PdTL 26

 

Alhamdulillah...

wedaran harian telah dimulai


Halaman 1 – 2

 

* * * * *

 

Samar-samar dari kejauhan terdengar suara Burung Kedasih yang mampu membuyarkan suasana di sekitaran perkemahan yang digunakan sebagai peristirahatan sementara bagi Pasukan Mataram, terutama bagi Ki Agung Sedayu yang sempat tercenung mendapat pertanyaan dari kawannya tersebut.

“Akupun masih berusaha mencarinya”.

Anak dari Swargi Ki Gede Telengan itupun sempat mengerutkan keningnya sejenak setelah mendengar jawaban itu, dan kemudian menganggukkan kepalanya perlahan.

Di dalam hatinya sebenarnya masih ada yang terasa tidak mapan, namun dalam pertimbangannya yang singkat, segera diurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut.

Sepertinya memang lebih baik dia cukup menyimpannya saja rasa penasaran itu di dalam hatinya, sebab dalam penalarannya orang yang berdiri di hadapannya tersebut secara tersirat tidak ingin memberikan keterangan lebih lanjut.

Namun sebagai seorang yang memiliki panggrahita yang sangat tajam, Ki Rangga Sabungsari mampu menangkap gelagat yang nyalawadi yang ditunjukkan dari orang yang sedang berdiri di hadapannya tersebut, meski hal itu hanya berlangsung dengan demikian cepatnya.

Mungkin dengan demikian dirinya masih belum dapat mengetahui dengan tepat apa yang sebenarnya telah terjadi terhadap orang yang ditanyakannya, namun paling tidak kini dirinya sudah memiliki dugaan-dugaan yang lebih terarah daripada sebelumnya.

“Apakah Paman Agung Sedayu belum mendapat gambaran atau keterangan sama sekali tentang kemanakah menghilangnya Paman Glagah Putih? yang sampai sekarang entah kemana?”. sahut Umbara yang merasa penasaran.

“Untuk sementara kau perlu ikut menjadi sibuk memikirkan pamanmu Glagah Putih, Ngger. Pusatkan saja perhatianmu bersama pasukan Mataram dan lakukan saja yang menjadi tugasmu dengan sebaik-baiknya. Sebab urusan pamanmu itu sudah ada yang telah mengurusnya, dan jika nanti sudah ada kabar tentu kau akan segera mendengarnya sendiri”.

“Baik, Paman”. sahut Umbara yang tidak dapat membatah lagi permintaan dari adik kandung ayahnya tersebut.

“Sepertinya aku sudah tidak dapat berlama-lama lagi di tempat ini, sebab tugas berat dari Kanjeng Sinuhun sudah menungguku dan sebaiknya aku minta diri sekarang”.

“Baiklah kalau begitu, dan semoga kau dapat berhasil dengan sebaik-baiknya dalam menjalankan tugasmu itu”. Sahut Ki Rangga Sabungsari.

“Terima kasih, Ki Rangga Sabungsari”.

“Paman Agung Sedayu, aku mengucapkan terima kasih pula kepada Paman yang sudah mau menyempatkan diri untuk menjengukku disini disela-sela kesibukan Paman yang sedang mengemban tugas”.

Setelah Ki Agung Sedayu berpamitan, maka dirinya segera bergegas meninggalkan tempat itu dan melangkahkan kakinya yang menuntunnya ke arah jalan setapak untuk memasuki hutan yang tidak jauh dari perkemahan.

Langkah kakinya diselimuti kegelapan malam yang mulai terasa dingin, dan tentu saja di dalam hutan yang akan dimasukinya akan terlihat menjadi semakin gelap karena terhalang rimbunnya pohon-pohon besar dan semak belukar yang masih banyak tumbuh liar.


Halaman 3 - 4

Dan beberapa pasang mata telah melepas kepergian kakak seperguruan Swargi Ki Swandaru Geni itu yang semakin lama semakin menghilang dan seakan ditelan oleh di kegelapan.

*****

Sementara itu di Kepatihan, Ki Patih Singaranu yang baru saja melepas kepergian para pengawal Tanah Perdikan Menoreh dan berniat akan kembali ke tempatnya, telah dikejutkan oleh kedatangan Pelayan dalam yang kembali menghadap.

Dengan berjalan berjongkok, Pelayan Dalam itu mulai mendekat dengan disambut oleh tatapan mata yang berkerut dan tanda tanya dari pepundennya tersebut.

“Ada apa lagi?”. bertanya Ki Patih Singaranu yang sudah tidak dapat menahan rasa penasarannya.

Sebelum menjawab, Pelayan Dalam itu terlebih dahulu menghaturkan sembahnya dari tempatnya berjongkok sembari menundukkan kepalanya.

“Ampun Ki Patih, hamba hanya menyampaikan permintaan prajurit yang ingin menghadap”. sahut Pe€layan Da€lam itu agak ketakutan.

“Siapa yang ingin menghadap?”.

“Seorang lurah prajurit yang bertugas di Kademangan Ngares dan sekitarnya”.

“Apa keperluannya?”.

“Dia ingin melaporkan bahwa dia telah diperintahkan oleh Nyi Pandan Wangi untuk membawa seorang tawanan kemari. Tetapi dalam perjalanan, dia bersama dua orang kawannya telah dihadang oleh orang tidak dikenal, lalu merebut tawanan yang mereka bawa entah kemana”.

“Baiklah, bawa lurah prajurit itu kemari”.

“Sendika dawuh, Ki Patih”. sahut Pelayan dalam itu lalu bergegas meninggalkan tempat.

Tidak lama kemudian Pelayan Dalam itu kembali bersama dengan orang yang dimaksud, untuk dihadapkan kepada Ki Patih Singaranu yang telah menunggu, dan tanpa menunggu perintah dia segera meninggalkan tempat itu dan kembali ke tempatnya.

“Ampun Ki Patih, jika hamba menghadap tidak pada waktu yang sewajarnya. Semua ini karena hamba merasa bahwa apa yang akan hamba laporkan adalah sangat penting”. berkata lurah prajurit itu sembari menghaturkan sembahnya.

“Aku mengerti, kau tentu tidak akan memohon menghadap jika tidak memiliki keperluan yang sangat penting”.

“Demikianlah, Ki Patih”.

“Katakanlah apa yang akan kau laporkan”. perintah Ki Patih Singaranu yang ingin segera menyelesaikan urusan tersebut.

Kemudian lurah prajurit itu segera melaporkan apa yang terjadi, dari awal dirinya bertemu dengan Nyi Pandan Wangi secara singkat namun runtut dan jelas.

“Demikianlah Ki Patih yang dapat hamba laporkan, dan sekali lagi hamba mohon ampun jika tidak dapat menjalankan tugas dengan baik, semua itu semata-mata karena diluar kemampuan hamba. Dan hamba menunggu perintah selanjutnya”.

Ki Patih tidak segera menjawab, dan tampak terdiam beberapa saat untuk membuat pertimbangan yang paling baik akan masalah yang baru dilaporkan tersebut.

“Apakah menurutmu, orang yang merebut tawananmu itu benar-benar orang yang berilmu sangat tinggi?”.

“Demikianlah, Ki Patih. Sebab kami bertiga dengan mudah dapat dikalahkannya, dan seperti tidak berarti apa-apa baginya”.


Halaman 5 - 6

“Apakah dia menyampaikan pesan?”.

“Sejauh ingatan hamba tidak, Ki Patih. Kejadian itu begitu cepat dan dia langsung saja menyerang kami secara tiba-tiba, kemudian pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun”.

“Aneh…”. gumam Ki Patih Singaranu tanpa sadarrnya.

“Memang aneh, Ki Patih. Tetapi itulah yang terjadi dan tidak hamba kurangi atau tambahi apa yang hamba laporkan”.

“Ketika menyerang kalian, orang itu berusaha menyamarkan dirinya atau tidak?”.

“Tidak Ki Patih”.

“Jadi kau dapat melihat orang itu dengan jelas?”.

“Benar Ki Patih, orang itu adalah seorang laki-laki yang sudah lebih dari paruh baya tetapi belum terlalu sepuh, dan mengenakan pakaian yang sudah lusuh, berkumis dan berjambang cukup lebat”.

“Setelah aku mendengar laporanmu, dugaan sementara atas orang itu adalah, sepertinya dia masih ada hubungan dengan tawanan yang kau bawa. Mungkin salah satu sanak kadangnya atau bahkan salah satu gurunya”.

“Kemungkinan itu sangat mungkin sekali, Ki Patih”.

“Sepertinya memang orang lain yang harus mengambil alih tugasmu ini, Ki Lurah”. ucap Ki Patih Singaranu sembari menatap tajam ke arah anak buahnya yang sedari tadi tidak berani mengangkat kepalanya.

“Hamba mohon ampun jika telah melakukan kesalahan dalam menjalankan tugas”. sahut lurah prajurit itu mulai ketakutan sembari menghaturkan sembah.

“Ini bukan semata-mata karena kesalahanmu, Ki Lurah. Tetapi bekalmu memang belum cukup untuk menghadapi orang itu”.

Mendengar jawaban tersebut, lurah prajurit yang pada awalnya sempat merasa ketakutan itu serasa disiram air sewindu yang sangat menyejukkan hati.

“Dan atas pertimbangan itulah aku akan menugaskan orang lain untuk mengurus masalah ini, tetapi bukan berarti kau sudah lepas tangan begitu saja”.

“Hamba selalu siap menunggu perintah berikutnya, Ki Patih”. sahut lurah prajurit itu sembari menghaturkan sembahnya.

“Kau segera laporkan apa yang terjadi sehubungan masalah ini, dan kau tidak perlu mengambil tindakan apapun. Karena biar orang lainlah yang mengemban tugas ini untuk menangkap mereka”.

“Sendika dawuh, Ki Patih”.

“Apakah masih ada yang ingin kau laporkan?”.

“Sepertinya hanya itu saja, Ki Patih”.

“Jika demikian, aku persilahkan kau melanjutkan tugasmu”.

“Sendika dawuh, Ki Patih. Hamba mohon diri”. sahut lurah prajurit itu sembari tidak lupa menghaturkan sembahnya, lalu segera bergegas meninggalkan tempat.

Ki Patih Singaranu melepas kepergian lurah prajurit itu dengan dengan tanpa sadar mulai terhanyut oleh perasaan yang dia sendiri sulit untuk mengungkapkannya.


Halaman 7 - 8

“Ternyata masih saja ada gejolak kecil yang seakan tidak pernah ada habisnya, disamping gejolak besar yang sedang terjadi di sepanjang luasnya tanah ini”. membatin Ki Patih Singaranu.

“Tetapi terkadang gejolak-gejolak kecil itu yang membuat urip iku urup, karena jika tanpa semua itu hidup ini seakan mati sak jroning urip. Sebab hidup akan terasa datar saja tanpa gejolak-gejolak yang ditimbulkan oleh orang-orang yang merasa berkepentingan, apapun itu alasannya”.

Dan baru saja Ki Patih Singaranu melangkahkan kakinya beberapa langkah untuk meninggalkan serambi, kembali datang Pelayan Dalam.

Setelah berada beberapa langkah di hadapan pepundennya tersebut, Pelayan Dalam itu segera menghaturkan sembahnya, lalu menyampaikan maksud kedatangannya.

“Ampun Ki Patih, hamba hanya ingin menyampaikan permintaan menghadap dari Ki Agung Sedayu”. berkata Pelayan Dalam itu mulai ketakutan, karena dalam waktu yang hampir bersamaan dirinya sudah datang tiga kali untuk keperluan yang sama.

“Ki Agung Sedayu, katamu?”.

“Demikianlah, Ki Patih”.

“Baiklah, aku tunggu dia disini”.

Tidak lama kemudian orang yang dimaksud pun datang tanpa perlu diantar oleh Pelayan Dalam, sebab dirinya sudah sangat mengenal tempat itu dengan baik, bahkan seakan sudah seperti rumah keduanya.

Namun sebelum Ki Agung Sedayu sempat mengatakan sesuatu, Ki Patih Singaranu lebih dulu mendahului pembicaraan di antara mereka berdua.

“Sebaiknya kita pindah ke ruang makan, agar lebih leluasa untuk bicara panjang lebar tanpa merasa diawasi. Selain itu kau dapat mengisi perutmu barang sedikit. Marilah, Ki Agung Sedayu”.

Ayah Sekar Wangi itu sempat ragu mendapat ajakan tersebut.

“Kau tak perlu sungkan, marilah”. ucap Ki Patih Singaranu mengulangi ajakannya, lalu mendahului melangkahkan kakinya ke tempat yang dituju.

Ki Agung Sedayu yang tidak dapat menolak lagi ajakan itu pada akhirnya hanya dapat mengikutinya dari belakang. Karena jika dirinya menolak, tentu akan membuat orang yang mengajaknya akan merasa tersinggung.

Tidak lama kemudian keduanya pun tiba di ruang makan Kepatihan, dan tidak sembarangan orang dapat memasuki ruangan itu, dan salah satunya adalah ayah Sekar Wangi.

Dan ternyata di ruangan itu masih terdapat hidangan yang masih tertutup rapi dengan tudung saji yang terbuat dari anyaman bambu, meskipun bukan hidangan makan malam.

Sebelum duduk, Ki Patih Singaranu memerintahkan kepada Pelayan Dalam untuk menyiapkan hidangan makan malam bagi dirinya dan tamunya.

“Tunggulah barang sebentar, Ki Agung Sedayu. Pelayan sedang menyiapkan makan malam bagi kita. Bukankah kau belum makan malam?”. ucap Ki  Patih Singaranu memulai pembicaraan kembali.

“Ah… sepertinya aku tidak dapat berbohong di depan Ki Patih Singaranu yang kini sudah menjadi orang waskhita”. sahut ayah Bagus Sadewa lalu tertawa.

Mendengar kelakar itu, Ki Patih Singaranu pun tidak dapat menahan tawanya, lalu keduanya mencari tempat duduknya masing-masing.


Halaman 9 - 10

“Biarlah sembari menunggu makanan datang, kita mengisi waktu dengan melanjutkan pembicaraan yang tertunda, daripada kita disini hanya berdiam diri”.

“Aku rasa memang sebaiknya demikian”.

“Tetapi sebelum itu, aku ingin bertanya kepadamu”.

“Semoga aku dapat menjawabnya dengan baik”.

“Tiba-tiba di Mataram ini muncul orang yang berilmu sangat tinggi dan dia mengaku sebagai Ki Pringsewu. Apakah kau tahu atau bahkan pernah mengenalnya?”.

Ki Patih Singaranu melemparkan tatapan mata yang tajam sembari tersenyum tipis ke arah lawan bicaranya setelah melemparkan pertanyaan tersebut.

Maka wajah yang sempat memerah sekejap itu tidak luput dari pandangan matanya, sebelum akhirnya ayah Bagus Sadewa hanya dapat ikut tersenyum.

“Baiklah jika kau merasa keberatan untuk menjawabnya, aku tidak akan memaksamu. Biarlah Ki Pringsewu tetap menjadi rahasia bagi orang-orang Mataram”. berkata Ki Patih Singaranu sembari tersenyum penuh arti.

Namun pembicaraan yang sedang akan memasuki pembicaraan yang lebih mendalam itu harus terputus, karena kedatangan Pelayan Kepatihan yang mengantarkan makanan bagi mereka.

Nasi yang masih nampak mengepul dan lengkap dengan lauk pauknya itu kini sudah berada di atas meja, dan telah siap untuk disantap oleh keduanya.

“Marilah Ki Agung Sedayu, dan entah kenapa kebetulan sekali tadi aku menunda makan malamku. Sehingga kita dapat makan bersama tanpa aku merasa kekenyangan”.

“Bukankah tidak menjadi soal jika seandainya Ki Patih kekenyangan sekalipun? sebab Ki Patih tidak mendapat tugas pergi kemana-mana sehingga tidak akan membuat perut Ki Patih suduk’en”. sahut Ki Agus Sedayu sembari tersenyum.

“Benar juga ucapanmu”. sahut Ki Patih lalu tertawa.

Suasana pembicaraan antara kawula dengan pepundennya itu terdengar begitu mencair dan seakan tidak ada jarak, seperti sedang berbicara dengan kawan sendiri.

Tetapi hal itu dapat dimaklumi, sebab keduanya sudang saling mengenal dalam waktu yang tidak sebentar, bahkan sejak keduanya masih sama-sama menjadi prajurit.

Kemudian pembicaraan itu dilanjutkan sembari mereka menyuapi mulut masing-masing dengan hidangan makan malam yang ada di meja.

“Apakah kau membawa perintah dari Kanjeng Sinuhun?”.

“Kanjeng Sinuhun memerintahkan kepada Ki Patih untuk segera menyiapkan obat penawar racun dengan jumlah banyak sebelum pecah perang antara Mataram dan Surabaya”.

“Penawar racun?”. sahut Ki Patih agak terkejut, sehingga menghentikan mulutnya yang sedang mengunyah makanan.

“Benar Ki Patih, obat penawar racun itu disiapkan untuk mengurangi kemungkinan buruk atau bahkan untuk mengatasi murid-murid Jalatunda yang kemungkinan besar suka bermain-main dengan racun”.

“Aku mengerti, nanti aku akan memerintahkan kepada para Tabib untuk menyiapkannya. Selain itu?”.

“Aku rasa tidak ada lagi selain kita harus tetap selalu melihat perkembangan dari para prajurit penghubung, dan segera mengambil sikap jika terjadi sesuatu”.


Halaman 11 - 12

“Ya… aku mengerti, karena dalam keadaan seperti ini kecepatan prajurit penghubung dalam melaporkan perkembangan yang terjadi menjadi sangat menentukan. Dan beruntunglah Mataram memiliki orang kepercayaan yang memiliki kemampuan khusus”. sahut Ki Patih Singaranu, lalu tersenyum.

“Semua itu semata-mata atas kemurahan dari Yang Maha Agung. Tetapi selaras dengan hal itu, menurut Kanjeng Sunan, aku harus menjaga segala tindakanku di sepanjang hidupku. Sebab jika melanggar, maka aku akan menerima akibatnya sendiri nantinya”.

“Ya… aku mengerti, kemampuan itu memang sebuah kemampuan yang sangat khusus. Sehingga untuk menjaganya kau menggunakan cara yang khusus pula”.

“Dengan demikian ada kemungkinan pula bahwa kemampuan itu dapat menjadi tumpul sewaktu-waktu jika aku melanggar pantangan yang telah ditetapkan, baik aku sadari ataupun tidak”.

“Bukankah jika itu terjadi, kau masih memiliki Aji Pengangen-angen yang sudah semakin ngedap-edapi? yang memiliki watak yang hampir sama dengan Aji Pangrupak Jagad? yang membedakan hanyalah kau hadir di tempat lain dengan bayangan semumu saja”.

Mendengar ucapan Ki Patih Singaranu, ayah Sekar Wangi itu tidak segera menjawab, tetapi yang terdengar justru suara tarikan nafasnya yang perlahan namun berat.

Sebagai seorang yang berpengalaman luas dan memiliki panggrahita yang sangat tajam, Ki Patih Singaranu segera menangkap sesuatu yang tidak wajar terhadap lawan bicaranya.

“Menurut panggrahita yang aku tangkap, sepertinya ucapanku ada yang membuatmu kurang mapan, Ki Agung Sedayu?”.

Ayah Bagus Sadewa itu masih menghentikan mulutnya yang masih mengunyah makanan, sembari menundukkan kepalanya dan sepertinya dia ingat akan sesuatu.

“Ki Patih, aku baru saja didatangi oleh orang yang misterius”. ucap Ki Agung Sedayu dengan suara perlahan.

“He… siapakah dia? lalu apa yang terjadi?”. sahut Ki Patih Singaranu yang menjadi sangat terkejut.

Bahkan karena saking terkejutnya, sisa makanan yang masih dikunyah di dalam mulutnya hampir saja tersembur keluar, bersamaan dengan matanya yang membelalak.

“Aku sendiri tidak tahu siapakah dia, dan dia sendiri tidak mau memperkenalkan dirinya ketika aku bertanya kepadanya”.

“Ada keperluan apa dia mendatangimu? apakah telah terjadi sesuatu kepadamu?”.

“Dia datang menemuiku hanya untuk menyampaikan pesan bahwa dia akan menungguku ketika pecah perang nanti antara Mataram dan Surabaya”.

“Orang Surabaya rupanya”.

“Bukan, dia mengaku bukan orang Surabaya. Dan katanya pula tidak ada hubungannya dengan perang yang bakal terjadi, tetapi dia menungguku sebagai lawan karena urusan pribadi”.

“Apakah kau dapat menduga, apa penyebab orang itu berbuat demikian kepadamu?”.

“Aku rasa tidak jauh dari rasa dendam, tetapi aku sendiri belum dapat menduga lebih jauh. Entah itu dendam lama atau baru, sebab selama ini banyak sekali orang yang mendatangiku hanya untuk melampiaskan dendamnya dengan alasannya masing-masing”.

“Ya… kau benar, kau memang sudah terlalu banyak didatangi orang yang ingin melampiaskan dendam di hatinya. Sehingga mengaburkan penalaranmu dalam menduga-duga siapakah orang itu dan sumber masalah apa yang telah membuatnya rela mempertaruhkan keselamatannya sendiri”.


Halaman 13 - 14

“Tentu bukan mereka saja yang akan mempertaruhkan keselamatannya, tetapi akupun demikian, Ki Patih”.

“Ya… aku mengerti, tetapi siapakah yang tidak mengenal murid utama Orang Bercambuk? dan seberapa tinggi tataran kemampuannya? seharusnya mereka dapat berpikir lebih wening, daripada hanya sekedar memenuhi rasa dendam yang berlebih”.

“Ah… Ki Patih terlalu memuji, bukankah dalam sebuah pertarungan kita memiliki kesempatan yang sama, dan belum tentu pula tataran kemampuannya yang lebih tinggi akan selalu keluar sebagai pemenang?”.

“Kau benar, tetapi bukkankah bekal seseorang dalam memasuki sebuah perang tanding itu sangat menentukan pula? selain kejernihan berpikir dan keseimbangan jiwani seseorang dalam menghadapi pertarungan itu sendiri?”.

“Ya… Ki Patih benar”.

“Apakah hal ini sudah kau laporkan kepada Kanjeng Sinuhun?”.

“Sudah”.

“Lalu apa tanggapan dari Kanjeng Sinuhun?”.

“Setelah melalui beberapa pertimbangan bersama tiga Pangeran, maka aku ditugaskan membayangi orang itu sekaligus. Sebab jika orang itu dibiarkan, dengan bekal kemampuannya ada kemungkinan dapat mengacaukan rencana yang telah kita susun bersama”.

“Apakah orang itu benar-benar berilmu sangat tinggi?”.

“Demikianlah”.

“Apakah menurut pendapatmu, kemampuannya lebih tinggi dari Ki Ageng Wirasaba yang baru saja kau kalahkan?”.

“Aku rasa begitu”.

“Jika demikian, kita memang tidak dapat membiarkannya begitu saja tanpa pengawasan. Sebab jika itu terjadi, dia dapat menjadi bencana bagi Pasukan Mataram yang sedang mempersiapkan diri untuk menyambut Pasukan Surabaya”.

“Memang itu sangat mungkin sekali, Ki Patih. Maka dari itu aku ditugaskan oleh Kanjeng Sinuhun untuk membayanginya”.

“Apakah menurutmu dia akan menunggumu hanya seorang diri? tanpa kawan sama sekali?”.

“Entahlah… tetapi jika dilihat dari kemampuan dan kepercayaan dirinya, mungkin sekali dia akan menungguku seorang diri”.

“Apakah dia telah menyebut sebuah tempat?”.

“Belum”.

“Lalu dimanakah dia akan menunggumu?”.

“Entahlah…”.

“Sepertinya dia memang sengaja melakukan itu, agar kau tidak mengajak kawan atau kawan-kawanmu akan menyusul. Sehingga akan mengganggu rencananya”.

“Mungkin itu salah satu alasannya”.

“Apakah masih ada kemungkinan lain?”.

“Dia tidak ingin melihat aku dapat dikalahkannya di hadapan kawan-kawanku”.

“Ah…”. sahut Ki Patih Singaranu, yang tiba-tiba suaranya menjadi seakan tercekat.

“Dari sekilas pengenalanku terhadap orang itu, orang itu benar-benar berilmu tinggi. Dan…”. tiba-tiba ayah Sekar Wangi itu ragu untuk melanjutkan kata-katanya.

“Dan apa, Ki Agung Sedayu?”. sahut Ki Patih penasaran.


Halaman 15 - 16

“Dan dia mengatakan bahwa, telah mengetahui pengapesanku”.

“Pengapesanmu?”. sahut Ki Patih dengan wajah terkejut.

“Demikianlah, Ki Patih”.

“Apakah kemampuanmu itu benar-benar memiliki sebuah pengapesan? seperti yang dikatakannya?”.

“Aku rasa semua orang di dunia ini tidak ada yang sempurna, Ki Patih. Dan setinggi apapun kemampuan seseorang, dia pasti memiliki kelemahan, termasuk aku”.

“Kalau itu aku sependapat. Tetapi yang aku maksud adalah, apakah kau memang memiliki pengapesan khusus atas kemampuan yang kau miliki?”.

“Awalnya aku tidak pernah terpikirkan tentang hal itu, tetapi setelah mendengar orang itu, aku jadi teringat kembali atas semua ilmu yang pernah aku pelajari”.

“Lalu apa yang kau ingat?”.

“Sepertinya ucapan orang itu ada benarnya”.

“He…?”. sahut Ki Patih Singaranu sangat terkejut, seperti disengat ribuan Tawon Gung.

 Dalam keterkejutannya, Ki Patih tidak melanjutkan kata-katanya dan lebih memilih untuk mempertimbangkan lebih dulu apa yang akan diucapkan untuk menanggapi hal itu.

Sehinggga untuk beberapa saat keduanya sama-sama terhanyut dalam keheningan, karena sama-sama tidak ada yang membuka suara. Bahkan makanan yang masih sedikit tersisa di dalam mangkuk, tertunda untuk segera dihabiskan.

“Apakah kau sudah memikirkan bagaimana cara mengatasi orang itu?”. bertanya Ki Patih, memecah keheningan.

“Sudah, tetapi hingga saat ini aku masih belum mendapat cara yang aku anggap paling baik. Dan barangkali Ki Patih dapat memberikan petunjuk kepadaku”.

“Ah… Ki Agung Sedayu suka berkelakar rupanya”.

“Aku tidak sedang berkelakar, Ki Patih”.

“Secara gelar kepangkatan aku memang di atasmu, tetapi secara kemampuan pribadi harus kuakui bahwa aku masih jauh di bawahmu. Jadi bagaimana mungkin aku dapat memberikan petunjuk seperti yang kau minta?”.

“Ah… Ki Patih terlalu merendah, mana mungkin Kanjeng Sinuhun memilih seseorang untuk menduduki jabatan yang sangat penting tanpa memiliki suatu kelebihan. Baik secara bekal pribadinya maupun kelantipan berpikirnya”.

“Jika bukan karena kesalahan besar yang pernah kau buat di masa lalu, tentu bukan aku yang sekarang menduduki jabatan ini. Tetapi kau, Ki Agung Sedayu”.

“Ah… meski dulu aku tidak membuat kesalahan itu, apalah arti diriku jika dibandingkan dengan Ki Patih Singaranu?”.

“Itulah kau, orang yang memang berbeda dari orang kebanyakan, dengan segala kelebihan dan kekuranganmu. Dan justru kau lebih senang jika tidak dianggap sebagai orang penting ataupun berjasa”.

“Bukankah aku memang bukan orang penting apalagi berjasa?”.

“Sudahlah… kita lupakan dulu masalah itu, dan kita kembali membicarakan masalah yang tadi. Aku rasa aku sependapat dengan Kanjeng Sinuhun, sepertinya memang tidak ada orang lain lagi dan hanya kaulah orang yang tepat untuk membayangi orang itu, Ki Agung Sedayu”. sahut Ki Patih Singaranu sembari mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan.

“Ah…”.


Halaman 17 - 18

“Kau tidak dapat mengelak atau bahkan menyembunyikan lagi kemampuanmu yang sebenarnya di hadapan Kanjeng Sinuhun”.

“Bukankah memang seharusnya demikian ketika kita berada di hadapan Kanjeng Sinuhun? kita harus bicara sejujurr mungkin?”.

“Kau benar, tetapi biasanya jika kau di hadapan orang lain kau masih saja berusaha menyembunyikan kemampuanmu yang sebenarnya itu, dan kau lebih suka disebut sebagai orang kebanyakan yang tidak memiliki kelebihan apapun, meski kau dihina sekalipun”. sahut Ki Patih Singaranu, lalu tertawa.

Murid tertua dari Swargi Kyai Gringsing, atau yang lebih dikenal dengan nama Orang Bercambuk itupun tidak dapat menjawab lagi dan hanya wajahnya saja yang tampak bersemu merah sejenak.

Sebab memang begitulah kenyataannya, bahwa dirinya memang bukanlah orang yang suka memperlihatkan kelebihannya kepada orang lain, meskipun itu orang terdekatnya, kecuali dalam keadaan yang khusus.

“Kadang aku berpikir, bahwa semakin tinggi kemampuan seseorang, maka orang itu tampak semakin aneh. Seperti kau sendiri sebagai contohnya”. ucap Ki Patih Singaranu, lalu tertawa.

“Apakah aku terlihat aneh?”.

“Bukan wujudmu yang aneh, tapi segala gerak-gerik dan perilakumulah yang tampak aneh”.

“Aku tidak pernah merasa mengubah apapun dari sikapku ataupun kebiasaanku”.

“Biasanya memang orangnya sendiri tidak akan menyadarinya, tetapi orang-orang di sekitarmulah yang menilai atas apa yang kau lakukan selama ini”.

“Mungkin ada benarnya pula ucapan Ki Patih”.

“Semoga Yang Maha Welas Asih senantiasa melindungi dan membimbingmu di setiap langkahmu dalam menjalankan tugas-tugas yang sangat berat”. ucap Ki Patih Singaranu sembari merampungkan makan malamnya.

“Terima kasih, Ki Patih Singaranu”. sahut Ki Agung Sedayu yang sudah lebih dulu menyelesaikan makan malamnya.

Meski keduanya telah menyelesaikan makan malam, namun tidak segera bangkit dari ruang makan dan masih melanjutkan pembicaraan yang memang masih perlu untuk dibicarakan.

“Lalu bagaimana dengan keadaan Ki Lurah Glagah Putih?”.

“Atas segala kemurahan dari Yang Maha Agung, kini Glagah Putih sudah menemukan kembali kesehatannya”.

“Syukurlah kalau begitu, aku ikut senang mendengarnya. Apakah dia sudah dapat turun ke medan, jika nanti Pasukan Mataram berhadapan dengan Pasukan Surabaya? yang sepertinya hanya tinggal menunggu hari saja?”.

“Aku kira sudah, Ki Patih. Bahkan aku sudah meminta izin kepada Kanjeng Sinuhun, bahwa Glagah Putih aku minta untuk bergabung dengan pasukan kecilku”.

“Syukurlah kalau begitu, karena bagaimanapun juga tenaganya sangat dibutuhkan oleh Mataram. Apalagi dalam menyambut keadaan yang sangat gawat ini, kemampuannya tentu akan dapat membuat perbedaan di dalam medan”.

“Semoga saja Glagah Putih dapat melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya, Ki Patih”.

“Dengan bekal pribadi dan pengalamannya yang sangat luas, aku rasa Ki Lurah Glagah Putih tentu akan dapat melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya, bahkan telah melebihi apa yang dapat dilakukan oleh seorang lurah prajurit kebanyakan”.

“Semoga saja, Ki Patih”.


Halaman 19 - 20

“Sebelum Pasukan Mataram melawat ke bang wetan, di dalam sebuah paseban, Kanjeng Sinuhun sempat menyinggung nama Ki Lurah Glagah Putih”.

“Maksud, Ki Patih?”.

“Sebenarnya ini baru sekedar pembicaraan orang-orang dalam istana, tetapi aku rasa tidak ada salahnya aku sampaikan ini kepadamu. Tetapi jika hal itu tidak menjadi kenyataan, jangan salahkan aku. Sebab itu sekedar pembicaraan yang belum ada keputusan dari Kanjeng Sinuhun”.

“Ya… aku mengerti, Ki Patih. Katakan saja”.

“Pada awalnya di paseban itu mulai membicarakan para prajurit yang telah berjasa kepada Mataram, dan akan mulai dipertimbangkan masa depannya. Terutama bagi yang sudah berjasa dalam waktu yang lama”.

“Apakah maksud Ki Patih adalah kemungkinan anugerah kenaikan pangkat bagi para prajurit itu?”.

“Demikianlah… dan kami telah mengusulkan beberapa nama yang sepertinya sudah selayaknya mendapatkan hal itu, dan salah satunya adalah aku mengusulkan nama Ki Lurah Glagah Putih”.

“Apakah menurut pendapat Ki Patih, Glagah Putih sudah pantas mendapatkannya? dan apa dasar dari pertimbangan Ki Patih, sehingga mengusulkan nama Glagah Putih diantara nama-nama yang Ki Patih usulkan?”.

“Bukankah aku tidak perlu banyak pertimbangan lagi jika mengusulkan nama Ki Lurah Glagah Putih? selain itu para Petinggi Mataram pun sudah tahu siapa Ki Lurah Glagah Putih dan apa yang telah dilakukannya. Terutama apa yang telah terjadi di Wirasaba”.

“Semoga saja jika anugerah itu menjadi kenyataan, tidak akan  membuat Glagah Putih lupa diri di kemudian hari”.

“Sekali lagi aku sampaikan, bahwa ini baru sekedar pembicaraan diantara para Petinggi Mataram, dan Kanjeng Sinuhun belum membuat keputusan, sebab terganggu oleh perhatian Pasukan Mataram yang melawat ke bang wetan”.

“Aku mengerti”.

“Tetapi meski demikian, aku kira tidak akan lama lagi hal itu akan segera dilakukan. Sebab jika mengingat perhatian Mataram yang sedang gencar memperluas wilayah, maka waktunya sangat sempit. Dan menurut pertimbanganku adalah, Kanjeng Sinuhun akan mengambil keputusan sepulangnya dari peperangan kali ini”.

“Semoga Yang Maha Welas Asih selalu melindungi kita semua”.

“Kita sama-sama nenuwun, Ki Agung Sedayu”.

“Iya Ki Patih”.

“Tetapi ada satu hal yang perlu kau tahu pula”.

“Apa itu, Ki Patih?”. sahut ayah Bagus Sadewa sedikit terkejut, dan tanpa sadarnya mengangkat wajahnya untuk memandang lawan bicara yang ada di hadapannya.

“Aku hanya mengusulkan nama Ki Lurah Glagah Putih untuk dipertimbangkan dalam anugerah kenaikan pangkat, tetapi aku tidak tahu apakah nantinya akan disetujui atau tidak oleh Kanjeng Sinuhun. Dan jika disetujui pun aku tidak tahu anugerah kenaikan pangkat yang seperti apa yang akan diterimanya”.

“Anugerah kenaikan pangkat apapun baginya, aku sebagai wakil dari Glagah Putih hanya dapat mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Ki Patih Singaranu dan Mataram”.

“Aku rasa memang sudah selayaknya jika Ki Lurah Glagah Putih menerima anugerah itu setelah pengabdianya yang sudah cukup lama dan apa yang telah dapat dilakukannya terhadap Mataram”.


Halaman 21 - 22

“Aku hanya dapat mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dan perhatian Ki Patih Singaranu dan Mataram, dan semoga hal ini akan menjadi pemantik Glagah Putih untuk lebih baik lagi dalam melaksanakan tugas-tugasnya di kemudian hari”.

“Dan apa yang terjadi di Wirasaba tentu lebih membuka mata semua orang, bahwa memang sudah selayaknya Ki Lurah Glagah Putih mendapatkannya. Meski aku rasa sebenarnya terlambat”.

“Aku rasa tidak, Ki Patih”.

“Sesuai dengan pesan Swargi Ki Patih Mandaraka di saat-saat terakhir yang aku upayakan untuk tetap aku jaga sejauh yang dapat aku lakukan. Jangan sampai kedekatan seorang prajurit dengan salah satu Petinggi Mataram membuatnya mendapat kemudahan dalam segala keperluan, salah satunya adalah tentang kenaikan pangkat. Biarlah prajurit itu menyakinkan dulu kepada semua orang bahwa dirinya memang layak untuk itu”.

“Aku mengerti, Ki Patih. Dan aku rasa memang sebaiknya demikian, agar nantinya seseorang tidak dianggap menyalah gunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi atau membantu kepentingan orang-orang yang berada di sekitarnya”.

“Kau benar, karena biar bagaimanapun jabatan yang aku emban ini adalah amanah yang harus aku pertanggung jawabkan kepada Kanjeng Sinuhun dan seluruh kawula Mataram. Jadi aku tidak dapat sembarangan bertindak atau mengambil keputusan”.

“Aku rasa memang demikian”.

“Apalagi jabatan yang aku emban ini adalah murni karena sebuah anugerah dari Kanjeng Sinuhun dan bukan karena jabatan warisan, sehingga aku harus lebih hati-hati dalam menjaganya. Bukannya aku takut untuk dilengserkan dari jabatan ini, tetapi yang lebih aku takutkan adalah ketika aku tidak dapat melaksanakan amanah ini dengan sebaik-baiknya”.

“Mataram beruntung sekali memiliki seorang patih, seperti Ki Patih Singaranu”.

“Ah… jangan terlalu memuji, aku hanya melakukan apa yang aku yakini kebenarannya, berdasarkan dari pertimbangan-pertimbangan sejauh kemampuanku”.

“Aku berkata yang sebenarnya, Ki Patih”.

“Apakah malam ini kau ada rencana akan bergerak?”.

Ki Agung Sedayu tidak segera menjawab, tetapi lebih dulu membuat pertimbangan atas apa yang perlu dilakukannya malam ini atau tidak.

Karena orang yang tidak segera menjawab, maka Ki Patih Singaranu pun mendahului membuka suara kembali.

“Jika kau tidak ada rencana yang diperlukan malam ini, beristirahatlah di Kepatihan, dan besok pagi-pagi sekali kau baru melanjutkan tugas-tugasmu. Lagipula sekarang malam sudah semakin larut, kau tentu perlu beristirahat pula”.

“Em…”. sahut Ki Agung Sedayu dengan suara perlahan.

“Apalagi yang masih kau pertimbangkan? apakah kau masih merasa sungkan jika beristirahat di Kepatihan? bukankah aku sudah mempersilahkanmu, dan telah menyiapkan bilik khusus untukmu? kapanpun kau ingin beristirahat di Kepatihan, maka pintu Kepatihan selalu terbuka lebar untukmu, kapanpun kau mau”.

“Aku hanya dapat mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas segala kebaikan Ki Patih Singaranu”. sahut ayah Sekar Wangi pada akhirnya yang tidak dapat menolak kebaikan tersebut.

“Lagipula jika kau pergi dari Kepatihan malam ini, tentu kau akan mencari tempat beristirahat di sembarang tempat, dan tentu itu tidak akan membuatmu dapat beristirahat dengan nyenyak”.

 

Halaman 23 -24

Ucapan dari Ki Patih Singaranu itu hanya dapat ditanggapi dengan senyum masam, karena biar bagaimanapun kemungkinan itu ada benarnya.

“Sekarang beristirahatlah, agar tubuhmu lebih segar ketika besok terbangun. Dan beristirahatlah dengan sebaik-baiknya, sebab kau masih memiliki tugas yang berat dan rumit yang menanti”.

“Baiklah, Ki Patih”.

“Akupun akan segera beristirahat, meski aku tidak sedang mengemban tugas berat sepertimu, tetapi akupun perlu beristirahat dengan sebaik-baiknya”. berkata Ki Patih Singaranu, kemudian tersungging senyum tipis di bibirnya.

Selesai berkata demikian, Ki Patih pun segera bangkit dari tempat duduknya dan mendahului untuk meninggalkan ruangan tersebut, namun sebelum itu.

“Bukankah aku tidak perlu mengantarmu lagi menuju bilikmu?”. berkata Ki Patih Singaranu dengan wajah menggoda.

“Ah… tidak perlu, Ki Patih. Aku dapat sendiri”.

Tidak lama kemudian, Ki Agung Sedayu pun segera menuju bilik yang memang disiapkan khusus baginya, terutama pada saat menjalankan tugas kali ini.

Namun sebelum memasuki biliknya, dirinya lebih dulu menyempatkan diri pergi ke pakiwan untuk membersikan diri ala kadarnya agar merasa lebih nyaman ketika beristirahat.

Dan setelah tiba di pembaringannya Ki Agung Sedayu segera merebahkan tubuhnya di atas amben yang sangat bagus, karena terbuat dari kayu khusus dengan ukiran yang sangat rumit dan indah ketika dipandang mata.

Namun dirinya tidak dapat segera tidur, karena tiba-tiba di kepalanya terlintas kembali bayangan orang misterius yang mendatanginya dengan cara yang tidak wajar.

“Kenapa tiba-tiba aku teringat kembali akan orang itu?”. ucap Ki Agung Sedayu di dalam hatinya, sembari merebahkan tubuhnya dengan mata terpejam.

“Apakah aku menjadi ketakutan karena peringatannya?”.

“Sepertinya ada benarnya pula apa yang dikatakannya, bahwa kemampuanku ini memiliki pengapesan, yang selama ini hampir tidak aku sadari sendiri. Justru dari orang itulah aku baru menyadari akan hal itu”.

“Lalu apa yang harus aku lakukan jika nanti benar-benar berhadapan dengannya? apakah aku sanggup mengatasi kemampuannya yang sangat tinggi itu?”.

Dalam kesunyian malam itu, entah kenapa pikiran ayah Bagus Sadewa semakin berputar-putar tanpa dapat menemukan jalan keluar dari apa yang sedang dipikirkannya.

Hingga tanpa disadari, entah sudah berapa lama dirinya terbaring di atas amben itu tanpa hasil apapun, meski dirinya sudah berusaha dengan sebaik-baiknya untuk mencari jalan keluar.

“Sementara yang dapat aku pikirkan hanyalah bagaimana sedapat mungkin aku dapat menghindari pengapesan, seperti yang dikatakan orang itu”.

Demikianlah yang dapat dilakukan oleh ayah Sekar Wangi dalam kesendiriannya, hatinya yang terus bertanya-tanya dan akalnya yang berusaha menjawab.

Meski tidak dapat dijawab seluruhnya, namun paling tidak dia sudah berusaha mencari jalan keluar sebelum bertemu kembali dengan orang itu dalam sebuah arena, yang kemungkinan akan menjadi sebuah perang tanding.

Sejak dirinya mulai mengenal kanuragan, lalu berusaha mempelajarinya dan akhirnya hingga saat ini. Entah sudah berapa banyak dirinya berperang tanding, dan entah berapa banyak pula orang yang telah meregang nyawa di tangannya.


Halaman 25 - 26

Namun entah kenapa, kali ini dirinya merasa seakan baru akan pertama kali melakukannya. Ada getaran-getaran aneh yang terasa menjalar di tubuhnya setiap teringat akan orang itu, bahkan sesekali hatinya terasa berdesir aneh.

“Apa yang sebenarnya telah terjadi dengan diriku? kenapa hatiku tiba-tiba menjadi kurang mapan? apakah akan terjadi sesuatu yang buruk kepadaku?”.

“Ah… tidak baik jika aku terlalu berprasangka, sebaiknya semuanya aku pasrahkan kepada Yang Maha Agung. Karena hanya kepada-Nya lah aku dapat meminta pertolongan dalam segala urusan apapun”.

Pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan itu kemudian hanya dapat disanggahnya sendiri di dalam isi kepalanya di pembaringannya dengan mata yang masih tetap terpejam.

Sementara di luar, di sepanjang langit yang terbentang dari ujung ke ujung. Nampak begitu indah dengan berhiaskan bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya.

*****

Sementara di tempat lain yang jauh dari gemerlapnya Istana Kepatihan, pemandangan langit malamnya pun tidak kalah indahnya karena tidak terhalang mendung sama sekali.

Dan dari kejauhan, selain terdengar suara beberapa jenis binatang malam, terdengar pula suara ayam berkokok untuk kedua kalinya sebagai pertanda bahwa pada saat itu telah memasuki waktu dini hari.

Udara di luar pun semakin dingin dan seakan rasanya hingga menusuk tulang, namun hal itu sepertinya tidak dapat mengusik orang-orang yang telah tidur dengan begitu nyenyaknya.

Di penginapan yang sudah nampak sepi, dan hanya hampak beberapa saja orang yang berjaga sembari menikmati minuman hangat dan ketela pohon rebus.

Sementara Nyi Pandan Wangi yang sedang tidur di penginapan, tiba-tiba terbangun dengan raut wajah gelisah bersamaan dengan nafasnya yang sedikit memburu.

Ibu Bagus Sadewa yang mendapat giliran berjaga, dengan duduk di ujung amben tentu saja dapat melihat kejadian itu dengan jelas apa yang terjadi dengan marunya tersebut.

“Kau kenapa, Mbokayu?”. bertanya Ibu Bagus Sadewa heran dan dengan suara perlahan, agar tidak mengejutkan kawan-kawannya yang sedang tidur dengan nyenyaknya.

Yang mendapat pertanyaan itu tidak segera menjawab, namun lebih duduk memperbaiki letak duduknya, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.

“Sepertinya aku mimpi buruk”. sahut Ibu Bayu Swandana dengan suara perlahan pula.

“Mimpi buruk?”.

Nyi Pandan Wangi tidak segera menyahut, tetapi masih berusaha mengingat-ingat kembali apa yang ada di mimpinya tersebut sembari menutup wajahnya denga kedua tangannya.

Nyi Sekar Mirah yang tanggap pun tidak berusaha memaksa, dan dengan sabar menunggu apa yang akan disampaikan oleh Ibu Bayu Swandana setelah dirinya tenang.

Setelah beberapa saat mencoba menenangkan diri, dia bangkit dari amben sembari memendam kegelisahan yang masih mengganggu perasaannya.

“Semoga saja mimpiku ini hanya sekedar bunga tidur yang tidak berarti sama sekali”. ucap Nyi Pandan Wangi dengan suara perlahan, setelah berdiri di depan marunya tersebut.

 

Halaman 27 -28

Ibu Bagus Sadewa tidak segera menanggapi dan lebih memilih untuk menunggu kata-kata berikutnya, agar lebih jelas keterangan yang didapatnya.

“Entah kenapa, tiba-tiba aku memimpikan tentang kakang Agung Sedayu, dan seakan itu seperti nyata”.

“Memangnya apa yang Mbokayu mimpikan? sehingga membuat Mbokayu begitu gelisah?”.

“Aku tidak dapat mengingatnya secara keseluruhan meski tadi aku sudah berusaha mengingatnya dengan keras. Dan hanya sekilas saja yang masih teringat di kepalaku”.

“Apa itu?”.

“Yang aku ingat di mimpi itu, aku melihat kakang Agung Sedayu ditelan oleh kabut hitam yang sangat tebal dan dia berteriak-teriak minta tolong, tetapi aku tidak dapat berbuat apapun untuk menolongnya”.

“Sebaiknya kita sama-sama nenuwun kepada Yang Maha Welas Asih, Mbokayu. Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk pada kakang Agung Sedayu”.

“Ya… kau benar, sebaiknya kita nenuwun kepada Yang Maha Welas Asih, agar kakang Agung Sedayu mendapat perlindungan-Nya di setiap langkahnya”.

“Apakah Mbokayu memerlukan minuman hangat agar dapat membantu sedikit lebih tenang?”.

“Tidak perlu, kau beristirahatlah! dan sekarang giliranku tugas berjaga. Kau tentu sudah lelah”.

“Apakah Mbokayu tidak memerlukan lagi kawan berbincang barang sejenak?”.

“Tidak, kau berristirahatlah!”.

“Baiklah, kalau begitu. Aku akan beristirahat sekarang”.

Sejenak kemudian, Nyi Sekar Mirah pun segera merebahkan tubuhnya di atas amben, lalu memejamkan matanya untuk bersiap merangkai mimpi yang diharapkan indah.

Sementara Nyi Pandan Wangi masih merasa hatinya kurang mapan setelah mendapat mimpi buruk yang tadi telah mengusik tidur lelapnya.

Dengan duduk di ujung amben dan bersandar pada dinding kayu ruangan, dirinya masih terbayang-bayang akan mimpi yang telah mengejutkannya tersebut.

Samar-samar dari luar masih terdengar dua atau tiga orang yang berbincang. Setelah beberapa saat mengamati, sepertinya mereka adalah pemilik penginapan bersama kawannya, dan sejauh ini tidak ada yang pantas untuk dicurigai.

Sesekali terdengar pula hewan-hewan malam yang berusaha memecah kesunyian di waktu dini hari yang hawanya terasa semakin dingin mencengkam.

“Semoga saja tadi apa yang ada di mimpiku hanya sekedar bunga tidur yang tidak berarti sama sekali”. membatin ibu Bayu Swandana.

Namun meski begitu, entah kenapa dirinya masih saja belum dapat mengusir kegelisahan di dalam hatinya, bersamaan dengan isi kepalanya yang masih terbayang-bayang akan mimpi itu.

Tanpa sadar, sekilas pandangan kedua matanya menyapu ke arah kawan-kawannya yang sedang tertidur dengan lelapnya, termasuk marunya yang baru saja berangkat tidur.

Tidur yang begitu lelapnya menggambarkan begitu damainya hidup ini, tanpa beban dan tanpa gegayuhan yang dapat mengganggu kedamaian dalam hidup bebrayan.


Halaman 29 - 30

Karena jika sempat kita renungkan, pada dasarnya segala gejolak yang terjadi di dalam kehidupan bebrayan ini timbul disebabkan oleh kurangnya pengendalian diri pada diri kita sendiri.

Ketamakan kita sering membawa kita ingin mendapat lebih dari yang seharusnya, bahkan karena itu kita sering melupakan hak yang sama pada orang lain.

Dan tidak sedikit pula dari kita yang dengan sadarnya, berani nerak pacak nrajang paugeran hanya untuk memenuhi ketamakan yang hampir tidak pernah ada cukupnya.

Padahal jika kita mau sedikit mengendalikan diri, sepertinya kita dapat membuat kehidupan bebrayan ini lebih baik. Atau paling tidak, dapat mengurangi hal-hal buruk yang kita ditimbulkan.

Namun pada kenyataannya, beginilah kehidupan bebrayan. Setiap orang berbeda isi kepalanya, sehingga berbeda pula keinginannya. Dan biasanya kita merasa bahwa pendapat kita adalah pendapat yang paling baik dan paling benar, meski belum tentu baik dan benar bagi orang lain.

Berbeda bukan berarti kita untuk saling berlomba menjadi yang paling benar sendiri, tetapi dari perbedaan itu kita sama-sama belajar bahwa perbedaan ini untuk saling mendukung dan saling menguatkan satu sama lain dengan penuh ketulusan guna mencapai tujuan bersama, yaitu kedamaian bebrayan.

“Mungkinkah mimpiku ini berhubungan dengan orang misterius yang mendatangi kakang Agung Sedayu itu?”. bertanya Nyi Pandan Wangi dalam hati.

“Apakah orang itu benar-benar memiliki ilmu yang sangat ngedap-edapi? sehingga kakang Agung Sedayu akan kesulitan jika nantinya menghadapi orang itu?”.

“Apalagi orang itu mengatakan bahwa telah mengetahui pengapesan dari kakang Agung Sedayu, mungkinkah…?”.

Semakin lama Nyi Pandan Wangi memikirkan hal itu, justru membuatnya semakin takut untuk membayangkan apa yang bakal terjadi pada suaminya.

Meski penalarannya mencoba untuk tidak membayangkan sesuatu yang buruk, namun perasaannya tidak dapat dibohongi begitu saja.

“Mungkinkah itu adalah sebuah isyarat yang kurang baik yang bakal terjadi pada kakang Agung Sedayu? atau hanya pikiranku saja yang terlalu ngayawara?”. lanjutnya membatin.

“Semoga kakang Agung Sedayu baik-baik saja”.

Hanya itu yang pada akhirnya dapat dikatakannya dalam hati untuk sedikit menenangkan hatinya yang terasa kurang mapan atas apa yang baru saja dialaminya.

Karena biar bagaimanapun dia tidak mau terlalu terlarut kedalam perasaan yang tidak ada ujung pangkalnya dan juga belum tentu menjadi kenyataan.

Setelah mengambil nafas yang dalam, kemudian dirinya berusaha untuk bersikap wajar untuk mengurangi kegelisahan. Dan mencoba memikirkan apa saja yang menarik baginya untuk melupakan hal itu sejauh yang dapat dilakukannya.

“Sebaiknya aku memang tidak perlu terlalu memikirkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya, lebih baik aku memikirkan hal lain yang memang perlu aku pikirkan saat ini, atau sesuatu yang menarik bagiku tanpa dibayangi oleh kegelisahan”.

Meski tidak mudah, namun perlahan-lahan Nyi Pandan Wangi akhirnya mulai dapat mengusir kegelisahan itu di dalam keheningan waktu dini hari, yang tidak lama lagi fajar akan menyingsing dari balik bukit di sisi timur.

*****


Halaman 31 - 32

Sementara itu Ki Agung Sedayu sudah berada di luar Istana Kepatihan, tepatnya di sebuah hutan yang tampak pepat dan gelap yang menyelimuti sekitar tempat itu.

Namun sebagai orang yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan, pemandangan yang begitu gelap bukan menjadi masalah besar baginya.

Sebab dirinya memiliki kemampuan untuk melihat keadaan yang sangat gelap di sekitarnya hampir tidak beda jika dirinya melihat pada keadaan yang terang.

Dalam langkah yang perlahan dan penuh dengan kehati-hatian, dirinya meningkatkan kewaspadaan pada tataran tertinggi akan keadaan sekitar.

“Sumber isyarat itu tadi ku dengar dengan jelas berasal dari arah sini, tetapi siapakah gerangan yang memberikan isyarat itu? kenapa semakin aku dekat pada sumber isyarat itu, justru isyarat itu semakin samar dan bahkan baru saja menghilang begitu saja, dan seakan tak berbekas?”. ucap Ki Agung Sedayu dalam hati.

Kepalanya bergerak ke kanan dan kiri sembari dengan tatapan matanya yang tajam, untuk berusaha melacak apa yang sedang dicarinya di tempat itu.

Kakinya terus melangkah perlahan, sembari menyamarkan segala bentuk bunyi yang dapat ditimbulkan. Dan semakin lama dia masuk dalam kegelapan, membuatnya semakin kebingungan.

“Kenapa sumber isyarat itu tiba-tiba menghilang tak berbekas? apakah orang yang memberikan isyarat itu benar-benar orang yang berilmu sangat tinggi? sehingga aku tidak dapat melacak kepergian orang itu sama sekali?”.

Berbagai pertimbangan hilir mudik di isi kepalanya dengan begitu cepatnya, namun dirinya masih saja kebingungan dengan apa yang sedang dialaminya.

Namun pada akhirnya dirinya harus segera mengambil sikap agar tidak diselimuti oleh kebingungan terus menerus tanpa pernah mendapat penyelesaian.

“Ki Sanak, siapakah kau sebenarnya? dan apa maksudmu menyampaikan isyarat itu kepadaku?”. bertanya Ki Agung Sedayu yang mencoba membuat penyelesaian.

Namun pertanyaan itu hanya ditelan oleh kegelapan, tanpa mendapat jawaban sama sekali. Sehingga hal itu membuat hati ayah Sekar Wangi semakin tidak mapan.

“Apakah orang itu hanya ingin mempermainkanku saja?”. katanya dalam hati.

“Ah… tentu tidak. Pasti dia memiliki tujuan tertentu, kenapa memanggilku dengan isyarat khusus”. sanggahnya sendiri dalam hati, dengan perasaan sedikit ragu.

Setelah menunggu beberapa saat masih belum ada pula jawaban dari orang yang dimaksud, maka Ki Agung Sedayu segera mengambil sikap.

“Ki Sanak, jika kau memang tidak ingin menemui aku, sebaiknya aku kembali. Tidak ada gunanya aku berlama-lama menghabiskan waktu disini”.

Masih saja tidak terdengar jawaban dari orang yang dimaksud setelah sejenak menunggu, hingga akhirnya Ki Agung Sedayu pun memutuskan untuk kembali.

Namun betapa terkejutnya setelah dirinya membalikkan tubuhnya untuk kembali, sebab yang dilihatnya hanyalah kegelapan. Bahkan setelah dia memutar tubuhnya, ternyata sekarang seluruh tempat itu telah diselimuti oleh kegelapan yang tak mampu ditembusnya sama sekali.

Dengan bekal yang dimilikinya, maka Ki Agung Sedayu pun segera meningkatkan kemampuannya hingga pada tataran puncak Aji Sapta Pandulu dan Aji Sapta Panggrahita guna menghadapi masalah yang sedang dihadapinya.


Halaman 33 -34

Namun entah kenapa kali ini usahanya nampak sia-sia saja, meski sudah berada pada tataran puncak, dirinya belum berhasil keluar dari belenggu kegelapan itu.

“Aneh…”. katanya dalam hati.

“Apa yang sebenarnya telah terjadi? kenapa aku tidak berhasil menyibak tabir gelap ini? apakah orang itu benar-benar memiliki ilmu yang sangat tinggi? sehingga aku tidak dapat melepaskan diri dari kabut gelap ini?”.

“Pepohonan dan tumbuhan liar yang tadi dapat aku lihat pada saat datang kemari sudah tidak dapat ku lihat lagi sekarang. Yang kini dapat aku lihat hanyalah kegelapan yang sangat pekat”.

“Apa yang sebenaranya telah terjadi?”. membatin Ki Agung Sedayu dalam kebingungannya yang semakin menjadi-jadi.

Namun dia sadar bahwa harus berbuat sesuatu agar segera terlepas dari keadaan tersebut, maka segeralah dipusatkan nalar budinya.

Dan apa yang terjadi selanjutnya justru semakin membuatnya kebingungan yang sangat, sebab hasil dari pemusatan nalar budinya tidak seperti yang diharapkannya.

“Apa yang sebenarnya telah terjadi? kenapa aku tidak berhasil mengetrapkan Aji Pengangen-angen?”.

Sebuah ilmu yang seakan sudah mendarah daging dengan dirinya sekian lama itu entah kenapa tiba-tiba menjadi tumpul, tanpa diketahui penyebabnya.

Padahal dirinya merasa tidak ada yang salah pada saat pemusatan nalar budi tadi, seperti yang selama ini dilakukannya pada saat pengetrapan ilmu itu.

“Untuk meyakinkan, akan ku coba sekali lagi”.

Selesai berkata demikian dalam hatinya, ayah Bagus Sadewa itupun segera memusatkan kembali nalar budinya dengan lebih teliti dan sungguh-sungguh.

Kali ini dirinya tidak mau tergesa-gesa, sembari menilai keadaan. Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada dirinya di tempat itu, dan kenapa pula tiba-tiba hal itu terjadi.

Setelah beberapa saat memusatkan nalar budinya, kemudian diurainya kembali dengan perasaan kecewa, karena hasil yang didapatkan masih tetap sama dengan apa yang telah terjadi pada saat sebelumnya.

“Kenapa tiba-tiba kemampuanku tidak bekerja sebagaimana biasanya? bahkan aku merasa ada kelainan pula pada tubuhku, baru kali ini aku merasa seperti ini”.

Ki Agung Sedayu hanya dapat ngudarasa di dalam hatinya tanpa mendapat jawaban yang memuaskan atas apa yang sedang terjadi kepada dirinya.

Dari wajahnya mulai menyiratkan kegelisahan yang selama ini jarang sekali terpancar, meski sedang menghadapi keadaan yang gawat sekalipun.

Sekarang tidak ada lagi yang dapat dilakukannya selain berusaha menyingkir sesegera mungkin dari tempat itu sebelum benar-benar terlambat. Namun dirinya akan pergi kemana? sementara yang dilihatnya hanyalah kabut hitam yang tebal dan pekat.

Segala kemampuan yang selama ini dipelajarinya selama bertahun-tahun seakan tidak mau bekerja sama sekali, tanpa pernah tahu apa penyebabnya, termasuk kemampuannya untuk melihat keadaan sekitar dalam kegelapan.

“Sepertinya seseorang memang sengaja menjebakku di tempat ini, tapi siapa?”. lanjutnya membatin.

 

Halaman 35 - 36

“Mungkinkah orang itu…?”. katanya dalam hati mulai menduga-duga siapakah pelakunya.

Setelah melalui pertimbangan-pertimbangan yang cukup rumit, akhirnya dirinya mulai membuat kesimpulan siapakah orang yang melakukan hal itu kepadanya atas apa yang sedang dialaminya di tempat itu.

Dan dari kesimpulan itu semakin mengerucut pada seseorang yang belum lama ini datang menemuinya dengan cara yang tidak wajar dan penuh misteri, dan orang itupun tidak mau menunjukkan jati dirinya hingga dia pergi meninggalkannya.

“Siapapun dia, tidak penting bagiku. Sebab yang paling penting sekarang ini adalah bagaimana caranya agar aku dapat keluar dari tempat ini dengan selamat”.

Selesai berucap demikian di dalam hatinya, Ki Agung Sedayu mulai melangkahkan kakinya dengan penuh kehati-hatian, sebab kini yang dapat dilihatnya hanyalah kegelapan yang mencekam.

Sembari dalam hati, dirinya tidak henti-hentinya nenuwun kepada Yang Maha Welas Asih, guna meminta pertolongan, perlindungan dan petunjuk yang paling baik atas kesulitan yang sedang dialaminya.

Meski tidak tahu harus pergi ke arah mana, namun Ki Agung Sedayu mencoba berkeyakinan bahwa akan menemukan jalan keluar yang paling baik nantinya

“Semoga Yang Maha Welas Asih selalu membimbing jalanku”.

“Meski aku tidak tahu dimanakah jalan keluarnya, tetapi itu lebih baik daripada aku hanya berpasrah diri disini tanpa berbuat sesuatu dan hanya menunggu nasib”.

Dengan berkeyakinan demikian, maka Ki Agung Sedayu mulai melangkahkan kakinya dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan pada keadaan sekitar.

Karena biar bagaimanapun dirinya tidak tahu apa yang ada di sekitarnya, dan mungkin saja ada hal-hal yang tidak terduga yang akan datang, termasuk hal-hal yang dapat mengancam jiwanya pada saat dirinya lengah.

Dalam ingatannya masih tampak jelas keadaan di sekitar pada saat dia datang, sehingga dirinya mencoba menelusuri jalan itu melalui nalurinya.

Setelah beberapa saat berjalan, sepertinya Ki Agung Sedayu masih belum menemukan pula tanda-tanda jalan keluar seperti yang diharapkannya.

Dengan terus memanjatkan panuwunan kepada Yang Maha Welas Asih, dirinya tidak mau menyerah untuk berusaha mencari jalan keluar.

Kabut hitam itu memang benar-benar pekat, bahkan seakan tidak pernah berkurang sedikitpun meski dirinya telah berjalan beberapa jauh.  Dan seakan terus mengikuti kemanapun putra dari Swargi Ki Sadewa itu melangkahkan kakinya.

Kedatangannya ke tempat itu karena mengikuti sebuah isyarat yang disampaikan oleh seseorang, tapi hingga kini dirinya tidak berhasil menemuinya. Bahkan sekarang dia terjerumus ke dalam kesulitan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Untuk sementara dirinya harus melupakan orang yang telah membawanya ke tempat itu, sebab sekarang yang ada di isi kepalanya hanyalah bagaimana caranya dapat keluar dari kesulitan itu dengan sebaik-baiknya.

“Aku percaya bahwa Yang Maha Agung tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan hambanya”. membatin Ki Agung Sedayu menguatkan hatinya, sembari terus melangkahkan kakinya yang entah sudah sampai dimana.

Entah sudah berapa lama dirinya berjalan, masih belum menemukan pula jalan keluar yang dicari. Meski Ki Agung Sedayu tidak dapat melihat keadaan sekitar, namun dalam ingatannya masih tergambar jelas bahwa dirinya menyusuri jalan sama, dengan jalan yang membawanya datang ke tempat itu.


Halaman 37 - 38

“Selain tempat ini diselimuti kabut hitam yang sangat tebal, sepertinya tempat ini diselimuti pula oleh kekuatan yang tak kasat mata. Sehingga aku kesulitan menemukan jalan keluar”. ucap Ki Agung Sedayu dalam hatinya membuat kesimpulan.

Perasaan gelisah itu mulai semakin meningkat seiring dengan usahanya yang hingga kini belum juga menemukan hasil seperti yang diharapkannya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kejadian ini telah membuat antara akal dan perasaannya kini mulai bercampur aduk untuk mencari cara yang paling baik agar dapat kesulitan tersebut.

Pada dasarnya kesulitan yang bagaimanapun sulitnya tidak pernah membuatnya takut dan menyerah pada keadaan, Namun selain berusaha, dirinya sembari memasrahkan diri kepada kuasa dari Yang Maha Agung.

Apapun yang bakal terjadi atas dirinya akan diterimanya dengan rasa lilo legowo sepenuh hati, sebab dirinya sadar, bahwa setiap manusia pasti memiliki batasnya masing-masing.

Dan jika hal ini menjadi batas baginya, mungkin memang itulah tugasnya di kehidupan bebrayan telah sampai pada batasnya pula, sehingga apapun yang terjadi tidak ada yang perlu disesali.

“Jika ini memang telah sampai pada batasku, biarlah aku terima dengan penuh kelegaan hati. Dan sebaik-baiknya rencana seseorang, pasti rencana Yang Maha Agung lah yang paling baik. Sebab Yang Maha Agung adalah Yang Maha Berkehendak pula”.

Selesai berkata demikian di dalam hatinya, untuk beberapa saat Ki Agung Sedayu hanya dapat termenung di tempatnya, sembari memikirkan apa yang sebaiknya dilakukannya untuk mengatasi kesulitan yang belum pernah dialaminya.

Dalam kebimbangan yang semakin tidak menentu itu, dia dikejutkan oleh sesuatu yang tidak pernah diduganya, bahkan karena saking terkejutnya, dia dengan serta merta membelalakkan kedua matanya.

Bagaikan disambar petir di siang bolong, tiba-tiba Ki Agung Sedayu mendengar suara orang yang tertawa perlahan dengan nada penuh ejekan, yang entah dari mana sumbernya. Namun menurut pendengarannya, sumber suaranya tidak jauh dari tempat dirinya kini berdiri.

“He…he…he…”.

Ki Agung Sedayu pun dengan serta merta membelalakkan matanya, lalu memandang berkeliling untuk mencari tahu dari manakah arah sumber suara itu dan siapakah orang yang telah melakukannya.

“Sia-sia saja kau mencari keberadaanku, Ki Sanak. Sebab kau tidak akan mampu untuk menemukanku”. berkata orang misterius tersebut dengan  suara perlahan, namun seakan telah memenuhi tempat itu, sehingga sulit untuk dilacak keberadaannya.

“Siapakah sebenarnya kau, Ki Sanak?”. sahut Ki Agung Sedayu sembari masih berusaha mencari keberadaan lawan bicaranya.

“Tanpa aku sebutkan pun, aku rasa kau tentu sudah dapat menduganya sendiri”.

“Tetapi aku masih tidak yakin bahwa dugaanku ini benar, jadi sebaiknya katakan saja. Agar aku tidak salah orang”.

“Mana mungkin salah orang? bukankah sejak beberapa saat tadi kau sudah mulai menduga-duga siapakah aku? dan dari beberapa nama yang kau pertimbangkan, telah mengerucut pada seseorang. Dan itu adalah aku”.

Orang yang masih bersembunyi dibalik kabut itu memang tidak menjawab apa yang ditanyakannya, namun jawaban orang itu justru berhasil membuat hatinya berdesir.

“Kau tidak perlu heran, Ki Sanak”.

 

Halaman 39 -40

“Tetapi bagaimana mungkin…?”.

“Kenapa tidak mungkin? bukankah sudah aku katakan, bahwa aku sudah mengetahui pengapesanmu? jadi kau jangan heran pula jika aku dapat membaca isi hati dan kepalamu”.

Ki Agung Sedayu hanya dapat terdiam mendengar jawaban itu, karena tidak pernah menduga sebelumnya bahwa kejadiannya akan sejauh ini.

“Lalu apa yang kau kehendaki dariku?”.

“Tanpa aku jelaskan pun, bukankah semuanya sudah jelas apa maksud kedatanganku menemuimu? buat apa aku bersusah payah mencarimu hanya untuk keperluan remeh-temeh”.

“Baiklah, aku mengerti maksudmu”.

“Ternyata kau cukup cerdas untuk menyikapi hal ini, sehingga aku tidak perlu repot-repot menjelaskannya kepadamu. Tetapi apakah itu sejalan dengan apa yang akan kau lakukan selanjutnya? itu masih perlu sama-sama kita buktikan”.

“Jika aku tidak salah duga, kedatanganmu menemui aku adalah untuk menantang berperang tanding. Dan aku sebagai orang yang menerima tantanganmu adalah berusaha mempertahankan diriku dari kemampuanmu yang tentu sangat tinggi”.

“Ha…ha…ha…”.

“Kenapa kau justru tertawa?”. sahut Ki Agung Sedayu yang merasa sangat heran dengan sikap calon lawannya berperang tanding itu.

“Ternyata benar dugaanku”.

“Memangnya apa yang kau duga?”.

“Ternyata dalam hal ini kau tidak cukup cerdas untuk mengambil sikap yang benar”.

“Memangnya apa yang salah dengan sikapku?”.

“Sebagai Agul-Agulnya Mataram, ternyata kau telah berani bersikap sangat deksura, sebab secara terang-terangan berani secara terbuka menerima tantanganku untuk berperang tanding. Bukankah kau tahu bahwa aku telah mengetahui pengapesanmu? dan jika kau menerima tantanganku, bukankah itu sama artinya kau hanya akan membunuh diri?”.

“Aku sadari semua itu, semut pun jika kau usik akan berusaha mempertahankan dirinya, apalagi aku?”.

“Kau benar-benar sadar atas apa yang kau katakan? atau kau sudah mulai kehilangan akal untuk menghadapiku? sehingga ucapanmu sudah mulai ngelantur?”.

“Terserah apapun pendapatmu, tetapi inilah sikapku. Tentang menang dan kalah itu adalah akibat yang wajar dari sebuah pertarungan, dan hal itu dapat dialami oleh siapapun. Jika siap menang, maka harus siap pula untuk kalah”.

“Tetapi bagaimana jika kekalahanmu kali ini akan menjadi akhir dari perjalananmu? apakah kau siap pula untuk itu?”.

“Hidup dan mati seseorang itu tidak ditentukan oleh orang lain, tetapi ada Yang Maha Welas Asih yang memiliki kuasa untuk itu”.

“Lalu apa katamu jika nanti kau akan mati di tanganku? bukankan aku punya kuasa untuk membunuhmu?”.

“Itu bukan kuasamu namanya, tetapi kau hanyalah lantaran dari kuasa Yang Maha Welas Asih untuk mengakhiri hidup orang lain”.


Halaman 41 - 42

“Terserah saja apa katamu, yang jelas sebentar lagi semua orang akan melihat Agul-Agulnya Mataram yang selama ini tidak terkalahkan, akan menghembuskan nafasnya yang terakhir”.

“Jika memang itu yang akan terjadi, biarlah terjadi. Dan aku percaya bahwa sebaik-baiknya rencana kita, pasti masih lebih baik rencana Yang Maha Agung”.

“Sepertinya kita sudah terlalu banyak bicara, sebaiknya kau segera bersiap untuk menerima nasib burukmu. Dan perlu kau ingat, bahwa tidak akan ada yang akan dapat menolongmu disini”.

“Tetapi aku masih percaya bahwa pertolongan dari Yang Maha Welas Asih tidak pernah terbatas, kapanpun dan dimanapun”.

“Terserah kau saja, nikmati saja khayalanmu yang semakin lama semakin ngayawara itu”.

Ki Agung Sedayu tidak menyahut lagi, tetapi waktunya digunakan dengan sebaik-baiknya untuk segera bersiap, guna bertarung melawan orang yang hingga kini tidak mau menampakkan batang hidungnya sama sekali.

Namun apa yang terjadi kemudian benar-benar sangat mengejutkan Agul-Agulnya Mataram itu, sebab dirinya tidak pernah menduga atas yang bakal dialaminya tersebut.

Karena tiba-tiba saja ada kekuatan yang begitu besar dan tak kasat mata telah membelenggu dirinya, dan anehnya segala kekuatan yang ada di dalam dirinya tidak mampu berbuat banyak.

Hingga secara perlahan-lahan tubuhnya mulai roboh, meski dirinya sudah berusaha melawan kekuatan itu dengan segenap kekuatan yang ada padanya.

“Bukankah benar apa yang telah aku katakan sebelumnya, bahwa kau tidak akan mampu berbuat banyak di hadapanku? sebab aku sudah mengetahui pengapesanmu. Apapun yang akan kau lakukan sekarang sudah tidak ada gunanya lagi, dan mau tidak mau kau harus menerima kenyataan bahwa inilah akhir dari perjalanan panjangmu sebagai Agul-Agulnya Mataram”.

Dalam keadaan yang semakin lemah itu Ki Agung Sedayu sudah tidak dapat menanggapi dengan cara apapun, kecuali hanya dapat mendengar saja apapun yang dikatakan oleh orang yang masih misterius bagi dirinya.

*****

Sementara itu dalam balutan hawa dingin yang semakin menusuk tulang, memasuki waktu dini hari yang terasa begitu tenang dan meyejukkan hati.

Nyi Anjani yang sedang tertidur di biliknya tampak mulai gelisah, sehingga membuatnya bergerak ke kanan dan ke kiri secara tidak beraturan, bahkan sesekali dengan gerakan menghentak.

Titik-titik keringat pun mulai muncul di sekitar dahinya.

Perempuan yang parasnya begitu cantik serta bentuk tubuhnya yang molek, dan menjadi dambaan hampir setiap laki-laki yang mendapat kesempatan memandangnya.

Namanya orang cantik, meski dalam keadaan tidur pulas atau apapun itu tetap terlihat cantik. Apalagi jika wajah cantiknya ditambah dengan lekuk tubuhnya yang indah, maka akan semakin membuat siapa saja terpesona ketika memandangnya.

Begitu pula apa yang ada pada diri Nyi Anjani, meski dulu pernah memiliki masa lalu yang sangat kelam, namun tidak pernah mengurangi daya tarik kecantikannya.

Apalagi setelah dirinya bersanding dengan tambatan hatinya yang selama ini telah menjadi idam-idamannya. Aura kecantikannya itu semakin terpancar, tidak hanya dari wajahnya saja, namun seakan dari ujung rambut hingga ujung kukunya.

 

Halaman 43 - 44

Meski dirinya tidak dijadikan sebagai perempuan satu-satunya oleh tambatan hatinya dalam membina rumah tangga, namun hal itu sudah membuatnya bahagia.

Sebab dirinya percaya bahwa suaminya berbuat demikian itu bukan semata-mata karena keserakahan pribadinya, namun keadaanlah yang telah membuat semua itu terjadi.

Waktu yang sudah mamasuki dini hari itu terasa semakin dingin, namun entah kenapa dalam tidurnya, dahi Nyi Anjani mulai muncul titik-titik keringat.

Tidurnya pun terlihat gelisah, dan sudah beberapa kali pula dirinya tampak bergerak kesana-kemari. Mungkin dia sedang mengalami sebuah mimpi buruk.

“Kakang…”. ucapnya lirih dalam keadaan masih tidur.

Namun semakin lama nglindurnya semakin sering dan dengan suara yang semakin meninggi pula, hingga akhirnya dirinya tidak mampu lagi mempertahankan tidurnya.

“Kakang…”. ucap Nyi Anjani dengan suara yang terpekik, sembari tanpa sadar tubuhnya bangkit terduduk di pembaringan yang hanya ditempatinya seorang diri.

Dengan titik-titik keringat yang semakin banyak, bahkan tidak hanya di dahinya saja. Namun sebagian tubuhnya yang lain pun ikut basah oleh keringatnya, dirinya masih tercenung di tempatnya.

Nyi Anjani pun masih bingung dengan apa yang terjadi dengan dirinya setelah terduduk di pembaringannya, dan masih berusaha mengingat-ingat apa yang telah terjadi.

Setelah menyadari bahwa apa yang telah dialaminya itu hanyalah sebuah mimpi, maka kedua tangannya segera mengusap wajahnya yang cantik.

“Apakah ini hanyalah sekedar bunga tidur atau sebuah isyarat tentang kakang Agung Sedayu?”. ucap Nyi Anjani dalam hatinya sembari membuat pertimbangan-pertimbangan yang dianggapnya paling baik.

“Apakah telah terjadi sesuatu yang buruk pada kakang Agung Sedayu, yang sekarang entah sedang dimana keberadaannya?”. lanjutnya dalam hati.

Bayangan akan hal-hal buruk yang bakal terjadi pada suaminya mulai banyak berkeliaran di isi kepalanya, setelah dirinya mengalami mimpi buruk tentangnya.

“Padahal aku jarang sekali memimpikan kakang Agung Sedayu, tetapi kenapa tiba-tiba aku memimpikannya? bahkan aku bermimpi sesuatu yang buruk tentangnya”.

“Jika mengingat apa yang pernah disampaikan oleh, Eyang. Mimpi itu dibagi menjadi tiga macam, yaitu Titiyoni, Gondhoyoni, Puspotajem. Dan jika melihat dari waktu pada saat aku mengalami mimpi ini, jika aku tidak salah maka mimpiku ini termasuk jenis mimpi Puspotajem”. lanjutnya membatin.

“He…?”.

Tiba-tiba suara di tenggorokan Nyi Anjani seakan tercekat, setelah pertimbangannya mengerucut pada sebuah kesimpulan yang semakin membuatnya berdebar-debar.

Dengan demikian maka kini hatinya semakin tidak mapan, dan bayangan-bayangan buruk bakal menimpa suaminya semakin banyak berkeliaran di isi kepalanya.

Namun meski begitu tidak membuatnya lupa untuk nenuwun kepada Yang Maha Welas Asih, agar suami dan semua anggota keluarganya selalu mendapat perlindungan dari-Nya, kapanpun dan dimanapun dia berada.

Dengan mengingat nama Yang Maha Agung dan Yang Maha Pemurah, maka membuat hati Nyi Anjani sedikit lebih tenang untuk beberapa saat.


Halaman 45 - 46

Namun tetap saja perasaan gelisah itu tidak dapat disingkirkan sepenuhnya dari dalam hatinya, apalagi dirinya sebagai perempuan yang hatinya mudah terusik dan tersentuh, terutama terhadap orang-orang terdekatnya.

Tanpa sadar Nyi Anjani mengintip keadaan di luar dari sela-sela kayu pada dinding biliknya yang masih terdapat lubang kecil di bagian atas jendela.

Meski sangat kecil bagi orang kebanyakan, namun itu sudah cukup baginya untuk mendapatkan apa yang sedang dicarinya dari lubang kecil tersebut.

“Ternyata masih terlalu pagi, sepertinya aku masih memiliki waktu barang sejenak untuk merebahkan diri sebelum fajar menyingsing”. gumamnya pada diri sendiri.

Lalu dengan perlahan Nyi Anjani kembali merebahkan tubuh moleknya di pembaringan. Meski dirinya belum tentu dapat tidur kembali, namun paling tidak hal itu dapat membantunya menenangkan diri sebelum membuat keputusan, atas apa yang bakal dilakukannya setelah diusik oleh mimpi yang sangat mengejutkannya.

Cahaya temaram di ruangan itu ternyata masih tidak mampu menyembunyikan tubuh indahnya yang sedang tergolek, meski di umurnya yang kini sudah tidak muda lagi.

Ditambah lagi dengan tubuhnya yang hampir selalu memancarkan bau wangi, yang berasal dari salah satu ilmunya yang bernama Aji Seribu Bunga.

Meski dirinya tidak sedang mengetrapkan ilmu itu, namun seakan ilmu itu telah menyatu dengan tubuhnya, sehingga bau wangi itu tetap memancar hampir di sepanjang waktu meski hanya dalam tataran yang sangat tipis.

Namun meski begitu sudah cukup untuk membuat orang-orang yang berada di sekitarnya semakin terpesona, tidak hanya wajahnya yang cantik, tubuhnya yang indah, tetapi bau wewangian yang terpancar dari tubuhnya.

*****

Sementara itu di bawah gelapnya dini hari yang dingin, tampak dua orang sedang menyusuri jalan setapak yang berada dipinggir pategalan dan hutan kecil.

Dua orang yang terlihat cukup jauh perbedaan umurnya, yang satu tampak sudah lebih dari paruh baya, sementara yang satunya lagi sepertinya baru sekitar empat puluh warsa.

“Kita sudah berjalan sangat jauh sekali, sebenarnya kau siapa dan memangnya kita akan pergi kemana?”. bertanya orang yang lebih muda pada kawan perjalanannya tersebut.

“Nanti kau akan tahu sendiri”. jawab orang tua itu singkat.

“Dari tadi kau hanya berkata demikian, apakah tidak ada jawaban yang lebih baik lagi?”. sahut orang muda itu sembari bersungut-sungut, karena mulai kesal.

“Lagipula tidak ada gunanya jika aku jelaskan sekarang padamu”.

“Kenapa begitu?”.

“Sudahlah… kau ikuti saja aku, nanti kau akan tahu sendiri”.

“Memangnya kita akan pergi kemana?”.

“Gunung Sepikul”. sahut orang tua itu singkat, karena sudah mulai kesal menanggapi berbagai pertanyaan dari kawan perjalanannya tersebut.

“Gunung Sepikul? dimana itu? dan mau apa kita kesana?”.

“Sudah cukup! kau diam, dan jangan bertanya lagi! dan ikuti saja apapun perintahku”. bentak orang tua itu kesal dan sudah tidak dapat menahan diri lagi atas kawannya yang seperti tidak berhenti bertanya sejak awal perjalanan.

 

Halaman 47 - 48

Orang muda itu seketika terkejut mendapat bentakan dari kawannya, dan dari wajahnya mulai terbayang ketakutan mendapat perlakuan tersebut.

Dan sejenak kemudian orang muda itu seperti orong-orong yang terinjak, diam tanpa kata sembari terus berjalan mengikuti langkah kaki orang tua di hadapannnya.

“Mengurusnya dalam keadaan seperti ini memang cukup menguras tenaga dan pikiran”. membatin orang tua itu, sembari terus melangkahkan kakinya.

“Ini memang salahku, karena terlambat mendatanginya ketika terjadi pertempuran itu. Sehingga akibatnya menjadi seperti sekarang ini. Namun beruntunglah bahwa dia tidak sampai meregang nyawa di arena, sehingga masih ada kemungkinan untuk aku sembuhkan”. lanjutnya membatin.

“Semoga saja kawanku itu berada di tempatnya, sehingga aku tidak perlu menunggunya. Selain itu anak ini segera mendapat pertolongan dengan sebaik-baiknya”.

“Semoga saja aku dapat tiba di tempat itu sebelum fajar menyingsing, sehingga dapat menghindari perhatian orang yang mungkin berpapasan di perjalanan".

Sementara kedua orang itu masih terus berjalan menyusuri jalan setapak  atau bahkan menerobos hutan kecil dan tumbuhan gerumbul liar yang menghadang, untuk menyingkat waktu agar dapat segera tiba di tempat tujuan.

Dan kini dalam perjalanan mereka tidak ada lagi yang berniat membuka suara, hanya sekedar untuk memecah keheningan malam. Terutama bagi orang muda itu yang merasa ketakutan setelah dibentak sembari dipandangi dengan tatapan mata yang sangat tajam oleh kawannya.

“Sepertinya dia bukan orang baik, tapi aku takut untuk melawan orang itu”. membatin orang muda itu.

“Tetapi bagaimana jika nanti dia akan memperlakukanku dengan buruk? tadi saja sudah bersikap demikian kepadaku, lalu bagaimana dengan nanti? tapi aku takut”.

“Apa sebaiknya aku melarikan diri saja? mumpung belum semakin jauh”. membatin orang muda itu membuat pertimbangan yang masih mungkin dapat dilakukan.

“Ya… sebaiknya aku lari saja, bukankah dia sudah tua? jadi tidak mungkin dia akan dapat mengejarku jika aku lari sekencang-kencangnya”. ucapnya dalam hati sembari tersenyum setelah merasa medapat gagasan yang sangat baik.

Dengan tetap terus melangkahkan kakinya mengikuti orang tua itu, kini dirinya sembari mengawasi gerak-geriknya dan menunggu kelengahannya agar dapat melarikan diri dengan berusaha berlari sekencang-kencangnya.

Hingga dirasa ada sebuah kesempatan baginya untuk melarikan diri ke arah dari mana dirinya datang, sebab hanya itu yang dia tahu jalan yang dapat dilewatinya.

Sontak saja kejadian tersebut sangat mengejutkan orang tua yang mengajaknya, dan dengan serta merta keluarlah umpatan yang sangat kotor dari mulutnya.

“Dasar anak Iblis, tidak tahu diuntung”. ucapnya setengah berteriak, setelah menyadari apa yang telah terjadi.

“Beruntunglah bahwa aku masih ingat, jika akalmu memang tidak sehat, jadi aku masih dapat memakluminya. Seandainya saja kau berbuat seperti ini dalam keadaan wajar, maka sudah aku patahkan batang lehermu”. geram orag tua itu, sembari memandangi kemanakah orang muda itu melarikan diri.

Sementara orang muda yang melarikan diri itu berusaha berlari sekencang-kencangnya sejauh yang dapat dia lakukan, bahkan dirinya tidak peduli jika harus menerobos tumbuhan liar atau tanah bertebing yang menghadang.


Halaman 49 - 50

Setelah berlari cukup jauh dan dirasa sudah cukup aman, maka dia memutuskan untuk berhenti sejenak guna mengatur pernafasanya yang sudah tersengal-sengal tidak beraturan.

Dan karena saking lelahnya berlari, dirinya segera merebahkan tubuhnya diatas rerumputan yang basah oleh embun, namun dia tidak peduli.

Dalam keadaan yang masih lemah dan nafasnya yang masih belum teratur, dirinya telah dikejutkan oleh suara yang telah dikenal sebelumnya.

“Anak Iblis, kenapa kau mau kabur dariku?”.

Tiba-tiba terdengar suara yang berat namun tegas, sebagai pertanda bahwa orang yang mengatakan itu sedang berusaha menahan kemarahannya.

Sontak saja suara itu seketika membuatnya bangkit dari atas rerumputan, meski nafasnya masih tersengal-sengal. Dan pandangan penuh keheranan dia memandang ke arah sumber suara.

Dengan penuh ketakutan orang muda itu lalu bersujud di hadapan orang yang mendatanginya sembari memohon ampunan atas apa yang telah dilakukannya.

“Ampun, Ki Sanak. Ampun”.

“Jawab pertanyaanku! kenapa kau mau kabur dariku?”.

“Ampun, Ki Sanak. Aku takut”.

“Apa yang kau takutkan?”.

“Aku takut pada Ki Sanak”.

“Takut kepadaku?”.

“Iya…”.

“Kenapa kau takut kepadaku? justru aku ingin menolongmu”.

“Menolongku?”. sahut orang muda itu heran, dengan sikap masih tetap bersujud.

“Benar… aku ingin menolongmu. Maksudku, aku ingin membawamu ke tempat kawanku untuk mengobatimu, agar kau segera sembuh”.

“Mengobatiku?”.

“Benar”.

“Aku tidak merasa sakit, kenapa aku harus diobati?”.

“Wadagmu memang tidak sakit, penalaranmulah yang sakit. Kau telah kehilangan daya ingatmu setelah kepalamu mengalami benturan yang sangat dahsyat”.

“Benarkah?”.

“Apa untungnya aku membohongimu?”.

Dengan mengumpulkan keberaniannya, orang muda itu mulai mencoba untuk bangkit dari sujudnya, kemudian duduk bersimpuh di hadapan oran tua itu.

“Jika kau ragu kepadaku, apa kau ingin bukti sebelum kita melanjutkan perjalanan yang hanya tinggal ujungnya ini?”.

“Iya, apa buktinya jika aku memang sedang sakit seperti yang kau katakan itu?”.

“Siapa namamu? dan dari mana asalmu?”.

Seketika orang muda itu berusaha mengingat, namun sejenak kemudian yang ada hanyalah kebingungan yang dirasakannya tanpa pernah menemukan jawaban yang dicari.

“Siapa aku?”.

Pertanyaan berikutnya membuat orang muda itu merasa semakin kebingungan. Dan hasilnya pun masih tetap sama saja, tidak berhasil menemukan jawabannya meski dirinya sudah berusaha berpikir keras sejauh apa yang dapat dia lakukan.

 

Halaman 51 - 52

“Jika kau dalam keadaan wajar dan isi kepalamu tidak terganggu, pasti pertanyaan-pertanyaanku ini dapat kau jawab dengan sangat mudah tanpa memerlukan waktu untuk berpikir”.

Meski masih kebingungan dan dengan perasaan yang seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya tersebut, namun ucapan orang tua itu membuatnya mulai mempertimbangkan kebenaran dari kata-katanya.

“Kau tidak perlu takut akan aku perlakukan buruk, sebab aku adalah Gurumu”.

“Guruku?”.

“Benar, aku adalah Gurumu. Maka dari itu kau tak perlu takut lagi kepadaku, marilah kita segera lanjutkan perjalanan agar kita tidak semakin kehilangan banyak waktu”.

Selesai berkata demikian, maka orang tua itu kemudian membalikkan badannya lalu mendahului melangkahkan kakinya  untuk melanjutkan perjalanan.

Sekarang tidak ada yang dapat dilakukan oleh orang muda itu selain berusaha mempercayai ucapan orang tua itu, dan mengikuti apa yang dikatakannya.

Meski pada awalnya masih ragu, namun pada akhirnya orang muda itu menyusul pula langkah kaki orang tua yang menyebut dirinya sebagai gurunya tersebut.

Lagipula jika dirinya akan pergi, dirinya tidak tahu akan pergi kemana dan akan menemui siapa, sebab dirinya tidak dapat mengingat siapakah dirinya dan dari mana asalnya.

Jika memaksakan diri, tentu yang ada dirinya hanya akan tersesat entah kemana dan entah bagaimana pula nanti nasibnya? apalagi jika bertemu dengan orang yang tidak baik kepadanya.

*****

Sementara di waktu yang masih nampak pagi-pagi sekali, Nyi Rara Wulan, Padmini, Setiti, dan Baruni sudah tampak terbangun dari tidurnya yang cukup nyenyak.

Dan tanpa menunggu disuruh, ketiganya langsung pergi ke pakiwan secara bersama-sama untuk membersihkan diri. Karena kebetulan pakiwannya ada empat, maka mereka tidak perlu menunggu giliran.

Sementara Nyi Sekar Mirah tampak baru mulai menggeliat di pembaringannya setelah ketiga perempuan itu pergi ke pakiwan, setelah membuka matanya, diedarkanlah pandangannya ke seisi bilik, yang ternyata tidak terlihat satupun kawannya.

Dengan perasaan sedikit malas, kemudian dirinya bangkit dan bermaksud pergi ke pakiwan pula untuk membersihkan diri sebelum mereka berangkat melanjutkan perjalanan.

Dirinya agak terkejut ketika keluar bilik mendapati Nyi Pandan Wangi yang sedang duduk termenung seorang diri dengan bersandarkan salah satu tiang pendapa yang tidak begitu besar itu, dan entah apa yang sedang dipikirkannya.

Nyi Sekar Mirah pun mencoba mendekati marunya itu yang tampak sudah membersihkan diri, dengan langkah perlahan agar tidak mengejutkannya.

Ibu Bagus Sadewa itu kemudian ikut duduk di sebelahnya.

“Kenapa pagi-pagi buta seperti ini Mbokayu sudah termenung seorang diri?”.

Orang yang ditanya hanya menoleh perlahan, lalu memandang ke arah langit di kejauhan. Dan terdengar suara tarikan nafasnya yang terasa berat.

“Entah kenapa hatiku terasa kurang mapan”.

 

Halaman 53 - 54

“Apakah Mbokayu masih terbayang-bayang dengan mimpi itu?”.

“Mungkin…”. sahutnya dengan suara perlahan.

Kini Nyi Sekar Mirah lah yang terdengar menarik nafas panjang.

“Sebaiknya kita pasrahkan saja atas segala yang terjadi kepada Yang Maha Welas Asih, agar perasaan Mbokayu sedikit lebih tenang. Karena biar bagaimanapun untuk saat ini tidak ada yang dapat kita lakukan atas apa yang Mbokayu khawatirkan itu”.

“Ya… kau benar”.

“Lalu kenapa Mbokayu masih terlihat kurang mapan?”.

“Aku memang sudah mencoba memasrahkan semua ini kepada Yang Maha Welas Asih, tetapi entah kenapa tetap saja hatiku masih merasa kurang mapan”.

“Kita sama-sama nenuwun bagi keselamatan kakang Agung Sedayu, semoga saja kakang Agung Sedayu selalu mendapat perlindungannya dalam setiap langkahnya”.

“Ya…”. sahut ibu Bayu Swandana singkat, dengan suara perlahan.

“Sudahlah, Mbokayu. Aku pergi ke pakiwan dulu, Rara Wulan dan adik-adiknya sepertinya sudah selesai”. ucap anak dari Swargi Ki Demang Sangkal Putung, setelah melihat keempat kawannya telah kembali.

Selesai berkata demikian, Nyi Sekar Mirah segera bangkit dan tidak menunggu jawaban. Kemudian melangkahkan kakinya menuju pakiwan untuk membersihkan diri.

Tidak lama kemudian lamunan Nyi Pandan Wangi kembali diusik, namun kali ini oleh penjaga penginapan yang datang menghampirinya.

“Maaf jika aku mengganggu, Nyi Sanak”.

“Ada apa, Ki Sanak?”.

“Apakah makan pagi dapat aku siapkan sekarang?”.

“Oh… aku kira ada apa”. sahut Nyi Pandan Wangi yang agak tergagap, karena masih terbawa lamunannya. Lalu lanjutnya, “Baik, Ki Sanak. Aku tunggu, terima kasih”. ucapnya sembari tersenyum.

“Baik, Nyi. Akan kami siapkan, dan segera pula nanti akan kami antarkan ke bilik kalian”. sahut petugas penginapan itu kemudian berlalu dari tempat itu.

Tidak lama kemudian, Nyi Pandan Wangi pun segera bangkit dan kembali ke biliknya sembari menunggu makan pagi yang sedang disiapkan oleh petugas penginapan.

Setelah berada di dalam biliknya, dia mendapati keempat perempuan muda itu tampak sudah rapi, dari pakaian dan segala perlengkapannya.

Tampak pula wajah-wajah penuh semangat, meski mereka semua tahu bahwa perjalanan kali ini bukanlah perjalanan untuk bersenang—senang, tetapi sebuah perjalanan untuk memasuki medan perang yang sangat garang.

Tanpa terasa hati Nyi Pandan Wangi tersentuh pula oleh sikap mereka yang terlihat cukup dewasa, terutama bagi Baruni. Perempuan yang paling muda diantara semuanya.

Dia tidak menampakkan tanda-tanda kecemasan sama sekali, seperti dirinya sudah terbiasa saja menghadapi sebuah perang yang paling garang sekalipun.

Mungkin perang adalah sebuah permainan yang mengasyikkan baginya, meski sebenarnya menyimpan bahaya yang sangat mengerikan bagi siapa saja yang berani memasukinya.

Karena dalam perang tidak ada yang dapat menjamin nasib seseorang akan berakhir baik atau buruk, meski dirinya memiliki bekal yang seakan sudah sundul langit sekalipun. Sebab di dalam sebuah perang segala kemungkinan dapat terjadi.

 

Halaman 55 - 56

Dan setiap perang memiliki wataknya masing-masing, tergantung dengan keadaan pada saat itu dan orang-orang yang ada di dalamnya. Maka antara perang  satu dengan perang yang lain tidak akan pernah sama.

Selain itu setiap pasukan pasti memiliki siasatnya masing-masing agar dapat mengalahkan lawannya, biasanya mereka akan menyesuaikan diri dengan siasat yang digunakan oleh lawannya dan bukan sekedar menuruti keinginan pribadi saja.

Sebab begitu pentingnya pengaruh siasat dalam sebuah perang, sehingga mereka akan memikirkannya dengan sebaik-baiknya, baik dari awal persiapan hingga pengetrapannya dalam perang yang sebenarnya.

Karena perang tidak cukup hanya berbekal kemampuan pribadi, ada kerja sama yang harus terjalin dengan kawan-kawannya untuk mencapai tujuan bersama.

Secara penalaran wajar, setinggi-tingginya kemampuan seseorang dalam sebuah perang, dia tidak akan mungkin mampu mengalahkan semua lawannya seorang diri. Maka dari itu digalanglah kerja sama antara satu dengan  yang lain, kelompok satu dengan kelompok yang lain dalam sebuah kesatuan pasukan.

Senopati Agung sebagai pemimpin tertinggilah yang berhak mengatur dan mengendalikan pasukannya dan harus dipatuhi oleh semua bawahannya tanpa kecuali.

Dan Senopati Agung adalah orang yang paling bertanggung jawab atas segala yang terjadi dengan pasukannya, bahkan hingga masalah terkecil sekalipun.

Maka dari itu tidak sembarangan orang dapat menjadi Senopati Agung. Sebab selain bekal ilmu kanuragan yang sangat tinggi, dia juga harus memiliki kecerdasan dalam siasat perang dan juga harus dapat mengendalikan sebuah pasukan, termasuk seluruh anak buahnya yang berada di dalam kesatuannya.

Sebab jika Seorang Senopati Agung tidak dapat mengendalikan salah satu anak buahnya saja, maka akan dapat mengakibatkan bencana bagi dirinya sendiri dan seluruh pasukannya.

Sementara itu, tiba-tiba terdengar pintu bilik Nyi Pandan Wangi tiba-tiba diketuk perlahan dari luar ketika Nyi Sekar Mirah baru saja kembali dari pakiwan.

“Tok…tok…tok”.

“Siapa?”. bertanya Nyi Pandan Wangi dari dalam biliknya.

“Maaf, Nyi Sanak. Aku ingin mengantarkan makan pagi”.

Nyi Sekar Mirah yang kebetulan berada paling dekat dengan pintu tersebut, maka dia segera bangkit untuk membuka selarak yang melintang.

Dengan santun, dua laki-laki petugas penginapan itu masuk, lalu menurukan semua makanan dan minuman yang dibawanya dengan menggunakan nampan di atas amben beralaskan daun mendong.

“Silahkan menikmati makan pagi kalian, semoga hidangan yang kami sajikan ini tidak membuat Nyi Sanak semua kecewa. Dan jika kalian membutuhkan sesuatu, panggil saja kami. Biasanya salah satu dari kami akan berada di depan”.

“Terima kasih”. sahut keenam perempuan itu hampir bersamaan.

Tanpa menunggu, kedua petugas penginapan itu segera keluar untuk memberikan kesempatan kepada tamu-tamunya untuk menikmati makan pagi yang mereka sajikan tanpa terusik oleh kehadiran mereka.

Begitu nikmatnya makan pagi dengan nasi yang masih mengepul bersama sayur dan lauk pauknya, apalagi setelah bangun tidur dan membersihkan diri.

Suap demi suap mulai memenuhi mulut mereka masing-masing, dan karena saking nikmatnya hanya suara mengunyah dan sesekali seruputan minuman hangat dari mangkuk untuk mengatasi makanan yang agak seret ketika ditelan.


Halaman 57 - 58

“Kau tidak perlu tergesa-gesa, Baruni. Kita masih cukup banyak waktu sebelum berangkat”. ucap Nyi Sekar Mirah yang melihat anak angkat Nyi Citra Jati itu kesereden, sembari tersenyum.

Perempuan yang namanya disebut tidak menyahut, namun wajahnya sempat memerah sesaat sembari masih memegangi mangkuk di tangan kirinya.

“Tenang saja, Baruni. Kau tidak akan disuruh mencuci semua peralatan ini setelah selesai makan”. ucap Nyi Rara Wulan yang ikut menimpali untuk sekedar mengganggunya.

“Jangan kau hiraukan Mbokayumu, Baruni. Nanti kau dapat tersedak”. sahut Nyi Sekar Mirah yang tidak sampai hati melihat perempuan muda itu diganggu dalam makannya.

Mendengar hal itu justru membuat Baruni semakin menunduk setelah meletakkan kembali mangkuk minumannya dan kemudian melanjutkan makannya yang baru sepertiga.

“Kau tidak perlu sungkan, Baruni. Kita semua disini adalah keluarga, jadi kau tak perlu menjaga jarak denganku dan Mbokayu Pandan Wangi. Bukankah begitu, Mbokayu?”. sambung Nyi Sekar Mirah, sembari menoleh ke arah ibu Bayu Swandana.

“Benar, kau tidak perlu menjaga jarak dengan kami, Baruni. Termasuk juga Padmini dan Setiti”.

“Kami hanya dapat mengucapkan terima kasih kepada Nyi Pandan Wangi dan Nyi Sekar Mirah, karena sudah mau menerima kami dengan sangat baik di keluarga ini”. sahut Padmini yang mewakili adik-adiknya.

Nyi Sekar Mirah yang memiliki panggrahita yang sangat tajam, memang sengaja mencoba mengajak marunya itu bicara agar tidak semakin terlarut kedalam perasaannya yang sedang kurang mapan.

Meski dirinya pun menjadi ikut membayangkan apa yang bakal terjadi pada suaminya, tetapi sebagai orang yang berumur dengan pengalaman yang sangat luas, dirinya mungkin lebih dapat menyembunyikan perasaan kurang mapan itu.

Atau mungkin pula karena bukan dia sendiri yang mengalami mimpi buruk itu, sehingga perasaannya tidak terlalu terusik oleh dugaan-dugaan yang belum tentu kebenarannya.

Maka dari itu dia tidak terlihat seperti orang yang sedang memendam sebuah perasaan yang kurang mapan di hadapan orang-orang disekitarnya.

Akhirnya makan pagi mereka pun selesai juga, dan setelah beristirahat barang sejenak untuk menurunkan makanan dan minuman yang masuk ke dalam perut. Mereka bersiap-siap untuk berangkat melanjutkan perjalanan.

Mereka pun keluar bersama-sama dari dalam bilik untuk berpamitan dengan petugas penginapan yang telah melayani mereka semua dengan baik.

“Ki Sanak, kami mau pamit”. berkata Nyi Sekar Mirah setelah  berdiri di hadapan petugas penginapan, yang kebetulan itu adalah pemiliknya.

“Ah… kenapa Nyi Sanak semua begitu tergesa-gesa, kenapa tidak bermalam disini barang satu atau dua malam lagi?”.

“Maaf Ki Sanak, kami masih harus melanjutkan perjalanan”.

“Aku selaku pemilik penginapan minta maaf jika pelayanan kami kurang memuaskan bagi Nyi Sanak semua selama berada disini, dan semoga perjalanan kalian menyenangkan dan Yang Maha Agung selalu melindungi setiap langkah kalian semua”.

“Terima kasih, Ki Sanak. Kami pamit sekarang”.

“Tunggu dulu, Nyi Sanak”. ucap pemilik penginapan, lalu meraih sesuatu dari balik bajunya.

“Ada apa lagi, Ki Sanak?”. sahut Nyi Sekar Mirah heran.

 

Halaman 59 - 60

“Ini… Nyi Sanak, kembalian dari biaya penginapan”. sahut pemilik penginapan sembari menyerahkan beberapa keping uang.

Ibu Bagus Sadewa itu pun menoleh ke arah ibu Bayu Swandana dengan tatapan mata meminta pertimbangan, namun kemudian keputusan diserahkan kepada ibu Bagus Sadewa.

“Sudahlah, Ki Sanak. Ambil saja kembaliannya”.

“Apakah Nyi Sanak yakin dengan uang sebanyak ini?”. sahut pemilik penginapan dengan wajah heran.

“Benar, Ki Sanak. Ambil saja kembaliannya, semoga dapat kau manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dan kami berterima kasih kepada kalian karena sudah dilayani dengan baik selama disini”.

“Terima kasih, Nyi Sanak, Terima kasih. Semoga Yang Maha Agung merestui apa yang menjadi gegayuhan kalian semua”.

“Terima kasih, kami pamit sekarang, Ki Sanak”.

“Silahkan, silahkan…”. sahut pemilik penginapan dengan sikap ramahnya, sembari melepas kepergian tamu-tamunya itu dengan pandangan matanya yang berbinar.

Tidak lama kemudian tamu-tamunya itupun mulai menghilang satu persatu setelah melewati regol penginapan, lalu berbelok ke arah kanan.

“Semalam aku sempat takut ketika melihat kedatangan mereka, Kakang”. ucap petugas penginapan yang tiba-tiba mendekati pemilik penginapan yang masih berdiri mematung.

“Kenapa rupanya?”.

“Meski mereka semuanya perempuan, tetapi bukankah Kakang lihat sendiri bahwa mereka bukanlah perempuan kebanyakan jika dilihat dari ciri-ciri yang mereka kenakan?”.

“Ya… kau benar, tetapi dugaanmu salah. Karena ternyata mereka adalah orang-orang baik, meski jika kita lihat mereka sekilas seperti para perempuan yang garang".

“Mungkin mereka sedang mencari suaminya yang pergi dari rumah”. celetuk petugas penginapan.

“Ah… macam kau”.

“Bukankah aku hanya menyatakan pendapatku?”.

“Tetapi pendapatmu itu terlalu ngayawara”.

“Apakah Kakang tahu apa yang sedang mereka cari?”.

“Sudahlah, apapun yang mereka cari bukan urusan kita. Sebaiknya kau urus saja pekerjaanmu di belakang agar nalarmu tidak semakin ngayawara”.

Petugas penginapan itu sudah mau menyahut, tetapi segera diurungkannya kembali setelah melihat pemilik penginapan pergi meninggalkannya.

Dengan wajah bersungut-sungut, petugas penginapan itupun segera ke belakang untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena rasa ingin tahunya.

Sementara Baruni dan kawan-kawan, langkah kakinya sudah semakin jauh meninggalkan penginapan itu guna melanjutkan perjalanan di bawah sejuknya udara pagi, pada saat menjelang matahari terbit di sisi timur.

Semburat sinar kemerah-merahan dari balik gunung sebagai pertanda bahwa hari baru sedang dimulai, bersamaan dengan riuhnya suara sekumpulan burung yang berkicau dengan riangnya di sekitar tempat itu.

Tubuh pun terasa telah segar kembali setelah cukup beristirahat dan makan di penginapan dengan pelayanan yang cukup baik dan pemiliknya yang ramah.

 

Halaman 61 - 62

Bekal kanuragan yang tinggi dibarengi pengalaman yang luas telah membentuk keseimbangan jiwani yang semakin mapan pada keenam perempuan itu.

Sehingga perjalanan menuju perang yang sangat garang pun tidak membuat mereka berdebar-debar secara berlebihan, apalagi sampai ketakutan.

Mereka sudah mampu mengendapkan gangguan perasaan yang kurang perlu dan tetap dapat berpikir wajar tanpa kehilangan pengamatan diri pada keadaan sekitar.

Sehingga mereka dapat mengeluarkan kemampuannya masing-masing sesuai dengan tataran yang sebenarnya tanpa terganggu oleh kesalahan sendiri.

Meski demikian bukan berarti mereka tidak pernah melakukan kesalahan, tentu saja sebagaimana orang kebanyakan mereka pun pernah melakukannya pula, namun hanya saja hal itu jarang sekali terjadi pada orang-orang seperti mereka.

Tataran kemampuan seseorang hanyalah sekedar kemampuan yang diberikan oleh Yang Maha Welas Asih kepada kita sebagai bekal untuk menjalani kehidupan bebrayan ini dengan sebaik-baiknya untuk menggapai tujuan.

Maka dari itu setiap manusia diberi bekal kemampuan yang berbeda-beda dengan maksud agar kita dapat saling mengisi, saling membantu, dan untuk saling menyadari bahwa kita itu tidak dapat hidup sendiri dan hampir semua yang kita butuhkan memerlukan bantuan dari orang lain.

Tetapi tidak sedikit pula yang menyalahgunakan kemampuan yang dimilikinya, justru untuk merugikan orang lain atau bahkan hingga berbuat buruk.

Namun percayalah bahwa di dunia ini tidak dapat lepas dari ngunduh wohing pakarti, jadi apapun yang kita tanam pasti akan kita tuai, cepat atau lambat itu hanya masalah waktu saja.

Sementara perjalanan keenam perempuan itu menarik perhatian orang-orang yang kebetulan melihatnya pada saat berpapasan atau sekedar melihat dari kejauhan.

Terutama karena apa yang melekat pada tubuh mereka bukanlah sesuatu yang wajar bagi perempuan kebanyakan di mata orang-orang yang mereka lewati.

Tanpa mereka sadari, dari kejauhan mulai ada beberapa pasang mata yang mulai memperhatikan langkah setapak demi setapak itu dengan tatapan mata penuh maksud.

Terlebih lagi karena mereka memang sengaja memilih jalan yang tidak mengarah ke pemukiman, sehingga harus menyusuri jalan-jalan setapak di pinggir pategalan atau pinggiran hutan.

Meski bahaya siap mengancam kapanpun karena serangan binatang buas atau hewan berbisa, namun sebagai para perempuan yang memiliki kelebihan, hal itu tidak membuat mereka menjadi ketakutan.

Tetapi bukan berarti mereka meremehkan ancaman bahaya tersebut begitu saja, karena biar bagaimanapun mereka tetap meningkatkan kewaspadaan pada keadaan sekitarnya.

Jalan yang sesekali menanjak terjal dan turunan yang rumpil, serta tumbuhan liar yang menghadang bukanlah masalah besar bagi mereka, karena bekal yang mereka miliki cukup mumpuni untuk mengatasi medan yang demikian.

Seperti perjalanan sebelumnya, maka Nyi Pandan Wangi dan Nyi Sekar Mirah berjalan mengekor di barisan belakang sembari membicarakan tentang apa saja yang menarik bagi keduanya.

Namun kali ini sepertinya tidak banyak yang mereka bicarakan, terutama bagi Nyi Pandan Wangi yang masih terbawa perasaannya karena terusik oleh mimpinya semalam, meski sekarang sudah dapat dikendalikannya dengan baik, dan hanya sesekali saja masih terbayang di isi kepalanya.


Halaman 63 -64

*****

Sementara pagi yang dingin itu terasa menyegarkan bagi orang-orang yang baru terbangun dari tidur lelapnya, meski harus membaringkan di tempat yang bukan seharusnya.

Karena tidurnya seseorang terkadang tidak hanya dapat diukur dari seberapa bagusnya pembaringan yang digunakan, namun seberapa lelapnya orang tersebut ketika tidur.

Sebab jika sudah sangat lelah dan mengantuk, maka seseorang dapat tertidur dimana saja. Baik di pembaringan yang bagus maupun di alam terbuka yang beratapkan luasnya langit yang membentang.

Apalagi bagi orang-orang yang terbiasa menjalani laku prihatin atau para prajurit yang sedang bertugas, maka hal itu sudah bukan hal yang aneh lagi.

Dinginnya malam di bawah langit disertai dengan serangan nyamuk-nyamuk nakal yang tidak pernah jera untuk memburu, meski  dengan begitu harus mempertaruhkan keselamatannya.

Sementara pada pagi itu Pasukan Surabaya baru menikmati nasi ransum sebagai makan pagi, sebelum mereka melanjutkan kembali perjalanan yang tertunda.

Dalam keadaan demikian beberapa diantaranya masih sempat berbincang dengan kawannya untuk memecah keheningan pagi yang masih terasa dingin dan berembun.

“Jika sedang makan seperti ini, aku jadi teringat akan masakan istriku di rumah”. celetuk salah satu prajurit di sela-sela menyuapi mulutnya.

“Apa maksudmu?”. salah satu kawannya menimpali.

“Bukankah kita sama-sama tahu bahwa ketika kita makan nasi ransum ini, kita tidak dapat memilih. Dan apa yang disajikan oleh Juru Masak, itulah yang harus kita makan. Apapun makanan itu serta lauk pauknya”.

“Apakah maksudmu, kau tidak suka dengan nasi ransum ini?”.

“Bukan begitu maksudku”.

“Lalu kenapa kau berkata demikian?”.

“Aku hanya sekedar ngudarasa apa yang aku rasakan”.

“Tetapi secara tidak langsung, sama saja kau ingin mengatakan bahwa kau tidak menyukai nasi ransum ini”.

“Bukan maksudku tidak suka, tetapi maksudku adalah jika kita di rumah, kita dapat minta jenis masakan yang sesuai dengan selera pada istri atau biyung kita”.

“Ah… macam kau”.

“Jika kau memang tidak suka dengan makanan itu, sebaiknya berikan saja padaku. Perutku masih sanggup untuk menampung jatahmu itu”. sahut kawannya yang lain ikut menimpali, lalu tertawa pendek.

“Maksudku, dengan kita mengalami hal-hal seperti ini, bukankah dapat membuat kita semakin bersyukur? meski ini hanyalah sekedar contoh kecil saja”.

“Ah… kau pandai sekali memutar lidahmu”. sahut kawannya yang duduk di sebelahnya.

“Mungkin pula ini adalah nasi ransum yang paling enak yang dapat kita nikmati terakhir kalinya”.

“Ah… bicaramu mulai nglantur saja”.

“Benar, bicaranya mulai nglantur. Sebaiknya kita segera habiskan saja nasi ransum ini sebelum kita kehilangan selera makan karena mendengar ucapannya yang mulai nglantur”. sahut kawannya yang lain.

 

Halaman 65 - 66

“Aku hanya bicara sebuah kemungkinan yang dapat terjadi atas kita sebagai prajurit, apalagi kita sedang berangkat menuju ke sebuah peperangan”.

“Aku mengerti, tetapi bukankah itu tidak perlu kita bicarakan? sebab kita sudah sama-sama menyadari kemungkinan apa yang dapat terjadi atas diri kita dalam sebuah perang, mati atau mukti”. sahut kawannya yang mulai kesal.

Tanpa berjanji sebelumnya, merekapun kemudian berusaha menahan diri untuk menanggapi lagi pembicaraan yang semakin kurang mapan tersebut.

Sehingga selanjutnya hanya terdengar mulut mereka saja yang berusaha menghabiskan sisa-sisa makanan yang ada, tanpa ada lagi yang membuka suara.

Sementara Ki Gumbala baru saja menyelesaikan makan paginya, nasi ransum yang sama dengan jatah yang diterima oleh para Prajurit Surabaya yang lain.

Meskipun dirinya bukan berasal dari kesatuan Prajurit Surabaya, namun karena dianggap akan membantu tugas pasukan tersebut, sehingga mendapat perlakuan yang sama dengan para prajurit yang lain, termasuk mendapat jatah makan pada waktunya.

Namun meski demikian, sebagai orang yang baru saja bergabung dengan pasukan itu, maka dirinya tetap mendapatkan pengawasan dari orang-orang yang bertugas menjaganya.

Dan ada empat orang prajurit yang berpangkat rangga yang ditugaskan khusus untuk mengawasinya hampir di sepanjang waktu secara bergiliran.

Empat orang rangga kepercayaan Ki Tumenggung Wisabaya yang selain mereka adalah anak buahnya dalam tatanan keprajuritan, kebetulan pula mereka adalah saudara seperguruan. Karena pernah sama-sama ngangsu kawruh kanuragan di tempat yang sama, yaitu Perguruan Jalatunda.

Ki Gumbala sendiri sangat menyadari bahwa dirinya selalu dalam pengawasan orang-orang Surabaya, hampir setiap gerak-geriknya tentu tidak akan pernah lepas dari mengawasan mereka.

Meski sebenarnya dirinya merasa kurang mapan dengan keadaan tersebut, namun untuk saat ini mau tidak mau dirinya harus menerima kenyataan.

Sejak awal dia memang sudah akan menduga akan hal ini, namun ternyata lebih dari apa yang dia duga sebelumnya. Sebab dirinya diperlakukan seperti layaknya tawanan, bedanya dirinya dibiarkan bebas tanpa terikat apapun bagian tubuhnya.

Namun dirinya sudah terlanjur masuk ke dalam lingkaran itu. Dan sekali sudah masuk, maka tidak ada pilihan lain agar dapat keluar dari lingkungan itu, yaitu harus menyelesaikan dulu tugasnya seperti kesepakatan awal.

Sebab jika dirinya minta keluar dari rombongan secara tiba-tiba, tentu akan menjadi pertanyaan besar bagi seluruh Pasukan Surabaya yang sudah mencoba mempercayainya.

Meskipun ada kemungkinan dirinya akan dipersilahkan untuk meninggalkan rombongan, namun sebagai seorang prajurit sandi, tentu dirinya sadar bahwa dia tidak akan pernah mendapatkan kebebasan yang sebenarnya.

Tentu mereka akan memerintahkan beberapa orang untuk mengikutinya, dan jika dia tidak dapat membuktikan ucapannya. Tentu nyawanya yang akan menjadi taruhannya.

Atas dasar itulah dirinya berniat akan melanjutkan tugasnya hingga tuntas sesuai dengan apa yang ditawarkannya pada saat pertama kali bertemu dengan rombongan Ki Tumenggung Wisabaya di Wirasaba.

Barangkali apa yang dilakukannya itu dapat membantunya dalam menemukan keluarganya yang saat ini entah dimana dan bagaimana nasibnya sekarang.

 

Halaman 67 - 68

“Kenapa kau lebih banyak terdiam, Ki Sanak?”. ucap Ki Rangga Jala Wetan yang baru saja datang, lalu mengambil duduk di samping kanan agak depan dari orang yang mengaku sebagai Prajurit Sandi Wirasaba tersebut.

Terdengar suara tarikan nafasnya yang berat satu kali dan tatapan kosong ke arah kejauhan, sebelum orang itu menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya.

“Aku masih teringat keluargaku”.

“Apakah hanya keluargamu yang ada di pikiranmu?”. sahut Ki Rangga Jala Wetan mencoba memancing pembincaraan ke arah yang lebih jauh lagi.

“Hanya keluargaku, Ki Rangga. Sebab apa lagi yang perlu aku pikirkan saat ini, selain keluargaku?”.

“Ya barangkali kau sedang memikirkan tentang bagaimana nasibmu sendiri, setelah ini?”.

“Memang aku sempat terpikir akan hal itu, tetapi bayangan itu pudar lagi ketika aku teringat kembali akan kedua orang tuaku yang sudah semakin tua”.

“Apakah kau belum berkeluarga?”.

“Belum, sebenarnya aku sudah sempat memikirkan hal itu setelah kepulanganku mengemban tugasku yang terakhir dari Tuban. Tetapi dengan keadaanku yang sekarang, entahlah…”.

“Jika melihat umurmu sekarang, aku rasa kau cukup terlambat untuk membina rumah tangga”.

“Memang, tetapi daripada aku tergesa-gesa melakukannya dan pada akhirnya menelantarkan anak orang, bukankah itu justru akan membuatku merasa berdosa di sepanjang hidupku?”.

“Kau benar, memang lebih baik terlambat daripada kau memaksakan diri sebelum benar-benar siap secara lahir batinmu”.

“Nah… demikianlah maksudku”.

“Menurutku sikapmu cukup menarik, Ki Sanak. Bagaimana kau menyikapi nasibmu dengan penalaran yang jarang dilakukan oleh kebanyakan orang”. ucap Ki Rangga Jala Kidul ikut menimpali.

“Aku hanya melakukan apa yang menurutku baik, tidak lebih”.

“Tetapi bagaimana jika kau terlambat membina rumah tangga, lalu kau memiliki tanggung jawab anak istri di saat  umurmu yang semakin tua? sementara anak dan istrimu masih memerlukan biaya? terutama anakmu nanti, yang semakin lama semakin besar dan semakin banyak membutuhkan biaya hidup? sementara kau sudah kesulitan untuk bekerja, karena umurmu?”.

“Entahlah, Ki Rangga Jala Wetan. Biarlah nanti waktu saja yang akan menjawabnya, aku hanya dapat melakukan apa yang aku yakini baik, sejauh kemampuanku”.

“Tetapi apakah kau masih berniat untuk membina rumah tangga? tidak dalam waktu dekat ini, mungkin suatu hari nanti?”.

“Ya… tentu saja, Ki Rangga Jala Kidul. Tetapi aku masih belum tahu kapan dan dengan siapa?”.

“Sebaiknya kau rajin-rajinlah untuk nenuwun, agar kau segera mendapatkan jodoh seperti yang kau inginkan. Dan semoga Yang Maha Welas Asih segera mengabulkan permintaanmu itu, agar kau tidak kesepian lagi pada saat malam menjelang”.

“Terima kasih atas saran kalian, semoga Yang Maha Welas Asih masih mau mendengarkan panuwunanku”.

“Selama kau memanjatkan panuwun itu dengan sungguh-sungguh, aku rasa Yang Maha Agung tentu akan mengabulkan permintaanmu itu”.

“Setelah berbincang dengan kalian, aku merasa keinginan itu menjadi berkembang lagi. Padahal aku sudah hampir putus asa dalam menyikapi hal itu”.


Halaman 69 – 70

“Itulah gunanya kawan berbincang”.

“Benar apa yang dikatakan, Ki Rangga Jala Wetan. Dan memang tidak baik jika apa-apa hanya kau pendam sendiri, sebab jika kau sudah tidak mampu menampungnya, kau dapat kehilangan akal untuk mengatasinya”.

“Terlalu pendiam itu kurang baik, terlalu banyak bicara pun tidak baik pula. Jadi kita harus dapat mengambil sikap, kapan kita perlu bicara dan kapan saatnya kita perlu menahan diri untuk tetap diam ketika berada di antara kawan-kawan kita”.

Sementara pembicaraan itu harus terputus ketika prajurit yang bertugas sudah memberikan isyarat agar pasukan segera bersiap untuk berangkat melanjutkan perjalanan.

Sebelum mereka benar-benar berangkat, tidak lupa para prajurit memeriksa seluruh barang-barang yang menjadi bawaan, termasuk senjata masing-masing.

Ketika isyarat kedua terdengar, maka seluruh pasukan sudah harus berada di kesatuan dan barisannya masing-masing, dan hanya tinggal menunggu isyarat ketiga dilontarkan untuk memulai langkah perjalanan.

Tidak lama kemudian, isyarat ketiga pun terlontar di tempat itu yang diketahui oleh seluruh pasukan. Dan tanpa menunggu lagi, barisan depan pun segera memulai langkahnya.

Kebetulan barisan depan diisi oleh orang-orang penting Pasukan Surabaya itu sendiri, termasuk Ki Tumenggung Surawisa dan beberapa petinggi Surabaya lainnya yang mendapat pengawalan dari Pasukan Khusus Surabaya.

Baru kemudian barisan berikutnya diisi oleh para prajurit dari kesatuan lain, dan seterusnya hingga barisan terakhir yang terlihat sangat rapi dan teratur. Tidak lupa dengan segala pertanda, seperti rontek, umbul-umbul, kelebet, dan panji-panji kebesaran setiap kesatuan pasukan yang ada.

Pasukan segelar sepapan Surabaya yang begitu besar itu nampak seperti seekor ular raksasa yang sedang berjalan di atas padang perdu dan seakan siap menerkam siapa saja yang berusaha menghalangi jalannya.

Kekuatan yang sangat besar dan mengerikan tersimpan di dalam pasukan itu, dan setiap saat dapat meledak jika ada yang berani mengusiknya.

Orang yang berilmu sangat tinggi sekalipun, jika hanya seorang diri tentu akan bergidik ngeri jika melihat pasukan sebesar itu. Sebab mereka sadar seberapa besar kekuatan yang tersimpan dan seberapa jauh yang dapat dilakukannya.

Bahkan sisa-sisa Pasukan Mataram pun harus berpikir ulang untuk menghadapinya, sehingga harus menarik diri dari Wirasaba untuk menghindari benturan.

Serta dalam perjalanan menarik diri itu, Pasukan Mataram sembari mencari cara yang paling baik untuk menanggulangi kemungkinan jika terkejar oleh Pasukan Surabaya yang secara jumlah, hampir dua kali lipatnya.

Apalagi dengan keadaan pasukan yang terluka, maka Mataram harus berpikir keras bagaimana caranya untuk mengatasi ancaman bahaya yang seperti sudah berada di depan hidungnya.

Sementara Ki Tumenggung Wisabaya dan rombongan kecilnya, harus mendahului perjalanan pasukan segelar sepapan itu sembari terus mengadakan hubungan dengan para prajurit sandi yang tersebar sebagai prajurit penghubung, guna membantu memudahkan pekerjaan pasukan kecil itu.

Sebab mereka adalah pasukan kecil yang bertugas membuka sekaligus sebagai penunjuk jalan bagi Pasukan Induk Surabaya yang sedang mengemban tugas untuk mengejar Pasukan Mataram yang menarik diri, setelah mengetahui rencana kedatangan mereka untuk membuat perhitungan atas apa yang terjadi di Wirasaba.

 

Halaman 71 - 72

Rombongan kecil Ki Tumenggung Wisabaya yang awalnya berlima, kini bertambah satu setelah bergabungnya Ki Gumbala dalam rombongan.

Untuk membantu mempermudah dalam menjalankan tugas dan untuk mengejar waktu, maka sejak awal mereka telah dibekali dengan kuda masing-masing satu.

Atas dasar demikian, maka kehadiran Ki Gumbala dalam rombongan telah membuat Pasukan Surabaya harus menyediakan satu kuda tambahan.

Sebab akan mustahil sekali jika Ki Gumbala harus mendampingi kawan-kawan barunya itu hanya dengan berjalan kaki, sementara yang lain berkuda semua. Tentu dia akan kesulitan untuk mengimbangi kecepatan gerak kawan-kawannya tersebut.

Berhubung dia adalah orang baru di dalam rombongan, maka tidak pernah luput dari pengawasan. Dan itulah salah satu yang menjadi alasan, kenapa dia ditempatkan di bagian tengah dalam rombongan berkuda tersebut.

Meski rombongan kecil itu semuanya berkuda, tetapi mereka tidak dapat memacu kudanya sekencang-kencangnya. Sebab mereka harus menemui para prajurit penghubung di titik-titik tertentu.

Yang memandu langkah mereka di sepanjang perjalanan yang mereka lalui, setelah mendapat tambahan keterangan yang sangat membantu dari orang yang mengaku sebagai salah satu dari prajurit sandi Wirasaba yang tersisa.

Dan ternyata keterangan dari Ki Gumbala itu memang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya oleh para Prajurit Penghubung Surabaya, setelah mereka menelusuri dan membuktikannya sendiri keterangan yang disampaikan.

“Sepertinya Ki Gumbala ini memang mengenal dengan baik jalan yang bakal dilalui oleh Pasukan Surabaya”. ucap Ki Tumenggung Wisabaya dalam hati, dari atas punggung kudanya yang berjalan.

*****

Sementara pagi itu Pasukan Mataram baru saja menyelesaikan makan paginya, termasuk para senopati tertinggi yang berada di perkemahan khususnya.

Sembari menunggu waktu keberangkatan, mereka masih sempat untuk berbincang, terutama membicarakan tentang perkembangan yang ada atau apapun yang menarik bagi mereka.

“Semakin lama, saatnya semakin dekat”. ucap Pangeran Pringgalaya memulai pembicaraan, sembari tangan kanannya menyangga dagunya.

“Maksud, Paman Pringgalaya?”.

“Benturan dengan Pasukan Surabaya”.

“Ya… dan sepertinya itu sudah hampir pasti”.

“Dan entah kenapa perang yang sudah ada di depan hidung kita ini, membuatku cukup berdebar-debar”.

“Apakah Paman Pringgalaya tidak yakin dengan kekuatan pasukan kita?”.

“Tentu saja aku yakin dan percaya dengan kekuatan pasukan kita, Ngger. Tetapi jika ingat akan laporan dari prajurit sandi bahwa Pasukan Surabaya hampir dua kali lipatnya dari jumlah kita, entah kenapa membuatku berdebar-debar”.

“Apakah menurut, Paman Pringgalaya pasukan kita akan kalah melawan Pasukan Surabaya itu?”.

“Aku tidak berpikir sejauh itu, lagipula dalam sebuah perang itu segala kemungkinan dapat terjadi. Dan jumlah yang lebih banyak pun tidak dapat menjamin sebuah pasukan pasti akan dapat memenangkan sebuah perang”.

“Lalu apa yang membuat Paman berdebar-debar?”.

 

Halaman 73 - 74

“Mungkin hanyalah perasaan sesaat dan tidak mendasar sebagai orang tua sepertiku ini, Ngger. Jadi tidak perlu kita pikirkan dengan sungguh-sungguh”.

“Aku mengerti maksud dari, Adimas Pringgalaya. Adakalanya kita memang masih tetap merasa berdebar-debar ketika akan memasuki sebuah peperangan meskipun kita sudah sering kali memasuki medan yang bagaimanapun garangnya”.

“Demikianlah, Kakangmas”.

“Menurutku itu adalah hal yang wajar, dan dapat terjadi pada siapapun. Dan aku rasa itu adalah sebagai salah satu pertanda bahwa seseorang masih memiliki gairah untuk memasuki medan”.

“Aku sependapat, sebab jika seseorang sudah kehilangan gairah sejak sebelum memasuki medan. Tentu akan membuatnya hanya setengah hati ketika berada di medan yang sebenarnya”. sahut Pangeran Demang Tanpa Nangkil ikut menimpali.

“Syukurlah kalau begitu, tadi aku sempat berpikir…”.

“Tidak, Ngger. Angger Panembahan tidak perlu berpikir terlalu jauh”. potong Pangeran Puger, sebelum kemenakannya itu bicara lebih jauh untuk menanggapi masalah tersebut.

“Maaf, Ngger. Ada yang ingin aku tanyakan?”. ucap Pangeran Pringgalaya yang mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Katakanlah, Paman”.

“Kenapa Angger Panembahan bersikeras membawa para tawanan itu ke Mataram, terutama Adipati Wirasaba?”.

Pepunden seluruh kawula Mataram itu tidak segera menjawab, tetapi justru lebih dulu terdengar suara tarikan nafasnya yang berat dari kedua lubang hidungnya.

“Jika Angger Panembahan merasa keberatan untuk menjawab, tidak perlu dijawab”.

“Aku memiliki pertimbangan bahwa para tawanan itu jika dapat kita arahkan dengan benar, tentu akan menjadi keuntungan bagi kita, Paman”.

Kanjeng Panembahan Hanyakrakusuma berhenti sejenak untuk sekedar menarik nafas sembari mempertimbangkan atas apa yang bakal diucapkan.

“Tentang Adipati Wirasaba, alasanku membawanya ke Mataram adalah sebagai pertanda bahwa Wirasaba telah kita taklukkan dan kini daerah itu telah menjadi bagian dari Mataram. Meski pada kenyataannya belum dapat kita kuasain seutuhnya”.

“Begitu rupanya, tetapi bagaimana jika para tawanan itu bakal menjadi duri dalam daging di kemudian hari? apakah itu tidak menjadi masalah baru bagi Mataram?”.

“Tentu saja kita tidak dapat memberikan kepercayaan kepada para tawanan sepenuhnya, sebelum mereka dapat membuktikannya kepada kita dalam jangka waktu yang kita tentukan, Paman. Dan untuk sementara kita akan menggabungkan mereka dengan para prajurit yang lain dengan pengawasan yang ketat”.

“Lalu apa yang akan Angger lakukan terhadap Adipati Wirasaba? apakah Angger Panembahan sudah memiliki gambaran, meski barang sedikit?”.

“Sementara ini aku masih belum menemukan gambaran yang aku anggap paling baik, bagi Adipati Wirasaba. Aku rasa sebelum aku membuat keputusan, hal ini ingin aku bicarakan dulu dengan para petinggi di Mataram di paseban setibanya di Mataram”.

“Aku rasa itu adalah sikap yang paling baik, Ngger”.

“Meski aku mendapat anugerah atas kamukten di Mataram, tetapi aku sadar jika bekal dan pengalamanku masih kalah jauh dibandingkan dengan para petinggi Mataram. Sehingga aku harus mendengarkan pendapat kalian sebagai tambahan bahan pertimbangan sebelum aku mengambil keputusan penting”.


Halaman 75 - 76

Tanpa sadar, dalam hati ketiga Pangeran Mataram itu mulai mengagumi sikap dan penalaran kemenakannya yang semakin hari semakin lantip saja di umurnya yang masih cukup muda sebagai pepunden seluruh kawula Mataram.

“Selain membicarakan nasib Adipati Wirasaba, apakah di paseban itu akan disatukan sekaligus dengan rencana Angger Panembahan yang ingin memberikan penghargaan kepada prajurit yang sudah memenuhi syarat?”.

“Tidak Paman Pringgalaya, sebaiknya paseban itu di adakan secara terpisah. Untuk Adipati Wirasaba kita adakan Paseban Alit, yang hanya akan dihadiri oleh para petinggi Mataram saja. Sementara untuk pemberian anugerah penghargaan kepada para prajurit kita adakan Paseban Agung setelahnya”.

“Aku sependapat dengan, Angger Panembahan. Sebab kedua paseban itu memiliki makna yang berbeda dan saling berseberangan satu sama lain, sehingga kurang tepat jika digabungkan”.

“Itulah yang menjadi salah satu pertimbanganku, Paman”.

“Kira-kira kapan rencana Angger Panembahan akan mengadakan Paseban Agung itu?”.

“Tentu saja tidak dapat dilakukan segera setelah kita tiba di Mataram, Paman. Sebab biar bagaimanapun kita harus menghormati para prajurit yang telah gugur, dan menghormati perasaan dari keluarga yang ditinggalkannya pula”.

“Ya… aku mengerti, memang sebaiknya demikian”.

“Menurut Paman bertiga, kira-kira kapan waktu yang tepat untuk mengadakan Paseban Agung itu?”.

“Aku rasa, paling cepat sepekan setelah kedatangan kita bersama seluruh pasukan yang ada”.

“Aku sependapat dengan Kakangmas Pangeran Puger”. sahut Pangeran Demang Tanpa Nangkil.

Kemudian pembicaraan itu harus terputus ketika dari luar terdengar isyarat yang pertama, untuk segera bersiap guna melanjutkan perjalanan yang tertunda.

Mendengar isyarat yang terlontar, keempat Priyagung Mataram itu segera menghabiskan minuman hangat yang kini telah dingin karena suasana pagi yang juga dingin.

Sejenak kemudian, mereka pun segera keluar dari perkemahan. Selain mereka juga harus bersiap, hal itu akan memberikan kesempatan bagi para prajurit yang bertugas untuk merapikan perkemahan yang digunakan tersebut.

Sebab para prajurit tidak akan berani membongkar perkemahan sementara itu jika di dalamnya masih terdapat para pepundennya, apapun alasannya.

Setelah memastikan barang bawaan telah terbawa, lalu keempat Priyagung itu menghampiri kuda masing-masing yang telah disiapkan oleh prajurit yang bertugas.

Kuda-kuda yang terlihat seperti kuda kebanyakan, sebab memang begitulah yang dikehendaki Kanjeng Panembahan Hanyakrakusuma sejak awal keberangakatan ketika menyusul Pasukan Mataram bersama pasukan kecilnya.

Dirinya memang sengaja memilih kuda yang demikian dengan tujuan untuk mengurangi perhatian orang yang dapat menimbulkan kemungkinan bakal menghambat perjalanannya, karena harus berususan dengan orang-orang yang merasa berkepentingan.

Sekali lagi terdengar isyarat kedua yang ditujukan kepada seluruh pasukan tanpa kecuali, bahwa sebentar lagi waktu keberangkatan telah tiba saatnya.

Dari prajurit yang memasuki medan hingga prajurit yang bertugas di bagian dapur, para Tabib, dan para tawanan pun segera memasuki barisannya masing-masing. Sesuai petunjuk dari rontek, umbul-umbul, kelebet, dan panji-panji kebesaran setiap kesatuan.

 

Halaman 77 - 78

Bahkan ada pula para prajurit yang masih terluka, baik terluka ringan ataupun berat. Dan bagi prajurit yang terluka berat dan tidak dapat berjalan sendiri, maka akan dinaikkan ke pedati atau ditandu oleh kawan-kawannya secara bergantian.

Sembari dalam perjalanan tetap mendapat perawatan, pengobatan, dan pengawasan dari Tabib secara berkala, agar dapat segera menemukan kesehatannya kembali.

Bahkan sudah ada beberapa dari mereka yang sudah mulai menemukan kesehatannya seiring dengan perjalanan Pasukan Mataram yang menarik diri.

Termasuk Ki Tumenggung Suratani, Umbara, dan masih ada beberapa orang lagi lainnya. Meski sebelumnya sempat mengalami luka dalam yang cukup parah.

Atas kemurahan dari Yang Maha Welas Asih melalui lantaran Tabib yang merawat mereka dengan penuh kesabaran dan keuletan, sehingga membuat para prajurit itu dapat segera sembuh kembali dari luka-lukanya.

Sementara Ki Rangga Sabungsari di sela-sela menjalankan tugasnya, sesekali masih berusaha menyempatkan diri untuk menemui Umbara.

Selain untuk menanyakan perkembangan kesehatannya, ada kalanya pula hanya sekedar mengawaninya untuk berbincang, sembari diselingi dengan memberikan pesan-pesan yang dirasa perlu disampaikan.

Sebab dirinya merasa bertanggung jawab atas pemuda itu, baik secara pribadi maupun sebagai prajurit. Karena dia menjadi salah satu anak buahnya di dalam kesatuannya.

Meski pada dasarnya mereka tidak ada hubungan darah sama sekali, tetapi pengenalannya dalam sekian lama telah membuat mereka secara tidak langsung merangkai hubungan itu, yang bahkan melebihi hubungan layaknya saudara kandung itu sendiri.

“Bagaimana keadaanmu sekarang, Umbara?”.

“Sudah baik, Paman Sabungsari. Bahkan aku merasa sudah sangat baik, seperti sedia kala. Rasanya seperti sebelum aku terluka kemarin”. sahut anak muda itu, yang sebenarnya sudah mulai sungkan sendiri diperlakukan demikian baiknya oleh senopatinya.

“Syukurlah kalau begitu, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi”. sahut Ki Rangga Sabungsari dengan perasaan penuh kelegaan mendengar keterangan tersebut.

“Demikianlah, Paman”.

“Jika demikian, sekarang perhatianmu dapat kau alihkan sepenuhnya ke persiapan perang berikutnya menghadapi Pasukan Surabaya, tanpa di bayang-bayangi lagi tetang lukamu”.

“Iya, Paman”.

“Apakah tenagamu sudah kembali sepenuhnya pula?”.

“Aku rasa demikian, Paman”.

“Tetapi jika nanti kembali pecah perang, kau jangan jauh-jauh dariku agar aku dapat mengawasimu”.

“Baik, Paman. Aku akan mencoba mengingatnya”.

“Aku belum tahu pasti nanti akan menjadi perang yang seperti apa, tetapi berdasarkan kabar yang aku dengar. Sepertinya akan berbeda dari perang di Wirasaba, tetapi aku sendiri belum tahu pasti bakal seperti apa. Kita tunggu saja perintah dari Kanjeng Sinuhun pada saatnya”.

“Aku mengerti, Paman”.

“Apapun keadaannya nanti di medan perang, aku pesankan kepadamu jangan sampai kau terlarut kedalam perang yang garang, agar tidak terjerumus ke dalam kesulitan. Kau ikuti saja perintahku atau siapapun senopati yang menggantikan kedudukanku”.


Halaman 79 – 80 -81

“Baik, Paman”.

“Sekarang aku belum dapat memberikan lebih banyak pesan kepadamu, bukan maksudku tidak mau menyampaikannya kepadamu. Sebab dalam sebuah perang banyak sekali kejadian yang tak pernah terduga sebelumnya, sehingga jika aku sampaikan sekarang kepadamu, nanti belum tentu sesuai dengan apa yang akan kau alami. Jadi sebaiknya nanti saja bersamaan dengan perang yang sedang berjalan”.

“Baik, Paman. Aku mengerti”.

“Yang jelas kau jangan terlalu lugu ketika berada di medan dan jangan pernah merasa bahwa dirimu besar, sebab di medan itu tempat berkumpulnya para raksasa kanuragan. Dan jangan pula kau meremehkan lawanmu, siapapun itu”.

“Aku mengerti, Paman”.

“Karena jika kau meremehkan lawanmu, maka kau akan kehilangan pengamatan yang wajar atas kemampuan lawanmu yang sebenarnya. Dan hal itu akan dapat menyeretmu ke dalam kesulitan atau bahkan nasib yang paling buruk sekalipun”.

“Aku hanya dapat mengucapkan terima kasih kepada, Paman Sabungsari yang tidak jemu-jemunya memberikan petuah kepadaku meski aku yang bodoh ini belum tentu dapat menyerap semua petuah itu, tetapi aku akan berusaha mengingat semua itu dengan sebaik-baiknya”.

“Aku percaya bahwa kau adalah pendengar yang baik, Umbara. Selain itu penalaranmu juga sangat baik, meski kau tidak dapat mengingat setiap pesan yang aku sampaikan, tetapi kau tentu dapat menyimpulkannya sendiri sesuai dengan kebutuhanmu”.

“Semoga aku tidak mengecewakan, Paman Sabungsari”.

“Kau tidak perlu memikirkan aku, Umbara. Tetapi ingatlah bahwa perjuanganmu ini sedang di tunggu keluargamu di rumah”.

“Baik, Paman”.

“Ingatlah bahwa saat ini, selain kau sedang memperjuangkan dirimu sendiri disini. Kau sedang berjuang pula atas nama keluarga tercintamu yang kini sedang menunggu kedatanganmu di rumah. Jadi setelah perang nanti, kau harus pulang tanpa kekurangan suatu apapun ketika menemui keluargamu”.

“Baik, Paman. Aku akan berusaha dengan sebaik-baiknya”.

“Karena sekecil apapun yang terjadi padamu, aku ikut bertanggung jawab pada keluargamu yang sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri”.

Namun pembicaraan itu harus terputus ketika terdengar isyarat yang ketiga, sebagai pertanda bahwa seluruh Pasukan Mataram harus melanjutkan kembali perjalanan.

Meski pasukan itu sudah tidak utuh lagi seperti pada saat berangkat dari Kotaraja Mataram, namun pasukan itu masih terlihat kuat dan gagah ketika dipandang mata.

Pasukan yang harus membawa prajuritnya yang terluka dan para tawanan perang itu telah mulai bergerak perlahan, menyusuri jalan yang dipandu oleh para prajurit penghubung.

Untuk mempermudah jalannya pasukan segelar sepapan dalam menyusuri jalan yang bakal dilalui, tanpa pasukan itu harus bersusah payah sendiri mencarinya.

Perjalanan sebuah pasukan yang pulang dari perang yang sangat garang dengan menyimpan ribuan luka, ribuan tangis, dan juga ribuan duka karena harus kehilangan kawannya, orang terdekatnya, atau bahkan keluarganya.

Tangis para istri yang harus kehilangan suami tercinta dan tulang punggung keluarganya, jerit tangis yang menyayat hati dari anak yang kehilangan sosok seorang ayah yang selama ini melindungi dan menyayanginya dengan sepenuh hati.

Begitulah prahara di tanah leluhur yang terjadi di atas tanah ini, yang pada akhirnya hanya dapat menyisakan perasaan pilu dan menyayat hati untuk disampaikan, namun kenapa seakan hal itu tak pernah ada habis ditelan oleh zaman.

Kenapa harus ada prahara? kenapa harus ada yang bertikai? kenapa pula harus ada yang berperang? bukankah perang hanyalah alat untuk menuruti keinginan para penguasa yang rakus? Sementara para kawula alit hanyalah sekedar orang-orang yang dikorbankan oleh para penguasa yang tamak?.

Sebab kawula alit adalah orang yang pertama kali menderita ketika kalah dalam sebuah peperangan, tetapi menjadi orang terakhir yang ikut menikmati hasil kemenangan, itupun tidak seberapa dengan apa yang dapat dinikmati oleh para penguasa.

Marilah kita luangkan waktu barang sejenak untuk merenungkan, siapakah kita? penguasa yang tamak? atau sebagai kawula alit? orang pertama yang dikorbankan penguasa yang tamak?.

 

* * * 0 * * 0 * * 0 * * *

Bersambung ke ~

Djilid

27

 

Padepokan Tanah Leluhur 


Terima Kasih

2 komentar:

  1. Balasan
    1. maaf jika telah membuat Ki Cantrik Padepokan Orang Bercambuk dan panjenengan semua menunggu terlalu lama.

      kini wedaran telah dimulai, silahkan untuk panjenengan semua ikuti.

      terima kasih.

      Hapus