wedaran harian telah dimulai
Halaman 1 – 2
* * * * *
Samar-samar dari kejauhan terdengar suara
Burung Kedasih yang mampu membuyarkan suasana di sekitaran perkemahan yang
digunakan sebagai peristirahatan sementara bagi Pasukan Mataram, terutama bagi
Ki Agung Sedayu yang sempat tercenung mendapat pertanyaan dari kawannya
tersebut.
“Akupun masih berusaha mencarinya”.
Anak dari Swargi Ki Gede Telengan itupun sempat mengerutkan keningnya sejenak
setelah mendengar jawaban itu, dan kemudian menganggukkan kepalanya perlahan.
Di dalam hatinya sebenarnya masih ada yang terasa tidak mapan, namun
dalam pertimbangannya yang singkat, segera diurungkan niatnya untuk bertanya
lebih lanjut.
Sepertinya memang lebih baik dia cukup menyimpannya saja rasa penasaran
itu di dalam hatinya, sebab dalam penalarannya orang yang berdiri di hadapannya
tersebut secara tersirat tidak ingin memberikan keterangan lebih lanjut.
Namun sebagai seorang
yang memiliki panggrahita yang sangat tajam, Ki Rangga Sabungsari mampu
menangkap gelagat yang nyalawadi yang
ditunjukkan dari orang yang sedang berdiri di hadapannya tersebut, meski hal
itu hanya berlangsung dengan demikian cepatnya.
Mungkin dengan demikian dirinya masih belum dapat mengetahui dengan
tepat apa yang sebenarnya telah terjadi terhadap orang yang ditanyakannya,
namun paling tidak kini dirinya sudah memiliki dugaan-dugaan yang lebih terarah
daripada sebelumnya.
“Apakah Paman Agung Sedayu belum mendapat gambaran atau keterangan sama
sekali tentang kemanakah menghilangnya Paman Glagah Putih? yang sampai sekarang
entah kemana?”. sahut Umbara yang merasa penasaran.
“Untuk sementara kau perlu ikut menjadi sibuk memikirkan pamanmu Glagah
Putih, Ngger. Pusatkan saja perhatianmu bersama pasukan Mataram dan lakukan
saja yang menjadi tugasmu dengan sebaik-baiknya. Sebab urusan pamanmu itu sudah
ada yang telah mengurusnya, dan jika nanti sudah ada kabar tentu kau akan
segera mendengarnya sendiri”.
“Baik, Paman”. sahut Umbara yang tidak dapat membatah lagi permintaan
dari adik kandung ayahnya tersebut.
“Sepertinya aku sudah tidak dapat berlama-lama lagi di tempat ini, sebab
tugas berat dari Kanjeng Sinuhun sudah menungguku dan sebaiknya aku minta diri
sekarang”.
“Baiklah kalau begitu, dan semoga kau dapat berhasil dengan
sebaik-baiknya dalam menjalankan tugasmu itu”. Sahut Ki Rangga Sabungsari.
“Terima kasih, Ki Rangga Sabungsari”.
“Paman Agung Sedayu, aku mengucapkan terima kasih pula kepada Paman yang
sudah mau menyempatkan diri untuk menjengukku disini disela-sela kesibukan Paman
yang sedang mengemban tugas”.
Setelah Ki Agung Sedayu berpamitan, maka dirinya segera bergegas
meninggalkan tempat itu dan melangkahkan kakinya yang menuntunnya ke arah jalan
setapak untuk memasuki hutan yang tidak jauh dari perkemahan.
Langkah kakinya diselimuti kegelapan malam yang mulai terasa dingin, dan
tentu saja di dalam hutan yang akan dimasukinya akan terlihat menjadi semakin
gelap karena terhalang rimbunnya pohon-pohon besar dan semak belukar yang masih
banyak tumbuh liar.
Halaman 3 - 4
Dan beberapa pasang mata telah melepas kepergian kakak seperguruan
Swargi Ki Swandaru Geni itu yang semakin lama semakin menghilang dan seakan
ditelan oleh di kegelapan.
*****
Sementara itu di Kepatihan, Ki Patih Singaranu yang baru saja melepas
kepergian para pengawal Tanah Perdikan Menoreh dan berniat akan kembali ke
tempatnya, telah dikejutkan oleh kedatangan Pelayan dalam yang kembali
menghadap.
Dengan berjalan berjongkok, Pelayan Dalam itu mulai mendekat dengan
disambut oleh tatapan mata yang berkerut dan tanda tanya dari pepundennya
tersebut.
“Ada apa lagi?”. bertanya Ki Patih Singaranu yang sudah tidak dapat
menahan rasa penasarannya.
Sebelum menjawab, Pelayan Dalam itu terlebih dahulu menghaturkan
sembahnya dari tempatnya berjongkok sembari menundukkan kepalanya.
“Ampun Ki Patih, hamba hanya menyampaikan permintaan prajurit yang ingin
menghadap”. sahut Pe€layan Da€lam itu agak ketakutan.
“Siapa yang ingin menghadap?”.
“Seorang lurah prajurit yang bertugas di Kademangan Ngares dan
sekitarnya”.
“Apa keperluannya?”.
“Dia ingin melaporkan bahwa dia telah diperintahkan oleh Nyi Pandan
Wangi untuk membawa seorang tawanan kemari. Tetapi dalam perjalanan, dia bersama
dua orang kawannya telah dihadang oleh orang tidak dikenal, lalu merebut
tawanan yang mereka bawa entah kemana”.
“Baiklah, bawa lurah prajurit itu kemari”.
“Sendika dawuh, Ki Patih”. sahut Pelayan dalam itu lalu bergegas
meninggalkan tempat.
Tidak lama kemudian Pelayan Dalam itu kembali bersama dengan orang yang
dimaksud, untuk dihadapkan kepada Ki Patih Singaranu yang telah menunggu, dan
tanpa menunggu perintah dia segera meninggalkan tempat itu dan kembali ke
tempatnya.
“Ampun Ki Patih, jika hamba menghadap tidak pada waktu yang sewajarnya.
Semua ini karena hamba merasa bahwa apa yang akan hamba laporkan adalah sangat
penting”. berkata lurah prajurit itu sembari menghaturkan sembahnya.
“Aku mengerti, kau tentu tidak akan memohon menghadap jika tidak
memiliki keperluan yang sangat penting”.
“Demikianlah, Ki Patih”.
“Katakanlah apa yang akan kau laporkan”. perintah Ki Patih Singaranu
yang ingin segera menyelesaikan urusan tersebut.
Kemudian lurah prajurit itu segera melaporkan apa yang terjadi, dari
awal dirinya bertemu dengan Nyi Pandan Wangi secara singkat namun runtut dan
jelas.
“Demikianlah Ki Patih yang dapat hamba laporkan, dan sekali lagi hamba
mohon ampun jika tidak dapat menjalankan tugas dengan baik, semua itu
semata-mata karena diluar kemampuan hamba. Dan hamba menunggu perintah selanjutnya”.
Ki Patih tidak segera menjawab, dan tampak terdiam beberapa saat untuk
membuat pertimbangan yang paling baik akan masalah yang baru dilaporkan
tersebut.
“Apakah menurutmu, orang yang merebut tawananmu itu benar-benar orang
yang berilmu sangat tinggi?”.
“Demikianlah, Ki Patih. Sebab kami bertiga dengan mudah dapat
dikalahkannya, dan seperti tidak berarti apa-apa baginya”.
Halaman 5 - 6
“Apakah dia menyampaikan pesan?”.
“Sejauh ingatan hamba tidak, Ki Patih. Kejadian itu begitu cepat dan dia
langsung saja menyerang kami secara tiba-tiba, kemudian pergi begitu saja tanpa
mengatakan sepatah katapun”.
“Aneh…”. gumam Ki Patih Singaranu tanpa sadarrnya.
“Memang aneh, Ki Patih. Tetapi itulah yang terjadi dan tidak hamba
kurangi atau tambahi apa yang hamba laporkan”.
“Ketika menyerang kalian, orang itu berusaha menyamarkan dirinya atau
tidak?”.
“Tidak Ki Patih”.
“Jadi kau dapat melihat orang itu dengan jelas?”.
“Benar Ki Patih, orang itu adalah seorang laki-laki yang sudah lebih
dari paruh baya tetapi belum terlalu sepuh, dan mengenakan pakaian yang sudah
lusuh, berkumis dan berjambang cukup lebat”.
“Setelah aku mendengar laporanmu, dugaan sementara atas orang itu adalah,
sepertinya dia masih ada hubungan dengan tawanan yang kau bawa. Mungkin salah
satu sanak kadangnya atau bahkan salah satu gurunya”.
“Kemungkinan itu sangat mungkin sekali, Ki Patih”.
“Sepertinya memang orang lain yang harus mengambil alih tugasmu ini, Ki
Lurah”. ucap Ki Patih Singaranu sembari menatap tajam ke arah anak buahnya yang
sedari tadi tidak berani mengangkat kepalanya.
“Hamba mohon ampun jika telah melakukan kesalahan dalam menjalankan
tugas”. sahut lurah prajurit itu mulai ketakutan sembari menghaturkan sembah.
“Ini bukan semata-mata karena kesalahanmu, Ki Lurah. Tetapi bekalmu
memang belum cukup untuk menghadapi orang itu”.
Mendengar jawaban tersebut, lurah prajurit yang pada awalnya sempat
merasa ketakutan itu serasa disiram air sewindu yang sangat menyejukkan hati.
“Dan atas pertimbangan itulah aku akan menugaskan orang lain untuk
mengurus masalah ini, tetapi bukan berarti kau sudah lepas tangan begitu saja”.
“Hamba selalu siap menunggu perintah berikutnya, Ki Patih”. sahut lurah
prajurit itu sembari menghaturkan sembahnya.
“Kau segera laporkan apa yang terjadi sehubungan masalah ini, dan kau
tidak perlu mengambil tindakan apapun. Karena biar orang lainlah yang mengemban
tugas ini untuk menangkap mereka”.
“Sendika dawuh, Ki Patih”.
“Apakah masih ada yang ingin kau laporkan?”.
“Sepertinya hanya itu saja, Ki Patih”.
“Jika demikian, aku persilahkan kau melanjutkan tugasmu”.
“Sendika dawuh, Ki Patih. Hamba mohon diri”. sahut lurah prajurit itu
sembari tidak lupa menghaturkan sembahnya, lalu segera bergegas meninggalkan
tempat.
Ki Patih Singaranu melepas kepergian lurah prajurit itu dengan dengan tanpa sadar mulai terhanyut oleh perasaan yang dia sendiri sulit untuk mengungkapkannya.
Halaman 7 - 8
“Ternyata masih saja ada gejolak kecil yang seakan tidak pernah ada
habisnya, disamping gejolak besar yang sedang terjadi di sepanjang luasnya
tanah ini”. membatin Ki Patih Singaranu.
“Tetapi terkadang gejolak-gejolak kecil itu yang membuat urip iku urup, karena jika tanpa semua
itu hidup ini seakan mati sak jroning
urip. Sebab hidup akan terasa datar saja tanpa gejolak-gejolak yang
ditimbulkan oleh orang-orang yang merasa berkepentingan, apapun itu alasannya”.
Dan baru saja Ki Patih Singaranu melangkahkan kakinya beberapa langkah
untuk meninggalkan serambi, kembali datang Pelayan Dalam.
Setelah berada beberapa langkah di hadapan pepundennya tersebut, Pelayan
Dalam itu segera menghaturkan sembahnya, lalu menyampaikan maksud kedatangannya.
“Ampun Ki Patih, hamba hanya ingin menyampaikan permintaan menghadap
dari Ki Agung Sedayu”. berkata Pelayan Dalam itu mulai ketakutan, karena dalam
waktu yang hampir bersamaan dirinya sudah datang tiga kali untuk keperluan yang
sama.
“Ki Agung Sedayu, katamu?”.
“Demikianlah, Ki Patih”.
“Baiklah, aku tunggu dia disini”.
Tidak lama kemudian orang yang dimaksud pun datang tanpa perlu diantar
oleh Pelayan Dalam, sebab dirinya sudah sangat mengenal tempat itu dengan baik,
bahkan seakan sudah seperti rumah keduanya.
Namun sebelum Ki Agung Sedayu sempat mengatakan sesuatu, Ki Patih
Singaranu lebih dulu mendahului pembicaraan di antara mereka berdua.
“Sebaiknya kita pindah ke ruang makan, agar lebih leluasa untuk bicara
panjang lebar tanpa merasa diawasi. Selain itu kau dapat mengisi perutmu barang
sedikit. Marilah, Ki Agung Sedayu”.
Ayah Sekar Wangi itu sempat ragu mendapat ajakan tersebut.
“Kau tak perlu sungkan, marilah”. ucap Ki Patih Singaranu mengulangi
ajakannya, lalu mendahului melangkahkan kakinya ke tempat yang dituju.
Ki Agung Sedayu yang tidak dapat menolak lagi ajakan itu pada akhirnya
hanya dapat mengikutinya dari belakang. Karena jika dirinya menolak, tentu akan
membuat orang yang mengajaknya akan merasa tersinggung.
Tidak lama kemudian keduanya pun tiba di ruang makan Kepatihan, dan
tidak sembarangan orang dapat memasuki ruangan itu, dan salah satunya adalah
ayah Sekar Wangi.
Dan ternyata di ruangan itu masih terdapat hidangan yang masih tertutup
rapi dengan tudung saji yang terbuat dari anyaman bambu, meskipun bukan
hidangan makan malam.
Sebelum duduk, Ki Patih Singaranu memerintahkan kepada Pelayan Dalam
untuk menyiapkan hidangan makan malam bagi dirinya dan tamunya.
“Tunggulah barang sebentar, Ki Agung Sedayu. Pelayan sedang menyiapkan makan
malam bagi kita. Bukankah kau belum makan malam?”. ucap Ki Patih Singaranu memulai pembicaraan kembali.
“Ah… sepertinya aku tidak dapat berbohong di depan Ki Patih Singaranu
yang kini sudah menjadi orang waskhita”. sahut ayah Bagus Sadewa lalu tertawa.
Mendengar kelakar itu, Ki Patih Singaranu pun tidak dapat menahan tawanya, lalu keduanya mencari tempat duduknya masing-masing.
Halaman 9 - 10
“Biarlah sembari menunggu makanan datang, kita mengisi waktu dengan melanjutkan
pembicaraan yang tertunda, daripada kita disini hanya berdiam diri”.
“Aku rasa memang sebaiknya demikian”.
“Tetapi sebelum itu, aku ingin bertanya kepadamu”.
“Semoga aku dapat menjawabnya dengan baik”.
“Tiba-tiba di Mataram ini muncul orang yang berilmu sangat tinggi dan
dia mengaku sebagai Ki Pringsewu. Apakah kau tahu atau bahkan pernah
mengenalnya?”.
Ki Patih Singaranu melemparkan tatapan mata yang tajam sembari tersenyum
tipis ke arah lawan bicaranya setelah melemparkan pertanyaan tersebut.
Maka wajah yang sempat memerah sekejap itu tidak luput dari pandangan
matanya, sebelum akhirnya ayah Bagus Sadewa hanya dapat ikut tersenyum.
“Baiklah jika kau merasa keberatan untuk menjawabnya, aku tidak akan
memaksamu. Biarlah Ki Pringsewu tetap menjadi rahasia bagi orang-orang
Mataram”. berkata Ki Patih Singaranu sembari tersenyum penuh arti.
Namun pembicaraan yang sedang akan memasuki pembicaraan yang lebih
mendalam itu harus terputus, karena kedatangan Pelayan Kepatihan yang mengantarkan
makanan bagi mereka.
Nasi yang masih nampak mengepul dan lengkap dengan lauk pauknya itu kini
sudah berada di atas meja, dan telah siap untuk disantap oleh keduanya.
“Marilah Ki Agung Sedayu, dan entah kenapa kebetulan sekali tadi aku menunda
makan malamku. Sehingga kita dapat makan bersama tanpa aku merasa kekenyangan”.
“Bukankah tidak menjadi soal jika seandainya Ki Patih kekenyangan
sekalipun? sebab Ki Patih tidak mendapat tugas pergi kemana-mana sehingga tidak
akan membuat perut Ki Patih suduk’en”.
sahut Ki Agus Sedayu sembari tersenyum.
“Benar juga ucapanmu”. sahut Ki Patih lalu tertawa.
Suasana pembicaraan antara kawula dengan pepundennya itu terdengar begitu
mencair dan seakan tidak ada jarak, seperti sedang berbicara dengan kawan sendiri.
Tetapi hal itu dapat dimaklumi, sebab keduanya sudang saling mengenal
dalam waktu yang tidak sebentar, bahkan sejak keduanya masih sama-sama menjadi
prajurit.
Kemudian pembicaraan itu dilanjutkan sembari mereka menyuapi mulut
masing-masing dengan hidangan makan malam yang ada di meja.
“Apakah kau membawa perintah dari Kanjeng Sinuhun?”.
“Kanjeng Sinuhun memerintahkan kepada Ki Patih untuk segera menyiapkan
obat penawar racun dengan jumlah banyak sebelum pecah perang antara Mataram dan
Surabaya”.
“Penawar racun?”. sahut Ki Patih agak terkejut, sehingga menghentikan
mulutnya yang sedang mengunyah makanan.
“Benar Ki Patih, obat penawar racun itu disiapkan untuk mengurangi
kemungkinan buruk atau bahkan untuk mengatasi murid-murid Jalatunda yang kemungkinan
besar suka bermain-main dengan racun”.
“Aku mengerti, nanti aku akan memerintahkan kepada para Tabib untuk
menyiapkannya. Selain itu?”.
“Aku rasa tidak ada lagi selain kita harus tetap selalu melihat
perkembangan dari para prajurit penghubung, dan segera mengambil sikap jika
terjadi sesuatu”.
Halaman 11 - 12
“Ya… aku mengerti, karena dalam keadaan seperti ini kecepatan prajurit
penghubung dalam melaporkan perkembangan yang terjadi menjadi sangat
menentukan. Dan beruntunglah Mataram memiliki orang kepercayaan yang memiliki
kemampuan khusus”. sahut Ki Patih Singaranu, lalu tersenyum.
“Semua itu semata-mata atas kemurahan dari Yang Maha Agung. Tetapi
selaras dengan hal itu, menurut Kanjeng Sunan, aku harus menjaga segala
tindakanku di sepanjang hidupku. Sebab jika melanggar, maka aku akan menerima
akibatnya sendiri nantinya”.
“Ya… aku mengerti, kemampuan itu memang sebuah kemampuan yang sangat
khusus. Sehingga untuk menjaganya kau menggunakan cara yang khusus pula”.
“Dengan demikian ada kemungkinan pula bahwa kemampuan itu dapat menjadi
tumpul sewaktu-waktu jika aku melanggar pantangan yang telah ditetapkan, baik
aku sadari ataupun tidak”.
“Bukankah jika itu terjadi, kau masih memiliki Aji Pengangen-angen yang
sudah semakin ngedap-edapi? yang memiliki watak yang hampir sama dengan Aji
Pangrupak Jagad? yang membedakan hanyalah kau hadir di tempat lain dengan
bayangan semumu saja”.
Mendengar ucapan Ki Patih Singaranu, ayah Sekar Wangi itu tidak segera
menjawab, tetapi yang terdengar justru suara tarikan nafasnya yang perlahan
namun berat.
Sebagai seorang yang berpengalaman luas dan memiliki panggrahita yang
sangat tajam, Ki Patih Singaranu segera menangkap sesuatu yang tidak wajar
terhadap lawan bicaranya.
“Menurut panggrahita yang aku tangkap, sepertinya ucapanku ada yang
membuatmu kurang mapan, Ki Agung Sedayu?”.
Ayah Bagus Sadewa itu masih menghentikan mulutnya yang masih mengunyah
makanan, sembari menundukkan kepalanya dan sepertinya dia ingat akan sesuatu.
“Ki Patih, aku baru saja didatangi oleh orang yang misterius”. ucap Ki
Agung Sedayu dengan suara perlahan.
“He… siapakah dia? lalu apa yang terjadi?”. sahut Ki Patih Singaranu
yang menjadi sangat terkejut.
Bahkan karena saking terkejutnya, sisa makanan yang masih dikunyah di
dalam mulutnya hampir saja tersembur keluar, bersamaan dengan matanya yang
membelalak.
“Aku sendiri tidak tahu siapakah dia, dan dia sendiri tidak mau
memperkenalkan dirinya ketika aku bertanya kepadanya”.
“Ada keperluan apa dia mendatangimu? apakah telah terjadi sesuatu
kepadamu?”.
“Dia datang menemuiku hanya untuk menyampaikan pesan bahwa dia akan menungguku
ketika pecah perang nanti antara Mataram dan Surabaya”.
“Orang Surabaya rupanya”.
“Bukan, dia mengaku bukan orang Surabaya. Dan katanya pula tidak ada hubungannya
dengan perang yang bakal terjadi, tetapi dia menungguku sebagai lawan karena
urusan pribadi”.
“Apakah kau dapat menduga, apa penyebab orang itu berbuat demikian
kepadamu?”.
“Aku rasa tidak jauh dari rasa dendam, tetapi aku sendiri belum dapat menduga lebih jauh. Entah itu dendam lama atau baru, sebab selama ini banyak sekali orang yang mendatangiku hanya untuk melampiaskan dendamnya dengan alasannya masing-masing”.
“Ya… kau benar, kau memang sudah terlalu banyak didatangi orang yang ingin melampiaskan dendam di hatinya. Sehingga mengaburkan penalaranmu dalam menduga-duga siapakah orang itu dan sumber masalah apa yang telah membuatnya rela mempertaruhkan keselamatannya sendiri”.
Halaman 13 - 14
“Tentu bukan mereka saja yang akan mempertaruhkan keselamatannya, tetapi
akupun demikian, Ki Patih”.
“Ya… aku mengerti, tetapi siapakah yang tidak mengenal murid utama Orang
Bercambuk? dan seberapa tinggi tataran kemampuannya? seharusnya mereka dapat
berpikir lebih wening, daripada hanya sekedar memenuhi rasa dendam yang
berlebih”.
“Ah… Ki Patih terlalu memuji, bukankah dalam sebuah pertarungan kita
memiliki kesempatan yang sama, dan belum tentu pula tataran kemampuannya yang
lebih tinggi akan selalu keluar sebagai pemenang?”.
“Kau benar, tetapi bukkankah bekal seseorang dalam memasuki sebuah
perang tanding itu sangat menentukan pula? selain kejernihan berpikir dan
keseimbangan jiwani seseorang dalam menghadapi pertarungan itu sendiri?”.
“Ya… Ki Patih benar”.
“Apakah hal ini sudah kau laporkan kepada Kanjeng Sinuhun?”.
“Sudah”.
“Lalu apa tanggapan dari Kanjeng Sinuhun?”.
“Setelah melalui beberapa pertimbangan bersama tiga Pangeran, maka aku
ditugaskan membayangi orang itu sekaligus. Sebab jika orang itu dibiarkan,
dengan bekal kemampuannya ada kemungkinan dapat mengacaukan rencana yang telah
kita susun bersama”.
“Apakah orang itu benar-benar berilmu sangat tinggi?”.
“Demikianlah”.
“Apakah menurut pendapatmu, kemampuannya lebih tinggi dari Ki Ageng
Wirasaba yang baru saja kau kalahkan?”.
“Aku rasa begitu”.
“Jika demikian, kita memang tidak dapat membiarkannya begitu saja tanpa
pengawasan. Sebab jika itu terjadi, dia dapat menjadi bencana bagi Pasukan
Mataram yang sedang mempersiapkan diri untuk menyambut Pasukan Surabaya”.
“Memang itu sangat mungkin sekali, Ki Patih. Maka dari itu aku
ditugaskan oleh Kanjeng Sinuhun untuk membayanginya”.
“Apakah menurutmu dia akan menunggumu hanya seorang diri? tanpa kawan
sama sekali?”.
“Entahlah… tetapi jika dilihat dari kemampuan dan kepercayaan dirinya,
mungkin sekali dia akan menungguku seorang diri”.
“Apakah dia telah menyebut sebuah tempat?”.
“Belum”.
“Lalu dimanakah dia akan menunggumu?”.
“Entahlah…”.
“Sepertinya dia memang sengaja melakukan itu, agar kau tidak mengajak
kawan atau kawan-kawanmu akan menyusul. Sehingga akan mengganggu rencananya”.
“Mungkin itu salah satu alasannya”.
“Apakah masih ada kemungkinan lain?”.
“Dia tidak ingin melihat aku dapat dikalahkannya di
hadapan kawan-kawanku”.
“Ah…”. sahut Ki Patih Singaranu, yang tiba-tiba
suaranya menjadi seakan tercekat.
“Dari sekilas pengenalanku terhadap orang itu, orang
itu benar-benar berilmu tinggi. Dan…”. tiba-tiba ayah Sekar Wangi itu ragu
untuk melanjutkan kata-katanya.
“Dan apa, Ki Agung Sedayu?”. sahut Ki Patih penasaran.
Halaman 15 - 16
“Dan dia mengatakan bahwa, telah mengetahui pengapesanku”.
“Pengapesanmu?”.
sahut Ki Patih dengan wajah terkejut.
“Demikianlah, Ki Patih”.
“Apakah kemampuanmu itu benar-benar memiliki sebuah
pengapesan? seperti yang dikatakannya?”.
“Aku rasa semua orang di dunia ini tidak ada yang
sempurna, Ki Patih. Dan setinggi apapun kemampuan seseorang, dia pasti memiliki
kelemahan, termasuk aku”.
“Kalau itu aku sependapat. Tetapi yang aku maksud
adalah, apakah kau memang memiliki pengapesan
khusus atas kemampuan yang kau miliki?”.
“Awalnya aku tidak pernah terpikirkan tentang hal itu,
tetapi setelah mendengar orang itu, aku jadi teringat kembali atas semua ilmu
yang pernah aku pelajari”.
“Lalu apa yang kau ingat?”.
“Sepertinya ucapan orang itu ada benarnya”.
“He…?”. sahut Ki Patih Singaranu sangat terkejut,
seperti disengat ribuan Tawon Gung.
Dalam
keterkejutannya, Ki Patih tidak melanjutkan kata-katanya dan lebih memilih
untuk mempertimbangkan lebih dulu apa yang akan diucapkan untuk menanggapi hal
itu.
Sehinggga untuk beberapa saat keduanya sama-sama
terhanyut dalam keheningan, karena sama-sama tidak ada yang membuka suara.
Bahkan makanan yang masih sedikit tersisa di dalam mangkuk, tertunda untuk
segera dihabiskan.
“Apakah kau sudah memikirkan bagaimana cara mengatasi
orang itu?”. bertanya Ki Patih, memecah keheningan.
“Sudah, tetapi hingga saat ini aku masih belum
mendapat cara yang aku anggap paling baik. Dan barangkali Ki Patih dapat
memberikan petunjuk kepadaku”.
“Ah… Ki Agung Sedayu suka berkelakar rupanya”.
“Aku tidak sedang berkelakar, Ki Patih”.
“Secara gelar kepangkatan aku memang di atasmu, tetapi
secara kemampuan pribadi harus kuakui bahwa aku masih jauh di bawahmu. Jadi
bagaimana mungkin aku dapat memberikan petunjuk seperti yang kau minta?”.
“Ah… Ki Patih terlalu merendah, mana mungkin Kanjeng
Sinuhun memilih seseorang untuk menduduki jabatan yang sangat penting tanpa
memiliki suatu kelebihan. Baik secara bekal pribadinya maupun kelantipan berpikirnya”.
“Jika bukan karena kesalahan besar yang pernah kau
buat di masa lalu, tentu bukan aku yang sekarang menduduki jabatan ini. Tetapi
kau, Ki Agung Sedayu”.
“Ah… meski dulu aku tidak membuat kesalahan itu, apalah
arti diriku jika dibandingkan dengan Ki Patih Singaranu?”.
“Itulah kau, orang yang memang berbeda dari orang
kebanyakan, dengan segala kelebihan dan kekuranganmu. Dan justru kau lebih
senang jika tidak dianggap sebagai orang penting ataupun berjasa”.
“Bukankah aku memang bukan orang penting apalagi
berjasa?”.
“Sudahlah… kita lupakan dulu masalah itu, dan kita kembali membicarakan
masalah yang tadi. Aku rasa aku sependapat dengan Kanjeng Sinuhun, sepertinya
memang tidak ada orang lain lagi dan hanya kaulah orang yang tepat untuk
membayangi orang itu, Ki Agung Sedayu”. sahut Ki Patih Singaranu sembari
mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan.
“Ah…”.
Halaman 17 - 18
“Kau tidak dapat mengelak atau bahkan menyembunyikan lagi kemampuanmu
yang sebenarnya di hadapan Kanjeng Sinuhun”.
“Bukankah memang seharusnya demikian ketika kita berada di hadapan Kanjeng
Sinuhun? kita harus bicara sejujurr mungkin?”.
“Kau benar, tetapi biasanya jika kau di hadapan orang lain kau masih
saja berusaha menyembunyikan kemampuanmu yang sebenarnya itu, dan kau lebih
suka disebut sebagai orang kebanyakan yang tidak memiliki kelebihan apapun,
meski kau dihina sekalipun”. sahut Ki Patih Singaranu, lalu tertawa.
Murid tertua dari Swargi Kyai Gringsing, atau yang lebih dikenal dengan
nama Orang Bercambuk itupun tidak dapat menjawab lagi dan hanya wajahnya saja
yang tampak bersemu merah sejenak.
Sebab memang begitulah kenyataannya, bahwa dirinya memang bukanlah orang
yang suka memperlihatkan kelebihannya kepada orang lain, meskipun itu orang
terdekatnya, kecuali dalam keadaan yang khusus.
“Kadang aku berpikir, bahwa semakin tinggi kemampuan seseorang, maka
orang itu tampak semakin aneh. Seperti kau sendiri sebagai contohnya”. ucap Ki
Patih Singaranu, lalu tertawa.
“Apakah aku terlihat aneh?”.
“Bukan wujudmu yang aneh, tapi segala gerak-gerik dan perilakumulah yang
tampak aneh”.
“Aku tidak pernah merasa mengubah apapun dari sikapku ataupun
kebiasaanku”.
“Biasanya memang orangnya sendiri tidak akan menyadarinya, tetapi
orang-orang di sekitarmulah yang menilai atas apa yang kau lakukan selama ini”.
“Mungkin ada benarnya pula ucapan Ki Patih”.
“Semoga Yang Maha Welas Asih senantiasa melindungi dan membimbingmu di
setiap langkahmu dalam menjalankan tugas-tugas yang sangat berat”. ucap Ki
Patih Singaranu sembari merampungkan makan malamnya.
“Terima kasih, Ki Patih Singaranu”. sahut Ki Agung Sedayu yang sudah
lebih dulu menyelesaikan makan malamnya.
Meski keduanya telah menyelesaikan makan malam, namun tidak segera
bangkit dari ruang makan dan masih melanjutkan pembicaraan yang memang masih
perlu untuk dibicarakan.
“Lalu bagaimana dengan keadaan Ki Lurah Glagah Putih?”.
“Atas segala kemurahan dari Yang Maha Agung, kini Glagah Putih sudah
menemukan kembali kesehatannya”.
“Syukurlah kalau begitu, aku ikut senang mendengarnya. Apakah dia sudah
dapat turun ke medan, jika nanti Pasukan Mataram berhadapan dengan Pasukan
Surabaya? yang sepertinya hanya tinggal menunggu hari saja?”.
“Aku kira sudah, Ki Patih. Bahkan aku sudah meminta izin kepada Kanjeng
Sinuhun, bahwa Glagah Putih aku minta untuk bergabung dengan pasukan kecilku”.
“Syukurlah kalau begitu, karena bagaimanapun juga tenaganya sangat
dibutuhkan oleh Mataram. Apalagi dalam menyambut keadaan yang sangat gawat ini,
kemampuannya tentu akan dapat membuat perbedaan di dalam medan”.
“Semoga saja Glagah Putih dapat melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya,
Ki Patih”.
“Dengan bekal pribadi dan pengalamannya yang sangat luas, aku rasa Ki
Lurah Glagah Putih tentu akan dapat melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya,
bahkan telah melebihi apa yang dapat dilakukan oleh seorang lurah prajurit
kebanyakan”.
“Semoga saja, Ki Patih”.
Halaman 19 - 20
“Sebelum Pasukan Mataram melawat ke bang wetan, di dalam sebuah paseban,
Kanjeng Sinuhun sempat menyinggung nama Ki Lurah Glagah Putih”.
“Maksud, Ki Patih?”.
“Sebenarnya ini baru sekedar pembicaraan orang-orang dalam istana,
tetapi aku rasa tidak ada salahnya aku sampaikan ini kepadamu. Tetapi jika hal
itu tidak menjadi kenyataan, jangan salahkan aku. Sebab itu sekedar pembicaraan
yang belum ada keputusan dari Kanjeng Sinuhun”.
“Ya… aku mengerti, Ki Patih. Katakan saja”.
“Pada awalnya di paseban itu mulai membicarakan para prajurit yang telah
berjasa kepada Mataram, dan akan mulai dipertimbangkan masa depannya. Terutama
bagi yang sudah berjasa dalam waktu yang lama”.
“Apakah maksud Ki Patih adalah kemungkinan anugerah kenaikan pangkat
bagi para prajurit itu?”.
“Demikianlah… dan kami telah mengusulkan beberapa nama yang sepertinya
sudah selayaknya mendapatkan hal itu, dan salah satunya adalah aku mengusulkan
nama Ki Lurah Glagah Putih”.
“Apakah menurut pendapat Ki Patih, Glagah Putih sudah pantas
mendapatkannya? dan apa dasar dari pertimbangan Ki Patih, sehingga mengusulkan
nama Glagah Putih diantara nama-nama yang Ki Patih usulkan?”.
“Bukankah aku tidak perlu banyak pertimbangan lagi jika mengusulkan nama
Ki Lurah Glagah Putih? selain itu para Petinggi Mataram pun sudah tahu siapa Ki
Lurah Glagah Putih dan apa yang telah dilakukannya. Terutama apa yang telah
terjadi di Wirasaba”.
“Semoga saja jika anugerah itu menjadi kenyataan, tidak akan membuat Glagah Putih lupa diri di kemudian
hari”.
“Sekali lagi aku sampaikan, bahwa ini baru sekedar pembicaraan diantara
para Petinggi Mataram, dan Kanjeng Sinuhun belum membuat keputusan, sebab
terganggu oleh perhatian Pasukan Mataram yang melawat ke bang wetan”.
“Aku mengerti”.
“Tetapi meski demikian, aku kira tidak akan lama lagi hal itu akan
segera dilakukan. Sebab jika mengingat perhatian Mataram yang sedang gencar
memperluas wilayah, maka waktunya sangat sempit. Dan menurut pertimbanganku
adalah, Kanjeng Sinuhun akan mengambil keputusan sepulangnya dari peperangan
kali ini”.
“Semoga Yang Maha Welas Asih selalu melindungi kita semua”.
“Kita sama-sama nenuwun, Ki Agung Sedayu”.
“Iya Ki Patih”.
“Tetapi ada satu hal yang perlu kau tahu pula”.
“Apa itu, Ki Patih?”. sahut ayah Bagus Sadewa sedikit terkejut, dan
tanpa sadarnya mengangkat wajahnya untuk memandang lawan bicara yang ada di
hadapannya.
“Aku hanya mengusulkan nama Ki Lurah Glagah Putih untuk dipertimbangkan
dalam anugerah kenaikan pangkat, tetapi aku tidak tahu apakah nantinya akan
disetujui atau tidak oleh Kanjeng Sinuhun. Dan jika disetujui pun aku tidak
tahu anugerah kenaikan pangkat yang seperti apa yang akan diterimanya”.
“Anugerah kenaikan pangkat apapun baginya, aku sebagai wakil dari Glagah
Putih hanya dapat mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Ki Patih
Singaranu dan Mataram”.
“Aku rasa memang sudah selayaknya jika Ki Lurah Glagah Putih menerima anugerah
itu setelah pengabdianya yang sudah cukup lama dan apa yang telah dapat
dilakukannya terhadap Mataram”.
Halaman 21 - 22
“Aku hanya dapat mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dan perhatian
Ki Patih Singaranu dan Mataram, dan semoga hal ini akan menjadi pemantik Glagah
Putih untuk lebih baik lagi dalam melaksanakan tugas-tugasnya di kemudian
hari”.
“Dan apa yang terjadi di Wirasaba tentu lebih membuka mata semua orang,
bahwa memang sudah selayaknya Ki Lurah Glagah Putih mendapatkannya. Meski aku
rasa sebenarnya terlambat”.
“Aku rasa tidak, Ki Patih”.
“Sesuai dengan pesan Swargi Ki Patih Mandaraka di saat-saat terakhir
yang aku upayakan untuk tetap aku jaga sejauh yang dapat aku lakukan. Jangan sampai
kedekatan seorang prajurit dengan salah satu Petinggi Mataram membuatnya
mendapat kemudahan dalam segala keperluan, salah satunya adalah tentang
kenaikan pangkat. Biarlah prajurit itu menyakinkan dulu kepada semua orang
bahwa dirinya memang layak untuk itu”.
“Aku mengerti, Ki Patih. Dan aku rasa memang sebaiknya demikian, agar nantinya
seseorang tidak dianggap menyalah gunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi atau
membantu kepentingan orang-orang yang berada di sekitarnya”.
“Kau benar, karena biar bagaimanapun jabatan yang aku emban ini adalah
amanah yang harus aku pertanggung jawabkan kepada Kanjeng Sinuhun dan seluruh
kawula Mataram. Jadi aku tidak dapat sembarangan bertindak atau mengambil
keputusan”.
“Aku rasa memang demikian”.
“Apalagi jabatan yang aku emban ini adalah murni karena sebuah anugerah
dari Kanjeng Sinuhun dan bukan karena jabatan warisan, sehingga aku harus lebih
hati-hati dalam menjaganya. Bukannya aku takut untuk dilengserkan dari jabatan
ini, tetapi yang lebih aku takutkan adalah ketika aku tidak dapat melaksanakan
amanah ini dengan sebaik-baiknya”.
“Mataram beruntung sekali memiliki seorang patih, seperti Ki Patih
Singaranu”.
“Ah… jangan terlalu memuji, aku hanya melakukan apa yang aku yakini
kebenarannya, berdasarkan dari pertimbangan-pertimbangan sejauh kemampuanku”.
“Aku berkata yang sebenarnya, Ki Patih”.
“Apakah malam ini kau ada rencana akan bergerak?”.
Ki Agung Sedayu tidak segera menjawab, tetapi lebih dulu membuat
pertimbangan atas apa yang perlu dilakukannya malam ini atau tidak.
Karena orang yang tidak segera menjawab, maka Ki Patih Singaranu pun
mendahului membuka suara kembali.
“Jika kau tidak ada rencana yang diperlukan malam ini, beristirahatlah
di Kepatihan, dan besok pagi-pagi sekali kau baru melanjutkan tugas-tugasmu.
Lagipula sekarang malam sudah semakin larut, kau tentu perlu beristirahat
pula”.
“Em…”. sahut Ki Agung Sedayu dengan suara perlahan.
“Apalagi yang masih kau pertimbangkan? apakah kau masih merasa sungkan
jika beristirahat di Kepatihan? bukankah aku sudah mempersilahkanmu, dan telah
menyiapkan bilik khusus untukmu? kapanpun kau ingin beristirahat di Kepatihan,
maka pintu Kepatihan selalu terbuka lebar untukmu, kapanpun kau mau”.
“Aku hanya dapat mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas segala
kebaikan Ki Patih Singaranu”. sahut ayah Sekar Wangi pada akhirnya yang tidak
dapat menolak kebaikan tersebut.
“Lagipula jika kau pergi dari Kepatihan malam ini, tentu kau akan
mencari tempat beristirahat di sembarang tempat, dan tentu itu tidak akan
membuatmu dapat beristirahat dengan nyenyak”.
Halaman 23 -24
Ucapan dari Ki Patih Singaranu itu hanya dapat ditanggapi dengan senyum
masam, karena biar bagaimanapun kemungkinan itu ada benarnya.
“Sekarang beristirahatlah, agar tubuhmu lebih segar ketika besok
terbangun. Dan beristirahatlah dengan sebaik-baiknya, sebab kau masih memiliki
tugas yang berat dan rumit yang menanti”.
“Baiklah, Ki Patih”.
“Akupun akan segera beristirahat, meski aku tidak sedang mengemban tugas
berat sepertimu, tetapi akupun perlu beristirahat dengan sebaik-baiknya”.
berkata Ki Patih Singaranu, kemudian tersungging senyum tipis di bibirnya.
Selesai berkata demikian, Ki Patih pun segera bangkit dari tempat
duduknya dan mendahului untuk meninggalkan ruangan tersebut, namun sebelum itu.
“Bukankah aku tidak perlu mengantarmu lagi menuju bilikmu?”. berkata Ki
Patih Singaranu dengan wajah menggoda.
“Ah… tidak perlu, Ki Patih. Aku dapat sendiri”.
Tidak lama kemudian, Ki Agung Sedayu pun segera menuju bilik yang memang
disiapkan khusus baginya, terutama pada saat menjalankan tugas kali ini.
Namun sebelum memasuki biliknya, dirinya lebih dulu menyempatkan diri
pergi ke pakiwan untuk membersikan diri ala kadarnya agar merasa lebih nyaman
ketika beristirahat.
Dan setelah tiba di pembaringannya Ki Agung Sedayu segera merebahkan
tubuhnya di atas amben yang sangat bagus, karena terbuat dari kayu khusus
dengan ukiran yang sangat rumit dan indah ketika dipandang mata.
Namun dirinya tidak dapat segera tidur, karena tiba-tiba di kepalanya
terlintas kembali bayangan orang misterius yang mendatanginya dengan cara yang
tidak wajar.
“Kenapa tiba-tiba aku teringat kembali akan orang itu?”. ucap Ki Agung
Sedayu di dalam hatinya, sembari merebahkan tubuhnya dengan mata terpejam.
“Apakah aku menjadi ketakutan karena peringatannya?”.
“Sepertinya ada benarnya pula apa yang dikatakannya, bahwa kemampuanku
ini memiliki pengapesan, yang selama
ini hampir tidak aku sadari sendiri. Justru dari orang itulah aku baru
menyadari akan hal itu”.
“Lalu apa yang harus aku lakukan jika nanti benar-benar berhadapan
dengannya? apakah aku sanggup mengatasi kemampuannya yang sangat tinggi itu?”.
Dalam kesunyian malam itu, entah kenapa pikiran ayah Bagus Sadewa
semakin berputar-putar tanpa dapat menemukan jalan keluar dari apa yang sedang
dipikirkannya.
Hingga tanpa disadari, entah sudah berapa lama dirinya terbaring di atas
amben itu tanpa hasil apapun, meski dirinya sudah berusaha dengan
sebaik-baiknya untuk mencari jalan keluar.
“Sementara yang dapat aku pikirkan hanyalah bagaimana sedapat mungkin
aku dapat menghindari pengapesan, seperti yang dikatakan orang itu”.
Demikianlah yang dapat dilakukan oleh ayah Sekar Wangi dalam
kesendiriannya, hatinya yang terus bertanya-tanya dan akalnya yang berusaha
menjawab.
Meski tidak dapat dijawab seluruhnya, namun paling tidak dia sudah
berusaha mencari jalan keluar sebelum bertemu kembali dengan orang itu dalam
sebuah arena, yang kemungkinan akan menjadi sebuah perang tanding.
Sejak dirinya mulai mengenal kanuragan, lalu berusaha mempelajarinya dan
akhirnya hingga saat ini. Entah sudah berapa banyak dirinya berperang tanding,
dan entah berapa banyak pula orang yang telah meregang nyawa di tangannya.
Halaman 25 - 26
Namun entah kenapa, kali ini dirinya merasa seakan baru akan pertama
kali melakukannya. Ada getaran-getaran aneh yang terasa menjalar di tubuhnya
setiap teringat akan orang itu, bahkan sesekali hatinya terasa berdesir aneh.
“Apa yang sebenarnya telah terjadi dengan diriku? kenapa hatiku
tiba-tiba menjadi kurang mapan? apakah akan terjadi sesuatu yang buruk
kepadaku?”.
“Ah… tidak baik jika aku terlalu berprasangka, sebaiknya semuanya aku
pasrahkan kepada Yang Maha Agung. Karena hanya kepada-Nya lah aku dapat meminta
pertolongan dalam segala urusan apapun”.
Pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan itu kemudian hanya dapat disanggahnya
sendiri di dalam isi kepalanya di pembaringannya dengan mata yang masih tetap
terpejam.
Sementara di luar, di sepanjang langit yang terbentang dari ujung ke
ujung. Nampak begitu indah dengan berhiaskan bintang-bintang yang tak terhitung
jumlahnya.
*****
Sementara di tempat lain yang jauh dari gemerlapnya Istana Kepatihan,
pemandangan langit malamnya pun tidak kalah indahnya karena tidak terhalang
mendung sama sekali.
Dan dari kejauhan, selain terdengar suara beberapa jenis binatang malam,
terdengar pula suara ayam berkokok untuk kedua kalinya sebagai pertanda bahwa
pada saat itu telah memasuki waktu dini hari.
Udara di luar pun semakin dingin dan seakan rasanya hingga menusuk
tulang, namun hal itu sepertinya tidak dapat mengusik orang-orang yang telah
tidur dengan begitu nyenyaknya.
Di penginapan yang sudah nampak sepi, dan hanya hampak beberapa saja
orang yang berjaga sembari menikmati minuman hangat dan ketela pohon rebus.
Sementara Nyi Pandan Wangi yang sedang tidur di penginapan, tiba-tiba
terbangun dengan raut wajah gelisah bersamaan dengan nafasnya yang sedikit
memburu.
Ibu Bagus Sadewa yang mendapat giliran berjaga, dengan duduk di ujung
amben tentu saja dapat melihat kejadian itu dengan jelas apa yang terjadi
dengan marunya tersebut.
“Kau kenapa, Mbokayu?”. bertanya Ibu Bagus Sadewa heran dan dengan suara
perlahan, agar tidak mengejutkan kawan-kawannya yang sedang tidur dengan
nyenyaknya.
Yang mendapat pertanyaan itu tidak segera menjawab, namun lebih duduk
memperbaiki letak duduknya, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
“Sepertinya aku mimpi buruk”. sahut Ibu Bayu Swandana dengan suara
perlahan pula.
“Mimpi buruk?”.
Nyi Pandan Wangi tidak segera menyahut, tetapi masih berusaha
mengingat-ingat kembali apa yang ada di mimpinya tersebut sembari menutup
wajahnya denga kedua tangannya.
Nyi Sekar Mirah yang tanggap pun tidak berusaha memaksa, dan dengan
sabar menunggu apa yang akan disampaikan oleh Ibu Bayu Swandana setelah dirinya
tenang.
Setelah beberapa saat mencoba menenangkan diri, dia bangkit dari amben
sembari memendam kegelisahan yang masih mengganggu perasaannya.
“Semoga saja mimpiku ini hanya sekedar bunga tidur yang tidak berarti
sama sekali”. ucap Nyi Pandan Wangi dengan suara perlahan, setelah berdiri di
depan marunya tersebut.
Halaman 27 -28
Ibu Bagus Sadewa tidak segera menanggapi dan lebih memilih untuk menunggu
kata-kata berikutnya, agar lebih jelas keterangan yang didapatnya.
“Entah kenapa, tiba-tiba aku memimpikan tentang kakang Agung Sedayu, dan
seakan itu seperti nyata”.
“Memangnya apa yang Mbokayu mimpikan? sehingga membuat Mbokayu begitu
gelisah?”.
“Aku tidak dapat mengingatnya secara keseluruhan meski tadi aku sudah
berusaha mengingatnya dengan keras. Dan hanya sekilas saja yang masih teringat
di kepalaku”.
“Apa itu?”.
“Yang aku ingat di mimpi itu, aku melihat kakang Agung Sedayu ditelan oleh
kabut hitam yang sangat tebal dan dia berteriak-teriak minta tolong, tetapi aku
tidak dapat berbuat apapun untuk menolongnya”.
“Sebaiknya kita sama-sama nenuwun
kepada Yang Maha Welas Asih, Mbokayu. Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk
pada kakang Agung Sedayu”.
“Ya… kau benar, sebaiknya kita nenuwun
kepada Yang Maha Welas Asih, agar kakang Agung Sedayu mendapat perlindungan-Nya
di setiap langkahnya”.
“Apakah Mbokayu memerlukan minuman hangat agar dapat membantu sedikit
lebih tenang?”.
“Tidak perlu, kau beristirahatlah! dan sekarang giliranku tugas berjaga.
Kau tentu sudah lelah”.
“Apakah Mbokayu tidak memerlukan lagi kawan berbincang barang sejenak?”.
“Tidak, kau berristirahatlah!”.
“Baiklah, kalau begitu. Aku akan beristirahat sekarang”.
Sejenak kemudian, Nyi Sekar Mirah pun segera merebahkan tubuhnya di atas
amben, lalu memejamkan matanya untuk bersiap merangkai mimpi yang diharapkan
indah.
Sementara Nyi Pandan Wangi masih merasa hatinya kurang mapan setelah
mendapat mimpi buruk yang tadi telah mengusik tidur lelapnya.
Dengan duduk di ujung amben dan bersandar pada dinding kayu ruangan,
dirinya masih terbayang-bayang akan mimpi yang telah mengejutkannya tersebut.
Samar-samar dari luar masih terdengar dua atau tiga orang yang berbincang.
Setelah beberapa saat mengamati, sepertinya mereka adalah pemilik penginapan
bersama kawannya, dan sejauh ini tidak ada yang pantas untuk dicurigai.
Sesekali terdengar pula hewan-hewan malam yang berusaha memecah
kesunyian di waktu dini hari yang hawanya terasa semakin dingin mencengkam.
“Semoga saja tadi apa yang ada di mimpiku hanya sekedar bunga tidur yang
tidak berarti sama sekali”. membatin ibu Bayu Swandana.
Namun meski begitu, entah kenapa dirinya masih saja belum dapat mengusir
kegelisahan di dalam hatinya, bersamaan dengan isi kepalanya yang masih
terbayang-bayang akan mimpi itu.
Tanpa sadar, sekilas pandangan kedua matanya menyapu ke arah kawan-kawannya
yang sedang tertidur dengan lelapnya, termasuk marunya yang baru saja berangkat tidur.
Tidur yang begitu lelapnya menggambarkan begitu damainya hidup ini,
tanpa beban dan tanpa gegayuhan yang dapat mengganggu kedamaian dalam hidup
bebrayan.
Halaman 29 - 30
Karena jika sempat kita renungkan, pada dasarnya segala gejolak yang
terjadi di dalam kehidupan bebrayan ini timbul disebabkan oleh kurangnya
pengendalian diri pada diri kita sendiri.
Ketamakan kita sering membawa kita ingin mendapat lebih dari yang seharusnya,
bahkan karena itu kita sering melupakan hak yang sama pada orang lain.
Dan tidak sedikit pula dari kita yang dengan sadarnya, berani nerak pacak nrajang paugeran hanya untuk
memenuhi ketamakan yang hampir tidak pernah ada cukupnya.
Padahal jika kita mau sedikit mengendalikan diri, sepertinya kita dapat
membuat kehidupan bebrayan ini lebih baik. Atau paling tidak, dapat mengurangi hal-hal
buruk yang kita ditimbulkan.
Namun pada kenyataannya, beginilah kehidupan bebrayan. Setiap orang
berbeda isi kepalanya, sehingga berbeda pula keinginannya. Dan biasanya kita
merasa bahwa pendapat kita adalah pendapat yang paling baik dan paling benar,
meski belum tentu baik dan benar bagi orang lain.
Berbeda bukan berarti kita untuk saling berlomba menjadi yang paling
benar sendiri, tetapi dari perbedaan itu kita sama-sama belajar bahwa perbedaan
ini untuk saling mendukung dan saling menguatkan satu sama lain dengan penuh
ketulusan guna mencapai tujuan bersama, yaitu kedamaian bebrayan.
“Mungkinkah mimpiku ini berhubungan dengan orang misterius yang
mendatangi kakang Agung Sedayu itu?”. bertanya Nyi Pandan Wangi dalam hati.
“Apakah orang itu benar-benar memiliki ilmu yang sangat ngedap-edapi? sehingga kakang Agung
Sedayu akan kesulitan jika nantinya menghadapi orang itu?”.
“Apalagi orang itu mengatakan bahwa telah mengetahui pengapesan dari kakang Agung Sedayu,
mungkinkah…?”.
Semakin lama Nyi Pandan Wangi memikirkan hal itu, justru membuatnya
semakin takut untuk membayangkan apa yang bakal terjadi pada suaminya.
Meski penalarannya mencoba untuk tidak membayangkan sesuatu yang buruk,
namun perasaannya tidak dapat dibohongi begitu saja.
“Mungkinkah itu adalah sebuah isyarat yang kurang baik yang bakal
terjadi pada kakang Agung Sedayu? atau hanya pikiranku saja yang terlalu ngayawara?”. lanjutnya membatin.
“Semoga kakang Agung Sedayu baik-baik saja”.
Hanya itu yang pada akhirnya dapat dikatakannya dalam hati untuk sedikit
menenangkan hatinya yang terasa kurang mapan atas apa yang baru saja dialaminya.
Karena biar bagaimanapun dia tidak mau terlalu terlarut kedalam perasaan
yang tidak ada ujung pangkalnya dan juga belum tentu menjadi kenyataan.
Setelah mengambil nafas yang dalam, kemudian dirinya berusaha untuk
bersikap wajar untuk mengurangi kegelisahan. Dan mencoba memikirkan apa saja
yang menarik baginya untuk melupakan hal itu sejauh yang dapat dilakukannya.
“Sebaiknya aku memang tidak perlu terlalu memikirkan sesuatu yang belum
jelas kebenarannya, lebih baik aku memikirkan hal lain yang memang perlu aku
pikirkan saat ini, atau sesuatu yang menarik bagiku tanpa dibayangi oleh
kegelisahan”.
Meski tidak mudah, namun perlahan-lahan Nyi Pandan Wangi akhirnya mulai
dapat mengusir kegelisahan itu di dalam keheningan waktu dini hari, yang tidak
lama lagi fajar akan menyingsing dari balik bukit di sisi timur.
*****
Halaman 31 - 32
Sementara itu Ki Agung Sedayu sudah berada di luar Istana Kepatihan,
tepatnya di sebuah hutan yang tampak pepat dan gelap yang menyelimuti sekitar
tempat itu.
Namun sebagai orang yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan, pemandangan
yang begitu gelap bukan menjadi masalah besar baginya.
Sebab dirinya memiliki kemampuan untuk melihat keadaan yang sangat gelap
di sekitarnya hampir tidak beda jika dirinya melihat pada keadaan yang terang.
Dalam langkah yang perlahan dan penuh dengan kehati-hatian, dirinya
meningkatkan kewaspadaan pada tataran tertinggi akan keadaan sekitar.
“Sumber isyarat itu tadi ku dengar dengan jelas berasal dari arah sini,
tetapi siapakah gerangan yang memberikan isyarat itu? kenapa semakin aku dekat
pada sumber isyarat itu, justru isyarat itu semakin samar dan bahkan baru saja
menghilang begitu saja, dan seakan tak berbekas?”. ucap Ki Agung Sedayu dalam
hati.
Kepalanya bergerak ke kanan dan kiri sembari dengan tatapan matanya yang
tajam, untuk berusaha melacak apa yang sedang dicarinya di tempat itu.
Kakinya terus melangkah perlahan, sembari menyamarkan segala bentuk
bunyi yang dapat ditimbulkan. Dan semakin lama dia masuk dalam kegelapan,
membuatnya semakin kebingungan.
“Kenapa sumber isyarat itu tiba-tiba menghilang tak berbekas? apakah
orang yang memberikan isyarat itu benar-benar orang yang berilmu sangat tinggi?
sehingga aku tidak dapat melacak kepergian orang itu sama sekali?”.
Berbagai pertimbangan hilir mudik di isi kepalanya dengan begitu
cepatnya, namun dirinya masih saja kebingungan dengan apa yang sedang
dialaminya.
Namun pada akhirnya dirinya harus segera mengambil sikap agar tidak
diselimuti oleh kebingungan terus menerus tanpa pernah mendapat penyelesaian.
“Ki Sanak, siapakah kau sebenarnya? dan apa maksudmu menyampaikan
isyarat itu kepadaku?”. bertanya Ki Agung Sedayu yang mencoba membuat
penyelesaian.
Namun pertanyaan itu hanya ditelan oleh kegelapan, tanpa mendapat
jawaban sama sekali. Sehingga hal itu membuat hati ayah Sekar Wangi semakin
tidak mapan.
“Apakah orang itu hanya ingin mempermainkanku saja?”. katanya dalam
hati.
“Ah… tentu tidak. Pasti dia memiliki tujuan tertentu, kenapa memanggilku
dengan isyarat khusus”. sanggahnya sendiri dalam hati, dengan perasaan sedikit
ragu.
Setelah menunggu beberapa saat masih belum ada pula jawaban dari orang
yang dimaksud, maka Ki Agung Sedayu segera mengambil sikap.
“Ki Sanak, jika kau memang tidak ingin menemui aku, sebaiknya aku
kembali. Tidak ada gunanya aku berlama-lama menghabiskan waktu disini”.
Masih saja tidak terdengar jawaban dari orang yang dimaksud setelah
sejenak menunggu, hingga akhirnya Ki Agung Sedayu pun memutuskan untuk kembali.
Namun betapa terkejutnya setelah dirinya membalikkan tubuhnya untuk
kembali, sebab yang dilihatnya hanyalah kegelapan. Bahkan setelah dia memutar
tubuhnya, ternyata sekarang seluruh tempat itu telah diselimuti oleh kegelapan
yang tak mampu ditembusnya sama sekali.
Dengan bekal yang dimilikinya, maka Ki Agung Sedayu pun segera
meningkatkan kemampuannya hingga pada tataran puncak Aji Sapta Pandulu dan Aji
Sapta Panggrahita guna menghadapi masalah yang sedang dihadapinya.
Halaman 33 -34
Namun entah kenapa kali ini usahanya nampak sia-sia saja, meski sudah
berada pada tataran puncak, dirinya belum berhasil keluar dari belenggu
kegelapan itu.
“Aneh…”. katanya dalam hati.
“Apa yang sebenarnya telah terjadi? kenapa aku tidak berhasil menyibak
tabir gelap ini? apakah orang itu benar-benar memiliki ilmu yang sangat tinggi?
sehingga aku tidak dapat melepaskan diri dari kabut gelap ini?”.
“Pepohonan dan tumbuhan liar yang tadi dapat aku lihat pada saat datang
kemari sudah tidak dapat ku lihat lagi sekarang. Yang kini dapat aku lihat
hanyalah kegelapan yang sangat pekat”.
“Apa yang sebenaranya telah terjadi?”. membatin Ki Agung Sedayu dalam
kebingungannya yang semakin menjadi-jadi.
Namun dia sadar bahwa harus berbuat sesuatu agar segera terlepas dari
keadaan tersebut, maka segeralah dipusatkan nalar budinya.
Dan apa yang terjadi selanjutnya justru semakin membuatnya kebingungan
yang sangat, sebab hasil dari pemusatan nalar budinya tidak seperti yang
diharapkannya.
“Apa yang sebenarnya telah terjadi? kenapa aku tidak berhasil
mengetrapkan Aji Pengangen-angen?”.
Sebuah ilmu yang seakan sudah mendarah daging dengan dirinya sekian lama
itu entah kenapa tiba-tiba menjadi tumpul, tanpa diketahui penyebabnya.
Padahal dirinya merasa tidak ada yang salah pada saat pemusatan nalar
budi tadi, seperti yang selama ini dilakukannya pada saat pengetrapan ilmu itu.
“Untuk meyakinkan, akan ku coba sekali lagi”.
Selesai berkata demikian dalam hatinya, ayah Bagus Sadewa itupun segera
memusatkan kembali nalar budinya dengan lebih teliti dan sungguh-sungguh.
Kali ini dirinya tidak mau tergesa-gesa, sembari menilai keadaan. Apa
yang sebenarnya sedang terjadi pada dirinya di tempat itu, dan kenapa pula tiba-tiba
hal itu terjadi.
Setelah beberapa saat memusatkan nalar budinya, kemudian diurainya
kembali dengan perasaan kecewa, karena hasil yang didapatkan masih tetap sama
dengan apa yang telah terjadi pada saat sebelumnya.
“Kenapa tiba-tiba kemampuanku tidak bekerja sebagaimana biasanya? bahkan
aku merasa ada kelainan pula pada tubuhku, baru kali ini aku merasa seperti
ini”.
Ki Agung Sedayu hanya dapat ngudarasa
di dalam hatinya tanpa mendapat jawaban yang memuaskan atas apa yang sedang
terjadi kepada dirinya.
Dari wajahnya mulai menyiratkan kegelisahan yang selama ini jarang
sekali terpancar, meski sedang menghadapi keadaan yang gawat sekalipun.
Sekarang tidak ada lagi yang dapat dilakukannya selain berusaha
menyingkir sesegera mungkin dari tempat itu sebelum benar-benar terlambat.
Namun dirinya akan pergi kemana? sementara yang dilihatnya hanyalah kabut hitam
yang tebal dan pekat.
Segala kemampuan yang selama ini dipelajarinya selama bertahun-tahun seakan
tidak mau bekerja sama sekali, tanpa pernah tahu apa penyebabnya, termasuk kemampuannya
untuk melihat keadaan sekitar dalam kegelapan.
“Sepertinya seseorang memang sengaja menjebakku di tempat ini, tapi
siapa?”. lanjutnya membatin.
Halaman 35 - 36
“Mungkinkah orang itu…?”. katanya dalam hati mulai menduga-duga siapakah
pelakunya.
Setelah melalui pertimbangan-pertimbangan yang cukup rumit, akhirnya
dirinya mulai membuat kesimpulan siapakah orang yang melakukan hal itu
kepadanya atas apa yang sedang dialaminya di tempat itu.
Dan dari kesimpulan itu semakin mengerucut pada seseorang yang belum
lama ini datang menemuinya dengan cara yang tidak wajar dan penuh misteri, dan
orang itupun tidak mau menunjukkan jati dirinya hingga dia pergi
meninggalkannya.
“Siapapun dia, tidak penting bagiku. Sebab yang paling penting sekarang ini
adalah bagaimana caranya agar aku dapat keluar dari tempat ini dengan selamat”.
Selesai berucap demikian di dalam hatinya, Ki Agung Sedayu mulai
melangkahkan kakinya dengan penuh kehati-hatian, sebab kini yang dapat dilihatnya
hanyalah kegelapan yang mencekam.
Sembari dalam hati, dirinya tidak henti-hentinya nenuwun kepada Yang Maha Welas Asih, guna meminta pertolongan, perlindungan
dan petunjuk yang paling baik atas kesulitan yang sedang dialaminya.
Meski tidak tahu harus pergi ke arah mana, namun Ki Agung Sedayu mencoba
berkeyakinan bahwa akan menemukan jalan keluar yang paling baik nantinya
“Semoga Yang Maha Welas Asih selalu membimbing jalanku”.
“Meski aku tidak tahu dimanakah jalan keluarnya, tetapi itu lebih baik
daripada aku hanya berpasrah diri disini tanpa berbuat sesuatu dan hanya
menunggu nasib”.
Dengan berkeyakinan demikian, maka Ki Agung Sedayu mulai melangkahkan
kakinya dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan pada keadaan sekitar.
Karena biar bagaimanapun dirinya tidak tahu apa yang ada di sekitarnya,
dan mungkin saja ada hal-hal yang tidak terduga yang akan datang, termasuk
hal-hal yang dapat mengancam jiwanya pada saat dirinya lengah.
Dalam ingatannya masih tampak jelas keadaan di sekitar pada saat dia
datang, sehingga dirinya mencoba menelusuri jalan itu melalui nalurinya.
Setelah beberapa saat berjalan, sepertinya Ki Agung Sedayu masih belum
menemukan pula tanda-tanda jalan keluar seperti yang diharapkannya.
Dengan terus memanjatkan panuwunan
kepada Yang Maha Welas Asih, dirinya tidak mau menyerah untuk berusaha mencari
jalan keluar.
Kabut hitam itu memang benar-benar pekat, bahkan seakan tidak pernah
berkurang sedikitpun meski dirinya telah berjalan beberapa jauh. Dan seakan terus mengikuti kemanapun putra
dari Swargi Ki Sadewa itu melangkahkan kakinya.
Kedatangannya ke tempat itu karena mengikuti sebuah isyarat yang
disampaikan oleh seseorang, tapi hingga kini dirinya tidak berhasil menemuinya.
Bahkan sekarang dia terjerumus ke dalam kesulitan yang tidak pernah dibayangkan
sebelumnya.
Untuk sementara dirinya harus melupakan orang yang telah membawanya ke
tempat itu, sebab sekarang yang ada di isi kepalanya hanyalah bagaimana caranya
dapat keluar dari kesulitan itu dengan sebaik-baiknya.
“Aku percaya bahwa Yang Maha Agung tidak akan memberikan ujian di luar
kemampuan hambanya”. membatin Ki Agung Sedayu menguatkan hatinya, sembari terus
melangkahkan kakinya yang entah sudah sampai dimana.
Entah sudah berapa lama dirinya berjalan, masih belum menemukan pula jalan keluar yang dicari. Meski Ki Agung Sedayu tidak dapat melihat keadaan sekitar, namun dalam ingatannya masih tergambar jelas bahwa dirinya menyusuri jalan sama, dengan jalan yang membawanya datang ke tempat itu.
Halaman 37 - 38
“Selain tempat ini diselimuti kabut hitam yang sangat tebal, sepertinya
tempat ini diselimuti pula oleh kekuatan yang tak kasat mata. Sehingga aku
kesulitan menemukan jalan keluar”. ucap Ki Agung Sedayu dalam hatinya membuat
kesimpulan.
Perasaan gelisah itu mulai semakin meningkat seiring dengan usahanya yang
hingga kini belum juga menemukan hasil seperti yang diharapkannya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kejadian ini telah membuat antara akal dan
perasaannya kini mulai bercampur aduk untuk mencari cara yang paling baik agar
dapat kesulitan tersebut.
Pada dasarnya kesulitan yang bagaimanapun sulitnya tidak pernah
membuatnya takut dan menyerah pada keadaan, Namun selain berusaha, dirinya
sembari memasrahkan diri kepada kuasa dari Yang Maha Agung.
Apapun yang bakal terjadi atas dirinya akan diterimanya dengan rasa lilo legowo sepenuh hati, sebab dirinya
sadar, bahwa setiap manusia pasti memiliki batasnya masing-masing.
Dan jika hal ini menjadi batas baginya, mungkin memang itulah tugasnya
di kehidupan bebrayan telah sampai
pada batasnya pula, sehingga apapun yang terjadi tidak ada yang perlu disesali.
“Jika ini memang telah sampai pada batasku, biarlah aku terima dengan
penuh kelegaan hati. Dan sebaik-baiknya rencana seseorang, pasti rencana Yang
Maha Agung lah yang paling baik. Sebab Yang Maha Agung adalah Yang Maha
Berkehendak pula”.
Selesai berkata demikian di dalam hatinya, untuk beberapa saat Ki Agung
Sedayu hanya dapat termenung di tempatnya, sembari memikirkan apa yang
sebaiknya dilakukannya untuk mengatasi kesulitan yang belum pernah dialaminya.
Dalam kebimbangan yang semakin tidak menentu itu, dia dikejutkan oleh
sesuatu yang tidak pernah diduganya, bahkan karena saking terkejutnya, dia dengan
serta merta membelalakkan kedua matanya.
Bagaikan disambar petir di siang bolong, tiba-tiba Ki Agung Sedayu
mendengar suara orang yang tertawa perlahan dengan nada penuh ejekan, yang
entah dari mana sumbernya. Namun menurut pendengarannya, sumber suaranya tidak
jauh dari tempat dirinya kini berdiri.
“He…he…he…”.
Ki Agung Sedayu pun dengan serta merta membelalakkan matanya, lalu
memandang berkeliling untuk mencari tahu dari manakah arah sumber suara itu dan
siapakah orang yang telah melakukannya.
“Sia-sia saja kau mencari keberadaanku, Ki Sanak. Sebab kau tidak akan
mampu untuk menemukanku”. berkata orang misterius tersebut dengan suara perlahan, namun seakan telah memenuhi
tempat itu, sehingga sulit untuk dilacak keberadaannya.
“Siapakah sebenarnya kau, Ki Sanak?”. sahut Ki Agung Sedayu sembari
masih berusaha mencari keberadaan lawan bicaranya.
“Tanpa aku sebutkan pun, aku rasa kau tentu sudah dapat menduganya
sendiri”.
“Tetapi aku masih tidak yakin bahwa dugaanku ini benar, jadi sebaiknya
katakan saja. Agar aku tidak salah orang”.
“Mana mungkin salah orang? bukankah sejak beberapa saat tadi kau sudah
mulai menduga-duga siapakah aku? dan dari beberapa nama yang kau pertimbangkan,
telah mengerucut pada seseorang. Dan itu adalah aku”.
Orang yang masih bersembunyi dibalik kabut itu memang tidak menjawab apa
yang ditanyakannya, namun jawaban orang itu justru berhasil membuat hatinya
berdesir.
“Kau tidak perlu heran, Ki Sanak”.
Halaman 39 -40
“Tetapi bagaimana mungkin…?”.
“Kenapa tidak mungkin? bukankah sudah aku katakan, bahwa aku sudah mengetahui
pengapesanmu? jadi kau jangan heran
pula jika aku dapat membaca isi hati dan kepalamu”.
Ki Agung Sedayu hanya dapat terdiam mendengar jawaban itu, karena tidak
pernah menduga sebelumnya bahwa kejadiannya akan sejauh ini.
“Lalu apa yang kau kehendaki dariku?”.
“Tanpa aku jelaskan pun, bukankah semuanya sudah jelas apa maksud
kedatanganku menemuimu? buat apa aku bersusah payah mencarimu hanya untuk
keperluan remeh-temeh”.
“Baiklah, aku mengerti maksudmu”.
“Ternyata kau cukup cerdas untuk menyikapi hal ini, sehingga aku tidak
perlu repot-repot menjelaskannya kepadamu. Tetapi apakah itu sejalan dengan apa
yang akan kau lakukan selanjutnya? itu masih perlu sama-sama kita buktikan”.
“Jika aku tidak salah duga, kedatanganmu menemui aku adalah untuk
menantang berperang tanding. Dan aku sebagai orang yang menerima tantanganmu
adalah berusaha mempertahankan diriku dari kemampuanmu yang tentu sangat
tinggi”.
“Ha…ha…ha…”.
“Kenapa kau justru tertawa?”. sahut Ki Agung Sedayu yang merasa sangat
heran dengan sikap calon lawannya berperang tanding itu.
“Ternyata benar dugaanku”.
“Memangnya apa yang kau duga?”.
“Ternyata dalam hal ini kau tidak cukup cerdas untuk mengambil sikap yang
benar”.
“Memangnya apa yang salah dengan sikapku?”.
“Sebagai Agul-Agulnya Mataram, ternyata kau telah berani bersikap sangat
deksura, sebab secara terang-terangan berani secara terbuka menerima tantanganku
untuk berperang tanding. Bukankah kau tahu bahwa aku telah mengetahui pengapesanmu? dan jika kau menerima
tantanganku, bukankah itu sama artinya kau hanya akan membunuh diri?”.
“Aku sadari semua itu, semut pun jika kau usik akan berusaha
mempertahankan dirinya, apalagi aku?”.
“Kau benar-benar sadar atas apa yang kau katakan? atau kau sudah mulai
kehilangan akal untuk menghadapiku? sehingga ucapanmu sudah mulai ngelantur?”.
“Terserah apapun pendapatmu, tetapi inilah sikapku. Tentang menang dan
kalah itu adalah akibat yang wajar dari sebuah pertarungan, dan hal itu dapat
dialami oleh siapapun. Jika siap menang, maka harus siap pula untuk kalah”.
“Tetapi bagaimana jika kekalahanmu kali ini akan menjadi akhir dari
perjalananmu? apakah kau siap pula untuk itu?”.
“Hidup dan mati seseorang itu tidak ditentukan oleh orang lain, tetapi
ada Yang Maha Welas Asih yang memiliki kuasa untuk itu”.
“Lalu apa katamu jika nanti kau akan mati di tanganku? bukankan aku punya
kuasa untuk membunuhmu?”.
“Itu bukan kuasamu namanya, tetapi kau hanyalah lantaran dari kuasa Yang
Maha Welas Asih untuk mengakhiri hidup orang lain”.
Halaman 41 - 42
“Terserah saja apa katamu, yang jelas sebentar lagi semua orang akan
melihat Agul-Agulnya Mataram yang selama ini tidak terkalahkan, akan menghembuskan
nafasnya yang terakhir”.
“Jika memang itu yang akan terjadi, biarlah terjadi. Dan aku percaya
bahwa sebaik-baiknya rencana kita, pasti masih lebih baik rencana Yang Maha
Agung”.
“Sepertinya kita sudah terlalu banyak bicara, sebaiknya kau segera
bersiap untuk menerima nasib burukmu. Dan perlu kau ingat, bahwa tidak akan ada
yang akan dapat menolongmu disini”.
“Tetapi aku masih percaya bahwa pertolongan dari Yang Maha Welas Asih
tidak pernah terbatas, kapanpun dan dimanapun”.
“Terserah kau saja, nikmati saja khayalanmu yang semakin lama semakin ngayawara itu”.
Ki Agung Sedayu tidak menyahut lagi, tetapi waktunya digunakan dengan
sebaik-baiknya untuk segera bersiap, guna bertarung melawan orang yang hingga
kini tidak mau menampakkan batang hidungnya sama sekali.
Namun apa yang terjadi kemudian benar-benar sangat mengejutkan
Agul-Agulnya Mataram itu, sebab dirinya tidak pernah menduga atas yang bakal
dialaminya tersebut.
Karena tiba-tiba saja ada kekuatan yang begitu besar dan tak kasat mata
telah membelenggu dirinya, dan anehnya segala kekuatan yang ada di dalam
dirinya tidak mampu berbuat banyak.
Hingga secara perlahan-lahan tubuhnya mulai roboh, meski dirinya sudah
berusaha melawan kekuatan itu dengan segenap kekuatan yang ada padanya.
“Bukankah benar apa yang telah aku katakan sebelumnya, bahwa kau tidak
akan mampu berbuat banyak di hadapanku? sebab aku sudah mengetahui
pengapesanmu. Apapun yang akan kau lakukan sekarang sudah tidak ada gunanya
lagi, dan mau tidak mau kau harus menerima kenyataan bahwa inilah akhir dari
perjalanan panjangmu sebagai Agul-Agulnya Mataram”.
Dalam keadaan yang semakin lemah itu Ki Agung Sedayu sudah tidak dapat
menanggapi dengan cara apapun, kecuali hanya dapat mendengar saja apapun yang
dikatakan oleh orang yang masih misterius bagi dirinya.
*****
Sementara itu dalam balutan hawa dingin yang semakin menusuk tulang,
memasuki waktu dini hari yang terasa begitu tenang dan meyejukkan hati.
Nyi Anjani yang sedang tertidur di biliknya tampak mulai gelisah,
sehingga membuatnya bergerak ke kanan dan ke kiri secara tidak beraturan,
bahkan sesekali dengan gerakan menghentak.
Titik-titik keringat pun mulai muncul di sekitar dahinya.
Perempuan yang parasnya begitu cantik serta bentuk tubuhnya yang molek, dan
menjadi dambaan hampir setiap laki-laki yang mendapat kesempatan memandangnya.
Namanya orang cantik, meski dalam keadaan tidur pulas atau apapun itu tetap
terlihat cantik. Apalagi jika wajah cantiknya ditambah dengan lekuk tubuhnya
yang indah, maka akan semakin membuat siapa saja terpesona ketika memandangnya.
Begitu pula apa yang ada pada diri Nyi Anjani, meski dulu pernah memiliki
masa lalu yang sangat kelam, namun tidak pernah mengurangi daya tarik kecantikannya.
Apalagi setelah dirinya bersanding dengan tambatan hatinya yang selama
ini telah menjadi idam-idamannya. Aura kecantikannya itu semakin terpancar, tidak
hanya dari wajahnya saja, namun seakan dari ujung rambut hingga ujung kukunya.
Halaman 43 - 44
Meski dirinya tidak dijadikan sebagai perempuan satu-satunya oleh
tambatan hatinya dalam membina rumah tangga, namun hal itu sudah membuatnya
bahagia.
Sebab dirinya percaya bahwa suaminya berbuat demikian itu bukan
semata-mata karena keserakahan pribadinya, namun keadaanlah yang telah membuat semua
itu terjadi.
Waktu yang sudah mamasuki dini hari itu terasa semakin dingin, namun
entah kenapa dalam tidurnya, dahi Nyi Anjani mulai muncul titik-titik keringat.
Tidurnya pun terlihat gelisah, dan sudah beberapa kali pula dirinya tampak
bergerak kesana-kemari. Mungkin dia sedang mengalami sebuah mimpi buruk.
“Kakang…”. ucapnya lirih dalam keadaan masih tidur.
Namun semakin lama nglindurnya semakin sering dan dengan suara yang
semakin meninggi pula, hingga akhirnya dirinya tidak mampu lagi mempertahankan
tidurnya.
“Kakang…”. ucap Nyi Anjani dengan suara yang terpekik, sembari tanpa
sadar tubuhnya bangkit terduduk di pembaringan yang hanya ditempatinya seorang
diri.
Dengan titik-titik keringat yang semakin banyak, bahkan tidak hanya di
dahinya saja. Namun sebagian tubuhnya yang lain pun ikut basah oleh
keringatnya, dirinya masih tercenung di tempatnya.
Nyi Anjani pun masih bingung dengan apa yang terjadi dengan dirinya
setelah terduduk di pembaringannya, dan masih berusaha mengingat-ingat apa yang
telah terjadi.
Setelah menyadari bahwa apa yang telah dialaminya itu hanyalah sebuah
mimpi, maka kedua tangannya segera mengusap wajahnya yang cantik.
“Apakah ini hanyalah sekedar bunga tidur atau sebuah isyarat tentang
kakang Agung Sedayu?”. ucap Nyi Anjani dalam hatinya sembari membuat
pertimbangan-pertimbangan yang dianggapnya paling baik.
“Apakah telah terjadi sesuatu yang buruk pada kakang Agung Sedayu, yang
sekarang entah sedang dimana keberadaannya?”. lanjutnya dalam hati.
Bayangan akan hal-hal buruk yang bakal terjadi pada suaminya mulai
banyak berkeliaran di isi kepalanya, setelah dirinya mengalami mimpi buruk
tentangnya.
“Padahal aku jarang sekali memimpikan kakang Agung Sedayu, tetapi kenapa
tiba-tiba aku memimpikannya? bahkan aku bermimpi sesuatu yang buruk
tentangnya”.
“Jika mengingat apa yang pernah disampaikan oleh, Eyang. Mimpi itu
dibagi menjadi tiga macam, yaitu Titiyoni,
Gondhoyoni, Puspotajem. Dan jika melihat dari waktu pada saat aku mengalami
mimpi ini, jika aku tidak salah maka mimpiku ini termasuk jenis mimpi Puspotajem”. lanjutnya membatin.
“He…?”.
Tiba-tiba suara di tenggorokan Nyi Anjani seakan tercekat, setelah pertimbangannya
mengerucut pada sebuah kesimpulan yang semakin membuatnya berdebar-debar.
Dengan demikian maka kini hatinya semakin tidak mapan, dan
bayangan-bayangan buruk bakal menimpa suaminya semakin banyak berkeliaran di
isi kepalanya.
Namun meski begitu tidak membuatnya lupa untuk nenuwun kepada Yang Maha Welas Asih, agar suami dan semua anggota keluarganya
selalu mendapat perlindungan dari-Nya, kapanpun dan dimanapun dia berada.
Dengan mengingat nama Yang Maha Agung dan Yang Maha Pemurah, maka
membuat hati Nyi Anjani sedikit lebih tenang untuk beberapa saat.
Halaman 45 - 46
Namun tetap saja perasaan gelisah itu tidak dapat disingkirkan
sepenuhnya dari dalam hatinya, apalagi dirinya sebagai perempuan yang hatinya
mudah terusik dan tersentuh, terutama terhadap orang-orang terdekatnya.
Tanpa sadar Nyi Anjani mengintip keadaan di luar dari sela-sela kayu
pada dinding biliknya yang masih terdapat lubang kecil di bagian atas jendela.
Meski sangat kecil bagi orang kebanyakan, namun itu sudah cukup baginya
untuk mendapatkan apa yang sedang dicarinya dari lubang kecil tersebut.
“Ternyata masih terlalu pagi, sepertinya aku masih memiliki waktu barang
sejenak untuk merebahkan diri sebelum fajar menyingsing”. gumamnya pada diri
sendiri.
Lalu dengan perlahan Nyi Anjani kembali merebahkan tubuh moleknya di
pembaringan. Meski dirinya belum tentu dapat tidur kembali, namun paling tidak
hal itu dapat membantunya menenangkan diri sebelum membuat keputusan, atas apa
yang bakal dilakukannya setelah diusik oleh mimpi yang sangat mengejutkannya.
Cahaya temaram di ruangan itu ternyata masih tidak mampu menyembunyikan
tubuh indahnya yang sedang tergolek, meski di umurnya yang kini sudah tidak
muda lagi.
Ditambah lagi dengan tubuhnya yang hampir selalu memancarkan bau wangi,
yang berasal dari salah satu ilmunya yang bernama Aji Seribu Bunga.
Meski dirinya tidak sedang mengetrapkan ilmu itu, namun seakan ilmu itu
telah menyatu dengan tubuhnya, sehingga bau wangi itu tetap memancar hampir di
sepanjang waktu meski hanya dalam tataran yang sangat tipis.
Namun meski begitu sudah cukup untuk membuat orang-orang yang berada di
sekitarnya semakin terpesona, tidak hanya wajahnya yang cantik, tubuhnya yang
indah, tetapi bau wewangian yang terpancar dari tubuhnya.
*****
Sementara itu di bawah gelapnya dini hari yang dingin, tampak dua orang
sedang menyusuri jalan setapak yang berada dipinggir pategalan dan hutan kecil.
Dua orang yang terlihat cukup jauh perbedaan umurnya, yang satu tampak
sudah lebih dari paruh baya, sementara yang satunya lagi sepertinya baru
sekitar empat puluh warsa.
“Kita sudah berjalan sangat jauh sekali, sebenarnya kau siapa dan memangnya
kita akan pergi kemana?”. bertanya orang yang lebih muda pada kawan
perjalanannya tersebut.
“Nanti kau akan tahu sendiri”. jawab orang tua itu singkat.
“Dari tadi kau hanya berkata demikian, apakah tidak ada jawaban yang
lebih baik lagi?”. sahut orang muda itu sembari bersungut-sungut, karena mulai
kesal.
“Lagipula tidak ada gunanya jika aku jelaskan sekarang padamu”.
“Kenapa begitu?”.
“Sudahlah… kau ikuti saja aku, nanti kau akan tahu sendiri”.
“Memangnya kita akan pergi kemana?”.
“Gunung Sepikul”. sahut orang tua itu singkat, karena sudah mulai kesal
menanggapi berbagai pertanyaan dari kawan perjalanannya tersebut.
“Gunung Sepikul? dimana itu? dan mau apa kita kesana?”.
“Sudah cukup! kau diam, dan jangan bertanya lagi! dan ikuti saja apapun
perintahku”. bentak orang tua itu kesal dan sudah tidak dapat menahan diri lagi
atas kawannya yang seperti tidak berhenti bertanya sejak awal perjalanan.
Halaman 47 - 48
Orang muda itu seketika terkejut mendapat bentakan dari kawannya, dan
dari wajahnya mulai terbayang ketakutan mendapat perlakuan tersebut.
Dan sejenak kemudian orang muda itu seperti orong-orong yang terinjak,
diam tanpa kata sembari terus berjalan mengikuti langkah kaki orang tua di
hadapannnya.
“Mengurusnya dalam keadaan seperti ini memang cukup menguras tenaga dan
pikiran”. membatin orang tua itu, sembari terus melangkahkan kakinya.
“Ini memang salahku, karena terlambat mendatanginya ketika terjadi
pertempuran itu. Sehingga akibatnya menjadi seperti sekarang ini. Namun
beruntunglah bahwa dia tidak sampai meregang nyawa di arena, sehingga masih ada
kemungkinan untuk aku sembuhkan”. lanjutnya membatin.
“Semoga saja kawanku itu berada di tempatnya, sehingga aku tidak perlu
menunggunya. Selain itu anak ini segera mendapat pertolongan dengan
sebaik-baiknya”.
“Semoga saja aku dapat tiba di tempat itu sebelum fajar menyingsing,
sehingga dapat menghindari perhatian orang yang mungkin berpapasan di
perjalanan".
Sementara kedua orang itu masih terus berjalan menyusuri jalan
setapak atau bahkan menerobos hutan
kecil dan tumbuhan gerumbul liar yang menghadang, untuk menyingkat waktu agar
dapat segera tiba di tempat tujuan.
Dan kini dalam perjalanan mereka tidak ada lagi yang berniat membuka
suara, hanya sekedar untuk memecah keheningan malam. Terutama bagi orang muda
itu yang merasa ketakutan setelah dibentak sembari dipandangi dengan tatapan
mata yang sangat tajam oleh kawannya.
“Sepertinya dia bukan orang baik, tapi aku takut untuk melawan orang itu”.
membatin orang muda itu.
“Tetapi bagaimana jika nanti dia akan memperlakukanku dengan buruk? tadi
saja sudah bersikap demikian kepadaku, lalu bagaimana dengan nanti? tapi aku
takut”.
“Apa sebaiknya aku melarikan diri saja? mumpung belum semakin jauh”.
membatin orang muda itu membuat pertimbangan yang masih mungkin dapat
dilakukan.
“Ya… sebaiknya aku lari saja, bukankah dia sudah tua? jadi tidak mungkin
dia akan dapat mengejarku jika aku lari sekencang-kencangnya”. ucapnya dalam
hati sembari tersenyum setelah merasa medapat gagasan yang sangat baik.
Dengan tetap terus melangkahkan kakinya mengikuti orang tua itu, kini
dirinya sembari mengawasi gerak-geriknya dan menunggu kelengahannya agar dapat
melarikan diri dengan berusaha berlari sekencang-kencangnya.
Hingga dirasa ada sebuah kesempatan baginya untuk melarikan diri ke arah
dari mana dirinya datang, sebab hanya itu yang dia tahu jalan yang dapat
dilewatinya.
Sontak saja kejadian tersebut sangat mengejutkan orang tua yang mengajaknya,
dan dengan serta merta keluarlah umpatan yang sangat kotor dari mulutnya.
“Dasar anak Iblis, tidak tahu diuntung”. ucapnya setengah berteriak,
setelah menyadari apa yang telah terjadi.
“Beruntunglah bahwa aku masih ingat, jika akalmu memang tidak sehat,
jadi aku masih dapat memakluminya. Seandainya saja kau berbuat seperti ini
dalam keadaan wajar, maka sudah aku patahkan batang lehermu”. geram orag tua
itu, sembari memandangi kemanakah orang muda itu melarikan diri.
Sementara orang muda yang melarikan diri itu berusaha berlari
sekencang-kencangnya sejauh yang dapat dia lakukan, bahkan dirinya tidak peduli
jika harus menerobos tumbuhan liar atau tanah bertebing yang menghadang.
Halaman 49 - 50
Setelah berlari cukup jauh dan
dirasa sudah cukup aman, maka dia memutuskan untuk berhenti sejenak guna
mengatur pernafasanya yang sudah tersengal-sengal tidak beraturan.
Dan karena saking lelahnya
berlari, dirinya segera merebahkan tubuhnya diatas rerumputan yang basah oleh
embun, namun dia tidak peduli.
Dalam keadaan yang masih lemah
dan nafasnya yang masih belum teratur, dirinya telah dikejutkan oleh suara yang
telah dikenal sebelumnya.
“Anak Iblis, kenapa kau mau kabur
dariku?”.
Tiba-tiba terdengar suara yang
berat namun tegas, sebagai pertanda bahwa orang yang mengatakan itu sedang
berusaha menahan kemarahannya.
Sontak saja suara itu seketika
membuatnya bangkit dari atas rerumputan, meski nafasnya masih tersengal-sengal.
Dan pandangan penuh keheranan dia memandang ke arah sumber suara.
Dengan penuh ketakutan orang muda
itu lalu bersujud di hadapan orang yang mendatanginya sembari memohon ampunan
atas apa yang telah dilakukannya.
“Ampun, Ki Sanak. Ampun”.
“Jawab pertanyaanku! kenapa kau
mau kabur dariku?”.
“Ampun, Ki Sanak. Aku takut”.
“Apa yang kau takutkan?”.
“Aku takut pada Ki Sanak”.
“Takut kepadaku?”.
“Iya…”.
“Kenapa kau takut kepadaku?
justru aku ingin menolongmu”.
“Menolongku?”. sahut orang muda
itu heran, dengan sikap masih tetap bersujud.
“Benar… aku ingin menolongmu.
Maksudku, aku ingin membawamu ke tempat kawanku untuk mengobatimu, agar kau
segera sembuh”.
“Mengobatiku?”.
“Benar”.
“Aku tidak merasa sakit, kenapa
aku harus diobati?”.
“Wadagmu memang tidak sakit,
penalaranmulah yang sakit. Kau telah kehilangan daya ingatmu setelah kepalamu
mengalami benturan yang sangat dahsyat”.
“Benarkah?”.
“Apa untungnya aku
membohongimu?”.
Dengan mengumpulkan
keberaniannya, orang muda itu mulai mencoba untuk bangkit dari sujudnya,
kemudian duduk bersimpuh di hadapan oran tua itu.
“Jika kau ragu kepadaku, apa kau
ingin bukti sebelum kita melanjutkan perjalanan yang hanya tinggal ujungnya ini?”.
“Iya, apa buktinya jika aku memang
sedang sakit seperti yang kau katakan itu?”.
“Siapa namamu? dan dari mana
asalmu?”.
Seketika orang muda itu berusaha
mengingat, namun sejenak kemudian yang ada hanyalah kebingungan yang
dirasakannya tanpa pernah menemukan jawaban yang dicari.
“Siapa aku?”.
Pertanyaan berikutnya membuat
orang muda itu merasa semakin kebingungan. Dan hasilnya pun masih tetap sama
saja, tidak berhasil menemukan jawabannya meski dirinya sudah berusaha berpikir
keras sejauh apa yang dapat dia lakukan.
Halaman 51 - 52
“Jika kau dalam keadaan wajar dan
isi kepalamu tidak terganggu, pasti pertanyaan-pertanyaanku ini dapat kau jawab
dengan sangat mudah tanpa memerlukan waktu untuk berpikir”.
Meski masih kebingungan dan dengan
perasaan yang seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya tersebut, namun
ucapan orang tua itu membuatnya mulai mempertimbangkan kebenaran dari
kata-katanya.
“Kau tidak perlu takut akan aku
perlakukan buruk, sebab aku adalah Gurumu”.
“Guruku?”.
“Benar, aku adalah Gurumu. Maka
dari itu kau tak perlu takut lagi kepadaku, marilah kita segera lanjutkan
perjalanan agar kita tidak semakin kehilangan banyak waktu”.
Selesai berkata demikian, maka orang
tua itu kemudian membalikkan badannya lalu mendahului melangkahkan kakinya untuk melanjutkan perjalanan.
Sekarang tidak ada yang dapat
dilakukan oleh orang muda itu selain berusaha mempercayai ucapan orang tua itu,
dan mengikuti apa yang dikatakannya.
Meski pada awalnya masih ragu,
namun pada akhirnya orang muda itu menyusul pula langkah kaki orang tua yang menyebut
dirinya sebagai gurunya tersebut.
Lagipula jika dirinya akan pergi,
dirinya tidak tahu akan pergi kemana dan akan menemui siapa, sebab dirinya
tidak dapat mengingat siapakah dirinya dan dari mana asalnya.
Jika memaksakan diri, tentu yang
ada dirinya hanya akan tersesat entah kemana dan entah bagaimana pula nanti
nasibnya? apalagi jika bertemu dengan orang yang tidak baik kepadanya.
*****
Sementara di waktu yang masih
nampak pagi-pagi sekali, Nyi Rara Wulan, Padmini, Setiti, dan Baruni sudah
tampak terbangun dari tidurnya yang cukup nyenyak.
Dan tanpa menunggu disuruh,
ketiganya langsung pergi ke pakiwan secara bersama-sama untuk membersihkan diri.
Karena kebetulan pakiwannya ada empat, maka mereka tidak perlu menunggu
giliran.
Sementara Nyi Sekar Mirah tampak
baru mulai menggeliat di pembaringannya setelah ketiga perempuan itu pergi ke
pakiwan, setelah membuka matanya, diedarkanlah pandangannya ke seisi bilik,
yang ternyata tidak terlihat satupun kawannya.
Dengan perasaan sedikit malas,
kemudian dirinya bangkit dan bermaksud pergi ke pakiwan pula untuk membersihkan
diri sebelum mereka berangkat melanjutkan perjalanan.
Dirinya agak terkejut ketika
keluar bilik mendapati Nyi Pandan Wangi yang sedang duduk termenung seorang
diri dengan bersandarkan salah satu tiang pendapa yang tidak begitu besar itu,
dan entah apa yang sedang dipikirkannya.
Nyi Sekar Mirah pun mencoba
mendekati marunya itu yang tampak
sudah membersihkan diri, dengan langkah perlahan agar tidak mengejutkannya.
Ibu Bagus Sadewa itu kemudian
ikut duduk di sebelahnya.
“Kenapa pagi-pagi buta seperti
ini Mbokayu sudah termenung seorang diri?”.
Orang yang ditanya hanya menoleh
perlahan, lalu memandang ke arah langit di kejauhan. Dan terdengar suara
tarikan nafasnya yang terasa berat.
“Entah kenapa hatiku terasa
kurang mapan”.
Halaman 53 - 54
“Apakah Mbokayu masih
terbayang-bayang dengan mimpi itu?”.
“Mungkin…”. sahutnya dengan suara
perlahan.
Kini Nyi Sekar Mirah lah yang
terdengar menarik nafas panjang.
“Sebaiknya kita pasrahkan saja
atas segala yang terjadi kepada Yang Maha Welas Asih, agar perasaan Mbokayu
sedikit lebih tenang. Karena biar bagaimanapun untuk saat ini tidak ada yang
dapat kita lakukan atas apa yang Mbokayu khawatirkan itu”.
“Ya… kau benar”.
“Lalu kenapa Mbokayu masih
terlihat kurang mapan?”.
“Aku memang sudah mencoba
memasrahkan semua ini kepada Yang Maha Welas Asih, tetapi entah kenapa tetap
saja hatiku masih merasa kurang mapan”.
“Kita sama-sama nenuwun bagi
keselamatan kakang Agung Sedayu, semoga saja kakang Agung Sedayu selalu
mendapat perlindungannya dalam setiap langkahnya”.
“Ya…”. sahut ibu Bayu Swandana
singkat, dengan suara perlahan.
“Sudahlah, Mbokayu. Aku pergi ke
pakiwan dulu, Rara Wulan dan adik-adiknya sepertinya sudah selesai”. ucap anak
dari Swargi Ki Demang Sangkal Putung, setelah melihat keempat kawannya telah
kembali.
Selesai berkata demikian, Nyi
Sekar Mirah segera bangkit dan tidak menunggu jawaban. Kemudian melangkahkan
kakinya menuju pakiwan untuk membersihkan diri.
Tidak lama kemudian lamunan Nyi
Pandan Wangi kembali diusik, namun kali ini oleh penjaga penginapan yang datang
menghampirinya.
“Maaf jika aku mengganggu, Nyi
Sanak”.
“Ada apa, Ki Sanak?”.
“Apakah makan pagi dapat aku
siapkan sekarang?”.
“Oh… aku kira ada apa”. sahut Nyi
Pandan Wangi yang agak tergagap, karena masih terbawa lamunannya. Lalu
lanjutnya, “Baik, Ki Sanak. Aku tunggu, terima kasih”. ucapnya sembari
tersenyum.
“Baik, Nyi. Akan kami siapkan,
dan segera pula nanti akan kami antarkan ke bilik kalian”. sahut petugas
penginapan itu kemudian berlalu dari tempat itu.
Tidak lama kemudian, Nyi Pandan
Wangi pun segera bangkit dan kembali ke biliknya sembari menunggu makan pagi
yang sedang disiapkan oleh petugas penginapan.
Setelah berada di dalam biliknya,
dia mendapati keempat perempuan muda itu tampak sudah rapi, dari pakaian dan
segala perlengkapannya.
Tampak pula wajah-wajah penuh
semangat, meski mereka semua tahu bahwa perjalanan kali ini bukanlah perjalanan
untuk bersenang—senang, tetapi sebuah perjalanan untuk memasuki medan perang
yang sangat garang.
Tanpa terasa hati Nyi Pandan
Wangi tersentuh pula oleh sikap mereka yang terlihat cukup dewasa, terutama
bagi Baruni. Perempuan yang paling muda diantara semuanya.
Dia tidak menampakkan tanda-tanda
kecemasan sama sekali, seperti dirinya sudah terbiasa saja menghadapi sebuah
perang yang paling garang sekalipun.
Mungkin perang adalah sebuah
permainan yang mengasyikkan baginya, meski sebenarnya menyimpan bahaya yang
sangat mengerikan bagi siapa saja yang berani memasukinya.
Karena dalam perang tidak ada
yang dapat menjamin nasib seseorang akan berakhir baik atau buruk, meski
dirinya memiliki bekal yang seakan sudah sundul langit sekalipun. Sebab di
dalam sebuah perang segala kemungkinan dapat terjadi.
Halaman 55 - 56
Dan setiap perang memiliki
wataknya masing-masing, tergantung dengan keadaan pada saat itu dan orang-orang
yang ada di dalamnya. Maka antara perang
satu dengan perang yang lain tidak akan pernah sama.
Selain itu setiap pasukan pasti
memiliki siasatnya masing-masing agar dapat mengalahkan lawannya, biasanya mereka
akan menyesuaikan diri dengan siasat yang digunakan oleh lawannya dan bukan
sekedar menuruti keinginan pribadi saja.
Sebab begitu pentingnya pengaruh siasat
dalam sebuah perang, sehingga mereka akan memikirkannya dengan sebaik-baiknya,
baik dari awal persiapan hingga pengetrapannya dalam perang yang sebenarnya.
Karena perang tidak cukup hanya
berbekal kemampuan pribadi, ada kerja sama yang harus terjalin dengan
kawan-kawannya untuk mencapai tujuan bersama.
Secara penalaran wajar,
setinggi-tingginya kemampuan seseorang dalam sebuah perang, dia tidak akan
mungkin mampu mengalahkan semua lawannya seorang diri. Maka dari itu digalanglah
kerja sama antara satu dengan yang lain,
kelompok satu dengan kelompok yang lain dalam sebuah kesatuan pasukan.
Senopati Agung sebagai pemimpin
tertinggilah yang berhak mengatur dan mengendalikan pasukannya dan harus
dipatuhi oleh semua bawahannya tanpa kecuali.
Dan Senopati Agung adalah orang yang
paling bertanggung jawab atas segala yang terjadi dengan pasukannya, bahkan hingga
masalah terkecil sekalipun.
Maka dari itu tidak sembarangan
orang dapat menjadi Senopati Agung. Sebab selain bekal ilmu kanuragan yang
sangat tinggi, dia juga harus memiliki kecerdasan dalam siasat perang dan juga
harus dapat mengendalikan sebuah pasukan, termasuk seluruh anak buahnya yang berada
di dalam kesatuannya.
Sebab jika Seorang Senopati Agung
tidak dapat mengendalikan salah satu anak buahnya saja, maka akan dapat
mengakibatkan bencana bagi dirinya sendiri dan seluruh pasukannya.
Sementara itu, tiba-tiba
terdengar pintu bilik Nyi Pandan Wangi tiba-tiba diketuk perlahan dari luar
ketika Nyi Sekar Mirah baru saja kembali dari pakiwan.
“Tok…tok…tok”.
“Siapa?”. bertanya Nyi Pandan
Wangi dari dalam biliknya.
“Maaf, Nyi Sanak. Aku ingin
mengantarkan makan pagi”.
Nyi Sekar Mirah yang kebetulan
berada paling dekat dengan pintu tersebut, maka dia segera bangkit untuk
membuka selarak yang melintang.
Dengan santun, dua laki-laki petugas
penginapan itu masuk, lalu menurukan semua makanan dan minuman yang dibawanya
dengan menggunakan nampan di atas amben beralaskan daun mendong.
“Silahkan menikmati makan pagi
kalian, semoga hidangan yang kami sajikan ini tidak membuat Nyi Sanak semua
kecewa. Dan jika kalian membutuhkan sesuatu, panggil saja kami. Biasanya salah
satu dari kami akan berada di depan”.
“Terima kasih”. sahut keenam
perempuan itu hampir bersamaan.
Tanpa menunggu, kedua petugas
penginapan itu segera keluar untuk memberikan kesempatan kepada tamu-tamunya
untuk menikmati makan pagi yang mereka sajikan tanpa terusik oleh kehadiran
mereka.
Begitu nikmatnya makan pagi dengan
nasi yang masih mengepul bersama sayur dan lauk pauknya, apalagi setelah bangun
tidur dan membersihkan diri.
Suap demi suap mulai memenuhi
mulut mereka masing-masing, dan karena saking nikmatnya hanya suara mengunyah dan
sesekali seruputan minuman hangat dari mangkuk untuk mengatasi makanan yang
agak seret ketika ditelan.
Halaman 57 - 58
“Kau tidak perlu tergesa-gesa,
Baruni. Kita masih cukup banyak waktu sebelum berangkat”. ucap Nyi Sekar Mirah
yang melihat anak angkat Nyi Citra Jati itu kesereden,
sembari tersenyum.
Perempuan yang namanya disebut
tidak menyahut, namun wajahnya sempat memerah sesaat sembari masih memegangi
mangkuk di tangan kirinya.
“Tenang saja, Baruni. Kau tidak
akan disuruh mencuci semua peralatan ini setelah selesai makan”. ucap Nyi Rara
Wulan yang ikut menimpali untuk sekedar mengganggunya.
“Jangan kau hiraukan Mbokayumu,
Baruni. Nanti kau dapat tersedak”. sahut Nyi Sekar Mirah yang tidak sampai hati
melihat perempuan muda itu diganggu dalam makannya.
Mendengar hal itu justru membuat
Baruni semakin menunduk setelah meletakkan kembali mangkuk minumannya dan
kemudian melanjutkan makannya yang baru sepertiga.
“Kau tidak perlu sungkan, Baruni.
Kita semua disini adalah keluarga, jadi kau tak perlu menjaga jarak denganku
dan Mbokayu Pandan Wangi. Bukankah begitu, Mbokayu?”. sambung Nyi Sekar Mirah, sembari
menoleh ke arah ibu Bayu Swandana.
“Benar, kau tidak perlu menjaga
jarak dengan kami, Baruni. Termasuk juga Padmini dan Setiti”.
“Kami hanya dapat mengucapkan
terima kasih kepada Nyi Pandan Wangi dan Nyi Sekar Mirah, karena sudah mau menerima
kami dengan sangat baik di keluarga ini”. sahut Padmini yang mewakili
adik-adiknya.
Nyi Sekar Mirah yang memiliki
panggrahita yang sangat tajam, memang sengaja mencoba mengajak marunya itu bicara agar tidak semakin
terlarut kedalam perasaannya yang sedang kurang mapan.
Meski dirinya pun menjadi ikut
membayangkan apa yang bakal terjadi pada suaminya, tetapi sebagai orang yang
berumur dengan pengalaman yang sangat luas, dirinya mungkin lebih dapat
menyembunyikan perasaan kurang mapan itu.
Atau mungkin pula karena bukan
dia sendiri yang mengalami mimpi buruk itu, sehingga perasaannya tidak terlalu
terusik oleh dugaan-dugaan yang belum tentu kebenarannya.
Maka dari itu dia tidak terlihat seperti
orang yang sedang memendam sebuah perasaan yang kurang mapan di hadapan
orang-orang disekitarnya.
Akhirnya makan pagi mereka pun
selesai juga, dan setelah beristirahat barang sejenak untuk menurunkan makanan
dan minuman yang masuk ke dalam perut. Mereka bersiap-siap untuk berangkat
melanjutkan perjalanan.
Mereka pun keluar bersama-sama
dari dalam bilik untuk berpamitan dengan petugas penginapan yang telah melayani
mereka semua dengan baik.
“Ki Sanak, kami mau pamit”.
berkata Nyi Sekar Mirah setelah berdiri
di hadapan petugas penginapan, yang kebetulan itu adalah pemiliknya.
“Ah… kenapa Nyi Sanak semua
begitu tergesa-gesa, kenapa tidak bermalam disini barang satu atau dua malam
lagi?”.
“Maaf Ki Sanak, kami masih harus
melanjutkan perjalanan”.
“Aku selaku pemilik penginapan
minta maaf jika pelayanan kami kurang memuaskan bagi Nyi Sanak semua selama
berada disini, dan semoga perjalanan kalian menyenangkan dan Yang Maha Agung
selalu melindungi setiap langkah kalian semua”.
“Terima kasih, Ki Sanak. Kami
pamit sekarang”.
“Tunggu dulu, Nyi Sanak”. ucap
pemilik penginapan, lalu meraih sesuatu dari balik bajunya.
“Ada apa lagi, Ki Sanak?”. sahut
Nyi Sekar Mirah heran.
Halaman 59 - 60
“Ini… Nyi Sanak, kembalian dari biaya
penginapan”. sahut pemilik penginapan sembari menyerahkan beberapa keping uang.
Ibu Bagus Sadewa itu pun menoleh
ke arah ibu Bayu Swandana dengan tatapan mata meminta pertimbangan, namun kemudian
keputusan diserahkan kepada ibu Bagus Sadewa.
“Sudahlah, Ki Sanak. Ambil saja
kembaliannya”.
“Apakah Nyi Sanak yakin dengan
uang sebanyak ini?”. sahut pemilik penginapan dengan wajah heran.
“Benar, Ki Sanak. Ambil saja
kembaliannya, semoga dapat kau manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dan kami
berterima kasih kepada kalian karena sudah dilayani dengan baik selama disini”.
“Terima kasih, Nyi Sanak, Terima
kasih. Semoga Yang Maha Agung merestui apa yang menjadi gegayuhan kalian semua”.
“Terima kasih, kami pamit
sekarang, Ki Sanak”.
“Silahkan, silahkan…”. sahut pemilik
penginapan dengan sikap ramahnya, sembari melepas kepergian tamu-tamunya itu
dengan pandangan matanya yang berbinar.
Tidak lama kemudian tamu-tamunya
itupun mulai menghilang satu persatu setelah melewati regol penginapan, lalu
berbelok ke arah kanan.
“Semalam aku sempat takut ketika
melihat kedatangan mereka, Kakang”. ucap petugas penginapan yang tiba-tiba
mendekati pemilik penginapan yang masih berdiri mematung.
“Kenapa rupanya?”.
“Meski mereka semuanya perempuan,
tetapi bukankah Kakang lihat sendiri bahwa mereka bukanlah perempuan kebanyakan
jika dilihat dari ciri-ciri yang mereka kenakan?”.
“Ya… kau benar, tetapi dugaanmu
salah. Karena ternyata mereka adalah orang-orang baik, meski jika kita lihat
mereka sekilas seperti para perempuan yang garang".
“Mungkin mereka sedang mencari
suaminya yang pergi dari rumah”. celetuk petugas penginapan.
“Ah… macam kau”.
“Bukankah aku hanya menyatakan
pendapatku?”.
“Tetapi pendapatmu itu terlalu ngayawara”.
“Apakah Kakang tahu apa yang
sedang mereka cari?”.
“Sudahlah, apapun yang mereka
cari bukan urusan kita. Sebaiknya kau urus saja pekerjaanmu di belakang agar
nalarmu tidak semakin ngayawara”.
Petugas penginapan itu sudah mau
menyahut, tetapi segera diurungkannya kembali setelah melihat pemilik
penginapan pergi meninggalkannya.
Dengan wajah bersungut-sungut,
petugas penginapan itupun segera ke belakang untuk melanjutkan pekerjaannya
yang sempat tertunda karena rasa ingin tahunya.
Sementara Baruni dan kawan-kawan,
langkah kakinya sudah semakin jauh meninggalkan penginapan itu guna melanjutkan
perjalanan di bawah sejuknya udara pagi, pada saat menjelang matahari terbit di
sisi timur.
Semburat sinar kemerah-merahan
dari balik gunung sebagai pertanda bahwa hari baru sedang dimulai, bersamaan
dengan riuhnya suara sekumpulan burung yang berkicau dengan riangnya di sekitar
tempat itu.
Tubuh pun terasa telah segar kembali
setelah cukup beristirahat dan makan di penginapan dengan pelayanan yang cukup baik
dan pemiliknya yang ramah.
Halaman 61 - 62
Bekal kanuragan yang tinggi
dibarengi pengalaman yang luas telah membentuk keseimbangan jiwani yang semakin
mapan pada keenam perempuan itu.
Sehingga perjalanan menuju perang
yang sangat garang pun tidak membuat mereka berdebar-debar secara berlebihan,
apalagi sampai ketakutan.
Mereka sudah mampu mengendapkan
gangguan perasaan yang kurang perlu dan tetap dapat berpikir wajar tanpa
kehilangan pengamatan diri pada keadaan sekitar.
Sehingga mereka dapat
mengeluarkan kemampuannya masing-masing sesuai dengan tataran yang sebenarnya
tanpa terganggu oleh kesalahan sendiri.
Meski demikian bukan berarti
mereka tidak pernah melakukan kesalahan, tentu saja sebagaimana orang
kebanyakan mereka pun pernah melakukannya pula, namun hanya saja hal itu jarang
sekali terjadi pada orang-orang seperti mereka.
Tataran kemampuan seseorang
hanyalah sekedar kemampuan yang diberikan oleh Yang Maha Welas Asih kepada kita
sebagai bekal untuk menjalani kehidupan bebrayan ini dengan sebaik-baiknya
untuk menggapai tujuan.
Maka dari itu setiap manusia
diberi bekal kemampuan yang berbeda-beda dengan maksud agar kita dapat saling
mengisi, saling membantu, dan untuk saling menyadari bahwa kita itu tidak dapat
hidup sendiri dan hampir semua yang kita butuhkan memerlukan bantuan dari orang
lain.
Tetapi tidak sedikit pula yang
menyalahgunakan kemampuan yang dimilikinya, justru untuk merugikan orang lain
atau bahkan hingga berbuat buruk.
Namun percayalah bahwa di dunia
ini tidak dapat lepas dari ngunduh wohing
pakarti, jadi apapun yang kita tanam pasti akan kita tuai, cepat atau
lambat itu hanya masalah waktu saja.
Sementara perjalanan keenam
perempuan itu menarik perhatian orang-orang yang kebetulan melihatnya pada saat
berpapasan atau sekedar melihat dari kejauhan.
Terutama karena apa yang melekat
pada tubuh mereka bukanlah sesuatu yang wajar bagi perempuan kebanyakan di mata
orang-orang yang mereka lewati.
Tanpa mereka sadari, dari
kejauhan mulai ada beberapa pasang mata yang mulai memperhatikan langkah
setapak demi setapak itu dengan tatapan mata penuh maksud.
Terlebih lagi karena mereka
memang sengaja memilih jalan yang tidak mengarah ke pemukiman, sehingga harus
menyusuri jalan-jalan setapak di pinggir pategalan atau pinggiran hutan.
Meski bahaya siap mengancam
kapanpun karena serangan binatang buas atau hewan berbisa, namun sebagai para
perempuan yang memiliki kelebihan, hal itu tidak membuat mereka menjadi ketakutan.
Tetapi bukan berarti mereka
meremehkan ancaman bahaya tersebut begitu saja, karena biar bagaimanapun mereka
tetap meningkatkan kewaspadaan pada keadaan sekitarnya.
Jalan yang sesekali menanjak
terjal dan turunan yang rumpil, serta tumbuhan liar yang menghadang bukanlah
masalah besar bagi mereka, karena bekal yang mereka miliki cukup mumpuni untuk
mengatasi medan yang demikian.
Seperti perjalanan sebelumnya,
maka Nyi Pandan Wangi dan Nyi Sekar Mirah berjalan mengekor di barisan belakang
sembari membicarakan tentang apa saja yang menarik bagi keduanya.
Namun kali ini sepertinya tidak
banyak yang mereka bicarakan, terutama bagi Nyi Pandan Wangi yang masih terbawa
perasaannya karena terusik oleh mimpinya semalam, meski sekarang sudah dapat
dikendalikannya dengan baik, dan hanya sesekali saja masih terbayang di isi
kepalanya.
Halaman 63 -64
*****
Sementara pagi yang dingin itu
terasa menyegarkan bagi orang-orang yang baru terbangun dari tidur lelapnya,
meski harus membaringkan di tempat yang bukan seharusnya.
Karena tidurnya seseorang
terkadang tidak hanya dapat diukur dari seberapa bagusnya pembaringan yang
digunakan, namun seberapa lelapnya orang tersebut ketika tidur.
Sebab jika sudah sangat lelah dan
mengantuk, maka seseorang dapat tertidur dimana saja. Baik di pembaringan yang
bagus maupun di alam terbuka yang beratapkan luasnya langit yang membentang.
Apalagi bagi orang-orang yang
terbiasa menjalani laku prihatin atau para prajurit yang sedang bertugas, maka
hal itu sudah bukan hal yang aneh lagi.
Dinginnya malam di bawah langit
disertai dengan serangan nyamuk-nyamuk nakal yang tidak pernah jera untuk
memburu, meski dengan begitu harus
mempertaruhkan keselamatannya.
Sementara pada pagi itu Pasukan Surabaya
baru menikmati nasi ransum sebagai makan pagi, sebelum mereka melanjutkan
kembali perjalanan yang tertunda.
Dalam keadaan demikian beberapa
diantaranya masih sempat berbincang dengan kawannya untuk memecah keheningan
pagi yang masih terasa dingin dan berembun.
“Jika sedang makan seperti ini,
aku jadi teringat akan masakan istriku di rumah”. celetuk salah satu prajurit
di sela-sela menyuapi mulutnya.
“Apa maksudmu?”. salah satu
kawannya menimpali.
“Bukankah kita sama-sama tahu
bahwa ketika kita makan nasi ransum ini, kita tidak dapat memilih. Dan apa yang
disajikan oleh Juru Masak, itulah yang harus kita makan. Apapun makanan itu serta
lauk pauknya”.
“Apakah maksudmu, kau tidak suka
dengan nasi ransum ini?”.
“Bukan begitu maksudku”.
“Lalu kenapa kau berkata demikian?”.
“Aku hanya sekedar ngudarasa apa yang aku rasakan”.
“Tetapi secara tidak langsung,
sama saja kau ingin mengatakan bahwa kau tidak menyukai nasi ransum ini”.
“Bukan maksudku tidak suka,
tetapi maksudku adalah jika kita di rumah, kita dapat minta jenis masakan yang
sesuai dengan selera pada istri atau biyung kita”.
“Ah… macam kau”.
“Jika kau memang tidak suka
dengan makanan itu, sebaiknya berikan saja padaku. Perutku masih sanggup untuk
menampung jatahmu itu”. sahut kawannya yang lain ikut menimpali, lalu tertawa
pendek.
“Maksudku, dengan kita mengalami
hal-hal seperti ini, bukankah dapat membuat kita semakin bersyukur? meski ini
hanyalah sekedar contoh kecil saja”.
“Ah… kau pandai sekali memutar
lidahmu”. sahut kawannya yang duduk di sebelahnya.
“Mungkin pula ini adalah nasi
ransum yang paling enak yang dapat kita nikmati terakhir kalinya”.
“Ah… bicaramu mulai nglantur saja”.
“Benar, bicaranya mulai nglantur. Sebaiknya kita segera habiskan
saja nasi ransum ini sebelum kita kehilangan selera makan karena mendengar ucapannya
yang mulai nglantur”. sahut kawannya
yang lain.
Halaman 65 - 66
“Aku hanya bicara sebuah
kemungkinan yang dapat terjadi atas kita sebagai prajurit, apalagi kita sedang
berangkat menuju ke sebuah peperangan”.
“Aku mengerti, tetapi bukankah
itu tidak perlu kita bicarakan? sebab kita sudah sama-sama menyadari
kemungkinan apa yang dapat terjadi atas diri kita dalam sebuah perang, mati atau mukti”. sahut kawannya yang
mulai kesal.
Tanpa berjanji sebelumnya,
merekapun kemudian berusaha menahan diri untuk menanggapi lagi pembicaraan yang
semakin kurang mapan tersebut.
Sehingga selanjutnya hanya
terdengar mulut mereka saja yang berusaha menghabiskan sisa-sisa makanan yang
ada, tanpa ada lagi yang membuka suara.
Sementara Ki Gumbala baru saja
menyelesaikan makan paginya, nasi ransum yang sama dengan jatah yang diterima
oleh para Prajurit Surabaya yang lain.
Meskipun dirinya bukan berasal
dari kesatuan Prajurit Surabaya, namun karena dianggap akan membantu tugas
pasukan tersebut, sehingga mendapat perlakuan yang sama dengan para prajurit
yang lain, termasuk mendapat jatah makan pada waktunya.
Namun meski demikian, sebagai
orang yang baru saja bergabung dengan pasukan itu, maka dirinya tetap
mendapatkan pengawasan dari orang-orang yang bertugas menjaganya.
Dan ada empat orang prajurit yang
berpangkat rangga yang ditugaskan khusus untuk mengawasinya hampir di sepanjang
waktu secara bergiliran.
Empat orang rangga kepercayaan Ki
Tumenggung Wisabaya yang selain mereka adalah anak buahnya dalam tatanan
keprajuritan, kebetulan pula mereka adalah saudara seperguruan. Karena pernah
sama-sama ngangsu kawruh kanuragan di
tempat yang sama, yaitu Perguruan Jalatunda.
Ki Gumbala sendiri sangat menyadari
bahwa dirinya selalu dalam pengawasan orang-orang Surabaya, hampir setiap
gerak-geriknya tentu tidak akan pernah lepas dari mengawasan mereka.
Meski sebenarnya dirinya merasa
kurang mapan dengan keadaan tersebut, namun untuk saat ini mau tidak mau
dirinya harus menerima kenyataan.
Sejak awal dia memang sudah akan
menduga akan hal ini, namun ternyata lebih dari apa yang dia duga sebelumnya.
Sebab dirinya diperlakukan seperti layaknya tawanan, bedanya dirinya dibiarkan
bebas tanpa terikat apapun bagian tubuhnya.
Namun dirinya sudah terlanjur
masuk ke dalam lingkaran itu. Dan sekali sudah masuk, maka tidak ada pilihan
lain agar dapat keluar dari lingkungan itu, yaitu harus menyelesaikan dulu
tugasnya seperti kesepakatan awal.
Sebab jika dirinya minta keluar
dari rombongan secara tiba-tiba, tentu akan menjadi pertanyaan besar bagi
seluruh Pasukan Surabaya yang sudah mencoba mempercayainya.
Meskipun ada kemungkinan dirinya
akan dipersilahkan untuk meninggalkan rombongan, namun sebagai seorang prajurit
sandi, tentu dirinya sadar bahwa dia tidak akan pernah mendapatkan kebebasan
yang sebenarnya.
Tentu mereka akan memerintahkan
beberapa orang untuk mengikutinya, dan jika dia tidak dapat membuktikan
ucapannya. Tentu nyawanya yang akan menjadi taruhannya.
Atas dasar itulah dirinya berniat
akan melanjutkan tugasnya hingga tuntas sesuai dengan apa yang ditawarkannya
pada saat pertama kali bertemu dengan rombongan Ki Tumenggung Wisabaya di
Wirasaba.
Barangkali apa yang dilakukannya
itu dapat membantunya dalam menemukan keluarganya yang saat ini entah dimana
dan bagaimana nasibnya sekarang.
Halaman 67 - 68
“Kenapa kau lebih banyak terdiam,
Ki Sanak?”. ucap Ki Rangga Jala Wetan yang baru saja datang, lalu mengambil
duduk di samping kanan agak depan dari orang yang mengaku sebagai Prajurit Sandi
Wirasaba tersebut.
Terdengar suara tarikan nafasnya
yang berat satu kali dan tatapan kosong ke arah kejauhan, sebelum orang itu
menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya.
“Aku masih teringat keluargaku”.
“Apakah hanya keluargamu yang ada
di pikiranmu?”. sahut Ki Rangga Jala Wetan mencoba memancing pembincaraan ke
arah yang lebih jauh lagi.
“Hanya keluargaku, Ki Rangga.
Sebab apa lagi yang perlu aku pikirkan saat ini, selain keluargaku?”.
“Ya barangkali kau sedang
memikirkan tentang bagaimana nasibmu sendiri, setelah ini?”.
“Memang aku sempat terpikir akan
hal itu, tetapi bayangan itu pudar lagi ketika aku teringat kembali akan kedua
orang tuaku yang sudah semakin tua”.
“Apakah kau belum berkeluarga?”.
“Belum, sebenarnya aku sudah
sempat memikirkan hal itu setelah kepulanganku mengemban tugasku yang terakhir
dari Tuban. Tetapi dengan keadaanku yang sekarang, entahlah…”.
“Jika melihat umurmu sekarang,
aku rasa kau cukup terlambat untuk membina rumah tangga”.
“Memang, tetapi daripada aku
tergesa-gesa melakukannya dan pada akhirnya menelantarkan anak orang, bukankah
itu justru akan membuatku merasa berdosa di sepanjang hidupku?”.
“Kau benar, memang lebih baik
terlambat daripada kau memaksakan diri sebelum benar-benar siap secara lahir
batinmu”.
“Nah… demikianlah maksudku”.
“Menurutku sikapmu cukup menarik,
Ki Sanak. Bagaimana kau menyikapi nasibmu dengan penalaran yang jarang
dilakukan oleh kebanyakan orang”. ucap Ki Rangga Jala Kidul ikut menimpali.
“Aku hanya melakukan apa yang
menurutku baik, tidak lebih”.
“Tetapi bagaimana jika kau
terlambat membina rumah tangga, lalu kau memiliki tanggung jawab anak istri di
saat umurmu yang semakin tua? sementara
anak dan istrimu masih memerlukan biaya? terutama anakmu nanti, yang semakin
lama semakin besar dan semakin banyak membutuhkan biaya hidup? sementara kau
sudah kesulitan untuk bekerja, karena umurmu?”.
“Entahlah, Ki Rangga Jala Wetan. Biarlah
nanti waktu saja yang akan menjawabnya, aku hanya dapat melakukan apa yang aku
yakini baik, sejauh kemampuanku”.
“Tetapi apakah kau masih berniat
untuk membina rumah tangga? tidak dalam waktu dekat ini, mungkin suatu hari
nanti?”.
“Ya… tentu saja, Ki Rangga Jala
Kidul. Tetapi aku masih belum tahu kapan dan dengan siapa?”.
“Sebaiknya kau rajin-rajinlah
untuk nenuwun, agar kau segera
mendapatkan jodoh seperti yang kau inginkan. Dan semoga Yang Maha Welas Asih
segera mengabulkan permintaanmu itu, agar kau tidak kesepian lagi pada saat
malam menjelang”.
“Terima kasih atas saran kalian,
semoga Yang Maha Welas Asih masih mau mendengarkan panuwunanku”.
“Selama kau memanjatkan panuwun itu dengan sungguh-sungguh, aku
rasa Yang Maha Agung tentu akan mengabulkan permintaanmu itu”.
“Setelah berbincang dengan kalian,
aku merasa keinginan itu menjadi berkembang lagi. Padahal aku sudah hampir
putus asa dalam menyikapi hal itu”.
Halaman 69 – 70
“Itulah gunanya kawan
berbincang”.
“Benar apa yang dikatakan, Ki
Rangga Jala Wetan. Dan memang tidak baik jika apa-apa hanya kau pendam sendiri,
sebab jika kau sudah tidak mampu menampungnya, kau dapat kehilangan akal untuk
mengatasinya”.
“Terlalu pendiam itu kurang baik,
terlalu banyak bicara pun tidak baik pula. Jadi kita harus dapat mengambil
sikap, kapan kita perlu bicara dan kapan saatnya kita perlu menahan diri untuk
tetap diam ketika berada di antara kawan-kawan kita”.
Sementara pembicaraan itu harus
terputus ketika prajurit yang bertugas sudah memberikan isyarat agar pasukan
segera bersiap untuk berangkat melanjutkan perjalanan.
Sebelum mereka benar-benar berangkat,
tidak lupa para prajurit memeriksa seluruh barang-barang yang menjadi bawaan,
termasuk senjata masing-masing.
Ketika isyarat kedua terdengar,
maka seluruh pasukan sudah harus berada di kesatuan dan barisannya
masing-masing, dan hanya tinggal menunggu isyarat ketiga dilontarkan untuk
memulai langkah perjalanan.
Tidak lama kemudian, isyarat
ketiga pun terlontar di tempat itu yang diketahui oleh seluruh pasukan. Dan
tanpa menunggu lagi, barisan depan pun segera memulai langkahnya.
Kebetulan barisan depan diisi
oleh orang-orang penting Pasukan Surabaya itu sendiri, termasuk Ki Tumenggung
Surawisa dan beberapa petinggi Surabaya lainnya yang mendapat pengawalan dari
Pasukan Khusus Surabaya.
Baru kemudian barisan berikutnya
diisi oleh para prajurit dari kesatuan lain, dan seterusnya hingga barisan
terakhir yang terlihat sangat rapi dan teratur. Tidak lupa dengan segala
pertanda, seperti rontek, umbul-umbul, kelebet, dan panji-panji kebesaran
setiap kesatuan pasukan yang ada.
Pasukan segelar sepapan Surabaya yang
begitu besar itu nampak seperti seekor ular raksasa yang sedang berjalan di
atas padang perdu dan seakan siap menerkam siapa saja yang berusaha menghalangi
jalannya.
Kekuatan yang sangat besar dan mengerikan
tersimpan di dalam pasukan itu, dan setiap saat dapat meledak jika ada yang
berani mengusiknya.
Orang yang berilmu sangat tinggi
sekalipun, jika hanya seorang diri tentu akan bergidik ngeri jika melihat pasukan
sebesar itu. Sebab mereka sadar seberapa besar kekuatan yang tersimpan dan
seberapa jauh yang dapat dilakukannya.
Bahkan sisa-sisa Pasukan Mataram
pun harus berpikir ulang untuk menghadapinya, sehingga harus menarik diri dari
Wirasaba untuk menghindari benturan.
Serta dalam perjalanan menarik
diri itu, Pasukan Mataram sembari mencari cara yang paling baik untuk
menanggulangi kemungkinan jika terkejar oleh Pasukan Surabaya yang secara
jumlah, hampir dua kali lipatnya.
Apalagi dengan keadaan pasukan
yang terluka, maka Mataram harus berpikir keras bagaimana caranya untuk
mengatasi ancaman bahaya yang seperti sudah berada di depan hidungnya.
Sementara Ki Tumenggung Wisabaya
dan rombongan kecilnya, harus mendahului perjalanan pasukan segelar sepapan itu
sembari terus mengadakan hubungan dengan para prajurit sandi yang tersebar
sebagai prajurit penghubung, guna membantu memudahkan pekerjaan pasukan kecil
itu.
Sebab mereka adalah pasukan kecil
yang bertugas membuka sekaligus sebagai penunjuk jalan bagi Pasukan Induk
Surabaya yang sedang mengemban tugas untuk mengejar Pasukan Mataram yang
menarik diri, setelah mengetahui rencana kedatangan mereka untuk membuat perhitungan
atas apa yang terjadi di Wirasaba.
Halaman 71 - 72
Rombongan kecil Ki Tumenggung
Wisabaya yang awalnya berlima, kini bertambah satu setelah bergabungnya Ki
Gumbala dalam rombongan.
Untuk membantu mempermudah dalam
menjalankan tugas dan untuk mengejar waktu, maka sejak awal mereka telah
dibekali dengan kuda masing-masing satu.
Atas dasar demikian, maka
kehadiran Ki Gumbala dalam rombongan telah membuat Pasukan Surabaya harus
menyediakan satu kuda tambahan.
Sebab akan mustahil sekali jika
Ki Gumbala harus mendampingi kawan-kawan barunya itu hanya dengan berjalan
kaki, sementara yang lain berkuda semua. Tentu dia akan kesulitan untuk
mengimbangi kecepatan gerak kawan-kawannya tersebut.
Berhubung dia adalah orang baru
di dalam rombongan, maka tidak pernah luput dari pengawasan. Dan itulah salah
satu yang menjadi alasan, kenapa dia ditempatkan di bagian tengah dalam
rombongan berkuda tersebut.
Meski rombongan kecil itu
semuanya berkuda, tetapi mereka tidak dapat memacu kudanya sekencang-kencangnya.
Sebab mereka harus menemui para prajurit penghubung di titik-titik tertentu.
Yang memandu langkah mereka di
sepanjang perjalanan yang mereka lalui, setelah mendapat tambahan keterangan yang
sangat membantu dari orang yang mengaku sebagai salah satu dari prajurit sandi
Wirasaba yang tersisa.
Dan ternyata keterangan dari Ki
Gumbala itu memang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya oleh para Prajurit
Penghubung Surabaya, setelah mereka menelusuri dan membuktikannya sendiri
keterangan yang disampaikan.
“Sepertinya Ki Gumbala ini memang
mengenal dengan baik jalan yang bakal dilalui oleh Pasukan Surabaya”. ucap Ki
Tumenggung Wisabaya dalam hati, dari atas punggung kudanya yang berjalan.
*****
Sementara pagi itu Pasukan Mataram
baru saja menyelesaikan makan paginya, termasuk para senopati tertinggi yang berada
di perkemahan khususnya.
Sembari menunggu waktu
keberangkatan, mereka masih sempat untuk berbincang, terutama membicarakan tentang
perkembangan yang ada atau apapun yang menarik bagi mereka.
“Semakin lama, saatnya semakin
dekat”. ucap Pangeran Pringgalaya memulai pembicaraan, sembari tangan kanannya
menyangga dagunya.
“Maksud, Paman Pringgalaya?”.
“Benturan dengan Pasukan
Surabaya”.
“Ya… dan sepertinya itu sudah hampir
pasti”.
“Dan entah kenapa perang yang
sudah ada di depan hidung kita ini, membuatku cukup berdebar-debar”.
“Apakah Paman Pringgalaya tidak
yakin dengan kekuatan pasukan kita?”.
“Tentu saja aku yakin dan percaya
dengan kekuatan pasukan kita, Ngger. Tetapi jika ingat akan laporan dari
prajurit sandi bahwa Pasukan Surabaya hampir dua kali lipatnya dari jumlah kita,
entah kenapa membuatku berdebar-debar”.
“Apakah menurut, Paman
Pringgalaya pasukan kita akan kalah melawan Pasukan Surabaya itu?”.
“Aku tidak berpikir sejauh itu,
lagipula dalam sebuah perang itu segala kemungkinan dapat terjadi. Dan jumlah
yang lebih banyak pun tidak dapat menjamin sebuah pasukan pasti akan dapat
memenangkan sebuah perang”.
“Lalu apa yang membuat Paman
berdebar-debar?”.
Halaman 73 - 74
“Mungkin hanyalah perasaan sesaat
dan tidak mendasar sebagai orang tua sepertiku ini, Ngger. Jadi tidak perlu
kita pikirkan dengan sungguh-sungguh”.
“Aku mengerti maksud dari, Adimas
Pringgalaya. Adakalanya kita memang masih tetap merasa berdebar-debar ketika
akan memasuki sebuah peperangan meskipun kita sudah sering kali memasuki medan
yang bagaimanapun garangnya”.
“Demikianlah, Kakangmas”.
“Menurutku itu adalah hal yang
wajar, dan dapat terjadi pada siapapun. Dan aku rasa itu adalah sebagai salah
satu pertanda bahwa seseorang masih memiliki gairah untuk memasuki medan”.
“Aku sependapat, sebab jika
seseorang sudah kehilangan gairah sejak sebelum memasuki medan. Tentu akan
membuatnya hanya setengah hati ketika berada di medan yang sebenarnya”. sahut
Pangeran Demang Tanpa Nangkil ikut menimpali.
“Syukurlah kalau begitu, tadi aku
sempat berpikir…”.
“Tidak, Ngger. Angger Panembahan
tidak perlu berpikir terlalu jauh”. potong Pangeran Puger, sebelum kemenakannya
itu bicara lebih jauh untuk menanggapi masalah tersebut.
“Maaf, Ngger. Ada yang ingin aku
tanyakan?”. ucap Pangeran Pringgalaya yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Katakanlah, Paman”.
“Kenapa Angger Panembahan
bersikeras membawa para tawanan itu ke Mataram, terutama Adipati Wirasaba?”.
Pepunden seluruh kawula Mataram
itu tidak segera menjawab, tetapi justru lebih dulu terdengar suara tarikan
nafasnya yang berat dari kedua lubang hidungnya.
“Jika Angger Panembahan merasa
keberatan untuk menjawab, tidak perlu dijawab”.
“Aku memiliki pertimbangan bahwa
para tawanan itu jika dapat kita arahkan dengan benar, tentu akan menjadi
keuntungan bagi kita, Paman”.
Kanjeng Panembahan Hanyakrakusuma
berhenti sejenak untuk sekedar menarik nafas sembari mempertimbangkan atas apa
yang bakal diucapkan.
“Tentang Adipati Wirasaba, alasanku
membawanya ke Mataram adalah sebagai pertanda bahwa Wirasaba telah kita taklukkan
dan kini daerah itu telah menjadi bagian dari Mataram. Meski pada kenyataannya
belum dapat kita kuasain seutuhnya”.
“Begitu rupanya, tetapi bagaimana
jika para tawanan itu bakal menjadi duri dalam daging di kemudian hari? apakah
itu tidak menjadi masalah baru bagi Mataram?”.
“Tentu saja kita tidak dapat memberikan
kepercayaan kepada para tawanan sepenuhnya, sebelum mereka dapat membuktikannya
kepada kita dalam jangka waktu yang kita tentukan, Paman. Dan untuk sementara
kita akan menggabungkan mereka dengan para prajurit yang lain dengan pengawasan
yang ketat”.
“Lalu apa yang akan Angger
lakukan terhadap Adipati Wirasaba? apakah Angger Panembahan sudah memiliki
gambaran, meski barang sedikit?”.
“Sementara ini aku masih belum
menemukan gambaran yang aku anggap paling baik, bagi Adipati Wirasaba. Aku rasa
sebelum aku membuat keputusan, hal ini ingin aku bicarakan dulu dengan para
petinggi di Mataram di paseban setibanya di Mataram”.
“Aku rasa itu adalah sikap yang
paling baik, Ngger”.
“Meski aku mendapat anugerah atas
kamukten di Mataram, tetapi aku sadar jika bekal dan pengalamanku masih kalah
jauh dibandingkan dengan para petinggi Mataram. Sehingga aku harus mendengarkan
pendapat kalian sebagai tambahan bahan pertimbangan sebelum aku mengambil
keputusan penting”.
Halaman 75 - 76
Tanpa sadar, dalam hati ketiga Pangeran Mataram itu mulai mengagumi sikap
dan penalaran kemenakannya yang semakin hari semakin lantip saja di umurnya yang masih cukup muda sebagai pepunden
seluruh kawula Mataram.
“Selain membicarakan nasib Adipati Wirasaba, apakah di paseban itu akan
disatukan sekaligus dengan rencana Angger Panembahan yang ingin memberikan
penghargaan kepada prajurit yang sudah memenuhi syarat?”.
“Tidak Paman Pringgalaya, sebaiknya paseban itu di adakan secara
terpisah. Untuk Adipati Wirasaba kita adakan Paseban Alit, yang hanya akan dihadiri oleh para petinggi Mataram
saja. Sementara untuk pemberian anugerah penghargaan kepada para prajurit kita
adakan Paseban Agung setelahnya”.
“Aku sependapat dengan, Angger Panembahan. Sebab kedua paseban itu
memiliki makna yang berbeda dan saling berseberangan satu sama lain, sehingga
kurang tepat jika digabungkan”.
“Itulah yang menjadi salah satu pertimbanganku, Paman”.
“Kira-kira kapan rencana Angger Panembahan akan mengadakan Paseban Agung itu?”.
“Tentu saja tidak dapat dilakukan segera setelah kita tiba di Mataram, Paman.
Sebab biar bagaimanapun kita harus menghormati para prajurit yang telah gugur,
dan menghormati perasaan dari keluarga yang ditinggalkannya pula”.
“Ya… aku mengerti, memang sebaiknya demikian”.
“Menurut Paman bertiga, kira-kira kapan waktu yang tepat untuk
mengadakan Paseban Agung itu?”.
“Aku rasa, paling cepat sepekan setelah kedatangan kita bersama seluruh
pasukan yang ada”.
“Aku sependapat dengan Kakangmas Pangeran Puger”. sahut Pangeran Demang
Tanpa Nangkil.
Kemudian pembicaraan itu harus terputus ketika dari luar terdengar
isyarat yang pertama, untuk segera bersiap guna melanjutkan perjalanan yang
tertunda.
Mendengar isyarat yang terlontar, keempat Priyagung Mataram itu segera
menghabiskan minuman hangat yang kini telah dingin karena suasana pagi yang
juga dingin.
Sejenak kemudian, mereka pun segera keluar dari perkemahan. Selain
mereka juga harus bersiap, hal itu akan memberikan kesempatan bagi para prajurit
yang bertugas untuk merapikan perkemahan yang digunakan tersebut.
Sebab para prajurit tidak akan berani membongkar perkemahan sementara
itu jika di dalamnya masih terdapat para pepundennya, apapun alasannya.
Setelah memastikan barang bawaan telah terbawa, lalu keempat Priyagung itu menghampiri kuda
masing-masing yang telah disiapkan oleh prajurit yang bertugas.
Kuda-kuda yang terlihat seperti kuda kebanyakan, sebab memang begitulah
yang dikehendaki Kanjeng Panembahan Hanyakrakusuma sejak awal keberangakatan
ketika menyusul Pasukan Mataram bersama pasukan kecilnya.
Dirinya memang sengaja memilih kuda yang demikian dengan tujuan untuk
mengurangi perhatian orang yang dapat menimbulkan kemungkinan bakal menghambat
perjalanannya, karena harus berususan dengan orang-orang yang merasa berkepentingan.
Sekali lagi terdengar isyarat kedua yang ditujukan kepada seluruh
pasukan tanpa kecuali, bahwa sebentar lagi waktu keberangkatan telah tiba
saatnya.
Dari prajurit yang memasuki medan hingga prajurit yang bertugas di
bagian dapur, para Tabib, dan para tawanan pun segera memasuki barisannya
masing-masing. Sesuai petunjuk dari rontek, umbul-umbul, kelebet, dan
panji-panji kebesaran setiap kesatuan.
Halaman 77 - 78
Bahkan ada pula para prajurit yang masih terluka, baik terluka ringan
ataupun berat. Dan bagi prajurit yang terluka berat dan tidak dapat berjalan
sendiri, maka akan dinaikkan ke pedati atau ditandu oleh kawan-kawannya secara
bergantian.
Sembari dalam perjalanan tetap mendapat perawatan, pengobatan, dan
pengawasan dari Tabib secara berkala, agar dapat segera menemukan kesehatannya
kembali.
Bahkan sudah ada beberapa dari mereka yang sudah mulai menemukan
kesehatannya seiring dengan perjalanan Pasukan Mataram yang menarik diri.
Termasuk Ki Tumenggung Suratani, Umbara, dan masih ada beberapa orang
lagi lainnya. Meski sebelumnya sempat mengalami luka dalam yang cukup parah.
Atas kemurahan dari Yang Maha Welas Asih melalui lantaran Tabib yang
merawat mereka dengan penuh kesabaran dan keuletan, sehingga membuat para
prajurit itu dapat segera sembuh kembali dari luka-lukanya.
Sementara Ki Rangga Sabungsari di sela-sela menjalankan tugasnya,
sesekali masih berusaha menyempatkan diri untuk menemui Umbara.
Selain untuk menanyakan perkembangan kesehatannya, ada kalanya pula
hanya sekedar mengawaninya untuk berbincang, sembari diselingi dengan
memberikan pesan-pesan yang dirasa perlu disampaikan.
Sebab dirinya merasa bertanggung jawab atas pemuda itu, baik secara pribadi
maupun sebagai prajurit. Karena dia menjadi salah satu anak buahnya di dalam
kesatuannya.
Meski pada dasarnya mereka tidak ada hubungan darah sama sekali, tetapi
pengenalannya dalam sekian lama telah membuat mereka secara tidak langsung merangkai
hubungan itu, yang bahkan melebihi hubungan layaknya saudara kandung itu sendiri.
“Bagaimana keadaanmu sekarang, Umbara?”.
“Sudah baik, Paman Sabungsari. Bahkan aku merasa sudah sangat baik,
seperti sedia kala. Rasanya seperti sebelum aku terluka kemarin”. sahut anak
muda itu, yang sebenarnya sudah mulai sungkan sendiri diperlakukan demikian
baiknya oleh senopatinya.
“Syukurlah kalau begitu, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi”.
sahut Ki Rangga Sabungsari dengan perasaan penuh kelegaan mendengar keterangan
tersebut.
“Demikianlah, Paman”.
“Jika demikian, sekarang perhatianmu dapat kau alihkan sepenuhnya ke
persiapan perang berikutnya menghadapi Pasukan Surabaya, tanpa di
bayang-bayangi lagi tetang lukamu”.
“Iya, Paman”.
“Apakah tenagamu sudah kembali sepenuhnya pula?”.
“Aku rasa demikian, Paman”.
“Tetapi jika nanti kembali pecah perang, kau jangan jauh-jauh dariku
agar aku dapat mengawasimu”.
“Baik, Paman. Aku akan mencoba mengingatnya”.
“Aku belum tahu pasti nanti akan menjadi perang yang seperti apa, tetapi
berdasarkan kabar yang aku dengar. Sepertinya akan berbeda dari perang di Wirasaba,
tetapi aku sendiri belum tahu pasti bakal seperti apa. Kita tunggu saja
perintah dari Kanjeng Sinuhun pada saatnya”.
“Aku mengerti, Paman”.
“Apapun keadaannya nanti di medan perang, aku pesankan kepadamu jangan
sampai kau terlarut kedalam perang yang garang, agar tidak terjerumus ke dalam
kesulitan. Kau ikuti saja perintahku atau siapapun senopati yang menggantikan
kedudukanku”.
Halaman 79 – 80 -81
“Baik, Paman”.
“Sekarang aku belum dapat memberikan lebih banyak pesan kepadamu, bukan
maksudku tidak mau menyampaikannya kepadamu. Sebab dalam sebuah perang banyak
sekali kejadian yang tak pernah terduga sebelumnya, sehingga jika aku sampaikan
sekarang kepadamu, nanti belum tentu sesuai dengan apa yang akan kau alami.
Jadi sebaiknya nanti saja bersamaan dengan perang yang sedang berjalan”.
“Baik, Paman. Aku mengerti”.
“Yang jelas kau jangan terlalu lugu ketika berada di medan dan jangan
pernah merasa bahwa dirimu besar, sebab di medan itu tempat berkumpulnya para
raksasa kanuragan. Dan jangan pula kau meremehkan lawanmu, siapapun itu”.
“Aku mengerti, Paman”.
“Karena jika kau meremehkan lawanmu, maka kau akan kehilangan pengamatan
yang wajar atas kemampuan lawanmu yang sebenarnya. Dan hal itu akan dapat
menyeretmu ke dalam kesulitan atau bahkan nasib yang paling buruk sekalipun”.
“Aku hanya dapat mengucapkan terima kasih kepada, Paman Sabungsari yang
tidak jemu-jemunya memberikan petuah kepadaku meski aku yang bodoh ini belum
tentu dapat menyerap semua petuah itu, tetapi aku akan berusaha mengingat semua
itu dengan sebaik-baiknya”.
“Aku percaya bahwa kau adalah pendengar yang baik, Umbara. Selain itu
penalaranmu juga sangat baik, meski kau tidak dapat mengingat setiap pesan yang
aku sampaikan, tetapi kau tentu dapat menyimpulkannya sendiri sesuai dengan
kebutuhanmu”.
“Semoga aku tidak mengecewakan, Paman Sabungsari”.
“Kau tidak perlu memikirkan aku, Umbara. Tetapi ingatlah bahwa perjuanganmu
ini sedang di tunggu keluargamu di rumah”.
“Baik, Paman”.
“Ingatlah bahwa saat ini, selain kau sedang memperjuangkan dirimu
sendiri disini. Kau sedang berjuang pula atas nama keluarga tercintamu yang
kini sedang menunggu kedatanganmu di rumah. Jadi setelah perang nanti, kau
harus pulang tanpa kekurangan suatu apapun ketika menemui keluargamu”.
“Baik, Paman. Aku akan berusaha dengan sebaik-baiknya”.
“Karena sekecil apapun yang terjadi padamu, aku ikut bertanggung jawab
pada keluargamu yang sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri”.
Namun pembicaraan itu harus terputus ketika terdengar isyarat yang
ketiga, sebagai pertanda bahwa seluruh Pasukan Mataram harus melanjutkan
kembali perjalanan.
Meski pasukan itu sudah tidak utuh lagi seperti pada saat berangkat dari
Kotaraja Mataram, namun pasukan itu masih terlihat kuat dan gagah ketika
dipandang mata.
Pasukan yang harus membawa prajuritnya yang terluka dan para tawanan
perang itu telah mulai bergerak perlahan, menyusuri jalan yang dipandu oleh
para prajurit penghubung.
Untuk mempermudah jalannya pasukan segelar sepapan dalam menyusuri jalan
yang bakal dilalui, tanpa pasukan itu harus bersusah payah sendiri mencarinya.
Perjalanan sebuah pasukan yang pulang dari perang yang sangat garang
dengan menyimpan ribuan luka, ribuan tangis, dan juga ribuan duka karena harus
kehilangan kawannya, orang terdekatnya, atau bahkan keluarganya.
Tangis para istri yang harus kehilangan suami tercinta dan tulang
punggung keluarganya, jerit tangis yang menyayat hati dari anak yang kehilangan
sosok seorang ayah yang selama ini melindungi dan menyayanginya dengan sepenuh
hati.
Begitulah prahara di tanah leluhur yang terjadi di atas tanah ini, yang pada
akhirnya hanya dapat menyisakan perasaan pilu dan menyayat hati untuk
disampaikan, namun kenapa seakan hal itu tak pernah ada habis ditelan oleh
zaman.
Kenapa harus ada prahara? kenapa harus ada yang bertikai? kenapa pula
harus ada yang berperang? bukankah perang hanyalah alat untuk menuruti keinginan
para penguasa yang rakus? Sementara para kawula alit hanyalah sekedar
orang-orang yang dikorbankan oleh para penguasa yang tamak?.
Sebab kawula alit adalah orang yang pertama kali menderita ketika kalah
dalam sebuah peperangan, tetapi menjadi orang terakhir yang ikut menikmati
hasil kemenangan, itupun tidak seberapa dengan apa yang dapat dinikmati oleh
para penguasa.
Marilah kita luangkan waktu barang sejenak untuk merenungkan, siapakah
kita? penguasa yang tamak? atau sebagai kawula alit? orang pertama yang dikorbankan
penguasa yang tamak?.
* * * 0 * * 0 * * 0 * * *
Bersambung ke ~
Djilid
27
Padepokan Tanah Leluhur
Terima Kasih

kok laama gak muncul ya?
BalasHapusmaaf jika telah membuat Ki Cantrik Padepokan Orang Bercambuk dan panjenengan semua menunggu terlalu lama.
Hapuskini wedaran telah dimulai, silahkan untuk panjenengan semua ikuti.
terima kasih.