwa Pajang adalah bagian dari Mataram
dan tentu Pajang tidak akan tinggal diam jika terjadi sesuatu dengan Mataram,
apalagi jika itu terjadi di depan hidung mereka”.
“Tetapi berdasarkan laporan yang aku terima, Mataram sempat
mengirim utusan kepada Pajang untuk meminta bantuan, tetapi hingga saat ini
belum ada tanda-tanda bahwa Pajang akan mengirimkan bantuan”.
“Meski demikian kita jangan terlena dan harus tetap
berhati-hati dalam menilai keadaan, Adi. Kita perlu memperhitungkan hingga
kemungkinan paling buruk sekalipun”.
“Justru yang datang adalah pasukan cadangan dari Mataram, dan
jika dilihat dari ciri-cirinya, mereka adalah pasukan dari kesatuan Pasukan
Jalamangkara”.
“Meski mereka berusaha melarikan diri dari kita, tetapi
ternyata mereka tetap berhati-hati dan siap menghadapi segala kemungkinan. Dan
mereka telah memperhitungkan pula jika seandainya kita berhasil menyusul
mereka, maka dari itu diam-diam mereka menyiapkan pasukan”.
“Mungkin pula mereka bergerak mundur sembari menghimpun
kekuatan dan menunggu kita di suatu tempat”. sahut Kyai Sasrawisa yang sedari
tadi lebih banyak mendengarkan saja.
“Mungkin pula, Kyai”.
“Tetapi jika mengingat kekuatan mereka, apakah mereka berani
dengan sengaja menunggu kedatangan kita?”.
“Jika kita bicara sebuah kemungkinan, mungkin saja, Adi.
Bukankah mereka telah mengirim pasukan Jalamangkara pula?”.
“Tetapi Pasukan Jalamangkara itu bukanlah sebuah pasukan yang
besar, Kakang. Dan menurut perhitungan, pasukan kita masih hampir dua kali
lipatnya dari jumlah mereka. Apakah bukan membunuh diri namanya jika mereka
benar-benar berani menyongsong kedatangan pasukan kita?”.
“Tentu mereka telah memiliki perhitungannya sendiri pula jika
seandainya kita benar-benar saling bertemu, namun jika mereka salah perhitungan
dan pada akhirnya mereka hanya akan membunuh diri dengan berani menyambut
pasukan kita, bukankah memang hal itu yang kita mau?”.
Halaman
69 - 70
“Kakang benar, kita memang ingin menghancurkan Pasukan Mataram
yang pengecut itu”.
“Aku rasa mereka bukanlah pasukan yang pengecut, tetapi mereka
sadar diri bahwa tidak akan menang melawan pasukan kita ketika masih di
Wirasaba, dengan keadaan pasukan yang telah terluka. Sehingga mereka melarikan
diri sembari mencari bantuan, untuk menanggulangi jika perang benar-benar
pecah”.
“Tetapi menurut pendapatku, mau tidak mau Pasukan Mataram
memang harus pasukan kita. Sebab berdasarkan perhitungan kita bersama, kita
akan mampu mengejar mereka sebelum mereka memasuki Pajang”.
“Aku sependapat dengan Kyai Sasrawisa, kemungkinan kita dapat
menyusul mereka memang sangat besar sekali, dan mereka tidak memiliki pilihan
lain, selain mereka harus mempersiapkan diri pula untuk menyambut kedatangan
kita”.
“Nah… berarti bukan karena mereka akan berniat membunuh diri,
tetapi karena mereka memang tidak memiliki pilihan lain dalam keadaan sekarang
ini”. sahut Ki Tumenggung Surawisa.
“Dan jika yang terjadi memang demikian, bukankah ini adalah
keberuntungan bagi kita? karena secara tidak langsung hal ini akan semakin
mempermudah pekerjaan kita”.
“Kyai Sasrawisa benar, tetapi meski begitu kita jangan terlalu
percaya diri dan harus tetap menggunakan penalaran kita dengan wajar, agar kita
tidak kehilangan pengamatan diri”.
“Ya.. ya.. aku mengerti, memang begitu seharusnya”.
“Aku rasa sekarang sudah semakin malam, jika tidak ada hal penting
yang perlu kita bicarakan lagi, sebaiknya kita segera beristirahat”. berkata Ki
Tumenggung Surawisa yang berusaha mengakhiri pertemuan kali ini.
“Baiklah kalau begitu, Kakang. Aku akan kembali ke tempatku
untuk beristirahat”. sahut Ki Tumenggung Wisabaya.
“Silahkan, aku juga akan segera beristirahat”.
Sementara di luar perkemahan malam memang sudah hampir
menjelang puncaknya disertai dengan hawa dingin yang semakin menusuk kulit,
apalagi bagi mereka yang beristirahat atau sedang bertugas di alam terbuka dan
jauh dari perapian.
Namun mereka adalah orang-orang pilihan yang sudah sangat
terbiasa beristirahat dimanapun berada, termasuk di alam terbuka dengan
berselimutkan luasnya langit yang terbentang di angkasa, berhiaskan
bintang-bintang yang tak terkira jumlahnya.
Karena dalam tubuh yang lelah sudah tidak mempersoalkan lagi
dimanakah mereka dapat membaringkan tubuh, yang penting mereka dapat tidur
pulas dan tidak terganggu oleh apapun.
Meski malam itu mereka diganggu oleh dinginnya malam dengan
angin sepoi-sepoi yang membawa embun tipis yang membasahi kulit dan ditambah
lagi gangguan dari nyamuk-nyamuk nakal, tetapi tetap saja tidak mampu mengusik
istirahat mereka yang telah tidur dengan nyenyaknya.
Mungkin itu salah satu bagian hidup yang penuh kedamaian,
yaitu pada saat kita tertidur dengan nyenyaknya. Sebab pada saat itu pula kita
dapat melupakan sejenak hiruk-pikuknya kehidupan yang seakan tidak akan pernah
ada habisnya.
Apalagi bagi orang-orang yang selalu memiliki gegayuhan,
terutama gegayuhan yang tinggi, maka hidupnya akan selalu dibayangi oleh
kegelisahan jika gegayuhan tersebut belum dapat kasembadan.
Namun disisi lain, jika seseorang tidak memiliki gegayuhan
apapun di dalam hidupnya maka seakan hidupnya tidak memiliki lagi gairah dan
semangat, atau dapat dikatakan seakan orang tersebut telah mengalami mati
sakjroning urip.
Halaman
71 - 72
Tetapi itulah hidup dan kehidupan yang dikehendaki oleh Yang
Maha Welas Asih, selalu ada saja antara baik-buruk, senang-susah, dan
hitam-putih yang mewarnai tanpa pernah dapat kita minta atau menolaknya.
Kita sebagai hambanya hanya dapat menjalaninya dan hanya dapat
selalu berusaha untuk menjadi manusia yang sebaik-baiknya dengan penuh
kesadaran diri.
Ojo rumongso biso, nanging biso rumongso.
*****
Sementara itu pada waktu yang hampir bersamaan, Ki Agung
Sedayu sedang menghadap pepundennya yang sedang beristirahat di daerah sebelah
Kademangan Mejayan.
Dan kedatangannya seperti biasa disambut oleh keempat
Priyagung Mataram yang memang selalu menunggu laporannya tentang perkembangan
terakhir yang terjadi.
“Ampun Kanjeng Sinuhun, jika hamba meminta menghadap pada
waktu yang kurang tepat dan telah berani deksura mengganggu waktu istirahat
Kanjeng Sinuhun”. ucap Ki Agung Sedayu sembari tidak lupa menghaturkan
sembahnya.
“Aku mengerti, kau meminta menghadap tentu karena ada sesuatu
yang penting yang ingin kau laporkan kepadaku segera”. sahut pepunden seluruh
kawula Mataram itu.
“Demikianlah, Kanjeng”.
“Katakanlah!”. sahut Panembahan Hanyakrakusuma yang sudah
tidak sabar ingin mendengar laporan yang dibawa oleh ayah Bagus Sadewa
tersebut.
“Atas kemurahan dari Yang Maha Welas Asih, pada perkembangan
terakhir Glagah Putih telah sehat kembali dari lukanya, dan sewaktu-waktu sudah
dapat bergabung kembali”.
“Syukurlah kalau begitu”.
“Dan seperti yang hamba laporkan pada saat terakhir, maka dia
akan langsung bergabung dengan pasukan kecil hamba yang kemudian akan
melaksanakan tugas khusus”.
“Ya… aku ingat akan hal itu, dan aku percaya kepadamu”.
“Ampun Kanjeng Sinuhun, jika hamba diperkenankan untuk
menyampaikan pendapat”.
“Katakanlah!”.
“Apa yang telah kita rencanakan ini mengandung resiko yang
sangat besar, antara berhasil dan gagalnya. Bukan maksud hamba tidak yakin
dengan kekuatan pasukan kita dan rencana yang telah kita sepakati ini, tetapi
karena jumlah pasukan lawan hampir dua kali lipatnya dari kita. Jadi hamba
harap Kanjeng Sinuhun menyiapkan pula rencana cadangan untuk menanggulangi jika
seandainya rencana utama kita ini mengalami kegagalan”.
“Bagaimana, Paman?”. bertanya Panembahan Hanyakrakusuma kepada
ketiga pamannya untuk meminta pendapat.
“Aku rasa apa yang dikatakan oleh Ki Agung Sedayu ada
benarnya, Ngger. Kita memang memerlukan hal itu agar kita tidak kebingungan,
seperti anak ayam yang kehilangan induknya jika hal itu benar-benar terjadi”.
“Aku sependapat pula dengan Ki Agung Sedayu dan Adimas
Pringgalaya, kita memang jangan hanya terpaku pada sebuah rencana saja, karena
di dalam medan segalanya dapat terjadi. Bahkan hingga kemungkinan yang tidak
pernah kita duga sebelumnya sekalipun”.
Halaman
73 - 74
“Lalu apa rencana cadangan kita yang paling baik, menurut
kalian?”. sahut Panembahan Hanyakrakusuma.
Kemudian mereka pun menyampaikan pendapatnya sesuai dengan apa
yang ada di dalam penalaran masing-masing, beserta alasannya dan untung
ruginya.
Orang-orang yang ada di tempat itupun menjadi terdiam setelah
semua menyampaikan pendapatnya, guna mencerna dan membuat
pertimbangan-pertimbangan baru.
Meski pada akhirnya Kanjeng Sinuhun lah yang akan mengambil
keputusan, namun orang nomor satu di Mataram itu tetap mau mendengarkan
pendapat dari orang-orang kepercayaannya tersebut sebelum mengambil keputusan.
Sebab dirinya sangat menyadari bahwa secara kemampuan dan
pengalaman, Kanjeng Sinuhun Mataram masih merasa kalah jika dibandingkan dengan
keempat orang itu. Dan tanpa merasa sungkan atau malu, dia mau belajar.
Meskipun dia harus belajar kepada anak buahnya sendiri.
“Jika sekarang Angger Panembahan masih ragu untuk membuat
keputusan, aku rasa bisa diputuskan besok lagi. Lagipula setiap pendapat yang
tadi tersampaikan hampir sama dan tidak saling bertentangan, dan kita hanya
tinggal butuh penyesuaian saja”.
“Aku sependapat dengan Kakangmas Pringgalaya, lagipula itu
adalah rencana cadangan. Jadi tentu tidak akan mengganggu rencana utama kita
yang sekarang”.
“Sepertinya memang begitu. Memang itu tidak harus sekarang,
tetapi jangan terlalu lama pula, agar dapat segera diperintahkan kepada para
senopati untuk pedoman mereka dan kita bersama”. sahut Pangeran Puger.
‘“Baik, Paman. Aku mengerti”.
“Lalu apalagi yang dapat kau laporkan?”.
“Pasukan Jalamangkara yang dipimpin oleh Ki Tumenggung
Sanggayudha telah tiba di tempat yang telah kita sepakati, dan mereka menunggu
perintah selanjutnya dari Kanjeng Sinuhun”.
“Mulailah dulu pekerjaan yang telah kita sepakati, dan jika
yang lain telah tiba pula di sana, maka bergabunglah mereka. Dan nanti jika
pasukan yang dari sini sampai, kita akan saling bahu-membahu menyelesaikan
pekerjaan hingga selesai”.
“Sendika dawuh, Kanjeng Sinuhun”.
“Setiap kesatuan yang masih tersebar harus dapat melaksanakan
tugasnya dengan sebaik-baiknya, selain kita dituntut untuk bergerak secepat
mungkin. Tetapi jangan lupakan pula setiap ketelitian yang harus kita
perhatikan, agar nanti tidak mengecewakan kita semua”.
“Sendika dawuh, Kanjeng”.
“Apalagi jika pekerjaan itu menyangkut tentang nasib banyak
orang, kita harus lebih hati-hati lagi dalam setiap langkah yang kita
kerjakan”. ucap Pangeran Pringgalaya ikut menimpali.
“Oh.. iya, apakah pasukan kecilmu telah kau bekali dengan
penawar racun pula?”.
“Sudah, Kanjeng Sinuhun. Tetapi hamba mohon ampun, karena
waktunya yang begitu mendadak dan sempit, maka hamba hanya dapat menyiapkan
penawar racun itu bagi pasukan kecil hamba saja dan tidak dapat menyediakan
lebih untuk yang lain”.
“Aku mengerti, aku juga telah memerintahkan Tabib keprajuritan
untuk membuatnya bagi pasukan ini dengan dibantu para prajurit yang telah
disebar ke berbagai tempat untuk membantu mencari bahan-bahan yang dibutuhkan”.
Halaman
75 - 76
“Bagaimana jika Angger Panembahan meminta bantuan kepada Ki Patih
Singaranu untuk menyiapkan penawar racun itu? barangkali di Mataram masih ada
persediaannya atau barangkali dapat membantu mengupayakannya”.
“Paman Pringgalaya benar, kita justru hampir melupakannya. Ki
Agung Sedayu, kau dengar itu?”.
“Sendika dawuh, Kanjeng. Hamba akan menyampaikannya kepada Ki
Patih Singaranu, dan jika nanti sudah tersedia maka hamba akan membawakannya”.
“Apakah masih ada lagi yang ingin kau laporkan?”.
Mendapat pertanyaan tersebut, pada awalnya Ki Agung Sedayu
sempat ragu untuk menyampaikannya, tetapi dirinya tidak mau kembali disalahkan
jika nanti terjadi sesuatu diluar kendalinya.
Kemudian ayah Sekar Wangi pun menceritakan secara singkat
kedatangan orang misterius itu, lalu apa maksud dan tujuan dia datang
menemuinya dengan cara yang tidak wajar.
“Ternyata masih ada saja orang yang berusaha mengail di air
yang sedang keruh”. desis Pangeran Pringgalaya setelah selesai mendengarkan
laporan tersebut.
“Hamba mohon petunjuk dari Kanjeng Sinuhun”.
“Bagaimana menurut, Paman bertiga?”.
“Sepertinya orang itu tidak main-main dengan ucapannya, selain
itu dia adalah orang yang berilmu sangat tinggi. Maka dari itu perlu mendapat
perhatian khusus”. sahut Pangeran Puger.
“Bukankah dia mengatakan bahwa dia tidak ada hubungannya
dengan perseteruan antara Mataram dan Surabaya yang kemungkinan bakal terjadi?
dan hanya menunggu Ki Agung Sedayu sebagai lawannya? jika yang terjadi
demikian, aku rasa dia adalah salah satu tokoh yang ingin membuat perhitungan
secara pribadi kepada Ki Agung Sedayu, tetapi kita semua belum tahu alasan apa
yang mendasari orang itu berbuat demikian”.
“Aku sependapat dengan Adimas Demang Tanpa Nangkil, sepertinya
orang itu memang ingin membuat perhitungan pribadi hanya kepadamu, Ki Agung
Sedayu. Apakah dia tidak mengatakan baik secara langsung maupun tersirat apa
penyebabnya?”.
“Tidak Pangeran Pringgalaya, orang itu hanya mengatakan
maksudnya seperti yang tadi sudah aku sampaikan, tidak kurang dan tidak lebih”.
“Tetapi apapun alasannya, aku rasa orang itu perlu mendapat
perhatian khusus. Karena jika kita biarkan tentu orang itu dapat menjadi duri
di dalam daging”.
“Adimas Pringgalaya benar, dan jika mendengar sekilas tentang
orang itu. Mungkin pula orang itu akan dapat mengacaukan rencana kita dalam
menghadapi Pasukan Surabaya”.
“Memang itu sangat mungkin sekali. Dan jika kita biarkan, maka
orang itu mungkin pula dapat menimbulkan kekacauan yang berujung menjadi petaka
bagi kita semua”.
“Jika mendengar tentang kemampuannya, mau tidak mau kita
memang harus memberikan perhatian khusus kepadanya meski sebenarnya kita pun
sedang kekurangan orang-orang yang memiliki kelebihan, tetapi kita tidak
memiliki pilihan lain”. sahut Pangeran Pringgalaya dengan suara lesu.
“Aku sependapat dengan paman bertiga, dan menurutku orang yang
paling tepat untuk memberikan perhatian khusus kepadanya adalah kau sendiri, Ki
Agung Sedayu”.
“Sendika dawuh, Kanjeng. Tetapi…”.
“Tetapi apa, Ki Agung Sedayu?”.
Halaman
77 - 78
“Bagaimana jika hamba tidak mampu mengatasinya?”.
“Apakah kau menjadi ketakutan karena kedatangannya dan jika
terpaksa harus bertempur dengannya?”.
“Bukan maksud hamba menjadi ketakutan, Kanjeng Sinuhun. Tetapi
hamba hanya bicara suatu kemungkinan yang dapat saja terjadi di dalam sebuah
pertempuran”.
“Untuk hasilnya, marilah kita sama-sama nenuwun. Karena
hanya kepada Yang Maha Welas Asih lah kita dapat memohon dan meminta
pertolongan tentang segala urusan yang berada di dalam isi kepala dan hati
kita”. sahut Pangeran Pringgalaya.
“Baik, Pangeran”.
“Kita berusaha saja dengan sebaik-baiknya sejauh apa yang
dapat kita lakukan dalam menghadapi segala urusan yang sedang kita hadapi, dan
biarlah Yang Maha Agung lah yang akan menuntun setiap langkah kita”.
“Baik, Pangeran”.
“Karena ketika kita sudah berusaha sejauh yang kita mampu,
namun hasil yang kita dapat hanya seperti itu, maka disitulah pertanda bahwa
batas kemampuan kita hanya sebatas itu, atau hal itu yang biasa kita sebut pepesthen.
Tetapi selain dari usaha kita, ada pula pepesthen karena adanya
pertolongan dari Yang Maha Agung, dan hal itu yang biasa kita sebut pepesthen
yang dinaungi oleh keberuntungan”.
“Aku sependapat dengan Kakangmas Pringgalaya”.
“Ampun Kajeng Sinuhun, jika tidak ada lagi titah bagi hamba,
hamba pamit mohon undur diri guna melanjutkan tugas hamba yang telah tertunda”.
“Silahan, Ki Agung Sedayu”.
Kemudian ayah Bagus Sadewa itupun segera beranjak dari tempat
duduknya dan segera meninggalkan tempat keempat Priyagung Mataram itu setelah
pembicaraan yang dilakukan dirasa sudah cukup jelas baginya.
Para prajurit Mataram yang melihatnya kini sudah tidak merasa
heran lagi karena kedatangannya yang sering begitu tiba-tiba dan seorang diri.
“Sepertinya masih ada sedikit waktu, semoga saja dia belum
beristirahat di antara kawan-kawannya”. membatin Ki Agung Sedayu ketika keluar
dari perkemahan Priyagung Mataram.
Lalu dengan meminta bantuan seorang prajurit yang kebetulan
sudah dikenalnya dengan baik, dia mencoba menyusuri jalan di antara para
prajurit Mataram, baik yang sedang bertugas maupun yang telah beristirahat
untuk menemui seseorang.
Kebetulan orang yang dicarinya masih terlihat berbincang
dengan prajurit yang telah dikenalnya pula dengan sangat baik, bahkan karena
saking baiknya sudah seperti saudara sendiri.
“Umbara?”.
Prajurit yang merasa namanya disebut menjadi terkejut dan
langsung membalikkan badannya, sebab yang memanggil namanya berada di bagian
belakang tempat dirinya sedang duduk bersama kawan-kawannya.
“Paman Agung Sedayu?”.
“Selamat datang, Ki Agung Sedayu”. sambut orang yang sudah
sangat dikenalnya dengan baik itu.
“Terima kasih, Ki Rangga Sabungsari. Bagaimana kabar kalian?
apakah kau sudah sembuh, Umbara?”.
“Baik Ki Agung Sedayu, bagaimana dengan kabarmu sendiri?”.
Halaman
79 - 80
“Akupun dalam keadaan baik”.
“Sudah, Paman. Atas kemurahan dari Yang Maha Agung dan dibantu
para Tabib keprajuritan, aku sudah pulih kembali seperti sedia kala, Paman”.
“Syukurlah kalau begitu”.
“Apakah kedatangan, Paman memang sengaja mencari aku?”.
“Antara iya dan tidak”.
“Maksud, Paman?”.
“Sebenarnya aku datang kemari adalah
untuk menghadap Kanjeng Sinuhun, tetapi karena aku merasa masih ada waktu,
meski sedikit, maka aku sempatkan untuk menemuimu untuk melihat keadaanmu.
Sebab aku sempat mendengar bahwa kau terluka cukup parah kemarin”.
“Demikianlah, Paman. Tetapi sekarang aku sudah sembuh sedia
kala, hanya tubuhku saja masih terasa sedikit lemah. Tetapi dengan bantuan obat
dari Tabib keprajuritan, aku rasa aku akan segera bugar seutuhnya”.
“Syukurlah kalau begitu, maaf karena kesibukanku aku baru
sempat menemuimu”.
“Tidak apa-apa, Paman. Aku mengerti jika Paman Agung Sedayu
memang terlalu sibuk dengan tugas-tugas yang seakan tidak pernah ada habisnya”.
“Dan kebetulan saja aku masih mendapat kepercayaan itu dari
Pepunden Mataram, sehingga aku masih mendapat tugas yang harus aku selesaikan
dengan sebaik-baiknya”.
“Apakah Paman Agung Sedayu akan bermalam di sini bersamaku dan
kawan-kawanku?”.
“Tidak, Umbara. Sebentar lagi pun aku harus pergi lagi untuk
mengemban tugas yang tidak dapat aku sebutkan kepada kalian”.
“Oh… begitu rupanya”.
“Aku hanya ingin berpesan kepadamu, hati-hatilah kau jika
memasuki medan, karena bahaya akan selalu mengintaimu setiap saat dan setiap
waktu tanpa pernah kau tahu kapan datangnya”.
“Baik, Paman”.
“Dengarkanlah pesan-pesan dari Paman Rangga Sabungsari agar
kau tidak terjerumus ke dalam kesulitan”.
“Baik, Paman. Terima kasih atas pesan-pesan Paman Agung
Sedayu, dan semoga aku dapat selalu mengingatnya dengan baik”.
“Ki Agung Sedayu?”. potong Ki Rangga Sabungsari yang mencoba
mengalihkan pembicaraan.
“Ada apa, Ki Rangga Sabungsari?”.
“Apakah kau tahu, kemanakah hilangnya Ki Lurah Glagah Putih
yang hingga kini belum dapat ditemukan?”.
Tiba-tiba hati Ki Agung Sedayu berdesir mendengar pertanyaan
yang tidak pernah diduga sebelumnya, sehingga membuatnya sempat tercenung
sejenak.
- - - o - O - 0 - - -
bersambung ke
Djilid
26
bagi panjenengan yang berkenan menyalurkan donasi untuk membantu kelancaran
wedaran, silahkan :
PUJI
PRASTIYO
BANK
BRI
NOMOR
REKENING : 7199 0101 7401 536
saya hanya
dapat mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas segala apresiasi
panjenengan semua terhadap hasil tulisan saya, dan semoga hasil tulisan saya
yang tidak seberapa ini masih ada manfaatnya bagi kita semua, betapapun
kecilnya.
semoga
kebaikan panjenengan dan keluarga membawa keberkahan bagi kita semua dan semoga
Yang Maha Welas Asih membalas segala kebaikan panjenengan sekeluarga dan semoga
kita termasuk orang-orang yang selalu berjalan, di jalan yang diridhoi Yang
Maha Welas Asih.
saya
bukan siapa-siapa dan tidak bisa berbuat apa-apa tanpa segala bimbingan, dukungan,
dan do'a dari panjenengan semua.
konfirmasi :
prastiyomalaikatdjibril@gmail.com
Padepokan
Tanah Leluhur
Terima Kasih

siaaap di tunggu Ki
BalasHapussiyaaap. sabar menanti Ki ......
BalasHapussemoga wedaran segera bisa dinikmati kembali......
BalasHapussudah kangen sama wedarannya....
BalasHapusAlhamdulillah, dah sampai halaman 10. Terimakasih Ki, makin memikat ceritanya ....
BalasHapus